
"Kamu tidak apa-apa Rum?" satu tangan Mas Juna masih memeluk pinggangku dan tangan yang lain menggenggam tanganku erat.
Aku menggeliat berusaha melepaskan diri, "lepaskan tanganmu mas, aku baik-baik saja."
"Kamu yakin Rum?"
Aku hanya bisa mengangguk. Sahabat suamiku ini tidak boleh tahu apa yang sekarang sedang terjadi dalam rumah tangga kami, tidak ada orang luar yang boleh tahu.
Setelah beberapa saat dan aku sudah mampu berdiri di kakiku sendiri, aku pamit, aku harus segera pergi sebelum Mas Han mencari sahabatnya. Aku juga harus memastikan kalau Mas Juna tidak menceritakan apapun tentang pertemuannya denganku.
"Aku harus pulang mas, tolong jangan bilang Mas Han kalau kita bertemu disini."
Dari mimiknya aku tahu kalau Mas Juna punya banyak pertanyaan, tapi aku tak ambil pusing.
"Ayo pak, kita pulang, jangan sampai bapak tiba lebih dulu di rumah."
"Baik Ndoro."
Kamu membohongi aku lagi mas. Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini.
Pak Dul memacu mobil agak kencang. Aku harus sudah ganti baju sebelum suamiku nanti datang. Aku langsung masuk kamar dan ganti baju begitu Pak Dul menghentikan mobil depan teras.
Mbok Nah mengikutiku masuk kamar. Kali ini tidak ada petuah ataupun nasehat untukku, dia hanya ada untuk melayaniku. Menyiapkan air hangat agar aku bisa menyeka wajahku yang sempat terkena angin malam.
Setelah tubuhku bersih, aku mengenakan baju yang sama yang kupakai tadi, kemudian merebahkan tubuhku diatas ranjang.
"Kalau Mbok Nah mau istirahat boleh kok, saya tidak apa ditinggalkan sendiri," ujarku tanpa melihat, seperti biasa aku rebahan dengan menghadap dinding posisi favoritku.
"Ndoro Putri maunya ditemani sambil saya pijiti atau mau saya tinggal?" aku memutar badan. Kulihat abdiku itu baik-baik. Aku tahu aku bisa mempercayainya, tapi aku sangat enggan bicara apalagi bercerita mencurahkan isi hatiku malam ini.
"Saya ingin ditemani mbok, tapi saya tidak ingin bicara atau mendengar apapun malam ini."
Mbok Nah mengangguk, tangannya mulai memijat kakiku perlahan. Ternyata setelah semua ketegangan yang aku jalani tadi selesai, kakiku baru terasa pegal.
"Terimakasih mbok."
"Terimakasih untuk apa Ndoro?"
"Untuk pijitannya, tadi kaki saya yang pegal tidak terasa, sekarang setelah dipijit baru terasa enaknya."
"Sama-sama Ndoro, apapun akan saya lakukan agar Ndoro Putri merasa nyaman."
Mataku yang mengantuk menuntut untuk diistirahatkan. Mulai sekarang aku akan berusaha menerima keadaan. Aku harus bertahan paling tidak sampai anak yang dikandung Sekar lahir.
Air mata tak lagi mendesak untuk ditumpahkan. Hati tak lagi rentan terluka. Kalau aku ditanya apakah aku sudah mulai kuat menahan semuanya? Jawabanku adalah aku hanya mulai bebal untuk terlalu mudah terbakar amarah.
Baru beberapa saat aku memejamkan mata, aku merasa ada yang menggoyang tubuhku perlahan. Menyebalkan, mengganggu otakku yang hampir berhasil menghapus rasa sakit dan menggantikannya dengan mimpi indah malam ini.
"Rum, bangun sebentar ada Juna," suara Mas Han berbisik di telingaku, "sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengannya, dia ingin ketemu kamu. Padahal sejak kita menikah selalu saja ada alasan untuk menghindar ketemu kamu, tapi ini tadi dia bilang ingin melihatmu."
Dengan enggan aku membuka mata, "bilang sama dia aku lelah mas, aku ingin istirahat."
__ADS_1
"Ayolah Rum, sebentar saja, dia sudah jauh-jauh ikut aku kesini."
"Kamu yakin dia yang mau ikut? Bukannya kamu yang ajak dia buat datang mas?"
"Apa maksudmu Rum?"
Aku menghela napas, "baiklah, aku bangun tapi hanya sebentar."
"Ganti dulu bajunya, meskipun dia teman lama kamu, sekarang kamu wanita bersuami."
Ya...ya, siapa yang tidak tahu itu. Aku menghalau rasa kantuk yang menyergap, membawa diriku untuk mengganti pakaian dengan yang lebih pantas.
Ketika aku selesai mengganti baju, ternyata Mas Han masih menungguku.
"Ayo," dia mengulurkan tangannya, tangan yang sekarang ini begitu malas untuk kugenggam.
"Aku bisa jalan sendiri, mas, malu dilihat Mas Juna."
"Kenapa musti malu, kamu istriku, dan sejak dulu aku tahu ada yang diinginkan Juna darimu. Genggam tanganku atau kamu tidak usah keluar kamar!"
Kalau peristiwa ini terjadi beberapa hari yang lalu, aku akan merasa bahagia. Karena aku beranggapan kamu mencintaiku, tapi kalau sekarang?
"Ya...ya," akhirnya aku mengalah dan menyambut tangan Mas Han untuk kupegang.
"Nanti waktu kamu ketemu Juna kamu harus kelihatan kalau bahagia, karena kita memang bahagia, iya kan?! kamu hari ini hanya agak lesu karena lelah, ingat itu!"
"Kamu tidak perlu mengatur apa yang musti aku lakukan, aku tahu bagiamana harus bersikap sebagai istri, dan kamu mustinya juga paham bagaimana harusnya bersikap sebagai seorang suami yang sedang berpoligami."
"Apa maksudmu Rum?"
"Selamat malam mas," aku melepas genggaman tangan Mas Han meskipun sedikit memaksa. Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman.
"Malam Rum," Mas Juna menyambut tanganku, "bagaimana kabarmu Rum, apa kamu baik-baik saja?"
"Baik, Alhamdulillah, aku baik mas." cukup lama tangan kami bertaut.
Mas Han mengambil tanganku, "sudah salamannya jangan lama-lama."
"Mau minum apa mas, teh, kopi? biar Mbok Nah buatkan."
"Tidak perlu Rum. dia hanya sebentar kok disini, iya kan Jun?!" aneh tadi memaksaku untuk keluar, pamer kalau rumah tangga kami bahagia, sekarang malah seperti ngusir tamu nada bicaranya.
"Apa saja Rum. Apa kamu yakin baik-baik saja?"
"Aku baik mas," kamu memintaku bermain peran kan?! maka aku akan memberi senyum termanis ku untuk tamumu malam ini.
"Kamu tidak berubah Rum, tapi sedikit lebih ceria dari terakhir kita bertemu."
Aku melotot, menggerakkan mataku ke arah Mas Juna, jangan sampai Mas Han curiga.
"Memangnya kapan kalian terakhir bertemu?" Mas Han makin bersikap tidak ramah, alisnya saling bertaut menandakan ketidaksukaan.
__ADS_1
"Ha?...mmm belum lama iya kan Rum."
"Iya...mmm cukup lama atau belum lama,ya? hehehe...," aku tertawa canggung.
"Sebaiknya kamu masuk Rum, tadi kamu bilang kamu lelah kan," suara Mas Han mulai menuntut untuk diikuti. Aku meliriknya sekilas, aku baru ngobrol sebentar sama laki-laki lain sudah diminta untuk masuk, padahal dia malah punya anak dari wanita lain, meskipun itu karena persetujuanku juga sih.
"Aku permisi masuk dulu mas, Mas Han benar, aku butuh istirahat, hari ini aku lelah karena harus mengurusi orang hamil yang kondisinya sedang drop."
"Rum...!" Mas Han sedikit meninggikan suara.
"Siapa yang hamil Rum, kamu?" tanya Mas Juna penasaran.
"Bukan, kan aku bilang aku yang ngurusi orang hamilnya."
Ekspresi bingung jelas terlihat pada wajah Mas Juna, "nggak usah bingung mas, yang hamil kerabat jauh kok, nggak punya orang tua."
"Kan ada suaminya Rum, kenapa kamu yang jadi repot sampe kecapean?"
"Hahaha...sudah ah, aku tinggal dulu ya mas," kalau aku terus duduk disitu bisa-bisa aktingku gagal. Hai pemilik piala-piala penghargaan, sepertinya aku berhak menerima satu piala karena aktingku hari ini.
Aku kembali masuk kamar dan berusaha memejamkan mata untuk melanjutkan alur mimpiku. Aku masih bisa mendengar obrolan Mas Han dan sahabatnya sebelum suara itu makin menjauh dan hilang berganti dengan alam mimpi.
...***...
Hari ini hari kedua Sekar di rumah sakit. Terlepas dari semua kecewa dan amarahku, aku memiliki tanggung jawab untuk merawat Sekar.
Pagi sekali Mbok Nah aku minta untuk menyiapkan bekal agar bisa dimakan Siti. Beberapa kudapan, buah, dan puding untuk memastikan asupan gizi bagi bayi dalam kandungan Sekar tercukupi.
"Harus ikhlas Ndoro Putri, saya doakan agar bayi yang ada dalam perut Ndoro Sekar sehat sampai nanti lahir."
"Aamiin, terimakasih mbok."
Setelah siap, Mbok Nah membawakan semua bekal masuk dalam mobil.
"Dul, nanti kamu bawakan bekalnya ini, jangan sampai Ndoro Putri bawa sendiri."
"Yo, jangan kuatir mbok."
"Ojo isin-isini, manganmu sak wakul, Ojo nganti Ndoro Putri kotelantarake."
[Jangan membuat malu, makanmu sebakul, jangan sampai Ndoro Putri kamu telantarkan].
"Beres."
Pagi yang cerah, seperti biasa aku membuka sedikit jendela mobil dan membiarkan udara segar masuk. Tidak ada drama pagi ini, Mas Han makan pagi dan berangkat kerja tanpa banyak permintaan.
Seperti kemarin aku turun di depan pintu utama rumah sakit, kemudian Pak Dul meninggalkan aku untuk memarkir mobilnya. Aku menunggu Pak Dul datang membawakan semua bekal di lobi rumah sakit.
Sambil menunggu aku mengambil ponselku. Membuka-buka berita online yang sedang hits akhir-akhir ini. Sesekali aku mengamati orang-orang yang sibuk wara-wiri di depanku.
Ketika aku mendongak dan melihat Pak Dul memasuki pintu, aku melihat seseorang bersembunyi di balik sebuah banner besar yang berisikan pesan kesehatan. Orang itu mengamati Pak Dul Yang sedang berjalan. Aku segera menunduk berpura-pura tidak melihat keberadaannya. Buat apa kamu bersikap seperti itu mas? sikapmu membuat aku makin merasa dikhianati.
__ADS_1
...***...