
Tanpa sepengetahuan ibu, aku rutin bertemu Mas Han dengan bantuan Mbok Nah. Mas Juna juga masih datang berkunjung, entah apa yang membuatnya yakin untuk terus mengunjungi aku. Dia bilang hanya mampir karena ada proyek yang dia kerjakan bersama Ayuni.
Hatiku perlahan mulai terbuka. Semua pesan dari Sekar aku abaikan. Aku tahu dia berhak mendapat perhatian lebih karena sebulan lagi melahirkan, tapi aku tak pernah meminta Mas Han untuk datang seperti ini, dan aku juga punya hak yang sama untuk diperhatikan.
Perutku sudah kelihatan sedikit menonjol, memasuki usia kehamilan tiga bulan, dokter masih mewajibkan aku untuk tetap berhati-hati, karena pendarahan yang aku alami terakhir kali.
"Ibu dan bapak akan datang Rum," kata mas kali ini.
"Oh...," kalau bapak yang datang, aku sangat senang, bahkan tidak sabar menyambut kehadirannya. Tapi kalau ibu...
"Apa ibu tahu kalau aku hamil mas?" tanyaku.
"Belum, ibu belum kami beritahu, biar nanti ibu melihat sendiri perutmu yang mulai menonjol."
"Harusnya kamu beritahu lebih dulu mas, aku tidak mau ibu bicara yang tidak-tidak karena terkejut. Kamu tahu kan ibu itu orangnya impulsif, kalau marah atau kaget langsung kelihatan, terus cara bicaranya juga suka nggak bener," aku takut kalau ibuku bertemu ibunya Mas Han bisa saling meledak. Karena selama ini keduanya jarang bertemu.
"iya, nanti aku ngobrol dulu sama bapak, gimana enaknya."
"Aku serius mas."
"Iya, nanti aku bakal ngomong sama bapak."
Mas Han melihat Mbok Nah yang duduk di bangku taman di dekat kami, "mbok kupingnya ditutup ya."
Aku merengut malu, "apaan sih."
"Oh...eh, Ndoro saya mau mmm...beli gorengan dulu di sana ya," mbok Nah tergopoh-gopoh menjauhi kami, roknya kali ini lebih modern karena hasil jahitan ibu.
Suasana pagi yang masih agak gelap karena berselimut awan dan tempat kami duduk yang agak di sudut, mungkin membuat Mas Han berani berpikir untuk melakukan sesuatu.
Dia mendekati kursi rodaku, duduk menggunakan lututnya sebagai penahan tubuh seperti biasanya, tangannya memegang tanganku yang ada diatas pangkuan.
Mas Han tengok kanan kiri sebentar, kemudian tiba-tiba, "cup" sebuah kecupan dengan bunyi agak keras meluncur di atas bibirku.
Hatiku berdebar kencang, sebuah sentuhan yang cukup lama tidak aku dapatkan, "mas..." teriakku sambil menarik kepala ke belakang.
"Aku rindu," ucapnya.
"Sebelum kamu makin ngawur dengan jurus bujuk rayumu, ada yang ingin aku tanyakan lebih dulu," aku harus menghentikan kegiatan ini sebelum semua tak terkendali.
"Apa?"
"Kamu kesini bilangnya apa sama Sekar?"
Mendengar pertanyaanku Mas Han dengan cepat menjauhkan tubuhnya, menjawabku dengan wajah jengah.
"Sekarang hanya ada kita, kenapa musti membawa nama Sekar."
"Kamu salah mas, sejak kamu menikahi Sekar sampai anaknya lahir, akan selalu ada Sekar diantara kita."
"Rum..." aku tak suka nada suaramu mas, kamu seperti akan membacakan eksekusi mati untukku, apa kau ingin membicarakan sesuatu yang serius?
"Ini tentang Sekar, aku dan kamu."
__ADS_1
Nah...sepertinya firasatku benar adanya. Aku menunggu kalimat berikutnya.
"Aku sudah mengambil keputusan, karena kamu juga hamil maka Sekar akan merawat bayinya sendiri. Aku akan berusaha seadil mungkin dengan kalian."
Benarkah yang kamu ucapkan? menilik dari banyaknya pesan yang aku terima, aku bisa meraba kalau Sekar tetap ingin aku yang merawat anaknya.
"Apa kamu sudah bertanya kesanggupan Sekar, mas?" tanyaku.
"Dia tidak akan menolak, dia pasti setuju dengan keputusanku."
"O..., okay, sekarang apa maumu..."
"Aku mau kamu pulang."
"Besok aku akan menjemputmu ditemani dengan bapak sama ibu. Kalau kamu terlalu lama jauh dari suami bisa menjadi fitnah, apalagi si Juna sering datang kesini."
Aku melengos, "gak ada hubungannya sama Mas Juna, lagian aku jarang nemuin meskipun dia sering main kesini."
Mas Han melihat waktu di tangannya, "aku musti pulang, besok aku akan balik lagi."
"Jangan terlalu sering datang kemari, kamu bakal capek, capek badan sama capek hati karena melihat Sekar cemberut terus."
"Tapi capekku hilang waktu melihat kamu."
"Gombal, perjalanan kesini empat jam, tengok aku seminggu sekali saja cukup."
"Iya...iya, tapi aku tidak harus mematuhinya kan Rum, jadi aku akan datang sesukaku seperti ini."
Dasar gila, tidak tahu saja kamu berbagai macam pesan yang dikirim Sekar ke aku.
...***...
Hari masih pagi, matahari pun masih sembunyi, aku sudah mandi dan rapi. Meskipun hampir semua kebutuhanku dibantu ibu dan mbok Nah, tapi aku mulai belajar untuk mandiri.
Sejak tadi ibu hanya diam, semalam sudah kuberi tahu kalau Mas Han dan orang tuanya akan datang.
"Ibu..."
"Jangan bicara sama ibu dulu Rum, ibu masih berusaha untuk mengikhlaskan kepulanganmu nanti."
"Bu..." aku menyentuh tangan ibu.
Aku mendengar suara tangis ibu yang menyayat hati, sesenggukan halus tapi terdengar jelas. Ketika ibu terduduk lemas di kursi, aku duduk berlutut dan menciumi tangannya.
"Rumi akan baik-baik saja ibu, percaya sama Rumi Bu."
"Tidak ada wanita yang baik-baik saja ketika suaminya menikahi wanita lain Rum."
"Rumi hanya butuh doa dari ibu, maka Rumi akan kuat, tidak ada yang lain."
"Doa ibu akan memberimu kekuatan, kesehatan, dan kesabaran, tapi tidak akan mampu menghapus luka hati yang hadir karena poligami."
"Maafkan Rumi Bu," tangisku tak bisa kutahan.
__ADS_1
"Kamu sudah cukup meminta maaf, tapi tidak dengan Nehan dan orang tuanya. Bahkan ibunya yang seorang wanita pun belum melihatmu sama sekali, apalagi memohon ampunan pada ibu yang melahirkan kamu ini."
"Ibu tidak yakin kamu akan bahagia kalau kembali ke keluarga Nehan, Rum."
Aku juga merasa seperti itu, Bu. Tapi ada hal-hal yang ingin aku selesaikan dan harus aku hadapi.
"Wes Rum, ibu cuman iso dungo, mugo-mugo kowe seneng, bahagia lan sehat Rum."
[sudah Rum, ibu hanya bisa berdoa, semoga kamu senang, bahagia dan sehat]
"Ayo berdiri, jangan sampai perutmu sakit lagi," aku melihat senyum yang dipaksakan di wajah ibu.
"Kita siap-siap, ibu ketamuan besan ningrat, harus hati-hati khawatir salah sikap."
"Mbok Nah..." teriakan ibu menggema di dapur tangan ibu menarik mbok Nah, membicarakan segala sesuatu yang musti disiapkan. Aku memilih untuk masuk kamar dan kembali beristirahat.
Matahari baru sepenggalah ketika suara deru mobil terdengar berhenti persis di depan rumah. Aku mengintip dari balik jendela kamar.
Ibu yang pertama turun. Tatap matanya menyelidik dengan posisi kepala sedikit terangkat. Kemudian bapak turun berikutnya, dengan wajahnya yang adem membuat hati orang menjadi tentram. Terakhir yang keluar dari dalam mobil adalah Mas Han, wajahnya begitu bercahaya mengingatkanku saat dia pertama kali kemari dengan orang tuanya dulu, delapan tahun lalu.
Pak Dul menyambut keluarga Mas Han di depan pagar. Meminta untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Mbok Nah sudah menunggu. Hidangan sederhana tersaji diatas meja. Seperti biasanya, ibu dandan biasa saja tapi terlihat anggun dan berwibawa. Ibu selalu bilang, karena jadi single parent penampilan harus dijaga biar tidak di remehkan orang lain.
"Assalamualaikum," ibu mengucapkan salam waktu keluar dari ruang tengah.
"Waalaikumsalam besan," aku mendengar suara bapak menjawab.
"Waalaikumsalam," ibu Mas Nehan menjawab dengan singkat dan suara ditekan, aku bisa membayangkan wajah congkaknya dengan senyum sinis di bibir.
Aku tidak mendengar suamiku menjawab salam.
"Kamu nyari siapa Han, kok celingak-celinguk?" tanya ibu.
"Rumi mana Bu?"
"Masih tak simpan, nanti kalau waktunya keluar, baru Rumi ibu suruh keluar," satu kosong, tawaku dalam hati.
"Apa kabar mbakyu?" ini suara ibuku basa-basi.
"Baik," jawaban yang terlalu singkat menurutku.
"Saya merasa senang keluarga menantu saya lengkap bersedia hadir di istana saya ini."
"Lengkap? Belum jeng ini belum lengkap, ada istri kedua Nehan dan anaknya yang masih dalam kandungan tidak ikut."
"Ibu..." aku dengar Mas Han bicara, pasti wajahnya mengkerut seperti wajahku yang jengkel karena ucapan ibu.
"Bu..." kali ini suara bapak, "kalau bicara jangan seperti kentongan, sekali dipukul langsung saja bunyi, otaknya itu dipakai buat nyaring, perlu dikeluarkan nggak suaranya."
"Lah, apa salahku to pak, kan bener."
"O...benar mbakyu...benar, gak ada yang salah kok."
"Omong-omong jeng, rumahnya ini kok masih tetap begini saja ya, mulai saya dulu melamar Rumi buat Nehan kok tidak berubah? emang nggak pernah tersentuh renovasi ya?"
__ADS_1
Ibu...aku menangis dalam hati, bukan karena omongan ibunya mas Nehan yang cenderung meremehkan, tapi lebih karena aku merasa singaku tidak akan mengijinkan kalian membawa aku pulang. Bisa tidak sih mulut ibu mertuaku itu diam saja kali ini?! Ya Allah Tuhanku...
...***...