
Sekar POV
Suamiku berdiri di depan pintu kamar, wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaannya. Berkali-kali tangan kekarnya mengacak rambutnya sendiri.
"Aku sekarang sedang berusaha buat jujur sama kamu lo...aku berusaha buat pamit baik-baik sama kamu, tapi lihat sikap kamu. Bukan itu jawaban yang aku inginkan dari kamu, La!" teriak Mas Han.
"Terus apa?! apa!!"
"Kamu ingin aku menjawab...oh iya...mas...kamu boleh menengok mbak Rumi...," aku mengucapkan kalimat itu dengan gaya kemayu dan sok manis, "nggak akan!" teriakku.
"Luka bekas operasiku bahkan belum sembuh mas, masih sakit...luka di hatiku juga masih segar, kita kehilangan anak kita mas," susah payah aku berdiri dari tempat tidur, "aku baru dua hari di rumah, terus sekarang kamu mau ninggalin aku buat perempuan yang sekarang mungkin sedang bahagia...paling tidak Mbak Rumi punya ibu yang selalu ada untuknya mas," kamu tidak boleh kemana-mana dulu mas, tidak sekarang.
Mas Han meletakkan kembali jaketnya di kursi, dia berjalan mendekatiku kemudian memelukku, aku mendengar tarikan napasnya yang berat.
"Maafkan aku, bukannya aku ingin meninggalkan kamu, tapi kamu juga musti ngerti kalau Rumi sekarang sedang hamil, dia mengandung anakku La."
Akhir-akhir ini Mas Han memang memanggilku dengan sebutan Lala dari namaku Sekar Lalita, panggilan sayang khusus untukku katanya.
"Aku tahu," aku menyurukkan wajahku ke leher mas Han, mencari ketenangan disana, "tapi tidak sekarang, aku sangat membutuhkanmu mas."
Mas Han merenggangkan pelukannya. Tangannya sekarang memegang bahuku, "kamu tiduran gih, aku akan minta Siti untuk membuatkan kamu susu panas, biar nyaman."
"Aku nggak mau tiduran, sekarang jam sembilan pagi, terlalu pagi buat tidur siang dan terlalu siang buat melanjutkan tidur malamku."
"Kamu mau aku ambilkan makan pagi?" tanya Mas Han, aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia masih gusar.
Aku menggeleng, "biar Siti yang menyiapkan makan pagi ku."
"Aku ingin duduk di taman depan mas."
Mas Han mengangguk dan menuntunku. Kami berjalan menuju taman depan rumah dan duduk di bangku yang ada disana. Paparan cahaya mentari pagi membuat tubuhku menghangat.
"Kamu ingin melihat makam anak kita La?" aku melirik suami ku, bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya.
"Tidak mas," jawabku singkat, mataku melirik dan melihat raut wajah Mas Han mengkerut heran.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa melihat makam anakku sendiri mas, nggak sanggup. Kamu tidak tahu rasanya sesedih apa aku sekarang, aku yang mengandung dan melahirkan anak itu, sakitnya pun masih belum hilang sampai sekarang, bagaimana aku bisa melihat anakku berbaring disana sendirian dalam keadaan dingin, aku nggak sanggup," maafkan mama sayang, air mataku benar-benar jatuh membasahi pipiku.
Mas Han yang duduk di sampingku menggeser tubuhnya makin dekat, tangannya melingkar di bahuku dan menarikku dalam pelukannya, "kamu nggak sendiri la, aku juga merasakan hal yang sama," aku sandarkan kepalaku di dada Mas Han, detak jantung suamiku sangat menenangkan, aku tidak mau kehilangan saat-saat seperti ini.
"Tapi aku juga punya tanggung jawab lain La, aku musti datang ke kantor, melihat perkembangan perusahaan yang beberapa Minggu ini sering aku tinggal."
"Hanya ke kantor?" tanyaku curiga.
"Ya, hanya ke kantor," aku mengangkat kepalaku kemudian menatap mata suamiku lama. Kami saling menatap untuk beberapa saat. Sepertinya dia jujur dengan yang dikatakannya.
"Baiklah, tapi janji tidak ada pulang malam, apalagi tidak pulang," ucapku setengah mengancam.
"Iya," Mas Han bergegas berdiri, dilihat dari cepatnya dia bergerak sepertinya dia sudah menanti persetujuanku sejak tadi.
Dia kembali dengan membawa jaket yang tadi di lepas. Dalam hati aku berkata, harusnya dia bawa jas untuk ke kantor bukan jaket.
"Kok bawa jaket? memang mau pergi jauh?" tanyaku, aku tak bisa berhenti mencurigai suamiku sendiri
"Oh..." jawabku berusaha menenangkan gejolak dalam hati yang tidak mau kompromi.
"Suami, janji ya nanti malam pulang, nggak ada pulang telat apalagi pergi keluar kota," bisikku ketika Mas Han berpamitan dan mengecup cepat dahiku.
"Hmm," meskipun hanya jawaban itu yang aku dapat, aku berusaha percaya kalau Mas Han akan menepati janji.
Sepeninggal mas Han aku berjalan menuju ruang tengah, meminta Siti menemaniku berbincang, kalau harus terus di dalam kamar rasanya aku akan mati karena bosan.
"Kamu pernah jatuh cinta Sit?" bicara tentang cinta pasti mengasikkan, apalagi usia Siti masih tergolong muda, aku juga ingin mendengar pendapatnya tentang jatuh cinta.
"Belum, Bu."
"Belum?" tanyaku, "kamu kan cantik, yah...meskipun tampilanmu sederhana, tapi kamu cantik alami lo," aku nggak percaya kalau Siti nggak ada yang naksir. Kulitnya putih, wajahnya mungil nan ayu, untuk ukuran asisten rumah tangga dia termasuk cantik. Dipoles sedikit saja, tidak akan kelihatan kalau pekerjaannya hanya seorang asisten rumah tangga.
"Kalau yang naksir banyak Bu, tapi saya punya cita-cita tinggi. Kalau ada yang dengar pasti ketawa mendengar cita-cita saya."
__ADS_1
"Aku akan mendengar Sit dan aku janji tidak akan tertawa," jawabku yakin.
Aku menaikkan alis menantikan apa yang akan Siti ucapkan. Aku ingin tahu setinggi apa cita-cita orang sekelas Siti.
"Saya ingin sekolah lagi, atau paling tidak mengambil pendidikan diploma dua, saya ingin jadi sekretaris Bu. Sekarang saya sedang menabung, kalau tabungan saya sudah cukup, saya mau mendaftar sekolah."
Deg...ucapan Siti menghantam otakku. Kepalaku seperti disambar halilintar. Siti mengingatkanku akan diriku sendiri. Beberapa Minggu ini aku disibukkan dengan perasaan melankolis sehabis melahirkan. Aku hampir melupakan tujuanku yang sebenarnya.
Anakku, Suster Eny, sekolah ke luar Negeri, semuanya hampir kulupakan karena aku begitu ingin memiliki Mas Han untuk diriku sendiri. Bukan karena cinta—ya aku memang mencintainya. Tapi sebenarnya aku tidak mau mengalah jika aku menginginkan sesuatu. Ketika aku tidak bisa memiliki apa yang aku mau, semua orang juga tidak boleh memilikinya, karena aku tidak mau berbagi.
"Siti, antarkan aku ke dalam kamar," aku berdiri dan berusaha melangkah, tapi hantaman tiba-tiba di kepalaku membuat aku sedikit pusing.
"Oh...iya Bu," Siti menuntunku dan membantuku berbaring.
"Aku tidak mau berbaring. Tolong tata bantalnya agak tinggi agar aku bisa duduk dengan nyaman."
"Baik Bu."
"Sekarang tolong ambilkan hape ku dan tas kecil yang aku bawa ketika aku melahirkan, kalau sudah kamu boleh keluar," aku butuh privasi.
"Baik Bu."
Aku mencari kartu nama suster Eny yang aku simpan dalam tas. Ketika aku menemukannya, aku menyentuh tombol sambungan telepon dan memencet beberapa angka yang tertera pada kartu nama.
Setelah menunggu beberapa saat, aku mendengar sebuah suara menjawab di seberang, "selamat pagi nyonya, telepon anda saya tunggu. Saya sudah menepati janji untuk tidak menghubungi nyonya lebih dulu, sekarang giliran nyonya untuk memenuhi janji kepada saya."
"Jangan khawatir suster, anda bisa percaya kepada saya. Saya tidak akan pernah mengingkari janji, sesuai kesepakatan, suster bisa melihat jumlah uang yang saya transfer, nanti akan saya tambahkan sesuai dengan perjanjian yang kita buat."
"Baik, kalau begitu saya ucapkan terimakasih nyonya."
...***...
Ada apa dengan Sekar?
Ikuti terus kisahnya ya...selamat membaca...😊
__ADS_1