
Pintu apartemen Lala sudah dihadapan ku. Sejak turun dari pesawat tadi Lala tidak menjawab teleponku.
Aku langsung masuk kedalam tanpa perlu menekan bel pintu. Suasana senyap, ruang tamu terang benderang. Kondisinya kacau balau. Barang berserakan, pecahan kaca dari beberapa hiasan meja berhamburan di lantai.
Pantry pun keadaannya sama. Pecahan barang pecah belah juga bertebaran di lantai.
Dimana wanita itu? aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Pintu kamar terbuka sedikit.
"La..." tidak ada sahutan dari dalam.
Wanita itu tengkurap diatas ranjang, memakai lingerie merah kesukaannya. Aku mendekat dari sisi tempat tidur. Tangannya menggantung ke bawah.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat darah menetes dari pergelangan tangannya.
"La...!" apa yang dia lakukan? aku membanting tas punggung ke lantai. Mengambil handuk kecil dan menutup luka di pergelangan tangannya.
Dengan cepat aku menghubungi nomor bantuan agar bisa ke rumah sakit. Melihat tubuhnya yang hampir telanjang, kusambar jubah mandi dari gantungan, kupakaikan untuk menutupi bagian yang terekspos.
Perlahan matanya terbuka, "hai, akhirnya kamu datang, kita memang berjodoh bukan?" dia tersenyum, tapi senyumnya mengerikan bagiku, "aku hampir mati dan kau datang menyelamatkanku," kemudian matanya tertutup.
"Lala...la, buka matamu, tetaplah bersamaku!" jangan mati dengan cara seperti ini, jangan buat aku merasa bersalah.
Suara sirine begitu memekakkan telinga. Jangan pergi dengan cara seperti ini la. Aku menggenggam tangannya erat.
Menunggu di depan ruang operasi membuat resah, harapanku dia dapat hidup layak meskipun akhirnya kami jalan sendiri-sendiri, bukan malah menyayat nadinya begini.
Dokter keluar dari ruang operasi, pakaian hijaunya membuatku bergidik, "The patient is good, we just have to wait until the patient is stable."
"Okay doctor, thank you."
Aku duduk disisi ranjang menunggunya membuka mata. Rasa lelah karena perjalanan jauh hilang begitu saja. Betapa bersyukurnya aku ketika jari-jari tangannya yang kugenggam bergerak.
"La..."
Matanya membuka sedikit, "aku lelah."
"Tidurlah."
"Jangan tinggalkan aku," tidak untuk sekarang, kita bicarakan lagi masalah itu nanti. Kutepuk-tepuk punggung tangannya dan dia kembali terpejam.
Karena kondisi kritis Lala sudah lewat, aku jadi tenang. Rasa lelahku kembali muncul dan itu membuatku tertidur.
"Suami," suara Lala membangunkanku. Wajahnya pucat tapi dia tersenyum, "terimakasih, sudah datang."
Aku paksakan untuk tersenyum, kemudian mengangguk sebagai jawaban, "kamu harus sehat," kulepaskan genggaman tangannya. Kalau dia tidak dalam kondisi sakit begini, aku pasti kesulitan buat melepaskan diri.
Meskipun kondisinya sedang kurang baik, dia harus menyadari kalau aku sengaja menjaga jarak. Tidak ada cara lain untuk melakukannya kecuali dengan bersikap tegas.
Aku berdiri tanpa melihat padanya, "aku keluar dulu untuk mencari makan, tidurlah lagi, aku akan kembali setelah mengisi perutku."
Karena ini bukan di negara sendiri, sulit untuk mencari nasi. Makanan mengenyangkan hanya ada roti atau jenis masakan cina. Karena aku takut tidak terjamin kehalalannya, aku memilih roti sebagai penghilang lapar.
Ketika aku kembali Lala masih terjaga. Rupanya dia sengaja tidak tidur untuk menungguku.
__ADS_1
"Kamu akan lama tinggal disini kan mas?"
"Aku akan pulang setelah kau sehat," senyum di bibirnya merekah, "cepat sehat La, biar kita punya cukup waktu untuk bersenang-senang."
Dia mengangguk cepat, "kamu akan terus berada di sisiku kan mas," aku menghela napas, wajah khawatirnya membuatku tidak tega.
"Ya, aku akan disini."
Kurangi kontak fisik Han, ucapku dalam hati. Jadi aku duduk di kursi penunggu pasien yang letaknya sedikit jauh dari tempat tidur.
"Kenapa duduknya jauh begitu?" dia menggunakan wajah manjanya untuk memintaku mendekat.
"Kamu mau aku uyel-uyel?" jawabku untuk menyenangkan hatinya.
Benar saja, dia tersenyum lebar, cahaya kehidupan yang beberapa waktu lalu hilang kembali terpancar di wajahnya.
Beberapa hari dirawat tubuh Lala mulai kuat. Setiap sore aku ajak berkeliling taman rumah sakit menggunakan kursi roda. Aku ingin memberikan saat-saat terbaik selama menemaninya.
"Hari ini kita pulang," perban masih menempel di pergelangan tangannya, "kamu harus merawat luka itu baik-baik."
"Hmmm...kan ada kamu yang membantuku merawat luka ini sampai sembuh."
"Kamu harus sehat, kamu masih muda, masa depan terbentang luas di hadapanmu," aku memilih untuk tidak menanggapi kalimatnya, lebih baik aku menguatkan mentalnya.
Wajahnya kembali murung, "kau akan tetap pergi?"
"Kita bicarakan hal itu kalau kita sudah di rumah, sekarang fokus pada kesembuhanmu dulu."
"Suami, kamu mencintaiku bukan?" ada setetes air mata mengalir di sudut mata nya.
"Menangis lah," memberi belaian di punggungnya merupakan hal terbaik yang bisa aku berikan saat ini.
Sejak perbincangan hari itu, Lala lebih pendiam, bahkan kepulangan kami menyisakan sikap kaku dan saling memberi jarak.
"Istirahatlah!" aku letakkan semua barang dalam kamar.
"Kamu akan menemaniku tidur disini bukan?"
"Kita masih suami istri kan?"
"Tidurlah bersamaku selama kamu tinggal disini."
Aku mendekati ranjang, duduk di pinggir dan menggenggam tangannya.
"Aku ingin kamu istirahat dengan baik. Aku akan tidur di kamar tamu. Aku tidak mau membangunkanmu malam-malam karena ada yang terbangun pada tubuhku."
"Aku tak pernah keberatan kamu bangunkan malam-malam."
"Aku yang keberatan karena aku ingin kamu cepat sehat La," aku kecup keningnya, lalu aku keluar kamar.
Semua barang yang aku bawa aku letakkan di kamar tamu. Lelah rasanya setelah perjalanan jauh kemudian harus tidur di rumah sakit. Jadi aku akan memanfaatkan malam ini untuk istirahat.
Mandi menggunakan shower dengan air hangat sangat menyegarkan. Kututup mataku menikmati jatuhnya air yang terasa seperti pijatan di kepala. Karena suara air dari shower aku tidak mendengar Lala masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aku merindukanmu suami."
Jantungku hampir keluar melalui mulutku. Terdengar bisikan menggoda di telinga, cuping telingaku diku_lum lembut. Dua tangan memelukku dari belakang, membelai dadaku. Air hangat yang mengucur makin membuat tubuhku terbakar.
Lala memutar tubuhku menghadap padanya. Ya Tuhan tubuh di depanku ini tetap menggoda, untungnya masih ada lingerie yang menempel disana. Tapi itu membuatnya terlihat makin seksi. Aku tak mampu bergerak ketika bibir Lala maju mendekati bibirku. Daya tarik itu sangat luar biasa.
Bibir kami saling bersentuhan. Hanya sebuah sentuhan singkat, Lala menjauhkan kepalanya. Matanya sayu menatapku. Dia kembali mendekatkan bibirnya. Aku biarkan dia menciumku. Sebuah ciuman lembut yang membawa jiwaku melayang. Makin lama ciuman wanita ini makin menuntut. Lama tidak bersentuhan dengan wanita membuatku hampir terhanyut.
Sampai saat aku mendengar sebuah suara berbisik di telingaku.
Anak dan istrimu adalah hartamu yang paling berharga. Jangan ulangi lagi kesalahan yang dilakukan oleh ibu dan bapakmu, nak.
Sejuta watt terasa menyengat tubuhku. Bagian bawah tubuhku yang tadi mengeras kembali lemas dan Lala menyadari itu. Dia menarik tubuhnya, memandangku heran. Tepi rupanya dia belum mau menyerah, dengan gerakan lambat dan menggoda dia melepas lingerie yang menempel di tubuhnya.
Dengan cepat aku menahan tangan Lala yang hampir menurunkan tali yang menggantung di pundaknya. Aku segera mematikan shower, menyahut jubah mandi dan memakainya untuk menutupi tubuhku.
Aku ambil lagi handuk yang lain dan menutupi tubuh Lala dengannya. Kuraih tubuh Lala dan aku gendong dia keluar kamar tamu menuju kamar utama.
"Tunggu disini," kubuka almari dan kuambil satu piyama untuk dipakai, kuletakkan piyama itu diatas tempat tidur.
"Pakai piyama yang ada di atas tempat tidur, kalau sudah datang ke pantry, kita makan malam," aku keluar meninggalkannya sendiri.
Hampir saja aku lepas kendali. Aku sudah berjanji untuk memperbaiki diriku sendiri dulu. Aku sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan kedua wanita yang pernah mengisi hari-hariku.
Terimakasih ibu, sekarang aku makin yakin kalau aku kuat melalui semuanya.
Aku buka lemari es, memang hanya ada makanan kaleng, tapi itu lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.
"Ayo sini," Lala keluar kamar dengan wajah ditekuk.
Dia duduk di hadapanku, kami makan dalam diam, suasana kikuk dan canggung tidak terhindarkan.
"Kamu tidak lagi mencintaiku mas?" suara Lala memecah keheningan.
"Ini bukan masalah cinta atau tidak la, ada hal-hal yang ingin aku selesaikan dulu, jadi aku butuh waktu untuk sendiri."
"Tubuhmu tidak bisa berbohong mas, kamu tidak lagi bergairah padaku."
"Apakah aku tidak menarik lagi buatmu?"
Suaranya membuatku merasa iba, "bukan La, bukan karena itu, tapi karena ada banyak hal yang aku pikirkan."
"Aku ingin kamu kembali menjadi wanita muda yang mandiri, seseorang yang punya cita-cita tinggi dan tidak bergantung pada orang lain."
"Hubungan kita merubah itu semua."
Lala menangis, air matanya turun di pipi tapi tidak ada suara tangisan apalagi isakan, "aku bahagia mas, asal kamu mau menerimaku aku bersedia untuk melepas semuanya."
"Aku merubahmu la, aku ingin melihatmu kembali kuat seperti dulu. Hubungan kita tidak lagi murni, kita hanya diselimuti naf_su dan gairah. Bukan karena cinta yang suci."
"Siapa yang peduli dengan cinta suci, mas. semua itu omong kosong, cinta adalah cinta dengan semua gairah di dalamnya. Mana ada cinta tanpa gairah!" Lala mulai berteriak di sela tangisnya.
"Kita bicarakan lagi nanti, kalau kamu selesai makan, aku akan menemanimu tidur."
__ADS_1
Lala menurut, aku ringkas semua alat makan, nanti akan aku bersihkan. Aku tuntun Lala menuju kamar, mengatur bantal agar dia nyaman. Tubuhnya berbaring di pinggir tempat tidur, tangannya tak mau melepaskan tanganku. Kubiarkan dia seperti itu sampai akhirnya benar-benar tertidur.
...***...