
Nehan POV
Hari ini aku mengawali perjalanan di awal pagi. Setelah mempersiapkan diri aku menjemput Sekar di penginapannya. Hatiku mantap, semalam aku sudah pamit kepada dua bayiku.
Perjalanan selama kurang lebih empat jam terlewati dalam sunyi. Sekar lebih banyak tidur. Lagi pula aku memang sedang malas untuk berbicara.
"La, bangun," depan pagar rumah Sekar sudah di depan mata tapi sepertinya wanita ini tertidur nyenyak. Bahkan tadi aku sengaja tidak berhenti untuk makan pagi dia juga tidak mengeluh malah melanjutkan tidurnya.
"Mmmm, sudah sampai mas?" aku mengangguk.
"Memangnya kamu semalam tidak tidur?"
"Tidur seperti orang mati gitu, nggak makan pagi juga nggak protes."
Dia tertawa kecil, "nggak bisa tidur, ngebayangin pake baju pengantin terus nikah lagi sama kamu."
Senyumnya lucu, sebenarnya wanita ini masih tetap cantik di mataku. Mungkin kalau dia tidak membuat masalah, aku tidak keberatan menikahinya pasca bercerai dari Rumi.
Aku membalas ucapannya dengan senyum, "iya, kita lihat saja nanti."
"Kamu turun, aku tidak ikut turun ya," ucapku.
Dia merengut, "kenapa, kamu kan bisa istirahat sebentar disini, ini kan juga rumahmu," rajuknya.
"Nanti ya, kalau kita sudah resmi menikah, aku baru akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini."
Sekar mengangguk, sayangnya dia bukan termasuk makhluk yang memiliki ketulusan.
Tubuh wanita itu menghilang dibalik pintu, masuk ke dalam rumah yang dulu pernah sempat aku tinggali.
Aku keluarkan ponsel dan memasang headset di telingaku. Kuhidupkan aplikasi perekam yang aku pasang di hapeku dan Sekar. Lalu aku melajukan mobilku menuju rumah utama.
Awalnya tidak terdengar apa-apa. Hanya senandung kecil dan suara barang-barang yang menyentuh benda keras. Dak...duk...lalu bruk.
Mmm, capek
Aku terus mendengarkan dengan seksama.
Dia lagi, ngapain sih telepon, ganggu aja. Saking aku mencintai anaknya, kalau nggak...erghh.
Sepertinya ibu menelepon.
Iya Bu, saya ngerti. Semua sudah saya lakukan.
Sekar diam cukup lama. Rupanya dia memberi kesempatan pada ibu untuk berbicara.
Iya, ini makanya Sekar ke luar kota beberapa hari, biar bisa ketemu sama Mas Han.
Iya...
Ibu tenang saja...Mas Han sudah mulai bertekuk lutut sama Sekar Bu.
Iya, dia janji mau menikahi Sekar lagi. Kali ini secara hukum dan agama.
Aku menyeringai mendengar semuanya.
Iya, sekarang lagi ke rumah utama, katanya mau ketemu ibu sama bapak.
Ya, Assalamualaikum.
Hening sesaat, tidak terdengar suara apapun. Hanya ada suara bhug yang pelan. Mungkin dia membanting hape nya diatas kasur.
__ADS_1
Sialan wanita tua itu. Nggak bisa apa dia berhenti mencampuri hidup anaknya.
Ingin punya cucu dariku? Huh, tidak akan semudah itu nenek lampir. Iya kalau aku mau, kalau nggak? ya aku titipin saja anakku ke panti, biar dirawat sama orang yang mau.
What?!
Aku terkejut mendengar semua ocehan wanita ini. Sesakit-sakitnya Rumi, selama jadi menantu dia selalu menghormati ibu. Tapi wanita ini dengan semua fasilitas dan perhatian ibu, masih bisa menghujat di belakang.
Panas juga kupingku lama-lama mendengar semua gerutuannya. Aku lepas kabel headset yang masuk di telinga dan aku lempar begitu saja di jok samping kemudi.
Kalian berdua memang cocok satu sama lain. Yang satu Mak lampir, yang satunya mbak Kunti, pasangan makhluk yang nggak jelas tujuan hidupnya.
Pintu gerbang rumah utama sudah di depan mata. Membunyikan klakson mobil satu kali cukup membuat pintu gerbang terbuka.
Memasuki rumah hanya ada abdi yang menyambut kedatanganku.
"Ibu mana?" tanyaku.
"Ada di dalam kamar Ndoro."
Aku berhenti sebentar dan menitipkan pesan.
"Bilang ibu saya ingin ketemu, bilang juga saya tunggu di tengah kebun mawar milik bapak."
"Baik Ndoro."
"Apa ibu tahu tentang peristiwa malam itu, dimana aku tidur di kebun?"
Wanita abdi itu menunduk dalam, "maaf Ndoro, sepertinya tidak tahu karena tidak ada yang berani bilang. Ndoro sepuh Kakung sudah berpesan peristiwa itu harus dirahasiakan."
Aku mengangguk, "baik, sekarang kamu beritahu ibu, aku menunggu disana."
Berjalan melintasi ruang tengah langkahku memberat. Ada rasa sesal dan sedih yang begitu membebani hati. Sedih karena selama ini aku menghormati ibu yang membesarkan aku tetapi juga sekaligus menghilangkan nyawa ibu kandungku. Sesal karena aku masih belum tahu bagaimana caranya mendapatkan keadilan untuk wanita yang sudah melahirkan aku.
Kali ini aku hanya mendengar suara desau angin yang kentara memasuki lubang telingaku.
Aku berjalan memasuki kebun. Meskipun bapak tidak ada tapi orang-orang kepercayaan bapak merawatnya dengan baik.
Apalagi hari ini mawar beraneka warna sedang bermekaran. Aku mengulum senyum. Apa engkau tahu anakmu akan datang mengunjungimu ibu, jadi engkau meminta mawar-mawar yang selama ini menemanimu menyambutku?
Tepat di tengah kebun aku berhenti. Berdiri memandang gundukan kecil yang hampir tidak kentara.
"Kenapa kamu ingin ibu menemuimu disini?"
Rupanya ibu Ajeng sudah berdiri di belakangku. Bahkan kehadirannya pun mirip dengan makhluk mistis. Tiba-tiba ada tanpa disadari datangnya.
"Kenapa, ibu keberatan?" jawabku tanpa ada keinginan untuk menengok apalagi memutar tubuh.
"Tidak, kenapa ibu harus keberatan?"
"Ini rumahku, aku penguasa tempat ini. Meskipun aku hampir tak pernah mengunjungi kebun bapakmu ini. Kebun ini adalah bagian dari milikku."
Congkak sekali, pasti sekarang kamu sedang mendongakkan kepalanya. Tiba-tiba angin berhembus kencang, beberapa helai daun dan tangkai mawar terbang dan mengenai wanita tua di belakangku.
"Aduh!" keluhnya.
"Dasar wanita sialan, sudah tidak ada juga masih suka menganggu!" sungutnya dengan nada jengkel.
"Bahkan yang mati saja masih ingin mengganggumu ibu."
Aku memutar tubuh, "bersiaplah Bu!" ucapku dingin.
__ADS_1
Bu Ajeng, ibu yang selama ini merawatku mundur beberapa langkah, "apa maksudmu?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, untuk apa aku bersiap?" wajahnya pucat ketakutan.
"Kenapa? takut?!" kurendahkan suaraku.
Apakah kamu juga ketakutan seperti ini setelah membunuh ibu kandungku?
"Untuk apa aku takut?"
"Aku tidak bersalah, aku tidak melakukan apa-apa," ulangnya lagi.
Aku menghentikan langkah.
"Terus kenapa ibu bertingkah aneh begini?" aku merendahkan sedikit tubuhku. Membelai pipi keriput milik wanita tua di depanku lembut.
Netra ibu mengikuti gerak tanganku dengan sikap waspada.
"Bersiaplah untuk memiliki menantu lagi Bu."
"Itu yang ibu inginkan bukan?"
"Memangnya ibu berpikir tentang apa?"
Tubuh tua itu terhuyung. Aku membiarkannya, dia jatuh terduduk di tengah kebun. Aku jongkok untuk menyamakan tinggi tubuhku dengan ibu.
Aku memandang mata ibu lekat, "apa yang ibu pikirkan?"
"Apa ibu takut padaku?"
Ibu bergegas berdiri. Padahal aku tahu berdiri dari posisi duduk di bawah untuk orang seusia ibu tidaklah mudah. Kalau saja dia mau menunggu aku sudah bersiap untuk memanggil seorang abdi agar membantunya berdiri. Dasar wanita sombong keras kepala.
"Ibu harus sehat sampai hari itu tiba."
Sekarang ibu sudah mengembalikan kekuatannya.
"Ibu akan sehat, selalu sehat. Ibu ingin melihatmu menikahi Sekar."
Bersiaplah juga untuk yang lainnya Bu, ucapku dalam hati.
"Aku akan kembali ke apartemen sekarang."
"Tidak perlu memberi tahu bapak. Nehan akan memberi tahu bapak sendiri secara langsung."
Aku berlalu tanpa mengindahkan Bu Ajeng. Tidak mengucap salam perpisahan apalagi mencium tangan seperti yang selama ini kulakukan.
"Bicara disini saja, ibu ingin mendengar."
Sekali lagi angin berhembus kencang. Aku mendengar suara wanita tua itu berteriak.
"Aaa...Nehan tolong, ibu terpeleset."
Aku bergeming dan terus berlalu. Memberi tanda pada beberapa abdi yang menunggu untuk membantu ibu berdiri.
"Nehan...!" teriaknya lagi.
"Ah...aduh, dasar mawar-mawar sialan!"
"Jangan dekati aku!"
"Angin sialan, mawar sialan!" teriak wanita itu.
__ADS_1
Umpatan itu terus kudengar sampai aku berada di ruang tengah. Itu baru awal, bersiaplah Bu Ajeng. Aku akan memberimu kejutan-kejutan lainnya yang lebih menarik.
...***...