Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 114


__ADS_3

Author POV


Semua tamu yang hadir tercengang mendengar Nehan. Saling berbisik dengan tatapan menuduh. Yang mereka tahu anak Nehan dari istri keduanya sudah meninggal.


"Kowe nek ngomong ojo sembarangan Han."


[kamu kalau bicara jangan sembarangan Han]


Lek Broto berteriak dari tempatnya berdiri.


"Nek ora enek buktine kuwi tibane dadi fitnah. Nek kowe ora seneng keponakanku, ojo ngunu carane. Kowe ancen niat ngisin-isini Sekar, Han. Lanang ban_ci, wanine karo arek wedok."


[Kalau tidak ada buktinya jatuhnya jadi fitnah. Kalau kamu tidak suka dengan keponakan saya, jangan begitu caranya. Kamu memang berniat untuk mempermalukan Sekar. Laki-laki ban_ci, beraninya sama perempuan.]


Nehan tidak menggubris semua perkataan lelaki tua adik ibunya itu.


"Suster bawa kesini Lita."


Suster Eny maju ke depan sambil menggendong si pipi bapao.


"Ayah, Ita itut, anti beyi es klim ya..."


Sekar menutup mulut dengan tangannya. Matanya membelalak menandakan keterkejutan yang luar biasa.


Badan Rumi lemas seketika. Ternyata ini rencana mantan suaminya. Hatinya berdebar ketakutan. Bagaimana kalau Sekar marah dan membalaskan dendam padanya dan Ken.


Suster Eny menyerahkan Lita pada Nehan, "sini sayang gendong ayah."


"Kamu!!" Sekar berlari mengejar suster Eny. Dia tidak peduli lagi dengan gaun dan semua drama ini.


Dilemparkannya buket yang tadi digenggam lalu diraihnya rambut suster Eny sambil berteriak, "sialan kamu, kenapa kamu membohongi aku hah!! apa yang kamu lakukan pada anakku hah!!"


"Pembunuh kamu!!"


Sekar berlari mendekati Nehan, "dia bukan anak kita, mas. Bayi ini bukan anak kita. Perempuan jahat itu bilang anak kita sudah mati mas. Bayi ini bukan anak kita."


"Ayah," Lita memeluk Nehan makin erat.


Nehan melambaikan tangannya pada Mbok Nah. Wanita itu bergegas mendekat dan mengambil Lita.


"Sama mbok dulu ya sayang."


"He'eh."


Sekar memegang kerah jas milik Nehan sambil terus memohon, "tolong mas, jangan percaya perempuan busuk itu," matanya nyalang menatap Suster Eny.


"Dia pembohong, mas. Percaya sama aku, mas. Aku selalu jujur sama kamu. Mas...!!" kali ini Sekar berteriak dengan suara keras.


Nehan masih berdiri dengan ketenangan yang luar biasa. Melihat Nehan yang bergeming, Sekar melihat Bu Ajeng dan meminta bantuan pada wanita yang juga masih mematung itu, "Bu jangan percaya wanita itu Bu, dia pembohong."


"Kamu masih mengelak, La?"


"Lihat anak itu. Bahkan orang yang baru pertama melihatnya pasti akan bilang kalau dia adalah anakku."


Sekar berlari pada Bu Ajeng, " Bu, tolong Sekar. Bantu Sekar meyakinkan Mas Han, Bu."


"Han," Bu Ajeng bingung harus bagaimana.


"Diam Bu!" rupanya Nehan tidak mau menahan diri lagi, "jangan ikut campur urusan ku kali ini."


"Han, aku ibumu. Kalau misalnya itu anakmu, yang penting dia sehat. Apa susahnya memaaf__."


"Diam, Bu!"


"Jangan memancing kemarahan Nehan."


"Heh...jangan kurang ajar kamu ya. Aku ini ibu yang__"

__ADS_1


"Yang apa? yang melahirkan saya! yang merawat saya! Kamu adalah ibu yang hanya meminjam predikat. Kamu tidak pernah merawat saya, kamu bahkan bukan orang yang melahirkan saya!"


"Nehan!" suara bapak menggelegar memecah keramaian.


Rumi berbisik pada Mbok Nah dan Yuni untuk membawa anak-anak pergi.


"Mbok bawa Lita dan Ken pergi dari sini. Yun tolong gendong Ken."


"Iya."


"Aku harus disini," bisik Rumi lagi.


"Rum," ibu menggenggam tangan Rumi erat.


"Kalau ibu takut sebaiknya ibu ikut Yuni sama mbok Nah."


"Ndak Rum, ibu tahu kamu harus berada disini. Dan ibu ingin berada dimana kamu ada."


"Jangan minta Nehan diam lagi pak. Karena Nehan tidak mau lagi diam!"


Sementara itu Juna dengan tenang meminta para undangan untuk beralih ke ruang tengah, menikmati hidangan yang disediakan.


"Jaga mulutmu, Han!"


"Kalian semua jangan pergi kemana-mana," teriak Nehan.


"Aduh Han," Juna menunduk, "padahal aku sudah bilang jangan berlebihan," Juna bermonolog pada dirinya sendiri—tentu saja dengan suara pelan.


Semua berhenti, tetapi ada yang tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat. Beberapa orang yang senang gosip kembali melihat untuk dijadikan bahan gunjingan baru. Terutama teman-teman arisan Bu Ajeng yang merasa kalah bersaing.


"Wanita tua ini membu__" belum sempat selesai bicara bapak berdiri berdiri di depan Nehan dan menamparnya keras.


"Jaga mulutmu!" kesabaran bapak sudah mencapai batas. Bagaimanapun dia tidak mau aib keluarga sampai mencuat keluar.


"Apa...kamu mau bilang apa?!" Bu Ajeng malah meladeni Nehan yang sedang emosi.


Bu Ajeng berhenti, mendengus kesal tapi kemudian membantu Sekar berdiri.


"Dengar Nduk, Nehan setuju atau tidak setuju kamu akan menikah hari ini."


Sekar terisak dalam pelukan Bu Ajeng.


"Aku tidak akan menikahinya, apalagi kalau ibu yang minta."


"Aku sudah memintamu untuk jujur La."


"Aku juga berkali-kali bilang jangan percaya padaku, aku bukan lelaki baik-baik."


"Aku akan tetap memperhatikan kamu. Tapi kita tidak mungkin menikah, aku mencintai__"


"Diaaammmm..., huhuhu..., diam mas, diam...tutup mulutmu!"


"Tidak seharusnya kamu memperlakukan aku seperti ini mas. Kamu lebih kejam daripada binatang. Seharusnya kamu membiarkan aku benci saja sedari awal sampai akhir. Seharusnya kamu tidak memberi aku harapan dan membawaku pergi ke awang-awang kemudian menjatuhkan aku seperti ini!"


"Aku tidak butuh belas kasihanmu, mas. Tidak butuh!"


Sekar berlari meninggalkan tempat acara. Bu Ajeng mendekati Nehan kemudian menampar laki-laki itu dengan kekuatan penuh.


"Bu, jangan memancing saya!"


"Tidak tahu terimakasih, anak tidak tahu diuntung!" cerca Bu Ajeng.


"Apakah saya harus berterimakasih pada orang yang membunuh ibu kandung saya?"


"Dalam sejarah manapun tidak ada rumusan seperti itu!"


Bapak memegang kursi sebagai sandaran. Rumi berlari mendekat melihat tubuh bapak mulai limbung.

__ADS_1


"Pak."


"Bagaimana ini Rum."


"Bapak duduk dulu ya."


Tamu satu persatu mulai menghilang. Mereka menyadari bahwa tidak akan ada pernikahan.


"Apa yang kamu ucapkan?"


"Nehan sudah tahu semuanya Bu. Dibawah tempat ibu berdiri adalah makam ibu saya."


"Untung saja saya sadar kalau ibu sudah tua. Kalau tidak, ingin rasanya saya mencekik leher ibu sekarang juga."


Tiba-tiba dari arah dapur muncul Sekar masih dengan memakai gaun yang sama. Dia datang sambil tertawa.


"Hai suami, kamu mau bermain-main denganku hah!"


"Aku tahu kamu ingin memberi aku kejutan bukan. Kamu hanya ingin sedikit bercanda sebelum penghulu datang, iya kan..."


"Begitu kan, hahaha__jawab suami!" teriak Sekar sambil mengeluarkan pisau dari balik bajunya.


"Aaa..." semua yang masih tinggal berteriak ketakutan.


Dia mengacung-acungkan pi_sau itu sambil berjalan mendekati Nehan.


"Tapi sayangnya aku tidak sedang ingin bercanda, aku sedang serius hari ini."


Tawa Sekar terdengar menakutkan. Riasan yang meleber kemana-mana membuat noda hitam merata di wajahnya. Wajah cantiknya hilang karena basah oleh air mata. Dia lebih mirip tokoh Susana dalam film horor sekarang.


"Letakkan pisaunya," pinta Nehan lembut.


Nehan melirik dan mengukur tempat Rumi sekarang berdiri. Dia takut kalau Sekar akan menyakiti Rumi.


"Letakkan pisaunya, la!" tangan Nehan terulur untuk meminta pisau itu.


Jarak antara Nehan dan Sekar makin dekat. Diantara keduanya ada Rumi berdiri mematung sambil memegang pundak bapak yang sedang duduk. Juga ada Bu Ajeng yang mulai ketakutan. Lek Broto melihat dari jauh tanpa mengambil langkah sejengkal pun. Sedangkan Bu Narmi berdebar berusaha menahan langkah tapi matanya waspada melihat Rumi.


"Kamu tidak ingin menyakiti siapapun La. Kamu punya Lita sekarang. Kamu tidak ingin anak itu tumbuh besar dengan seorang ibu yang punya label penjahat bukan?"


Sekar terus berjalan kearah Nehan. Posisi Rumi sudah terlewati. Bu Narmi sedikit lega tapi tetap waspada.


"La, simpan pisaunya."


Sekar berhenti dan berlutut sambil menangis, "aku hanya ingin dicintai mas, jangan tinggalkan aku."


"Iya, aku akan terus bersamamu."


Nehan berusaha berkomunikasi dengan Rumi menggunakan matanya. Memintanya untuk pergi menjauh. Sayangnya saat itulah Sekar melihat apa yang dilakukan Nehan. Amarahnya kembali meledak.


"Kamu bohong, kamu tidak mencintai aku, mas!"


Sekar berjalan cepat, "kalau aku tidak bisa memiliki kamu, tidak ada yang boleh memiliki kamu mas."


Sekar menghunus pisau itu tepat ke depan Nehan. Teriakan semua orang hampir bersamaan.


"Han..."


"Mas..."


Sekar menghunus pisau itu sambil menutup mata. Dia menangis keras, ada cairan hangat yang mengalir di sela-sela tangannya.


"Huhuhu...kamu yang membuatku begini, kamu...huhuhu!" Sekar terduduk dalam tangisnya yang pilu.


Semua berhamburan mendekat. Juna memegang tangan Sekar. Menarik wanita itu menjauh. Darah segar mengalir membasahi kebun mawar milik bapak. Darah yang memang harus tumpah.


Beberapa saat kemudian. Entah darimana datangnya, angin berhembus kencang. Kelopak mawar yang mekar mulai berjatuhan. Daun-daun mawar yang menguning luruh memenuhi pelataran. Bapak tidak mampu lagi berdiri. Dia terlalu sedih dan lemas menangis meratapi takdir yang hari ini harus dia hadapi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2