
Mulai hari ini Pak Dul yang bertugas mengantarkan aku pulang pergi kerja. Dia juga akan menempati salah satu kamar di asrama. Pak Dul bilang, dia tidak harus tinggal sendiri, kalau ada karyawan lain yang ingin ikut tinggal sekamar dia tidak keberatan, yang penting sesama laki-laki.
"Bener, nggak keberatan kalau tinggal bareng orang lain?" tanyaku.
Pak Dul tertawa, "hahaha...ya benar lah Ndoro putri, memangnya itu rumah saya."
"Panti dan semua fasilitas di dalamnya milik yayasan. Jadi siapapun yang berkepentingan boleh memanfaatkan fasilitasnya."
"Wih...tambah pinter sekarang."
"Terimakasih ya Ndoro Putri," bicara sambil melirikku.
"Belum juga dapat gaji sudah terimakasih, gimana sih Pak Dul."
"Eee...jangan salah, saya masih dapat gaji bulan ini dari Ndoro sepuh. Saya terimakasih karena Ndoro Putri mau duduk di depan, saya jadi ada temannya ngobrol."
"Hahaha...Rumi kira apa. Rumi juga nggak suka kok pak, bergaya sok-sok bossy."
"Apa itu bosi Ndoro?"
"Bergaya sok jadi bos."
"Ooo, begitu."
Perbincangan terus mengalir. Waktu dua puluh menit perjalanan cepat saja berlalu. Banyak yang kami bicarakan. Dari Pak Dul juga aku tahu kalau bapak sekarang kembali sering ke perusahaan karena Mas Han sedang labil.
Sedangkan ibu seperti biasanya sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan Mas Han sering kena semprot karena belum juga mau berangkat menemui Sekar.
Maafkan aku mas, meskipun aku tahu secara psikis kamu tidak baik-baik saja, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku akan tetap melanjutkan proses perceraian kita.
Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi ini juga salah satu hal yang paling sulit aku putuskan dalam hidupku. Jadi ketika aku memutuskan untuk melakukannya, tidak ada niat dalam hatiku untuk berhenti.
"Ndoro Putri, sudah sampai," Pak Dul menyentuh tanganku. Aku sampai tergagap karena terkejut.
"Walah sejak kita ngomong masalah Ndoro Kakung, jadinya ngelamun, sampai mobil berhenti tidak terasa."
Aku menunduk malu, karena ketahuan melamun, "bisa aja Pak Dul, ayo masuk dulu, kangen sama Mbok Nah kan? ketemu sama ibu juga."
"Boleh...boleh, sekalian cari makan gratis."
Kami berjalan beriringan. Sesekali aku tertawa mendengar ucapan-ucapan Pak Dul yang menghibur.
"Asslamualaikum," aku langsung menuju kamar mandi setiap kali sampai rumah. Pak Dul aku minta untuk duduk di ruang tamu.
Rumah sepi, mesin jahit milik ibu juga sedang menganggur. Pada kemana uti-uti tua itu.
"Aaa...anak ganteng, anak ganteng, Baa....,"
Terdengar suara ibu sahut-sahutan dengan Mbok Nah menggoda Ken, anakku. Pantas saja tidak dengar ada orang mengucap salam.
"Nggak dengar ya, ada yang kasih salam."
"Eee...bunda datang, sudah ganti baju, sudah mandi. Mau gendong adik, bunda?" mmm...tentu lah, bau anakku membuat aku terhipnotis ingin memeluk dan uyel-uyel.
"Mmm...," aku ciumi anakku, pipi, wajah, nggak ketinggalan perutnya aku cium sampai berbunyi cipak-cipak.
"Ibu sama mbok Nah nggak pengen keluar, itu diluar ada yang nunggu," aku menggendong anakku keluar.
__ADS_1
Mbok Nah tergopoh-gopoh keluar, "Dul, piye kabarmu, kowe ndah tambah lemu men Dul,"
[Dul, bagaimana kabarmu, kamu tambah gemuk Dul]
"Iya mbok, apalagi ini mau nyupiri Ndoro Putri lagi, malah seneng aku."
"Gimana kabarnya rumah utama sama rumah Ndoro Putri?"
"Tambah serem, Ndoro sepuh Kakung lebih sering keluar kota, jarang ada di rumah."
"Ndoro Sepuh putri seperti biasa sibuk dengan arisannya."
"Ndoro Kakung kasihan sering sendiri di rumah, sering kena sembur juga sama Ndoro Sepuh Putri," Pak Dul melirik aku.
"Kenapa Pak Dul, cerita saja, saya tidak apa-apa kok."
"Bunda sekarang ada Ken ya nak ya...," si kecil tertawa keklek-keklek lucu kalau di dengar.
"Ya itu, kalau Ndoro putri ada hiburannya, Ndoro Kakung tidak ada. Apalagi terus-terusan disuruh pergi melihat nyonya Sekar, malah kaya orang stress."
Kalau dibilang tidak tega, memang ada rasa berat di hati. Membayangkan Mas Han sendirian di rumah tanpa aku atau Mbok Nah. Biasanya yang segala sesuatunya disiapkan sekarang menyiapkan sendiri. Padahal aku tahu betul dia tidak suka kamarnya dimasuki sembarang orang.
Wajah Mbok Nah jadi sedih begitu, setelah mendengar cerita Pak Dul.
"Mbok Nah mau pulang?" tanyaku. Aku membayangkan kalau suatu hari Ken ditinggal sendiri nggak ada yang nemenin, aku pasti juga pengen ada disana buat dia.
Mbok Nah melihatku dengan tatapan mata bersalah.
"Tidak, Ndoro putri. Sekarang sudah ada Ken yang harus saya jaga. Meskipun tidak mudah juga buat tidak peduli. Tapi Ndoro Kakung harus mulai belajar untuk bersikap dewasa dan berani buat menentukan sikap. Tidak lagi hanya manut sama keinginan orang-orang disekitarnya."
Iya, bener juga kata Mbok Nah. Selama ini dia hanya mengikuti permintaan orang lain. Kadang mengikuti permintaan ibu, atau menuruti permintaanku. Di lain waktu dia mengikuti permintaan Sekar setelah menikahi wanita itu.
"Kalau belum bisa menentukan apa keinginan diri sendiri, bagaimana bisa membuat keputusan yang tepat buat istri dan anaknya," ibu ikut bicara sambil membawa nampan yang berisi minuman dan makanan kecil.
"Selamat sore mbakyu, lama tidak bertemu, makin segar dan cantik sekarang."
Eh Pak Dul, berani-beraninya menggoda ibu di depan aku. Rupanya Pak Dul tidak sadar waktu aku melirik.
"Eh, maaf Ndoro Putri, hanya sekedar menyapa dan sedikit memberi pujian, lagi pula memang cantik sesuai kenyataan," sanggah Pak Dul setelah menyadari kalau aku melirik.
Ibu tersipu kemudian masuk ke dalam, "belum tahu saja, kalau yang dipuji cantik ini bisa jadi singa kalau anaknya diganggu."
Aku tertawa, "masih mau memuji Pak Dul?" tanyaku bercanda.
"Ya memang harus begitu. Semua ibu akan menjadi singa kalau anaknya diganggu, Ndoro Putri nantinya juga begitu."
Pinter banget ngeles Pak Dul. Membicarakan tentang sosok ibu, aku jadi ingat suster Eny. Entah mengapa instingku bilang aku harus berhati-hati dengan wanita itu.
Aku memanggil mbok Nah untuk membawa Ken. Bayiku ini mulai nggak bisa diam. Aku ingin membicarakan sesuatu yang agak serius dengan Pak Dul.
"Tolong gendong Ken ya Mbok, boleh diajak jalan-jalan sore, mumpung masih jauh dari maghrib, tapi jangan jauh-jauh, di halaman saja. Biar terhibur anaknya."
"Baik Ndoro Putri."
Aku mengambil duduk di depan Pak Dul. Ibu kembali memulai aktifitas menjahitnya. Karena suara mesin jahit yang bising dan sedikit mengganggu, akhirnya aku mengajak Pak Dul untuk duduk di teras.
"Ayo Pak Dul kita duduk di teras, biar leluasa ngobrolnya."
__ADS_1
"Baik, Ndoro Putri."
"Panggil saja saya dengan panggilan Bu, jangan pakai Ndoro lagi Pak Dul," pintaku sambil berjalan ke depan.
"Maafkan saya, rasanya sudah nyaman memanggil dengan sebutan seperti itu."
Ya sudahlah, pasti butuh waktu untuk mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya.
"Pak Dul, apa Pak Dul memperhatikan suster Eny yang akan tinggal di asrama panti?" tanyaku. Aku butuh pandangan orang lain, untuk membicarakan masalah ini. Aku tidak boleh hanya mengandalkan prasangka saja.
"Iya, saya merasa pernah melihat orang itu di suatu tempat Ndoro Putri, tapi otak saya masih belum menemukan ingatan yang cocok dimana saya pernah bertemu dengannya."
"Nah, saya kok jadi merasa sedikit nggak enak setelah tahu nama anaknya."
"Memang kenapa dengan nama anaknya Ndoro?" tanya Pak Dul heran.
"Nggak tahu juga kenapa dengan namanya. Padahal wajar kan, kalau ada orang yang punya kesamaan nama dengan orang lain. Tapi perasaan saya bilang, ini kasus yang beda."
"Memangnya nama bayinya siapa Ndoro?"
"Namanya Lalita," aku menunggu reaksi Pak Dul.
"Kok seperti nama Nyonya muda ya Ndoro Putri?" nah, sama kan dengan pikiranku.
"Itu juga yang saya pikirkan Pak Dul. Saya tertarik dengan resumenya. Selain itu dia seorang ibu tunggal yang musti berjuang menghidupi anaknya, walaupun itu bukan anaknya sendiri, sih."
"Karena itu saya ingin membantu memberinya tempat tinggal yang layak dan pekerjaan yang sesuai. Kebetulan panti kan juga butuh kemampuannya."
"Terus maksud Ndoro Putri bagaimana?"
"Begini, saya minta Pak Dul untuk tinggal di asrama dengan tujuan tertentu. Saya butuh orang yang bisa dipercaya untuk mengawasi aktifitas panti di malam hari. Meskipun ada sekuriti, rasanya beda kalau ada orang kepercayaan yang ikut mengawasi."
Pak Dul mendengarkan dengan serius semua yang aku sampaikan, "sebenarnya saya inginnya tinggal disini Ndoro Putri, sambil menjaga rumah, karena semua penghuninya kan wanita," ucapnya sambil merunduk senyam-senyum.
Aku jadi melotot, bukan karena marah tapi karena merasa lucu dan menahan tawaku agar tidak meledak.
"Tapi saya tahu diri, jadi saya merubah keinginan saya," Pak Dul melirik aku takut-takut.
"Saya akan tinggal di asrama sambil mengawasi suasana panti Ndoro Putri, hehehe..." sambil meremas tangan seperti perjaka yang mau dikawinin.
Ternyata Pak Dul punya keinginan tersembunyi, "hahahaha..." aku tak bisa lagi menahan diri, "Pak Dul naksir ibu ya?" godaku.
"Saya nggak pilih-pilih kok Pak Dul, yang penting calon bapak saya orang baik," ucapku bercanda sambil menepuk punggung tangannya.
"Oh iya, kalau bertemu dengan anak suster Eny, lihat baik-baik ya Pak Dul, aura anak itu persis Mas Han," aku menambahkan karena tiba-tiba ingat dengan wajah dan senyum gadis kecil itu.
Tiba-tiba Pak Dul menepuk pahanya dan langsung berdiri, "saya ingat sekarang Ndoro Putri, saya sudah ingat dimana saya ketemu wanita itu?"
"Benarkah, dimana ketemunya?"
"Di rumah sakit sebelum memakamkan bayi Ndoro Kakung dengan Nyonya muda, saya melihatnya disana, dia yang sibuk membantu mengurusi jenazah si kecil."
Aku mengernyit, pasti hanya kebetulan, kan. Tapi kenapa banyak sekali kebetulan dalam hidup suster Eny yang berhubungan dengan Sekar dan Mas Han ya?!
"Pak Dul tolong awasi suster itu baik-baik. Saya akan mengusut asal usul nya juga, bagaimana track record dia di pekerjaan sebelumnya!" Pak Dul mengangguk yakin.
Rahasia apa yang tersimpan dalam pandangan matamu yang tajam dan senyuman mu yang irit suster Eny? Apapun itu, aku yakin akan mengetahui semuanya.
__ADS_1
...***...