Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 75


__ADS_3

Aku meninggalkan bapak dan Mas Han diluar lalu masuk ke dalam buat ngobrol sama mbok Nah dan ibu.


"Nehan akan dibawa pulang kan Rum," sebenarnya pertanyaan itu juga masih jadi sebuah pertanyaan untukku.


"Rumi harap begitu Bu. Rumi masih takut kalau dekat sama Mas Han."


"Walah Nduk ternyata cintamu cetek," ibu menggoda sambil tertawa kecil.


"Bukan cetek Bu. Rumi sudah pernah menjalani cinta tanpa syarat pada Mas Han, kan Bu. Kepercayaan penuh. Ibu tahu apa yang paling menyakitkan, bukan karena Rumi punya madu, tapi karena Rumi terus menerus dibohongi. Sekarang Rumi maunya cinta yang rasional saja."


"Pake perhitungan gitu?" tanya ibu.


"Seperti dagang ya mbakyu dihitung untung ruginya," mbok Nah ikut nimbrung.


"Cinta yang rasional itu maksudnya cinta yang pakai akal sehat. Harus pandai menaik turunkan hati, bukan cinta buta yang aku jalani seperti dulu itu. Lihat akibatnya sekarang...kalau ada yang bilang, dulu kan Han baik, dibandingkan dengan keburukannya yang sebentar, baiknya jauuhh...lebih lama. Tapi Rumi lihatnya dari sisi yang berbeda...," aku berhenti, rasa haus menyerangku. Aku mengambil air minum dari kulkas, ternyata capek juga bicara seperti ini.


"Ayo, ini ibu dan mbok Nah nungguin," mbok Nah mengangguk.


"Sebentar, haus."


Setelah menghabiskan air segelas, barulah aku melanjutkan, "Ibu sama mbok Nah pasti tahu, sebuah peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga . Meskipun racun yang masuk kedalam susu itu hanya setitik tapi susunya tidak bisa diminum lagi, jadi beracun tahu Bu susunya, kita bisa terbunuh. Kalau cinta sudah jadi hubungan yang mengandung racun, merusak tubuh dan jiwa."


"Begitu ya," ibu dan Mbok Nah manggut-manggut.


"Mbok, sekarang sudah nggak jaman perempuan itu surga nunut neraka katut," ucap ibu.


"Iya mbakyu, tidak seperti jaman kita dulu."


"Rumi sebetulnya nggak tega sama Mas Han. Tapi bukan berarti Rumi harus mempertahankan hubungan yang sudah nggak sehat, mengandung racun. Rumi masih bisa memberi perhatian sebagai teman dan sahabat."


"Heleh, mbel. Wanita dan laki-laki itu tidak bisa bersahabat. Meskipun mengatasnamakan persahabatan akan ada rasa yang muncul nduk, itu sudah digariskan sama Allah. Ada insting antara laki-laki dan perempuan yang tidak bisa diatur kapan muncul kapan ngilang. Makanya kan Gusti Allah sudah mengingatkan jangan mendekati zina, ya ini salah satunya, bersahabat kalau beda jenis kelamin Ndak bagus."


"Iya juga sih Bu, xixixix..." kali ini ibu benar, tadi saja waktu Mas Juna bilang rindu aku berdebar, ih...ngeri.


"Rum," bapak memanggilku, Ken sekarang dalam timangan bapak, bayi kecilku sudah tertidur kembali.


"Bapak sama Nehan mau pulang," pamit bapak padaku.


"Jeng...," bapak menunduk sopan memberi salam pada ibu.


"Jangan larang Nehan datang untuk menjenguk anaknya ya Rum," bagaimana aku bisa menolak kalau bapak yang minta, "dan tunda dulu keinginanmu untuk berpisah."

__ADS_1


"Tapi pak..." bapak mengedipkan mata.


Aku menghela napas, entah apa artinya kedipan mata itu, yang jelas pasti ada hubungannya dengan Mas Han.


Mas Han menundukkan kepala. Mendekati aku, berusaha menyentuh tanganku, tapi aku mundur beberapa langkah. Matanya menatapku sendu. Ah, tidak tega aku lihatnya.


Akhirnya aku mengulurkan tangan, "selamat jalan ya mas, jaga kesehatan. Sebaiknya mas tinggal di rumah utama bareng bapak sama ibu, jangan tinggal sendirian di rumah," dia mengangguk patuh. Hari ini dia bagaikan kucing manis penurut, selalu mengangguk dengan patuh, tanpa banyak bicara.


"Saya pamit Bu," setelah mencium tangan ibu, dia pergi lebih dulu.


"Sabar ya Rum, kalau waktunya tepat kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, sambil menunggu waktu itu datang, lebih baik kamu pikirkan ulang dulu sebelum benar-benar memutuskan."


Ya sudah lah, namanya juga orang tua, mana mau anaknya sedih. Lebih baik aku iyakan saja untuk sekarang. Sambil terus berdoa semoga aku dan suamiku diberi jalan terbaik untuk menjalani kehidupan masing-masing.


...***...


Hari ini Yuni benar datang ke rumah, dia bilang Mas Juna akan menyusul nanti. Setumpuk camilan, buah, dan berbagai macam kue dia bawa. Buah-buahan dia masukkan dalam kulkas. Dia minta ibu beberapa toples kosong untuk menyimpan kue kering yang dia bawa. Terakhir dia ambil piring di dapur dan dibawa ke kamar untuk meletakkan kue basah.


"Kamu bawa apaan sih, banyak bener bawaannya, aku kan jadi nggak enak," sambil memasukkan kacang atom kesukaanku kedalam mulut.


"Nggak enak, tapi tetep aja dijejalkan dalam mulut cemilannya," bibir Yuni mencebik.


"Aku sudah mulai sortir pelamar untuk perawat di panti, nah ini sortiran aku, sekarang kita lihat bareng CV nya, nanti kan kamu yang sering berinteraksi sama personalnya, jadi kamu juga musti lihat."


Aku lihat banyak juga tumpukan amplopnya, berarti banyak juga orang yang melamar, "okeh kita lihat satu-satu."


"Untuk sementara kita terima dua orang dulu, terus untuk yang bagian merawat gedung aku juga menerima dua orang, untuk tukang masaknya satu, keamanan dua, tukang kebun satu. Cukup nggak Rum?"


Aku tertawa, "kamu menghina ya, aku kan belum pernah mengelola yang beginian, yang lebih tahu kamu lah," sebel, sudah tahu aku baru akan terjun, sudah diajak rundingan beginian.


Aku cubiti lengan Yuni, "enteng sekali ngomongnya," sebal.


"Sudah...sudah, cukup bercandanya," Yuni menutup lengannya dengan telapak tangan.


Yuni mulai membuka tumpukan amplop satu persatu. Melihat CV dan lamaran pekerjaan milik orang-orang ini aku jadi bersemangat. Aku belum pernah mengalami yang seperti ini. Lulus kuliah aku langsung menikah. Sekarang ketika aku harus bekerja, aku tidak perlu mengirim banyak surat lamaran.


Aku melirik Yuni sambil tersenyum. Kadang kita hanya harus banyak bersyukur dengan jalan hidup yang sudah ditulis sama Allah, bukan begitu?


"Aku tertarik dengan ini," Yuni membuka sebuah amplop, dia sepertinya sudah memilah beberapa amplop, "bukannya aku mau mengabaikan kepemimpinan kamu sih, aku cuman tertarik saja sama CV nya."


"Hahaha...ngomong apa sih kamu, aku jadi tambah malu tahu."

__ADS_1


Akhirnya aku ikut melihat CV yang ditunjukkan Yuni. Menarik, seorang wanita dengan satu anak yang masih berusia enam bulan. Anaknya perempuan. Bersedia digaji berapapun asalkan diijinkan untuk tinggal di panti bersama dengan anaknya.


Rasa ibaku meronta-ronta, "kita terima deh Yun yang ini."


"Enak saja kalau ngomong. Dari sekian banyak CV memang hanya ini yang membuat iba, iya kan...tapi kita juga perlu wawancara dulu orangnya. Kesulitan aku biasanya mencari orang yang mau tinggal dan tidur di panti, ini malah menawarkan diri."


"Oke, ini yang akan kita wawancarai pertama, selain ini kita butuh satu lagi," jawabku, Yuni mengamati setiap amplop dengan teliti, "yang satu aku maunya yang fresh graduate saja, biar ilmunya up to date."


"Oke, aku setuju," mulutku terus mengunyah, ada beberapa kue basah yang rasanya gurih masuk terus ke perutku.


"Untuk personil keamanan aku mau cari dari perusahaan outsourcing aja deh, lebih gampang buat koordinasi," aku hanya manggut-manggut, ternyata tidak mudah memegang kendali kepemimpinan tertinggi. Kalau yayasan pusat pasti sudah tertata, tapi kalau yang disini Yuni harus turun tangan langsung karena aku belum berpengalaman.


"Aku kagum sama kamu, Yun. Kamu wanita tapi bisa menghandle banyak hal seperti ini. Sepertinya aku harus banyak belajar dari kamu."


Aku menghela napas, menepuk pahaku sendiri, "baiklah, kamu tinggalkan semua berkas lamaran pekerjaan itu di meja, nanti akan aku lihat satu-satu, dua Minggu lagi rasanya aku sudah bisa ke lokasi kerja. Usia Ken sudah memasuki dua bulan, sudah bisa kalau mau diajak kemana-mana."


"Jangan diajakin kerja tiap hari tolenya, nanti capek," eh...ternyata ibu menguping pembicaraan kami.


"Nggak kok, sekali-sekali saja kalau lagi pengen," aku memukul paha Yuni.


"Di stok aja ASI nya, biar mbok Nah yang jaga di rumah."


"Iya...iya."


Di iyakan saja, kekhawatiran seorang ibu memang tak pernah ada ujungnya. Ketika anaknya sudah mandiri, akan ada cucu yang menanti untuk dirawat dan dijaga. Terus saja berputar seperti itu, sebuah kodrat yang harus dijalani banyak wanita mulai jaman dulu hingga akhir dunia.


...***...


Ada yang bisa mengira-ngira siapa perawat yang CV nya tadi dibicarakan?


Dia juga punya anak perempuan berusia sekitar enam bulan, hmmm...siapa ya?


Ikuti terus kisah Rumi ya...


Jan lupa buat like, komen dan vote


Share juga boleh


Terimakasih buat yang sudah berbaik hati berbagi poin buat penulis hehehe, kalau ada yang punya koin boleh juga dibagi kok...


lope you all 🥰😘🎉

__ADS_1


__ADS_2