Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 153


__ADS_3

YunJun Couple


Yuni bangun membawa perasaan berbunga dan bahagia. Satu sisi hatinya ingin segera bertemu tapi dilain sisi pasti memalukan, meskipun semalam dia pura-pura tertidur.


Sambil bersenandung Yuni keluar kamar. Dia sudah cantik dan wangi. Pakaian kasual jadi pilihannya pagi ini. Hari ini dia ingin bersantai saja di pinggir pantai sambil menikmati makan pagi.


Baru mengeluarkan ujung kepalanya terdengar suara 'klik' tanda pintu depan kamarnya terbuka.


Dengan satu gerakan cepat dia menarik lagi kepalanya untuk masuk ke dalam.


Pelan-pelan menutupnya Yun...


Ucapnya pada diri sendiri. Kalau ketahuan menghindar jadi tidak enak rasanya.


Tiba-tiba...


"Tok...tok."


Aduh kenapa dia ketuk pintu sih...


"Yun," terdengar suara memanggil di depan kamar.


Pergilah Jun...aku terlalu malu untuk bertemu denganmu.


"Yun, apa kamu masih tidur?"


Suara itu sedikit lebih keras dari sebelumnya.


"Hei jangan berisik." teriak seseorang yang lain diluar.


Hah?!...ada orang yang berteriak marah. Ayo lah Yun...kasihan Juna.


"Iya mas, maafkan saya."


Tenang, tidak ada suara. Alhamdulillah, berarti laki-laki itu sudah pergi dari depan pintu.


Yuni mengulang apa yang akan dia lakukan tadi. Menyentuh gagang pintu dan akan menariknya kebawah. Tapi belum sempat itu dilakukan, ponselnya berbunyi nyaring tanda ada masuk sebuah pesan.


Aduh, bodoh sekali aku.


Berusaha membuka ponsel dengan cepat, sampai-sampai ponsel itu hampir lepas dari tangannya.


"Kau rupanya dibalik pintu?"


"Kenapa tidak keluar saja?" ternyata Juna masih di tepat yang sama, tidak kemana-mana.


Ah, kepalang basah.


Yuni memejamkan mata merutuki kebodohannya.


"Iya, kebetulan ini mau keluar."


Membuka pintu dan melambaikan tangan tepat di depan wajah Juna.


"Hai..." memberi senyum termanis.


"Kupikir kau belum bangun."


"Ayo," mengulurkan tangan dan menanti Yuni untuk menyambut tangan itu.


Bagaimana ini...


Menggelengkan kepala dengan cepat karena bayangan peristiwa semalam membuatnya merasa malu setengah mati.


Juna menurunkan lagi tangannya, "kenapa menggeleng?"


"Baiklah kalau tidak mau menggenggam tanganku." memasang wajah kecewa yang sukses membuat Yuni kalang kabut.


Tidak-tidak....


"Hahaha...bukan begitu, sini!" menarik tangan Juna yang sudah turun dan berada disisi badan dan menggenggamnya.


Ah...masa bodoh meskipun ini memalukan.


"Nah, begitu dong."


Juna memamerkan gigi putihnya yang rapi dihadapan Yuni. Lalu keduanya melangkah kemanapun yang Juna mau karena Yuni tak bisa lagi menolak.


"Aneh saja, kenapa jadi menolak, padahal kemarin dan hari-hari lalu, kamu yang selalu bilang menyukaiku."


Apa?!


Memejamkan mata dan memukuli kepala sendiri dengan tangan yang lain.


"Apakah aku sememalukan itu?" bertanya dengan membuang harga diri.


"Tidak...," Juna menarik tangan keduanya hingga membuat keduanya berhenti, "aku suka."

__ADS_1


"Kalau kamu diam dan menantiku bergerak, aku akan terus terjebak dengan perasaanku pada Rumi yang sia-sia."


Tersenyum lagi dan menggoyang-goyang tangan yang saling menggenggam erat.


"Hehehe..." Yuni tertawa nyengir kuda.


Itu sama saja seperti mengatai aku perempuan gatel nggak sih?! memalukan.


"Ayo," laki-laki yang menurut Yuni gantengnya setaraf Kim Rae Won itu menarik tangannya menuju area kolam renang.


"Ah, iya...kamu membawa baju renang bukan?"


"Hah?! mmm nggak lah."


Aku tidak mungkin berenang-renang bersamamu di pantai. Itu akan sangat memalukan.


"Baik..." Juna menariknya ke toko yang ada di lantai bawah hotel.


Karena tidak tahu apa maksud dari lelaki itu. Yuni mengikuti dari belakang, selain tangannya masih digenggam oleh Juna. Mau menolak pun tidak tahu bagaimana caranya?


Ah...kenapa aku jadi penurut begini. Ayo lah Yun...ini bukan kamu sama sekali.


"Sebentar," Yuni menarik tangannya sampai membuat keduanya berhenti.


"Hmmm, kenapa?" Juna memutar kepala melihat dengan pandangan teduh. Jelas mengisyaratkan rasa sayang di dalamnya.


"Buat apa kita kemari?"


"Ada sesuatu yang harus kamu beli."


Eh...aku? Aku tidak ingin membeli apa-apa Jun.


"Aku?" menunjuk hidungnya sendiri, "aku tidak butuh apa-apa untuk kubeli Juna..." berusaha mengembalikan kekuatannya yang dulu. Kekuatan untuk membantah dan menolak.


"Ada!"


Juna menarik lagi tangan wanitanya. Ya...wanitanya. Boleh kan dia menganggap seperti itu.


Keduanya menuju bagian kelengkapan berenang. Juna melihat-lihat beberapa model baju renang. Lalu mengambil satu dengan model two peace.


"Ini?!" menunjukkannya pada Yuni.


"Hei..." memukul lengan Juna dengan keras, "apa-apaan kamu. Memangnya kita mau kemana sih, aku tidak mau renang di laut. Aku terlalu takut untuk melakukannya." berusaha untuk menolak.


Apa-apaan laki-laki ini, bagaimana mungkin aku akan memakai baju renang model bikini. Aaa...terlalu memalukan.


"Karena kamu harus memakai pakaian renang, kalau tidak bajumu itu akan basah."


Apa? basah? aku kan sudah bilang tidak mau berenang.


"Tapi kan..." belum selesai bicara Juna menyambar kalimatnya.


"Pilihan kedua, jalan sendiri atau aku akan menggendongmu seperti semalam?" berbisik sambil tersenyum geli yang tak berniat untuk disembunyikan.


"Aku tahu semalam kamu pura-pura tidur."


"Ah sialan." menutup mata lalu merunduk.


Ternyata memang sememalukan itu.


"Baiklah, aku akan memilih satu. Tapi jangan harap aku akan memilih model yang kamu pegang itu."


Melengos lalu pergi mencari model yang dia suka. Juna hanya bisa tertawa lepas melihat tingkah Yuni yang sering kali membuatnya terbahak.


"Jangan lupa beli juga dalaman buat kamu nanti ganti."


Haduh, bicara apa lagi sih dia...


Tengok kanan kiri takut ada yang mendengar. Ah, apa yang mau diharapkan tentu saja banyak orang yang mendengar, dan semuanya sedang melihat dirinya yang berusaha bersembunyi dibalik jajaran pakaian yang dipajang.


"Sialan Juna."


Setelah memilih satu baju renang dan sepasang pakaian dalam. Keduanya menuju area kolam renang. Tapi ada yang aneh disitu.


Hotel sekelas ini, kenapa area kolam renangnya sepi sekali. Lagi pula kenapa Juna mengajaknya ke kolam renang lantai atas. Bukannya dibawah juga ada?


"Kenapa sepi?" memandang Juna dengan wajah heran yang jelas terlihat.


"Sudah pada pulang kali tamunya. Sudah nggak usah dipikirin. Ganti sana."


Sementara orang yang memerintah menuju toilet cowok, Yuni masih bingung.


Baiklah jangan banyak tanya, ikuti saja.


Yuni masuk ke toilet wanita dan mengganti pakaiannya dengan kostum renang.


"Ya Allah ternyata tubuhku seksi begini." betapa terkejut dia melihat tubuhnya dengan pakaian seperti ini.

__ADS_1


Dia berusaha menarik pakaian renang model on piece nya lebih turun ke bawah tapi gagal. Bukannya Yuni tak pernah berenang atau tak bisa berenang, tapi berenang adalah salah satu aktifitas yang dilakukannya bertahun lalu sama seperti liburan.


Jadi kalau memakai pakaian renang sekarang, membuatnya begidik, apalagi tubuhnya terlihat seksi, putih mulus tiada cela, yang faktanya tak pernah dia sadari sama sekali.


Melihat lalu berputar di depan kaca. Lalu melihat dan berputar lagi. Keluar...nggak...keluar...nggak. Beru melangkah beberapa langkah, dia berhenti dan diurungkan sebelum keluar. Begitu terus beberapa kali.


Sampai...


"Yun...kamu nggak pingsan kan?"


Juna..., "ya, aku pingsan karena lihat badanku sendiri," bisiknya pada diri sendiri.


"Yun," suara itu terdengar lagi, "apa perlu aku panggil penjaga kolam, Yun..."


Menjawab bergegas, "nggak perlu."


"Are you okay?" tanya suara itu dari luar toilet. Ada nada khawatir dalam suara itu.


"Yes, I am fine."


Hanya terlalu malu untuk keluar...hiks...


"Kalau kamu tidak segera keluar aku akan masuk ke dalam."


"Jangan!" teriak Yuni.


Bodohnya, kenapa tadi handuk mandinya tidak dibawa ke dalam sih...


Setelah bertempur dengan rasa malu. Yuni akhirnya keluar dengan langkah pelan, kepala menunduk, dan tangan diletakkan di depan tubuh. Satu di depan dada dan satu lagi di bagian bawah.


"Hahahaha...memangnya kamu nggak pernah pakai pakaian renang?"


"Pernah lah," terpancing kalimat yang menurutnya menghina, sekarang malah berkacak pinggang.


"Hahaha...begitu dong," Juna mendekat, "kenapa musti ditutupi tubuh indahnya," berjalan sambil berbisik tepat di belakang telinga.


Ya Tuhan, napas-napas...


Untuk memutus rasa malu Yuni berlari dan bergegas masuk ke dalam kolam. Baru beberapa detik dalam air. Ada yang aneh dia rasakan.


Dingin...dingin, kakiku...kakiku kenapa. Aduh sakit....sakit...


"Aaaa," berkali-kali berusaha naik ke permukaan tapi gagal. Tangannya menggapai keatas, "Jun...tolong...Jun."


"Hei, kamu kenapa, jangan bercanda?!" berdiri memperhatikan Yuni yang berusaha untuk tetap di permukaan. Ada yang tidak beres...


Tubuh atletis itu berlari dan menerjunkan diri dalam kolam tanpa berpikir panjang. Otak dan hatinya serasa lepas dari tempatnya.


Berenang cepat lalu meraih tubuh yang sedang berusaha mencari udara untuk bernapas itu.


"Hap...hap, Jun..."


Ya Allah sakit, perut sama kakiku


Tubuh itu berhasil diraih setelah beberapa saat. Juna memeluk dan berusaha menariknya ke tepi kolam.


Air mata mulai mengalir. Yuni terbatuk untuk beberapa kali.


"Sakit...aku kram. Hua...Hua...," tangis itu pecah. Takut dan sakit membuat rasa malunya lenyap begitu saja.


"Hei," Juna memeluknya setelah memijitnya berkali-kali dan kramnya menghilang.


"Kenapa kamu memelukku, hiks?" tinggal cegukan sedikit.


"Karena kamu tidak menolak pelukanku."


Tangan melayang keras mengenai punggung Juna, "aw...sakit tahu."


Tapi lelaki yang dipukul itu makin mengeratkan pelukan.


"Permisi kakak, silahkan..."


Mendengar suara orang lain Yuni mendorong tubuh Juna kuat-kuat hingga jatuh terduduk ke belakang.


"Aaaa...floating breakfast."


Ternyata suara itu berasal dari seorang pegawai hotel yang membawa floating breakfast untuk mereka berdua.


Hilang sudah rasa malu. Meskipun sedari awal dadanya berdebar kencang melihat tubuh atletis lelaki yang dicintainya, Yuni setengah mati menahannya.


Tanpa membuang waktu, Yuni kembali masuk dalam air dan mulai menikmati hidangan yang disediakan.


Begitu juga dengan Juna. Baru kali ini dia melihat Yuni memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, begitu cantik dan seksi. Dia juga baru tahu kalau dibalik kekerasan hatinya, Yuni memiliki sisi lembut dan manja. Semakin yakinlah hatinya kalau tidak akan sulit mencintai wanita itu.


Nikmati saja hari ini. Jangan pikirkan esok karena hari ini pun belum selesai dijalani.


...***...

__ADS_1


__ADS_2