
Mata raya mengerjap merasakan silau matahari yang menerpa wajahnya. Samar-samar ia melihat sang suami yang masih terbalut jubah mandi berdiri di hadapannya. Raya mengucek-ngucek matanya, seraya memulihkan kesadarannya yang masih di tengah-tengah.
"Sayang ... ayo bangun." Ucap Reyhan yang sudah berpindah duduk di pinggir ranjang, menyingkirkan rambut yang menutupi kening sang istri.
Raya menggeliat lalu kemudian ia meringis, merasakan nyeri di bagian intimnya. Malam tadi entah berapa kali reyhan meminta lagi dan lagi. Apa ini bagian dari balas dendam setelah berminggu-minggu absen pikirnya.
Tubuhnya masih terbungkus selimut tebal,polos dengan bekas kemerahan di sekujur leher hingga dada, tubuhnya terasa pegal, ia menatap reyhan seolah meminta pertanggung jawaban dengan apa yang telah ia perbuat pada tubuhnya dan Reyhan mengerti maksud dari tatapan mata sang istri.
"Kamu terlalu manis aku jadi candu ... hehe " Ucap Reyhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Raya bangkit duduk di atas ranjang dengan kaki yang masih selonjoran, Tentu saja selimut tebal itu masih melilit di dadanya.
"Huh ... aku lelah sekali,kamu tidak ke kantor?" Tanya Raya
"Aku nunggu kamu bangun,lagi pula ini masih pagi ... Siapa tahu kamu mau ikut lagi." ujar Reyhan
"Aku mau ... tapi aku terlalu lelah,dan aku sangat lapar." Ucap Raya sambil menepuk pelan perutnya
"Sudah tidak mual lagi ... " Ucap Reyhan saat melihat istrinya tak muntah di pagi hari seperti biasa.
"O iya ... sudah tidak lagi, syukurlah." Ucap Raya senang
"Ehm,itu pasti karena kita berolahraga malam tadi." goda Reyhan pada istrinya
"Memang sudah waktunya saja. Yang tadi malam tidak ada hubungannya "Ucap Raya lugas
"Hehe ... tadi kamu bilang kamu mau makan sesuatu,apa?"Tanya Reyhan
"Emm ... bubur ayam di samping lorong rumah paman,dekat dengan halte bus,kamu ingatkan."Raya Menatap Reyhan tajam
"Iya sayang ... bagaimana kalau aku suruh Tika saja yang membelikannya" Ujar Reyhan
Raya langsung menggeleng tanda tak setuju dengan keputusan reyhan.
"Tidak, aku maunya kamu ... "Ucap Raya tegas
"Baiklah, aku berangkat sekarang" Ucap reyhan pasrah.
"Terimakasih suami ku sayang." Raya mencubit kedua sisi pipi suaminya dengan gemas
"Aku mau mandi dulu." Raya berjalan dengan selimut yang masih membalut tubuhnya
Sementara itu, reyhan berjalan menuju ruang ganti untuk berganti pakaian dengan pakaian santai,lalu setelah selesai ia meraih kunci mobil yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Ia berjalan turun dengan setelan baju dan celana kaos, Membuat Ben yang sudah menunggunya di sofa dekat tangga, mengerutkan dahi.
"Tuan muda ... baru bangun?" Tanya ben heran
__ADS_1
"Aku sudah bangun sejak tadi dan bahkan aku sudah mandi ... Tapi istriku ingin makan bubur ayam di samping lorong rumah Pamanya yang harus aku beli sendiri." Ujar Reyhan lemas
"Mau saya antar tuan?" Tanya ben
"Tidak usah ... aku takut nantinya dia akan bertanya aku pergi sendiri atau di antar, kamu pergilah ke kantor lebih dulu, nanti aku menyusul" Tolak Reyhan kemudian kembali melangkah.
"Tuan ... " Cegah ben, membuat reyhan kembali Berbalik menatap Ben.
"Apa anda membawa uang cash ... Tukang bubur ayam tidak menyediakan pembayaran non tunai." Ucap ben pada Reyhan, Membuat Reyhan tertegun sesaat, benar juga selama ini reyhan memang jarang memegang uang cash,apa pun yang ia butuhkan tinggal gesek saja.
"Kamu benar juga ... Apa kau punya uang cash,aku malas mampir ke ATM." Reyhan Kembali berjalan mendekati Ben, ben mengeluarkan dompetnya, Mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan langsung di sambar oleh reyhan. Sungguh pemandangan yang memalukan saat seorang CEO perusahaan ternama meminta uang pada sekretarisnya.
"Terimakasih." Reyhan Kembali Berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun Ben Kembali bersuara.
"Tuan! ... "Ucap Ben, entah apa lagi yang akan ia katakan pikir Reyhan.
"Apa lagi!." Ketus reyhan
"Garasi mobil di sebelah sana." Ben menunjuk sisi kirinya dimana pintu menuju garasi berada.
Reyhan tak lagi menjawab,ia langsung memutar langkahnya menuju pintu garasi.
Ben menggelengkan kepalanya, dengan bahu yang naik turun karena terkekeh melihat tingkah tuan mudanya.
~~
"Jika perwakilan King group sudah tiba, Hubungi saya." Ucap Ben pada Resepsionis wanita yang bertugas.
"Baik tuan." Ucapannya
Ben Kembali melangkahkan kakinya,menuju lift khusus yang biasa membawanya naik kelantai atas. Namun ketenagannya terusik saat suara langkah kaki yang bergemuruh mendekatinya.
"Maaf tuan,apa saya terlambat." Ucap Aruni yang sudah berdiri di samping ben dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena habis berlari.
Ben beralih melihat Aruni .
dengan tatapan menyelidik dari ujung kaki sampai ujung kepala Aruni, sampai ia kembali mengingat kata-kata reyhan kemarin, (besok Aruni akan mulai bekerja sebagai asisten baru kamu).
"Kamu,ikuti saya." Ucap ben lalu menekan tombol agar pintu lift terbuka. Aruni mengekor di belakang ben, tanpa suara bahkan bernafas pun sulit bagi aruni saat ini.
~
Sesampainya di ruangan, Ben menunjukkan meja yang dulu di pakai oleh raya saat masih menjadi asistennya,ben menjelaskan beberapa detail pekerjaan yang harus Aruni kerjakan selama menjadi asistennya. Aruni hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau tidak tapi sepertinya ia malah salah fokus pada wajah ben yang nampak gagah bahkan semakin gagah baginya.
"Apa kamu mengerti!." Ucap ben tiba-tiba
__ADS_1
"I ... iya tuan." Ucap aruni terkesiap
Untuk tugas pertama kamu, sekarang kamu ambil buku catatan ini,pergi keruangan rapat di samping Pantry di lantai 5, sebentar lagi rapat perencanaan yang di pimpin oleh Nona jihan akan di mulai, tulis semua inti dari rapat itu dalam bentuk Notula." ujar Ben panjang lebar di sertai anggukan dari aruni.
"Ba ... baik Tuan." Aruni meraih buku catatan dari tangan Ben, kemudian berjalan keluar.
dag dig dug
Jantungnya berdetam-dentum,bahkan hanya saat Ben berbicara.
Gila,aku pasti gila"Batin Aruni
~~
Setelah drama pagi hari yang meguras kesabaran, akhirnya Reyhan berhasil lolos untuk pergi kekantor setelah Raya Kembali tidur setelah Memakan buburnya.
Reyhan masuk ke dalam mobil dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Saya akan segera kesana."Ucap Reyhan pada orang di balik telepon.
"Cepat antar saya ke kantor." Ucapannya pada pak supir.
"Baik Tuan muda."
Mobil mewah berwarna hitam seharga puluhan milyar itu keluar dari pagar tinggi menjulang Kediaman Hardiansyah, tampak dua orang yang berada dalam sebuah mobil tak jauh dari sana sedang mengawasi, mengintai pergerakan Reyhan.
"Ikuti mobil itu." Ucap seorang wanita dengan sorot mata tajam, dengan kedua tangan mengepal erat.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1
Kalian adalah mood booster ku ❤️