Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.128-bab.2 ( Membujuk)


__ADS_3

Niana sedang bersama dengan Jihan di dalam kamar. Sebagai seorang gadis yang tak pernah memikirkan pacaran apa lagi pernikahan, Niana cukup syok karena perjodohan tiba-tiba ini.


Jihan mencoba membujuk anaknya itu, agar mau menerima perjodohan ini. Jihan sangat menghormati permintaan terakhir Anwar. Sebagai anak yatim piatu, Jihan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari Anwar dan ia sudah menganggap Anwar sebagai ayahnya sendiri.


Saat memutuskan untuk pindah ke Singapura, Anwar lah yang memberikannya modal usaha hingga perusahaan yang di kelolanya bersama Ben kini berkembang pesat. Jihan meyakinkan dirinya jika perjodohan ini akan berjalan dengan semestinya sesuai dengan permintaan terakhir Anwar.


"Niana, dengarkan mama ... kamu hanya perlu menikah dengan King. masalah cinta itu akan datang dengan sendirinya, buka hati kamu, lihat baik-baik, King itu laki-laki yang sempurna bukan," ujar Jihan


"Ma ... aku belum ingin menikah, aku masih ingin melanjutkan pendidikan ku setelah aku wisuda nanti," tutur Niana, sambil menoleh kepada Jihan.


"Daddy dan mama, berhutang banyak sekali kepada kakek Anwar, semua fasilitas yang bisa kita nikmati sekarang, itu karena kebaikan hati kakek, perusahaan Daddy juga berkembang karena dukungan kakek. Mama minta kamu fikirkan lagi, jangan sampai jawaban kamu mengecewakan kami," ujar Jihan lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Niana menghebus kan nafasnya dengan berat. ia tidak pernah menentang perintah kedua orang tuanya, namun kali ini terlalu sulit. Niana mengambil ponselnya dan menatap wallpaper ponselnya, yang terpampang fotonya dan kedua orangtuanya. Matanya mulai terasa panas, dadanya terasa sesak, saat ia merasa melalui ini semua dengan sendiri, tak ada dukungan, apa lagi pilihan lain, selain berkata IYA.


~~


Lain Jihan lain pula Raya, menghadapi anak laki-laki tak semudah menghadapi anak perempuan, apa lagi, King cenderung keras kepala dan susah untuk di atur.


Raya sengaja tidak melibatkan Reyhan dalam hal membujuk King, agar mau menikah dengan Niana. Jika Reyhan ikut membujuk King, yang ada mereka malah akan bertengkar, karena baik King ataupun Reyhan mempunyai watak yang sama kerasnya.


Sekarang Raya dan King sedang berada di area taman belakang. Taman belakang Kediaman Hardiansyah yang sudah banyak berubah, dari mulai desain taman yang lebih modern dari sebelumnya. Ya waktu memang merubah banyak hal di rumah itu. King hanya duduk diam tanpa menoleh kepada mamanya.


"Saka ... masalah perjodohan itu ...."


"Ma, aku tidak mau menikah, karir ku dan semua cita-cita yang masih ingin aku kejar, kini semuanya sudah di depan mata," ujar King memotong ucapan Raya.


"Semua itu bisa berjalan beriringan sayang, karir, pendidikan, dan pernikahan," ucap Raya sambil menepuk pundak King pelan.

__ADS_1


"Tidak ma, aku tidak akan mau menikah dengan dia," tegas King.


King terdiam sesaat. Di luar semua alasannya, Niana jelas-jelas bukanlah tipe idealnya. Niana memag cantik tapi ia terlalu kaku, kuno, penampilannya sama sekali tidak menarik, jelas sekali jika Niana hanya bergaul dengan buku dan pena. Berbanding terbalik dengan artis-artis wanita yang mendekatinya saat ini, yang punya body mantap dengan pakaian yang kekurangan bahan.


King tidak pernah ingin berpacaran dengan alasan tidak mau terikat, ia mau menikmati hidupnya dan karirnya sendiri dengan para fans yang begitu menggilainya saat ini, bisa di bayangkan jika kabar pernikahan King di ketahui para fans, orang yang pertama kali akan di serang pastilah istri dari idola mereka.


"Kamu tahu, papa kamu bisa saja menghacurkan karir kamu dalam hitungan detik, jika kamu membangkang perintahnya," tutur Raya tiba-tiba, di tengah keheningan yang terjadi antara ia dan putranya.


King dengan ragu-ragu menoleh ke arah Raya. Ia membulatkan matanya saat melihat ekspresi wajah sang mama yang jarang sekali ia lihat. Ekspresi saat rasa marah, kecewa, dan frustasi menjadi satu. Raya adalah seorang mama yang penuh kelembutan, kasih sayang dan jarang sekali marah. Tapi awas, jika Raya sudah marah, itu merupakan zona paling berbahaya, Reyhan saja akan ciut ketika melihat Raya dengan ekspresi seperti ini.


"Ma ... mama sedang mengancam ku," ucap King ragu-ragu.


"Mama bicara tentang kenyataan. Apa kamu masih menghormati mama dan papa sebagai orang tua kamu?" tanya Raya dengan menatap tajam kearah King.


" Tentu saja ma," ucap King yang tidak berani menatap mata Raya.


Skatmat. King hanya bisa tertegun, memandangi kepergian mamanya. Bagi King lebih baik ia menghadapi sang papa, meski harus mendengarkan suara keras bak speker dangdutan dari mulut sang papa saat memarahinya. Ketimbang berhadapan dengan sang mama yang bersuara lembut namun langsung menusuk jantungnya.


~


Waktu makan malam tiba, King dan Niana sudah berada di satu meja makan yang sama bersama keluarga mereka. Sesekali King melirik ke arah Niana, dan begitu pula sebaliknya. Semenjak tiba di Indonesia, mereka belum sekalipun bertegur sapa, apalagi saat mendengar mereka akan di jodohkan, Rasa ingin mengenal pun, sudah tidak ada. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Setelah selesai makan malam, Niana menghapiri Rachel yang sedang bermain di ruangan khusus di mana ruangan itu penuh dengan mainan yang identik dengan anak perempuan. Ada kitchen set mini, rumah-rumahan dan masih banyak lagi.


"Kakak boleh menemani kamu?" tanya Niana yang masih berdiri di ambang pintu.


Rachel terdiam sejenak,sambil memandangi wajah Niana yang masih nampak asing, kemudian Rachel beranjak menghapiri Niana dan menariknya masuk kedalam. Niana dan Rachel duduk saling berhadapan, Rachel kembali memandangi wajah Niana dari jarak yang cukup dekat dan lekat hingga hanya tersisa beberapa centimeter saja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Niana saat Rachel tak hentinya memandanginya seperti itu.


Rachel kembali ke posisinya semula, duduk bersila dengan kedua tangan melipat kedepan.


"Apa benar, kak Nia akan menikah dengan kak King?" tanya Rachel polos.


"Ah itu ... kakak juga tidak tahu," ujar Niana.


"Mama bilang, mulai sekarang Rachel harus berbagi kak King dengan kak Niana" tutur Rachel.


"Berbagi ... maksudnya?" tanya Niana bingung.


"Perhatian, waktu, dan kasih sayang kak King yang selama ini hanya untuk Rachel, sekarang harus berbagi dengan kakak juga," ucap Rachel dengan wajah cemberutnya.


Niana hanya bisa tersenyum tanpa menjawab, berbagi kasih sayang? Niana saja tidak berpikir sampai ke sana. Baru saja Rachel akan kembali bicara, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.


King muncul dari balik pintu. Ia berdiri di ambang pintu sambil berpangku tangan. Sontak Niana dan Rachel menoleh kearah King. Pandangan mata King dan Niana saling bertemu. Niana bertanya-tanya dalam hati, untuk apa King kemari, apa King ingin ikut bermain bersama Rachel juga, tapi sepertinya dugaannya salah.


"Nia, ikut aku ... kita bicara sebentar," ucap King pada Niana.


Niana langsung berdiri dari posisinya duduknya dan mengikuti langkah King. Rachel nampak cemberut saat ia di tinggalkan sendirian begitu saja.


"Belum apa-apa, aku sudah di tinggal sendiri," gumam Rachel.


Lanjut yuk ➡️


Jangan lupa like+ komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2