
Reyhan bersama dengan Ben dan Aruni, sedang berada di dalam ruangan perawatan, menunggu pak dimas sadar. Setelah menemukan pak dimas yang tergeletak di jalan, Reyhan langsung membawa pak dimas ke rumah sakit.
Reyhan nampak sangat gelisah, ia sangat Mengkhawatirkan Raya, ia begitu penasaran dengan apa yang telah terjadi di jalan gelap dan sepi itu, apa yang membuat istrinya menghilang. Namun yang pasti, Reyhan berharap Raya dan calon anak mereka baik-baik saja.
Sudah dua jam, sejak pak Dimas di bawa ke rumah sakit oleh Reyhan, hingga akhirnya matanya mulai terbuka, Reyhan, Ben dan Aruni berhambur menghapiri pak dimas yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Pak, dimana istri saya," ucap Reyhan tiba-tiba
Namun ben langsung mencegah Reyhan untuk bertanya terlalu banyak, karena pak dimas baru saja sadar, "Tenangkan diri anda tuan, pak dimas baru saja sadar."
"Aruni ... Cepat Panggil dokter," ucap ben pada aruni yang sedang berdiri di di sampingnya
Sementara itu Reyhan kembali duduk di sofa, ia benar-benar tidak sabar mengajukan banyak pertanyaan kepada pak Dimas.
Tak lama dokter Haris datang, dan langsung memeriksa keadaan pak dimas. Reyhan pun kembali bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri dokter haris.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Reyhan.
"Syukurlah, keadaan pak dimas sudah stabil," ucap dokter Haris.
Tiba-tiba saja pak dimas mengangkat tangannya, ia menunjuk kearah Reyhan, seolah memberikan tanda agar Rryhan Mendekat. Tanpa fikir panjang, Reyhan mendekati pak dimas.
"Ma ... af tuan, karena saya sudah gagal dalam tugas," ucap pak dimas yang masih lemas.
"Saya tidak mempermasalahkan hal itu lagi pak, yang saya ingin tahu dimana istri saya," ujar Reyhan
"Nona muda ... nona muda diculik tuan," ucap pak dimas lirih
Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar, rasa syok,marah, dan khwatir berbaur menjadi satu, bukan hanya Reyhan saja, namun semua orang yang ada di ruangan itu nampak kaget dan syok.
"Ben!" teriak Reyhan tiba-tiba
"iya tuan," ucap Ben yang sudah mendekati Reyhan
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak mengecewakan aku kali ini," ucap Reyhan sambil menepuk pundak Ben
Ben sudah mengerti maksud dari kata-kata Reyhan, " Saya Sudah meminta bantuan seseorang untuk melacak posisi nona dari Ponselnya, jadi saya harap tuan bisa bersabar, untuk menunggu hasilnya."
Reyhan kembali menatap Ben dengan tajam, seolah tidak puas dengan jawaban Ben.
"Apa kamu bisa menjamin, istriku baik-baik saja sekarang, jawab aku!" ucap Reyhan yang sudah terbawa emosi.
Dokter haria yang tadinya hanya diam, kini berusaha menahan Reyhan agar ia tetap tenang.
"Rey, tenangkan dirimu ... percaya padaku, Raya pasti baik-baik saja," ucap dokter Haris.
Reyhan kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dadanya terasa sesak, separuh jiwanya hilang, ia merasa gagal untuk melindungi istrinya.
Tiba-tiba saja Reyhan teringat peristiwa kelam yang merenggut nyawa ibunya, saat itu ia masih belum bisa berbuat apa-apa untuk melindungi ibunya. Reyhan tidak mau peristiwa yang sama membuatnya kehilangan orang yang sangat ia cintai lagi.
Aruni masih terdiam di posisinya, ia begitu tidak tega melihat Reyhan Seperti ini, ia saja yang baru mengenal Raya, begitu sedih dan khwatir, apalagi Reyhan.
Semoga nona baik-baik saja" Batin Aruni.
Raya mengerjapkan matanya, ia mengedipkan matanya beberapa kali hingga pandangannya Menjadi normal, ia menggedarkan pandanganya, melihat sekeliling yang nampak seperti ruangan kosong dengan kardus-kardus bekas yang menumpuk, hanya ada cahaya remang-remang yang menerangi dari sebuah lampu kecil yang terpasang sana.
Saat akan menggerakkan tubuhnya, ia baru sadar jika kedua kaki dan tangannya terikat. Raya nampak syok, karena seingatnya, saat di paksa turun dari mobil, mulutnya di bekap oleh salah seorang bertubuh kekar itu, dan ia langsung tak ingat apapun lagi.
"Tolong!!" pekik Raya
Ckelek
Suara pintu terbuka, membuat Raya menghentikan teriakannya. Ia bisa melihat seorang wanita berkacamata hitam datang mendekatinya. Wanita itu semakin mendekat, ia duduk di sebuah kursi yang ada dihadapan Raya, baru kemudian ia membuka kacamatanya.
"Apa kabar, Pelayan cantik ku," ucap miska.
Raya Membulatkan matanya, melihat siapa wanita yang ada dihadapannya. Dia orang jahat, dia wanita licik, begitulah sosok miska di mata Raya.
__ADS_1
"Ka ... kamu," ucap Raya.
"Bersikap sopan lah! ... Panggil aku nyonya," teriak miska.
"Dimana aku, apa yang akan kamu lakukan, cepat lepaskan aku!" pekik Raya sambil terus berusaha melepaskan diri.
Plakk.
Satu tamparan mendarat di wajah cantik Raya, ia meringis, merasakan perih di pipinya, miska medekati Raya dengan tangan mengepal erat, " Dasar kurang ajar, kamu Fikir kamu siapa bisa berteriak di depan ku, Hah!."
"Kamu wanita jahat, apa kamu masih belum sadar juga atas semua kesalahan kamu," teriak Raya.
Plakk ... plakk
Dua tamparan berturut-turut di berikan miska kepada Raya, membuat raya kembali kehilangan kesadarannya. Haikal baru saja masuk dengan membawa sebuah kotak besar dengan kedua tangannya. Haikal berjalan menghampiri Miska.
"Apa semua sudah siap?" tanya Miska
"Semua sudah ada di dalam kotak ini," ucap Haikal.
Miska Kembali menatap Raya yang kini sedang pingsan dengan posisi duduk dan tangan, kaki terikat. Ia kembali menyeringai, karena sebentar lagi akan menjalankan rencananya.
Show time," batin Miska
.
.
.
.
BERSAMBUNG 💓
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE+KOMEN+ VOTE YA READERS 🙏🙏