
Butuh waktu satu minggu untuk kepengurusan berkas-berkas untuk pernikahan Niana dan King. Apalagi Niana yang menetap di Singapura, biasanya akan memakan banyak waktu untuk kepengurusan dokumen untuk pernikahan di luar Singapura. Dengan koneksi yang Ben punya, dalam waktu satu minggu akhirnya semua selesai.
Siang ini Niana sedang bersiap-siap di dalam kamar. Tak ada make up artis ternama, apa lagi disaigner terkenal untuk merancang gaun pengantin. Semuanya serba sederhana. Niana hanya di bantu oleh beberapa pelayan kediaman Hardiansyah, dan juga mamanya, Jihan.
Niana menatap wajahnya yang sudah di poles dengan make up flowles, dengan tubuh yang terbalut kebaya putih. Ia tersenyum hambar, melihat dirinya sendiri, ia tidak pernah membayangkan kedatangannya ke Indonesia akan membawanya kedalam pernikahan bersama pria yang masih asing baginya.
Jihan medekati Niana yang kini duduk termenung di depan cermin, Jihan tau sekali jika putrinya sedang sedih. Namun Jihan juga tidak punya pilihan lain, karena ini adalah wasiat dari pamannya, Anwar Hardiansyah.
"Nia ... kamu baik-baik saja?" tanya Jihan saat berada di hadapan Niana.
Niana mendongak menatap sang mama yang kini berdiri di hadapannya. Segurat kesedihan terasa menyayat hati, ingin rasanya mengeluh, mengadu pada sang mama, tapi Niana tidak ingin mempersulit yang telah terlanjur terjadi.
"Ya ma, Nia baik-baik saja," ujar Niana dengan senyum yang yang begitu di paksakan.
~
Ruang keluarga di kediaman hardiansyah kini berubah menjadi ruangan akad. Dekorasi ada, namun tak meriah, hanya ada beberapa hiasan sederhana yang di buat oleh para pelayan yang mata dan mulutnya sudah terkunci rapat untuk merahasiakan tentang pernikahan ini.
Bagi King, hari ini hanya seperti hari biasanya, tak ada yang spesial. Bahkan, ia baru saja pulang dari lokasi syutingnya bersama dengan sang manager Joshua. King sangat dekat dengan Joshua, mereka satu kampus sewaktu di California. Saat kuliah mereka selesai dan King sudah mulai sibuk di dunia perfilman, King menawarkan Joshua untuk menjadi managernya, karena King merasa lebih nyaman jika bekerja dengan temannya sendiri.
Saking dekatnya, King juga menceritakan masalah pernikahan pura-puranya dengan Niana kepada Joshua. Joshua awalnya kaget, namun pada akhirnya ia bisa mengerti jika ini karena wasiat sang kakek.
Siang ini pun, Joshua ikut dengan King pulang ke kediaman Hardiansyah, untuk menyaksikan pernikahan sahabatnya itu. Joshua melihat jam yang ada ditangannya, yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia pun mempercepat laju mobilnya karena akad akan segera di selenggarakan.
"Kamu benar-benar gila, di hari pernikahan mu, masih sempat-sempatnya kamu pergi ke lokasi syuting, padahal aku sudah menyuruh mu untuk libur hari ini, aku sudah memberitahu produser malam tadi," tutur Joshua kesal.
King melepaskan kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya. Kini ia sedang duduk bersandar dengan santainya, tanpa rasa tegang sama sekali. Ia menoleh kepada Joshua yang kini sedang konsentrasi menyetir di sampingnya.
"Santai saja bro, aku yang menikah, kenapa malah kamu yang tegang," ujar King sambil memainkan kacamata yang ada di tangannya.
"Apa kamu sudah berlatih untuk ijab kabul nanti?" tanya Joshua yang tetap fokus menyetir.
"Untuk apa aku berlatih ... aku sudah pernah memerankan tokoh utama yang akan melaksanakan ijab kabul, aku masih ingat dialognya," tutur King.
__ADS_1
Joshua hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir kepada sahabatnya ini. Ia bingung apa benar King akan menikah, atau King hanya ingin sedang mengerjainya saja.
"Kamu bercanda ya soal pernikahan, kamu sebenarnya tidak akan menikah kan hari ini?" tanya Joshua memastikan.
"Haha, lihat saja nanti," ucap King sambil tertawa kecil.
~
Rasa penasaran Joshua akhirnya terjawab saat ia masuk kedalam kediaman Hardiansyah. Ia tertegun sesaat ketika semua bukti nyata tentang pernikahan King, terpampang nyata di hadapannya. Yang membuatnya miris adalah karena acaranya di gelar secara sederhana dan tanpa tamu undangan.
Ternyata semuanya benar, wah pernikahan seorang aktor terkenal sekaligus pewaris HRY grup, menjadi seperti ini," batin Joshua.
Tak lama King datang menghampiri Joshua. Ia baru saja selesai berganti pakaian di dalam kamarnya. Kini tinggal menunggu penghulu datang saja.
"Kamu sedang apa?" tanya King saat Joshua hanya diam di tempatnya.
Joshua berlalih menoleh ke arah King yang bertanya kepadanya, rasa miris kembali Joshua rasakan saat melihat gaya King yang seperti tidak mencerminkan seorang mempelai laki-laki yang akan segera menjadi seorang suami. King mengeryitkan dahinya saat melihat Joshua yang terus memandanginya dengan intens.
"Kenapa melihat ku seperti itu, apa aku terlihat sangat tampan?" tanya King pada sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya King bingung.
"Itu benda yang ada di atas kepala mu ... apa sih namanya," ucap Joshua sambil memijat keningnya.
"Kamu ini gob*ok atau apa, ini namanya peci!" ucap King kesal.
"Iya aku tahu, tapi pecimu miring!" teriak Joshua tanpa sadar.
Para pelayan, dan bahkan Ben dan Reyhan yang sedang duduk di sofa sampai menoleh kearah mereka. Joshua kesal sampai kelepasan, King sampai membelalakkan matanya karena kaget.
"Ada apa Jo?" tanya Reyhan dari tempatnya duduk.
"Ahaha, maaf uncle ... tadi King berdiri miring dan hampir jatuh, saya reflek berteriak," jawab Joshua mengarang cerita.
__ADS_1
"Oh, uncle kira ada apa," ujar Reyhan lalu kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Ben.
"Kau mau mati!" Bisik King di telinga Joshua.
"Maaf aku kelepasan, perbaiki pecimu" bisik Joshua balik.
Dari arah belakang mereka, kepala pelayan sedang berjalan beriringan dengan penghulu yang akan menikahkan King dan Niana. Dengan kekuasan yang Reyhan punya, Niana dan King bisa menikah secara hukum dan agama, tanpa harus takut ketahuan media pemburu berita.
"Maaf tuan, pak penghulu sudah datang," ucap pak kepala pelayan kepada Reyhan.
"Baiklah acara akan segera di mulai," ujar Reyhan.
~
Acara akad akan segera di mulai, semua sudah duduk posisi mereka masing-masing, King nampak sangat tenang sekali, lain dengan sang mama yang nampak sangat tegang. Raya bahkan tak hentinya menggenggam tangan Rachel karena terlalu gugup.
"Ma, tangan Rachel sakit," ucap Rachel saat merasakan tangannya yang di remas Raya dengan cukup kuat.
"Ah maaf sayang, mama terlalu gugup," ujar Raya pada Rachel.
King menjabat tangan pak penghulu.
Dan dengan satu tarikan nafas King melafazkan ijab kabul dengan lancar. Kata sah menggema di ruangan itu hingga terdengar oleh Niana dan Jihan yang berada di dalam kamar yang tidak jauh dari ruangan akad.
Jihan memeluk anak gadisnya yang kini sudah sah menjadi seorang istri. Niana hanya diam terpaku, ia masih berharap semua hanya mimpi dan ia akan segera bangun dari mimpi buruk ini. Air mata Niana berlinang seiring Jihan yang kini juga menagis sambil memeluknya.
"Selamat ya sayang, kamu akan memulai kehidupan yang baru mulai sekarang," bisik Jihan dengan suara bergetar.
"*Iya ma, semuanya memang baru saja akan di mulai. Pernikahan ini hanyalah dusta yang ingin segera Nia akhiri," batin Niana.
Bersambung 💓*
bab selanjutnya, lanjut nanti ya kakak-kakak 🙏😢
__ADS_1
Saya sedang menghadapi suatu masalah yang membuat saya lumayan drop. Tapi saya akan tetap usahakan up satu bab lagi hari ini.
Jangan lupa like+komen+vote ya kakak-kakak readers 🙏😊