
Tiga bulan berlalu, kini Raya nampak lebih berisi dengan perut buncitnya, di lihatnya dari kaca, penampilan yang kini sudah semakin meresahkan, pakain yang mulai kekecilan di tambah sepatu yang ikut mengecil, eh bukan sepatunya tapi orangnya yang membengkak akibat perubahan hormon saat hamil.
Rreyhan sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali, tanpa membagunkan Raya yang masih terlelap pagi tadi. Raya melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, sesampainya di ambang tangga sudah ada dua orang pelayan yang bersiap membantunya untuk turun kebawah. Sikap protektif Reyhan semakin menjadi setelah penculikan itu, untuk ke taman belakang saja, Raya akan di ikuti empat orang pengawal dan sepuluh orang pelayan.
"Tidak mau naik lift saja nona?" tanya Tika.
"Tidak mbak, aku mau turun lewat tangga saja sekalian olahraga," ujar Raya.
"Baiklah, kami siap membantu," ucap Ayu sambil memegangi tangan kiri raya, sementara tangan kanannya di pegang Tika.
"Huh, sebenarnya tidak perlu sampai seperti ini," keluh Raya.
"Ini tugas langsung dari tuan muda, untuk memastikan nona dan calon putra mahkota, baik-baik saja," ujar Tika dengan lebaynya.
Raya memang sudah melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya, dan ternyata calon bayi mereka adalah laki-laki, Reyhan sampai kegirangan saat mengetahui itu. sebenarnya Raya masih ingin merahasiakan jenis kelamin bayi mereka, namun saat Reyhan di undang di sebuah talk show yang biasa menghadirkan pengusaha sukses sebagai bintang tamu. ia tidak bisa menahan diri untuk mengumumkan jenis kelamin bayinya.
Bukan hanya sekitaran kediaman hardiansyah saja yang tahu, namun sepenjuru negeri kini sudah tahu.
~
Di lain tempat, Ben sedang menyusun rencana untuk melamar Jihan, malam nanti. Dengan di bantu Aruni, Ben memilih tempat untuk menjadi lokasi lamaran.
Tenang saja, Aruni sudah lama move on dari Ben, semenjak kedatangan Haris dalam hari-harinya,matanya seolah terbuka untuk memulai hubungan yang sebenarnya, bukan cinta bertepuk sebelah tangan yang dulu sempat menjebaknya.
"Lebih baik di tempat terbuka saja tuan, suasananya akan lebih romantis," ujar Aruni.
"Benarkah, apa Benar-benar akan romantis, Jihan itu sangat menyukai hal romantis, jika aku gagal, aku akan menyalakan mu," ujar Ben.
"Percaya sama saya tuan, ini pasti akan berhasil, kecuali ..." ucap Aruni, menggantung.
"Kecuali apa?" tanya Ben penasaran.
"Kecuali anda yang membuat suasana romantis itu gagal, karena sikap kaku anda," ujat Aruni.
"Kamu benar, seharusnya aku latihan dulu sebelum eksekusi kan," ucap Ben.
"Iya tuan, anda harus melatih diri untuk mendapatkan kata-kata yang tepat, begitu," ujat Aruni.
Ben hanya mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Aruni yang memang benar adanya.
__ADS_1
"Hey kalian sedang apa?" tanya Reyhan yang tiba-tiba saja datang.
"Ini tuan muda ... sekretaris kita, akan segera melamar nona Jihan," ucap Aruni kepada Reyhan.
"Bhahaha, Benarkah ... wah, wah, selamat ya Ben, semoga kamu berhasil," ucap Reyhan sambil tertawa.
Reyhan tidak bisa membayangkan ekspresi wajah Ben saat akan melamar Jihan, pasti akan sangat kaku sekali pikirnya.
~~
Raya kini sedang menikmati cemilan siang bersama dua orang yang sangat ia hormati, yaitu ayah mertuanya dan pamannya.
Setelah kejadian penculikan itu, paman Raya akhirnya setuju untuk tinggal bersama dengan Raya di kediaman Hardiansyah.
"Buah apa ini, kecut sekali," ucap paman Raya dengan ekspresi wajah yang sangat lucu, membuat Raya dan anwar tertawa.
"Ini mangga muda, kesukaan Raya, saya sudah sering memakan buah ini bersama istri saya dulu, jadi tidak terasa apa-apa," ujar Anwar dengan bangganya.
"Haha .. paman memang tidak bisa memakan sesuatu yang asam, aku tadi hanya mau mengetes saja," ucap Raya sambil terkekeh.
Suasnaa hangat yang kini tercipta adalah sebuah rencana indah tuhan untuk setiap kesengsaraan yang Raya lalui melama hidupnya.
~
Ben melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi ia masih duduk di sofa ruang tamu jihan, menunggu sang pujaan hati selesai bersiap-siap. Kejenuhannya mulai muncul saat Setengah jam menunggu namun Jihan belum juga keluar dari kamarnya.
Ben beranjak dari duduknya, kini ia sudah berada di depan pintu kamar Jihan, Ben mengetuk pintu itu beberapa kali.
"Apa belum selesai?" tanya Ben
"Sebentar lagi kak, aku mengalami sedikit kesulitan di sini!" pekik Jihan dari dalam kamar.
"Kamu baik-baik saja kan, ada yang bisa aku bantu?" tanya Ben.
Ckelek.
Pintu kamar Jihan terbuka, Jihan sudah selesai berdandan, hanya saja, ia kesulitan saat berusaha menarik ke atas resleting gaunnya.
"Apa kak Ben bisa menarik kan resleting gaun ku, aku tidak bisa menggapainya," ucap Jihan.
__ADS_1
"Baiklah, berbalik lah," Ucap Ben.
Jihan mengubah posisinya, membelakangi Ben. Ben langsung terpana saat Melihat punggung putih Jihan dengan tali bra hitam yang terpampang nyata. Dengan tangan gemetar, Ben meraih resleting gaun Jihan dan langsung menariknya dengan cepat. akhirnya nafasnya bisa kembali normal.
Tahan ... Tahan sebentar lagi dia akan menjadi milikku seutuhnya.
"Terimakasih kak," ucap Jihan, lalu kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil tasnya.
"Ayo berangkat," ucap Jihan.
~~
Jihan dan Ben sudah sampai di sebuah restaurant berbintang, dengan pemandangan malam yang sangat indah, Ben sengaja memilih lokasi outdoor sesuai saran dari Aruni.
Jihan menggedarkan pandanganya ke sekeliling restaurant Dengan konsep outdoor ini. Semakin masuk kedalam, tersa semakin indah, ada banyak lampu, lilin, dan juga bunga bertebaran di mana-mana.
Jihan semakin bingung, karena tidak ada seorangpun di Sana, hanya ada mereka berdua saja.
"Kak, kok sepi sih," ucap Jihan.
"Mungkin karena restaurant ini baru buka kali," ucap Ben.
Tiba-tiba, lampu padam, Jihan berteriak karena ketakutan, ia meraba-raba ke sekelilingnya namun tak menemukan Ben, ia juga terus memanggil nama ben namun tak ada sahutan.
Truuum.
Lampu sorot tiba-tiba menyala di hadapan Jihan, ia Kaget saat Ben berdiri di Sana dengan sebuah Mic di tangannya.
"Ehm ... tes ..tes," Ben memastikan micnya hidup.
Jihan hanya diam mematung di tempatnya, jujur ia masih bingung dengan semua ini.
"Sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum tanpa alasan. Sekarang kamu ada di sini, aku pikir seluruh hidupku akan lengkap secara semestinya. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak akan berjalan sendirian. Hatiku akan menjadi tempat berlindungmu dan lenganku akan menjadi rumahmu. Kamu mengeluarkan versi terbaik dari diriku. Berikan aku kesempatan untuk menjadi laki-laki paling beruntung yang pernah hidup. Jihan ... Maukah kamu menikah denganku?
Mata Jihan mulai berkaca-kaca, hak yang selalu ia impikan dalam hidupnya, kini menjadi nyata. Jihan langsung berhambur memeluk Bne dengan erat, Ia menangis terharu di pelukan Ben.
"Yes ... I Will," ucap Jihan lirih.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+ vote ya readers 🙏😊