
Kinan merasa heran karena Joshua yang sudah sadar tidak berbicara sejak tadi. Segera saja ia menekankan sebuah tombol yang ada di atas kepala ranjang rumah sakit untuk memanggil dokter.
"Jo, kamu baik-baik saja kan?" tanya Kinan sambil melambaikan tangannya di depan wajah Joshua.
Akhirnya Joshua tersadar juga dari lamunannya. ia menoleh ke arah Kinan yang kini berdiri di sampingnya, "Iya, aku baik-baik saja."
"Huh, aku pikir kamu kenapa. Dokter akan segera datang, jangan banyak bergerak."
"Kamu kenapa bisa di sini?"
"Malam tadi kamu membutuhkan donor darah untuk operasi, dan King langsung menghubungi ku, karena kebetulan golongan darah kita sama," tutur Kinan.
"Jadi, maksudnya kamu yang mendonorkan darah kepada ku?"
"Iya, aku juga menjagamu semalaman, jadi mulai sekarang bersikap baiklah padaku."
"Aku selalu baik padamu, kamu saja yang tidak sadar," tutur Joshua.
Tak lama seorang dokter dan dua orang perawat memasuki ruangan Joshua. Dokter itu memeriksa kondisi Joshua dan juga bekas jahitan di bagian perutnya.
Salah seorang perawat, menyuntikkan anti biotik dari bagian selang infus yang menancap di tangan Joshua. Ia mengeluh pelan, merasakan nyeri pada saat obat-obatan itu masuk kedalam tubuhnya. Ini pengalaman pertama Joshua di rawat di rumah sakit dan di hujani obat-obatan dan juga jarum suntik.
"Bagaimana keadaan saya dok, apa saya sudah boleh pulang?"
"Tentu saja belum tuan, dua hari lagi baru anda boleh pulang setelah mengganti perban."
Wajah Joshua nampak murung. Ia benar-benar tidak suka datang ke rumah sakit apalagi sampai menginap berhari-hari.
"Kalau begitu saya permisi dulu, jika memerlukan sesuatu atau ada keluhan, silahkan panggil saya." Dokter dan dua orang perawat itu melangkah pergi dari ruangan itu.
"Jangan terburu-buru, kamu fokus pada masa pemulihan saja dulu," ujar Kinan sambil menepuk pundak Joshua pelan.
"Aku tidak suka di rumah sakit, apalagi tak ada yang menemani, King pasti sedang menjaga Niana sekarang," ujar Joshua yang terlihat murung.
"Kan ada aku."
Deg.
Kata-kata Kinan barusan benar-benar membuat Joshua kaget, bingung, sekaligus terharu. selama bertahun-tahun mengenal sosok Kinan, baru kali ini ia melihat sisi lain dari wanita yang dulu pernah di cintai oleh King. Apa karena sekarang Kinan sudah bukan milik siapa-siapa lagi.
"Aku harus ke lokasi pemotretan siang ini, malam nanti aku akan datang lagi, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Kinan.
Joshua menganggukkan kepalanya dengan perlahan, " Iya tidak apa-apa."
"Kinan," panggil Joshua.
"Apa?"
"Terimakasih untuk semuanya, ternyata kamu baik juga," ujar Joshua.
"Haha, ya dulu aku memang nampak sangat mengerikan ya."
"Haha, iya, judes dan galak."
Joshua hampir melupakan jika ia sedang dalam kondisi yang lemah, ia tertawa bersama Kinan. Kehadiran Kinan di ruangan itu memberikan energi yang lebih besar untuk Joshua.
...***...
Sementara itu di lantai yang berbeda, Niana sudah sadar sejak subuh tadi. Kondisinya sudah lebih baik, meski rasa trauma itu masih sangat membekas di ingatannya. Untung saja King selalu standby berada di sampingnya.
"Setelah mama dan papa datang nanti, aku pergi sebentar ya," ucap King yang saat ini sedang duduk di samping Niana.
"Pergi kemana?"
"Ke ruang rawat Joshua, malam itu Joshua terluka karena menyelamatkan ku, dia baru saja selesai di operasi," tutur King.
"Apa! Lalu bagaimana kondisi kak Jo sekarang?"
"Kondisinya sudah stabil, Kinan ada di sana untuk menemaninya."
"Syukurlah kalau begitu."
"Sayang ... maafkan aku karena telah membuat kamu dan juga Joshua menjadi seperti ini," tutur King.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, tidak baik." Niana meraih tangan king dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Cklek.
Pintu ruang rawat Niana terbuka, dan ternyata kedua orangtuanya dan juga orang tua King sudah datang. Entah mereka ingin menjenguk Niana atau apa, tapi seorang supir yang mendampingi mereka, membawa banyak sekali barang-barang, mulai dari makanan, buah-buahan dan lainnya lalu di bawa masuk kedalam ruangan itu.
"Itu apa ma? Kenapa banyak sekali?" tanya King saat pak supir meletakkan empat buah paper bag besar di atas meja yang ada di ruangan itu.
"Ini ada makanan, buah, jus, pakain ganti untuk kamu dan juga ada buku, agar tidak bosan, Niana bisa membaca buku-buku yang mama dan mama Jihan siapkan," tutur Raya.
"Sepertinya ini terlalu banyak ma," ucap King saat melihat isi dari paper bag itu.
"Kan, papa sudah bilang itu terlalu banyak," sahut Reyhan.
"Biasalah naluri ibu-ibu, tidak bisa di lawan," ucap Ben.
"Haha, benar sekali Ben," ucap Reyhan pada Ben.
King melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Ia pernah pikir karena kedua orangtuanya sudah datang, ia bisa pergi melihat kondisi Joshua sebentar. Tapi sebelum itu ia ingin mandi terlebih dahulu.
"Aku mau mandi dulu, setelah itu pergi melihat Joshua sebentar," ujar King.
"Oh iya, mama juga sudah menyiapkan sup untuk Joshua, nanti jangan lupa di bawa ya," ujar Raya.
"Iya ma."
...***...
Kembali keruang rawat Joshua. Dengan sangat telaten, Kinan menyuapi bubur untuk Joshua. Padahal Joshua adalah orang yang sangat membenci makanan yang satu itu, namun karena Kinan yang menyuapi, rasanya tidak enak jika ia menolak. Susah payah Joshua mencoba menelan bubur itu, dan sesekali tersenyum, meski rasa mual mulai menyerang tenggorokannya.
Setelah selesai, Kinan melihat jam di ponselnya. Sudah waktunya untuk pulang kerumah dan bersiap-siap untuk pemotretan. Bertepatan dengan itu, King datang dengan sebuah termos berisi sup untuk Joshua.
"King, syukurlah kamu datang ... aku harus pulang sekarang, pemotretan ku sebentar lagi akan di mulai," ujar Kinan saat berada di hadapan King.
"Oh baiklah, terimakasih ya ki," ucap King pada Kinan yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Iya, sama-sama, malam nanti aku akan kembali untuk menginap."
"Benarkah, syukurlah."
Kinan sudah selesai memakai jaket dan juga tasnya, ia berbalik melihat Joshua yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit, "Jo, aku pergi ya, jangan lupa obatnya."
Setelah Kinan pergi, King beranjak duduk di samping Joshua. Ia meletakkan termos sup itu di atas nakas yang ada di samping ranjang rumah sakit.
"Itu apa?" tanya Joshua.
"Sup iga, buatan mama," jawab King.
"Benarkah, aku mau ... perut ku mual sekali karena makan semangkuk bubur tadi," tutur Joshua.
"Hah, kamu kan sangat membenci makanan yang satu itu, kenapa malah di makan, sampai habis lagi," ujar King saat melihat mangkuk bubur yang sudah kosong.
King memindahkan sup itu kedalam sebuah mangkuk yang ia bawa dari ruang rawat sang istri. Kali ini ia akan menuruti semua yang Joshua perintahkan padannya, ia merasa sangat berhutang budi pada Joshua, jika bukan karena Joshua, mungkin dia lah yang saat ini terbaring di ranjang rumah sakit.
Setelah selesai menuang sup itu, ia langsung memberikannya kepada Joshua. Dengan gerakan cepat Joshua meraih mangkuk itu dan langsung memakan sup iga itu dengan lahap. King sampai terkejut melihat cara makan Joshua yang seperti orang kelaparan.
"Tidak ada nasi?" tanya Joshua yang sudah menghentikan aktivitasnya sebentar.
"Hah, aku lupa kamu sangat menyukai nasi, tapi sayangnya aku tidak bawa," tutur King.
"Wah sayang sekali, tapi sekarang perut ku terasa lebih baik, rasanya tadi aku ingin muntah, tapi tidak enak dengan Kinan."
"Jika tidak suka kepada di makan, Kinan pasti tidak akan marah."
"Entahlah, aku merasa berhutang budi dengan Kinan, belum lagi ia sangat berubah sekarang, aku pikir dia hanya wanita jahat yang dulu selalu memanfaatkan mu," tutur Joshua.
"Benar juga, mungkin karena ia tidak berhubungan lagi dengan Alex jadi pikirannya sekarang sudah lebih terbuka."
"Ya, kamu benar."
"King..," panggil Joshua.
"Apa?"
"Kamu ... apa Benar-benar sudah tidak mencintai Kinan lagi?"
"Untuk apa kamu bertanya sesuatu yang sudah berlalu, aku sangat mencintai istriku, dan Kinan hanya aku anggap teman saja sekarang," ujar King.
__ADS_1
"Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Ah tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin kamu menyakiti Niana lagi," jawab Joshua.
"Kamu bercanda, mana mungkin aku melakukan hal itu, kita tidak tau apa yang akan terjadi di kehidupan kita, jika dulu aku membeci pernikahan ku dan Niana, siapa sangka, ternyata Niana adalah orang yang mampu membuat aku mengerti arti cinta yang sesungguhnya, aku bersyukur karena kakek menyatukan kami," tutur King panjang kali lebar.
Joshua terdiam sejenak, ia kembali melamun kan hal yang entah sejak kapan mulai mengusik hatinya. Ia pikir King ada benarnya juga, siapa yang tau jika takdir tiba-tiba saja membuat ia ingin membuka hati untuk Kinan.
"Hey, kenapa melamun. Habiskan sup-nya, nanti keburu dingin," ucap King sambil menepuk pundak Joshua, hingga membuat Joshua terkesiap.
"Iya iya."
...***...
Siang berganti malam, Kinan baru saja sampai di halaman rumah sakit dengan di antarkan oleh sang manajer, Jessy.
"Besok pagi jemput aku, jangan lupa," ucap Kinan kepada Jessy.
"Oke, sampaikan salam ku untuk Joshua, aku harus segera pulang, karena keluarga ku tiba-tiba saja datang dari Surabaya," tutur Jessy.
"Ah iya, pergilah."
Jessy melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit, meninggalkan Kinan yang masih diam di tempatnya sambil memandangi kepergian Jessy.
Setelah mobil jessy menghilang dari pandangannya, baru lah Kinan berbalik lalu berjalan masuk kedalam gedung rumah sakit itu. Entah berapa banyak mata yang memandang kearahnya, ia hanya berusaha bersikap normal, meskipun sebenarnya ia kurang nyaman di lihat banyak orang.
~
Kinan membuka pintu, pandangannya langsung mengarah kepada Joshua yang sedang terlihat kesusahan meraih segelas air putih yang ada di atas nakas di samping ranjang rumah sakit.
Dengan gerakan cepat, Kinan langsung menghampiri Joshua, dan membatunya untuk mengambil gelas itu.
"Terimakasih," ucap Joshua saat menerima segelas air putih dari tangan Kinan.
"King sudah pergi sejak tadi?"
"Tidak, baru saja ia pergi, karena kedua orangtuanya akan pulang."
"Oh begitu, maaf aku terlambat datang."
Joshua nampak bingung melihat sikap Kinan yang sangat perhatian padanya. Hal itu membuat ia ingin bertanya lebih banyak hal kepada Kinan.
"Ki, aku boleh bertanya?"
"Bertanya apa?" Kinan duduk di pinggir ranjang hingga posisinya berhadapan dengan Joshua.
"Kenapa kamu tiba-tiba saja baik sekali pada ku?"
"Emm, bagaimana ya, saat aku melihat mu seperti ini, aku seperti melihat diriku sendiri. Kita sama-sama sebatang kara di kota ini, tidak punya keluarga apa lagi pasangan," jawab Kinan.
"Haha, kamu benar juga. Tapi apa kamu tidak ingin membuka hati untuk pria lain, kamu masih muda, berbakat, dan ... tentunya cantik." Joshua nampak ragu-ragu saat mengatakan hal itu.
"Aku bukanlah wanita yang sempurna, tiga tahun tinggal bersama dengan Alex tanpa satu ikatan, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Tidak akan ada pria yang mau menerima seorang wanita seperti ku," ujar Kinan dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba saja berubah sendu.
Joshua terdiam sesaat, ia tau betul arah pembicaraan ini. Ya, Kinan dan Alex sudah melalui banyak hal, seseorang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, entah itu besar atau kecil. Meskipun demikian, seorang pendosa sekalipun berhak mempunyai masa depan.
"Kamu bisa mencoba membuka hati mu untuk orang lain, pasti akan ada seseorang yang mau menerima kamu apa adanya," tutur Joshua yang terlihat serius.
Kinan mengeryitkan dahinya saat melihat ekspresi wajah Joshua yang tiba-tiba saja berubah, hal itu membuat Kinan tidak bisa menahan tawanya, "Haha, kamu ini kenapa? Tiba-tiba saja berkata seperti itu, membuka hati untuk siapa coba, sudahlah aku tidak ingin membahasnya."
Kinan hendak beranjak turun dari duduknya, namun tiba-tiba saja Joshua menarik tangannya, dan membuat Kinan kembali duduk di pinggir ranjang. Tatapan mereka saling beradu, degup jantung Joshua sudah tidak beraturan, entah respon apa yang akan Kinan berikan setelah ini, yang jelas ia ingin mencobanya meskipun itu tergolong hal yang nekat.
"Kamu kenapa?" tanya Kinan bingung.
"Apa kamu mau mencobanya dengan ku?"
Kinan membulatkan matanya tak percaya, ia melepaskan tangannya dari genggaman Joshua, "Jo, kamu bercanda ini ti ....-"
Belum sempat Kinan menyelesaikan ucapannya, Joshua sudah meraih tekuk lehernya lalu mulai menciumnya. Seluruh tubuh Kinan meremang, desiran aneh itu mulai hadir secara tiba-tiba dengan seseorang yang tidak di duga-duga.
Akankah ini menjadi sebuah titik awal kisah percintaan dari dua orang yang pernah mengalami patah hati yang sama.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊🙏😊😍
__ADS_1