
Satu bulan berlalu begitu cepat. Seaakan tak mau membuang waktu untuk hal yang tidak pasti. Akhirnya Joshua dan Kinan memutuskan untuk menikah.
Cinta yang saat ini sedang menggebu-gebu. Hati yang sudah yakin satu sama lain, membuat mereka tidak ragu untuk mengambil langkah yang terbilang cepat.
Pagi ini di sebuah taman yang sudah di hias dengan sangat apik, akan menjadi saksi bisu sepasang kekasih yang akan segera mengikat janji sehidup semati.
Acara ini di buat privasi, hanya untuk keluarga dan para kolega. Tak ada satupun rekan media yang boleh masuk ke area taman yang akan menjadi lokasi ijab kabul.
Mau tidak mau mereka meliput berita dari luar taman. Karena pernikahan aktris sekaligus model Kinan dira ini menghebohkan jagad maya. Mereka tidak menyangka jika ternyata Kinan akan menikah dengan Joshua, manager dari King yang dulu sempat di isukan dekat dengan Kinan.
...***...
Di sebuah Hotel yang berada di samping taman itu.
Kinan menatap pantulan wajahnya dari cermin. Ia tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca karena merasa haru. Niana dan kedua orangtuanya berada di sana untuk mendampinginya.
Kedua orang tua Kinan baru saja tiba di Indonesia kemarin sore, setelah beberapa hari sebelumnya Kinan mengatakan kepada mereka bahwa ia akan menikah dengan Joshua. Tentu saja kedua orang tua Kinan memberikan restu mereka.
Niana sejak tadi berada di ruangan yang sama dengan Kinan. Niana dan King menginap di hotel malam tadi, untuk membantu persiapan acara Kinan dan Joshua.
Saat ini, Niana sudah menjadi sahabat baik Kinan. Mereka saling berbagi pengalaman termaksud pengalaman malam pertama sepasang pengantin. Ya, masalalu tidak menjadi batasan untuk mereka saling berteman.
"Kinan kamu sudah siap?" tanya Niana.
Kinan berbalik melihat Niana yang berdiri di belakangnya, ia mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk pelan.
"Aku siap tapi aku sangat gugup," ucap Kinan.
"Coba rileks saja ya, hari ini adalah hari paling bahagia untuk kamu dan kak Jo."
~
Sementara di ruangan lain, King dengan setia menemani sang sahabat yang tak henti-hentinya berkeringat dingin. Joshua terlalu gugup untuk hari ini. Beberapa kali ia mencoba melatih diri untuk ijab kabul, agar tidak salah saat prosesi nanti.
"Bagaimana? Apa aku terdengar lancar saat mengucapkannya?" tanya Joshua pada sang sahabat.
"Emm ... lancar, hanya saja suara mu terdengar bergetar, coba kamu rileks dulu, jangan terburu-buru."
"Bro, you know I'm a nervous person, right?"
"Ya, aku tau, apa kamu ingat saat sidang kelulusan, wajah mu juga seperti ini, pucat dan berkeringat, haha."
"Huh, jangan meledek. Aku memerlukan solusi saat ini."
Cklek.
Pintu ruangan itu terbuka, dan ternyata kedua orang tua Joshua lah yang datang. Karena kemarin penerbangan dari Medan ke Jakarta di tunda karena cuaca buruk. Akhirnya pagi ini kedua orang tua Joshua sudah tiba di Jakarta.
Mata Joshua berbinar-binar saat melihat kedua orang tuanya berdiri di ambang pintu.
"Amang, inang (Ayah, ibu)," ucap Joshua lirih.
__ADS_1
Joshua berdiri dari posisinya dan langsung memeluk kedua orangtuanya. Rasa haru begitu terasa, sudah satu tahun lebih tak bertemu karena perkejaaan yang mengharuskannya menjadi anak rantau di kota metropolitan.
"Jangan menangis Jo, kau sebentar lagi akan menikah," ucap Inang, padahal ia sendiri juga menangis.
"Inang kau benar, kau ini kan laki-laki, jangan cengeng," kata Amang sambil menepuk lembut pundak sang putra.
Joshua melepaskan pelukannya dari kedua orangtuanya. King yang sejak tadi hanya diam di tempatnya, ikut terhanyut dalam suasana itu, ia paham betul jika Joshua pasti sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Amang dan Inangnya di Jakarta.
King melangkahkan kakinya menghapiri Joshua dan kedua orangtuanya. Ia menyalami tangan kedua orang tua Joshua. Terakhir kali King bertemu dengan kedua orang tua Joshua adalah saat acara Wisuda di California empat tahun silam.
"Makin tampan saja kau ini, maaf ya kami tidak bisa hadir saat resepsi mu, tapi kami menontonnya langsung di TV," ujar Inang.
"Terimakasih inang, saya bisa mengerti, usaha tambang Amang di medan kan sekarang sangat sukses," ucap King.
"Ah kau ini bisa saja," ucap Amang sambil menepuk pundak King dengan cukup keras, membuat King meringis karena merasakan nyeri di pundaknya.
"Amang, inang bersiap-siap lah, acara sebentar lagi akan di mulai," ucap Joshua.
"Ah iya kau benar, kalau begitu kami kembali ke kamar dulu."
...***...
Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Joshua di temani kedua orangtuanya dan juga King sudah berada di Taman, tempat proses ijab kabul akan di gelar.
Para tamu undangan pun sudah hadir di sana. Joshua menarik nafas perlahan saat rasa gugup sudah mencapai puncaknya. Saat rasa gugupnya mulai reda, suara riuh terdengar dari arah belakang.
Para tamu bersorak gembira saat Kinan yang menggandeng tangan kedua orangtuanya, berjalan secara perlahan menuju tempat di mana Joshua berada. Joshua beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri memadangi sang pujaan hati yang nampak sangat cantik hari ini.
Tak pernah aku sangka, takdir akan mengirimkan kamu sebagai pendamping hidup ku, wanita yang tak pernah ada dalam bayangan ku, hari ini kamu berjalan ke arah ku sebagai jodoh yang di kirimkan Tuhan, batin Joshua.
Saat aku berjuang untuk hal yang sia-sia selama bertahun-tahun, pada akhirnya kamu orang yang tidak pernah aku sangka-sangka, hadir, menawarkan cinta yang begitu besar hingga menutup luka yang mematahkan ku. Saat ini aku berjalan, menghampiri kamu untuk sebuah awal yang bahagia untuk kita, batin Kinan.
Langkah demi langkah Kinan tapaki hingga pada akhirnya ia sampai juga di hadapan sang calon suami. Dengan di bantu oleh Niana dan kedua orangtuanya, Kinan duduk di sebuah kursi yang ada di depan penghulu, berdampingan dengan Joshua.
Sebuah kain berbahan cifon berwarna putih, di letakkan Niana di atas kepala Joshua dan Kinan, karena prosesi ijab kabul akan segera di laksanakan.
Joshua menjabat tangan ayahanda dari Kinan yang akan menikahkan anaknya sendiri tanpa di wakili oleh penghulu. Susana semakin haru, sebelum menikahakan putrinya, ayah Kinan memberikan sebuah pesan kepada Joshua, untuk membahagiakan Kinan dan selalu setia dalam keadaan apapun.
Joshua menatap mata sang calon mertua dengan sangat serius kemudian ia berkata, "Saya berjanji, atas diri saya sendiri."
Senyum penuh kelegaan terpancar dari wajah ayah Kinan. Akhirnya prosesi ijab kabul segera di mulai. Dengan satu tarikan nafas lafas itu terdengar sangat lancar. hingga suara riuh dari para tamu mulai terdengar.
"SAH!"
Akhirnya resmi sudah Kinan menjadi seorang istri dan begitu pula dengan Joshua yang akhirnya sudah resmi menjadi seorang suami.
...***...
Malam harinya di lokasi yang sama, acara resepsi pernikahan Kinan dan Joshua berjalan dengan sangat meriah. Malam Kinan mengenakan gaun pengantin berwarna rose gold dan Joshua dengan setelan jas berwarna navy. Layaknya sebuah garden party, Kinan dan Joshua berbaur dengan para tamu.
"Bagiamana bro, sudah lega kan?" tanya King menggoda sang sahabat.
__ADS_1
"Iya, terimakasih untuk dukungan kamu dan Niana," ucap Joshua.
"Jangan sungkan kak Jo, sekarang kita semua adalah keluarga," ucap Niana.
Kinan mendekati Niana dan langsung memeluknya, ia benar-benar tidak menyangka Niana akan mendukungnya hingga sejauh ini.
Sepertinya rasa bahagia Joshua dan Kinan harus berubah menjadi ketegangan.
Suara para tamu mulai berbisik-bisik, saat Dari arah pintu masuk, seorang tamu tak di undang datang dengan setelan formal. Saat semua orang membicarakannya, ia tak bergeming, ia berjalan menghampiri sang mantan yang saat ini sedang memadanginya dengan tatapan penuh ketakutan.
Tubuh Kinan bergetar hebat. Ya, ia tidak heran jika Alex bisa dengan mudah lepas dari jeratan hukum karena kekuasaan dan uang selalu bisa di andalkan. Tapi ia tidak pernah menyangka Alex akan datang kemari tanpa di undang.
Menyadari ketakutan sang istri, Joshua menggenggam tangan Kinan dengan erat. Ia tidak tahu apa maksud dari kedatangan Alex tapi jika itu untuk membuat kekacauan, ia tidak akan menahan diri kali ini.
"Untuk apa dia datang kemari, kalian tenang saja aku akan mengurusnya." King hendak melangkah untuk mengusir Alex dari lokasi pesta, namun Joshua langsung menahan tangan King.
"Biarkan saja, aku ingin tau, untuk apa dia datang," ucap Joshua.
King kembali memundurkan langkahnya, menggenggam tangan Niana yang juga nampak takut, karena suasana pesta yang tiba-tiba saja menjadi hening.
Langkah Alex semakin mendekat, Kinan beberapa kali menelan karena merasa sangat takut, jujur rasa trauma karena penganiayaan waktu itu masih amat melekat di ingatannya.
Saat sampai di hadapan Joshua, mereka saling menatap dalam kebisuan sesaat. Sampai pada akhirnya Alex mengulurkan tangannya kepada Joshua.
"Selamat ya, aku ikut bahagia untuk kalian," ucap Alex.
Joshua, kinan dan semua orang yang ada di sana tidak menyangka jika Alex akan mengatakan hal itu. Joshua menoleh kepada Kinan yang saat ini juga baru sedang menatapnya. Kinan mengangguk pelan, seolah memberi kode, jika ia memberikan semua keputusan pada sang suami.
Perlahan Joshua menjabat tangan Alex, senyum lebar langsung terpancar dari wajah Alex. Setelah merenungi kesalahannya, merenungi sepengecut apa dirinya saat itu, kini ia menyesal. Ia sadar, memaksakan seseorang untuk menjadi apa yang kita inginkan itu tidak lah benar. Tempramen yang sangat buruk kini membuat ia harus kehilangan wanita yang ia cintai.
Alex sudah ikhlas, untuk kebahagiaan Kinan. Ia melepaskan jabatan tangannya dari Joshua lalu beralih kepada Kinan. Ia bisa melihat jika Kinan masih ketakutan saat melihatnya, dan ia bisa paham akan hal itu. Alex mengulurkan tangannya kepada Kinan, "Ki, selamat ya, aku minta maaf untuk segalanya."
Dengan tangan bergetar, Kinan menjabat tangan sang mantan yang saat ini terlihat sangat tulus. mengucapkan selamat kepadanya.
"Te-terimakasih, aku sudah melupakan dan memaafkan semuanya," ucap Kinan terbatabata.
Kinan melepaskan jabatan tangan mereka, lalu beralih menatap sang suami yang tersenyum kepadanya. Joshua merangkul Kinan untuk menenangkannya.
"Terimakasih sudah datang, silahkan nikmati pestanya," ucap Joshua pada Alex.
"Ah tidak, terimakasih. Aku harus segera pergi ke bandara, malam ini juga aku akan pergi ke London."
"Semoga perjalanan kamu menyenangkan, dan semoga saja kamu menemukan wanita yang tulus mencintai kamu dan jangan kamu sia-sia kan lagi," sahut King tiba-tiba.
"Iya, tentu saja."
Alex berbalik dari hadapan Joshua dan kinan. Ia melangkah pergi dari tempat itu, membawa seluruh kenangan yang tersisa, tiga tahun hidup bersama dengan Kinan tanpa sebuah status pernikahan, rasanya tidak mungkin bisa ia lupakan begitu saja. Tapi ia percaya suatu saat nanti, ia akan menemukan cinta itu satu kali lagi, dengan orang yang berbeda dan ia tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Terimakasih untuk segala dukungan kalian, aku juga tidak mau untuk cepat-cepat mengakhiri kisah ini. Tapi pembagian waktu yang begitu susah, karena saya juga bekerja. membuat author harus memilih Tamat. 😢😢😢
Yang masih mau dan berkenan membaca novel author receh ini, bisa lanjut ke novel terbaru author, yang berjudul Selir Hati Mr.Billolionaire. 🙏🙏🙏🙏❤️😘
__ADS_1