
Niana menyeret kopernya, menuju teras rumah, ia menekan kode pintu yang tentunya sudah sangat ia hafalkan. Saat pintu terbuka, suasan rumah nampak sangat kosong, Niana melangkahkan kakinya menuju taman belakang, dan ternyata dugaannya benar, sang mama memang berada di sana.
Terlihat jihan sedang duduk bersantai sambil membaca majalah favoritnya, dengan secangkir teh herbal yang selalu setia menemani.
"Ma," ucap Niana saat sudah berada di hadapan mamanya.
Jihan yang tadinya fokus melihat majalah, kini mendongak keatas, melihat sosok putri tercinta yang sudah di depan mata.
"Niana, kamu kenapa bisa di sini, King mana?" tanya Jihan bingung.
Bibir Niana begetar, karena menahan sesak di dadanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dengan satu gerakan, Niana duduk bersimpuh di hadapan sang mama. Ia membaringkan kepalanya di pangkuan orang yang paling mengerti dirinya, hingga saat ini.
Suara tangis Niana terdengar menyayat hati, Jihan menjadi semakin bingung karena Niana hanya menangis tanpa menjelaskan masalah apa yang sedang ia hadapi.
"Nia, kamu kenapa sayang?" Jihan membelai lembut pucuk kepala Niana.
"Ma ... I'm tired, and I want to run away from reality for a while (Aku lelah, dan aku ingin lari dari kenyataan untuk sementara waktu)," ucap Niana yang masih terisak.
"did you fight with your husband? (kamu bertengkar dengan suami mu?)"
"No, but he loves another woman (Tidak, tapi dia mencintai wanita lain)."
Jihan mengangkat kepala Niana dari pangkuannya, menatap Niana dalam, sambil menyeka air mata Niana yang tak hentinya mengalir. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja putrinya itu ucapkan.
"Look at my eyes dear, kamu tidak berbohong kan?" tanya Jihan dengan kedua netra hitam yang menatap Niana tajam.
Niana tidak menjawab apapun, ia hanya menggeleng lemah, lalu kembali meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang mama. Ia kembali menangis namun kali ini tanpa suara, hanya air matanya saja yang keluar tanpa henti.
~
Setelah merasa lebih baik, Jihan mengajak Niana untuk beristirahat di kamarnya. Ia tidak bertanya apapun lagi, ia takut Niana malah akan bertambah sedih.
Perlahan namun pasti, Niana memejamkan matanya, Jihan membelai rambut sang putri, ia benar-benar kasihan melihat Niana menangis seperti tadi, dada Jihan ikut sesak jika mengingat kata-kata Niana tadi, ia benar-benar tidak menyangka jika King akan mengkhianati Niana.
__ADS_1
Jihan beranjak pergi dari kamar itu, ia kembali menutup pintu kamar dan saat hendak berbalik pergi ia terperanjat kaget karena tiba-tiba saja Ben sudah berada di sana, di depan pintu kamar Niana.
"Papa, mengagetkan saja," ucap Jihan sambil mengelus dada.
"Nia sudah datang?" tanya Ben.
"Iya, kenapa papa bisa tahu, Niana membertahu jika dia akan pulang?"tanya Jihan penasaran.
"Bukan Nia, tapi Reyhan. Reyhan sudah menjelaskan masalah yang sedang di hadapi King saat ini, dan karena itu juga Niana pulang ke sini secara tiba-tiba," tutur Ben.
"Aku masih belum mengerti, ceritakan semuanya kepada ku sekarang," ujar Jihan.
"Kita ke ruang kerja ku sekarang, aku akan menceritakan semuanya." Ben dan Jihan melangkahkan kakinya beriringan menuju ruang kerja Ben yang berada di lantai tiga rumah itu.
...***...
King membuka matanya perlahan, saat merasakan cahaya matahari menelusuk masuk menerpa wajahnya, hingga matanya terasa silau. Ia menoleh ke samping dan tidak ada Niana di sana.
King beranjak turun dari tempat tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu dan ternyata orang yang ada di balik pintu adalah kepala pelayan kediaman Hardiansyah, yaitu Pak Kusnadi, atau lebih kerap di sapa pak Kus.
"Maaf menggangu tidur anda tuan muda, nyonya memerintahkan saya untuk memberikan ini kepada tuan," ucap pak Kus sambil menyodorkan setelan jas lengkap dengan sepatunya.
King baru ingat, sebelum tidur, malam tadi papanya mengatakan jika pagi ini ia harus ikut ke perusahaan untuk menghadiri rapat, sekaligus memperkenalkan King sebagai calon pewaris HRY grup.
Reyhan belum setua itu untuk pensiun sebagai CEO HRY group. Namun sudah menjadi tradisi keluarganya, jika putra pertama dari keluarga Hardiansyah sudah memasuki usia dua puluh tahun ke atas, ia akan di angkat menjadi CEO baru, mengambil alih tahta sang papa yang sudah lebih dari dua puluh tiga tahun mempertahankan nama besar HRY Group. Tapi tentunya akan melalui pelatihan khusus selama satu tahun sebelum resmi di lantik menjadi penerus HRY group.
Sudah cukup, selama tiga tahun belakangan ini, Reyhan membiarkan King meraih cita-cita dan hobinya dalam seni peran. Skadal yang menimpa King, menyadarkan Reyhan jika ini adalah waktunya untuk King belajar mengurus perusahaan.
King berdiri dengan tegap di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Ia menatap dirinya yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna brown, rambut yang biasanya ala boyband Korea, kini tersisir rapi hingga memperlihatkan jidat minimalisnya.
Tidak ada senyum yang terukir di wajah King, sebenarnya ia belum siap untuk ini. Ia ingin segera terbang ke Singapura untuk menemui Niana yang sangat ia rindukan keberadaannya.
Namun Reyhan mengatakan kepada King, jika King tidak boleh terburu-buru untuk menemui Niana. biarkan Niana menenangkan diri untuk beberapa waktu, karena sebentar lagi Niana akan segera wisuda.
__ADS_1
Jika mengingat perkataan papanya, King hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, ia berusaha menahan gejolak di hatinya yang sudah mendamba kehadiran Niana kembali.
...Tunggu aku, sebentar lagi, aku akan datang dan berdiri di hadapan mu lagi, bukan sebagai seorang aktor yang terkenal, tapi sebagai penerus HRY grup," batinnya....
~
King melangkahkan kakinya, turun kelantai bawah, ia mengerutkan keningnya saat mendapati Joshua sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Jo, kenapa kamu disini?" tanya King yang sudah menghampiri Joshua.
"Selamat pagi tuan muda, saya akan menjadi sekretaris anda mulai hari ini," ucap Joshua dengan formal.
"Maksudnya...."
"Iya Saka, mulai hari ini Joshua akan ikut belajar mendampingi kamu sebagai calon seketaris CEO HRY grup," tutur Reyhan.
King menepuk pundak Joshua dengan senyum yang terukir jelas di wajahnya. Ia merasa lega, karena saat ia mengambil jalan yang lain, Joshua juga ikut menyertainya.
~
Rapat anggota direksi akan segera di laksanakan, para peserta rapat sudah duduk di posisi mereka masing-masing.
Reyhan, King dan juga Joshua memasuki ruangan, para peserta rapat berdiri untuk memberi hormat. Setelah Reyhan, King dan Joshua duduk, semuanya juga kembali duduk di posisi masing-masing. King merasa benar-benar gugup, baginya ini lebih menegangkan dari pada saat ia mendapatkan penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik tahun lalu.
"Selamat pagi semuanya, maaf karena sudah mengadakan rapat dadakan ini, saya hanya ingin memperkenalkan putra saya yang mungkin anda semua sudah sering lihat saat ia datang ke Perusahaan ataupun di layar televisi, mulai hari ini, putra tunggal saya akan mulai aktif bekerja di perusahaan ini sebagai wakil CEO, dan jika tidak ada halangan, tahun depan dia akan menggantikan posisi saya sebagai CEO HRY grup," tutur Reyhan dengan lugas.
King berdiri dari posisinya, melihat kearah depan di mana para anggota direksi sedang menunggu ia untuk bicara, King menunduk sebentar lalu kembali menegakkan kepalanya.
"Selamat pagi semuanya, saya King Raysaka Hardiansyah, untuk kedepan, saya mohon kerjasama dan bimbingan anda semua."
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊
__ADS_1