
Masih dengan posisi yang sama, Niana terus berjalan sesuai arahan wanita itu menelusuri lorong demi lorong. Saat akan sampai ke sebuah pintu di bagian belakang hotel, wanita itu membawa Niana bersembunyi di balik dinding.
Baru saja wanita itu mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia tau sepertinya rencananya sudah di ketahui King dan yang lainnya. Rasa panik mulai menghampiri wanita itu, ia membekap mulut Niana dengan tangannya, agar Niana berteriak atau semacamnya.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Terdengar suara pintu terbuka, langkah petugas keamanan itu mulai memasuki area dalam hotel. Jarak petugas keamanan itu dan tempat Niana hanyalah sepuluh meter saja. Suasana lorong yang cukup gelap membuat petugas keamanan itu sulit melihat ke sekeliling, apalagi hanya cahaya dari senter ponsel yang meneranginya.
Ingin rasanya Niana berteriak saat itu juga, tapi belati yang masih melintang di lehernya, membuat ia tidak bisa berkutik.
"Sepertinya tidak ada wanita itu disini, langsung aku kunci saja." Petugas keamanan itu melangkah pergi, tak lupa ia mengunci pintu itu dari luar.
Wanita itu mendengar semua ucapan petugas keamanan hotel. Ia pun cukup cerdas karena dengan cepatnya membaca situasi yang saat ini sedang membahayakannya. Tak ada akses jalan keluar yang saat ini terbuka, tak ada pilihan lain, selain beralih ke rencana B.
Saat di rasa situasi sudah mulai aman, wanita gila itu kembali membawa Niana masuk ke dalam pintu tangga darurat. Akhirnya ia memilih untuk membawa Niana ke atap gedung.
Entah berapa anak tangga lagi yang harus mereka lewati untuk sampai ke atas. Wanita itu mulai terlihat lelah, apalagi Niana, wajahnya sudah sangat pucat, dan ketakutan. Wanita itu menghentikan langkahnya, mencoba mengatur nafas sejenak, tubuh tambunya membuat ia cepat lelah.
Secara tidak sengaja wanita itu melihat kamera CCTV, yang berada di sudut atas dinding. Ia berpikir, karena sudah terlanjur basah, kenapa ia tidak sekalian memancing ke datangan King saja. King pasti mengetahui posisinya dari CCTV.
Wanita itu mencengkeram erat leher Niana dengan kedua tangannya, membuat Niana susah bernafas dan semakin lemas. Ia berpikir apa sudah saatnya ia harus meninggalkan dunia ini.
Apa secepat ini, aku harus meninggalkan kebahagiaan yang baru saja ku genggam," batin Niana yang merasakan hidupnya sudah di ambang batas hidup dan mati.
Wanita itu mendongakan kepalanya, menatap tajam kearah kamera CCTV. Ia mengarahkan telunjuk kanannya ke arah kamera, seolah memberi kode, agar King segera datang atau nyawa sang istri tidak akan selamat, sementara tangan kirinya mencengkram erat leher Niana.
Sebagai seorang fans wanita yang sangat amat mendambakan King Raysaka. Ia ingin setidaknya sekali saja, ia bisa menyentuh King, merasakan hangatnya tubuh King dalam pelukan. Kondisi mental yang terganggu membuat wanita itu terlalu terobsesi untuk memiliki sang idola.
Tidak kenal panas, hujan, ia selalu datang ke lokasi syuting King, memberi support dan hadiah-hadiah yang ia beli dari hasil menjual harta benda yang tersisa. Tak ada dukungan dari orang tua, teman ataupun kerabat, semua orang menganggap jika ia sudah gila.
Jarak yang membentang membuat ia hanya bisa memandangi King dari kejauhan. Saat King menyapa para fans dengan kata-kata cinta dan sayang, ia merasa jika King hanya mengatakan hal itu padanya, seolah ia dan King memiliki hubungan yang lebih dari sekedar fans dan idola.
Hatinya benar-benar hancur saat King tiba-tiba saja mengumumkan pernikahannya di depan media. Ia merasa di khianati, merasa semua yang ia korbankan selama ini sia-sia saja. Baginya jika ia tidak bisa memiki King, maka Niana pun tidak bisa.
Wanita itu melepaskan cengkraman tangannya dari leher Niana, sampai ia terbatuk-batuk. Tubuhnya semakin terasa lemas, ia jatuh terduduk di lantai, dengan nafas yang tidak beraturan.
Lagi-lagi wanita itu mencengkram erat dagu Niana, "Kamu tidak boleh mati disini, kamu harus mati di hadapannya, hahaha." wanita gila itu mulai mengeluarkan tawa jahatnya.
~
Sementara itu di lokasi pesta, Reyhan dan yang lainnya mulai terlihat gelisah. Sekarang bukan hanya Niana yang tak kunjung datang tapi King juga tiba-tiba saja ikut menghilang.
Tamu yang tadinya ingin bertemu Niana dan King sudah berpamitan untuk pulang. Reyhan mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya. Ia harap King mengangkat teleponnya. Tak lama suara King terdengar-.
[Hallo pa?]
[King, kamu dan Niana dimana, kenapa tidak kembali ke lokasi pesta?]
Dari balik sambungan telepon, King mulai menjelaskan semuanya kepada sang papa. Raut wajah Reyhan langsung menegang seketika. King meminta agar papanya menghubungi pihak kepolisian dan juga menutup acara itu karena tidak memungkinkan untuk di lanjutkan lagi.
~
__ADS_1
King menutup percakapannya dengan sang papa, saat dari monitor pengawas, yang kembali menangkap sosok wanita itu dan Niana sedang berada di sebuah tangga darurat.
"Sialan!" Emosi King kembali meluap saat dari arah kamera, Wanita itu seolah sengaja untuk menantangnya.
Air mata bercampur amarah kini bercampur aduk menjadi satu, saat ia melihat Niana yang di cekik sampai terduduk lemas di atas lantai.
"Katakan, kearah mana wanita gila itu akan membawa istri ku?" tanya King pada petugas keamanan itu.
"Dari rekaman CCTV, wanita itu sepertinya akan membawa Nona ke atap gedung."
Saat mendengar penuturan petugas keamanan itu, pikiran King mulai kemana-mana, ia bisa menebak, apa yang akan wanita itu lakukan pada istrinya.
Tanpa menunggu waktu, King berari keluar dari dalam ruangan petugas keamanan gedung. Joshua sampai terkesiap karena gerakan tiba-tiba King.
Joshua ikut berlari menyusul King. Lorong demi lorong King telusuri, hingga ia sampai di sebuah pintu yang bertanda-kan tangga darurat.
Keringat mulai bercucuran di dahi King karena berlari menaiki anak tangga yang tidak terhitung jumlahnya. Karena merasa tidak leluasa bergerak dengan setelan jas itu, ia pun melepaskan dasi dan jasnya lalu melemparkannya kesembarangan arah. Kini hanya tersisa kemeja putih dan celananya saja.
Kamu harus baik-baik saja, bertahanlah, aku segera datang," batin King.
~
Wanita itu membawa Niana sampai ke besi pembatas gedung. Semua bisa terlihat jelas dari atas sana. Bisa di bayangkan jika Niana jatuh dari lantai tiga puluh, apakah ia bisa hidup?
Niana memejamkan matanya saat pandangannya mengarah kebawah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia sangat takut dengan ketinggian, dan sekarang ia di hadapkan dengan situasi ini.
Wanita itu seakan tak bergeming, ia tidak merespon apapun ucapan Niana. Ia tinggal menunggu kedatangan King saja dan setelah itu ia akan membawa Niana jatuh ke bawah bersamanya.
Entah dari mana, ide itu datang begitu saja di saat keadaan genting seperti ini. Niana berusaha melepaskan sepatunya dan menjatuhkannya kebawah. Berharap siapapun itu menyadari jika ia sedang di atas gedung.
Trakkkk.
Seperti dugaan, tepat di hadapan para wartawan, sepatu high heels Niana mendarat. Semua wartawan di sana cukup kaget, karena tiba-tiba saja sebuah sepatu jatuh dari atas langit.
Seorang wartawan pria mendongak keatas, ia seperti melihat dua orang sedang berada di puncak gedung. Karena tidak terlalu jelas, wartawan pria itu mengarahkan kameranya ke puncak gedung, ia menzooom hingga sesuatu di atas sana mulai terlihat jelas. Tanagnya tiba-tiba saja hampir menjatuhkan kamera itu, saat sosok yang sedang berdiri di pinggir puncak gedung itu adalah Niana dan seorang lainnya, yang mengarahkan sebuah belati di leher Niana.
"No-na, Niana, Nona Niana sedang di sandra seseorang di atas gedung!" teriak wartawan pria itu dengan panik, hingga semua orang yang ada di sana ikut mendongak keatas.
Seketika suasana menjadi heboh. Di tambah lagi puluhan aparat kepolisian yang sudah sampai di halaman gedung hotel. Para tamu pun berhamburan keluar gedung, tak terkecuali Reyhan, Raya, Jihan dan Ben.
"Niana!" Jihan berteriak histeris saat melihat sang putri berada di atas sana.
Ben tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, putrinya yang baru saja duduk sebagai ratu dan dalam hitungan detik menjadi sandera seseorang.
Tiba-tiba saja Jihan pingsan, membuat semua orang yang ada di sana semakin panik. Dengan di bantu petugas kepolisian, Jihan di bawa masuk kedalam di temani oleh Raya. Sementara Ben dan Reyhan masih berdiri di sana.
"Aku akan menyusul keatas," ucap Ben pada Reyhan.
"Aku ikut." Ben dan Reyhan bersama dengan beberapa petugas kepolisian melangkah masuk kedalam gedung, mungkin akan memakan waktu untuk sampai ke atas, tapi itu lebih baik ketimbang hanya berdiri sambil memandangi Niana yang sedang dalam bahaya.
__ADS_1
Nia, kamu harus bertahan sayang," batin Ben.
~
Lampu sorot mulai di arahkanya pihak kepolisian ke arah wanita yang sedang berdiri di pinggir gedung bersama dengan Niana.
"Kami dari pihak kepolisian. Segera menyingkir dari sana, dan menyerahlah!" ucap salah satu petugas kepolisian dengan menggunakan toak.
~
Lain di bawah maka lain pula kodisi di atas saat ini. King mendorong pintu itu dengan keras, langkah demi langkah ia pijaki di lantai atas gedung itu. Sampai pada akhirnya King melihat Niana yang sedang berdiri di depan besi pembatas gedung bersama wanita yang benar-benar sudah menguji kesabarannya. King berusaha menenangkan dirinya, ia tidak boleh bertidak gegabah.
"Nia!" seru King dari jarak sepuluh meter, membuat wanita itu dan Niana menoleh kearahnya.
Wanita itu tersenyum kepada King, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Meskipun begitu, ia tidak melepaskan belati itu dari leher Niana.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ingin mencelakai istriku!" pekik King pada wanita itu.
"Sayang, kamu lupa, aku selalu menemani kamu kemanapun kamu syuting, kita sudah melewati banyak hari bersama-sama."
"Kamu wanita gila, lepaskan istri ku!"
"Apa? Istri ... hahaha, dia bukan istrimu, akulah istri mu sayang."
"Baiklah, kita bicara secara baik-baik, tapi turulah dari sana, itu sangat berbahaya." secara perlahan King mulai melangkah mendekat dan wanita itu kembali berteriak-.
"Berhenti! Atau aku akan lompat bersamanya."
Bug.
Tiba-tiba saja dari arah belakang wanita itu, Joshua muncul dan langsung menghantam tekuk wanita itu dengan sebuah balok kayu. Wanita itu jatuh tergeletak di atas lantai gedung, dengan gerakan cepat King menangkap Niana yang tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang sangat lemah, bertepatan saat berada di pangkuan King, Niana mulai kehilangan kesadarannya.
"Nia, bagunlah sayang ... hey kamu mendengar ku," ucap King sambil menepuk pelan pipi sang istri, ia terlihat sama panik sekarang.
Joshua menjatuhkan balok kayuh itu dan langsung bergerak menghampiri Niana dan King, "Sebaiknya kamu bawa Niana turun."
"Iya kamu benar, ayo."
Joshua berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu agar King bisa menggedong Niana tanpa harus repot-repot membuka pintu lagi. Saat sudah membuka pintu, ia kembali menoleh kearah King sedang berjalan kearahnya.
Mata Joshua tiba-tiba saja membulat sempurna saat dari arah belakang King, ia melihat wanita itu kembali bangkit, berjalan dengan cepat mengahampiri King dengan sebuah belati di tangannya.
"King awas!" tanpa berpikir panjang Joshua berlari dan melompati wanita itu yang belum sempat melukai sang sahabat. Ia tejatuh tepat di atas wanita gila yang hampir saja melukai King, tapi siapa sangka belati itu malah menancap tepat di perutnya.
"Jo-joshua," ucap King terbatabata, saat melihat darah segar keluar dari bagian perut sahabatnya.
Bersambung ❤️
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1