Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.128- Bab.1 ( Perjodohan)


__ADS_3

Ruang ICU rumah sakit Cendana, Reyhan sedang duduk di sebuah kursi di samping ayahnya. Anwar kini terbaring lemah tak berdaya, dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya.


Kini Anwar semakin lemah dengan berbagai penyakit komplikasi menyerang raga yang telah renta. Saat ini Anwar sudah sampai di titik terendah dalam hidupnya, semangat hidup masih ada namun raga tak berkata sama.


Reyhan mengengam tangan sang ayah yang kini di pasangi selang infus, Reyhan menatap ayahnya sendu, ia beberapa kali menyeka air matanya. Ia tak siap untuk hal ini, belum siap untuk kehilangan sang ayah.


Anwar mengerakkan tangannya, dengan mulut yang seperti sedang mengatakan sesuatu, terdengar samar-samar, namun Reyhan mengerti ucapan ayahnya yang mengatakan, "Jihan ... Ben, mereka di mana." itulah kira-kira kata yang terucap dari mulut Anwar.


"Sebentar lagi yah, Ben dan Jihan dalam perjalanan ke Indonesia," tutur Reyhan dengan nada suara bergetar.


Sejak masuk rumah sakit kemarin, kondisi Anwar semakin memburuk dan malam ini ia harus di pindahkan ke ruangan ICU. Dari awal masuk, Anwar selalu menanyakan Ben dan Jihan. Akhirnya Reyhan menghubungi Ben dan Jihan agar mempercepat kepulangan mereka ke Indonesia.


Sebenarnya Ben dan Jihan memang berniat pulang ke Indonesia dua minggu lagi, sekaligus menikmati liburan akhir tahun bersama keluarga di Indonesia. Namun karena mendengar kabar Anwar sedang dalam kondisi kritis, akhirnya Ben dan Jihan beserta putri mereka Niana, pulang lebih awal.


Dari luar ruang ICU, Raya di dampingi putri kecilnya Rachel yang masih berumur 10 tahun. Karena di ruangan ICU hanya boleh satu orang yang masuk, akhirnya Raya dan putrinya menunggu di luar. Ia memeluk erat sang putri. Tubuhnya bergetar tak kala mengingat sang paman yang baru saja meninggalkannya dua tahun yang lalu karena penyakit yang sudah lama di derita.


Kali ini ia harus kembali mengalami ketakutan yang sama karena di hadapkan dengan situasi seperti ini lagi. Ia belum siap untuk kehilangan lagi meskipun dokter Haris sudah mengatakan jika Anwar tidak punya banyak waktu lagi.


Tak lama terdengar suara langkah kaki medekati Raya. Raya menoleh dan mendapati putranya King sedang berlari kearahnya di temani oleh managernya Joshua.


Saat mendengar kabar kakeknya masuk rumah sakit, King langsung meninggalkan lokasi syuting yang berlokasi di luar kota.


"Ma, are you oke?" tanya King pada Raya.


"Saka ... kakek kamu." Raya tak mampu melanjutkan ucapannya karena terlalu sedih.


Begitulah, Raya Memanggil putranya. Ya Raya dan Reyhan memanggil putra mereka saka, Namun saat putra mereka bersekolah di California Amerika serikat dan sekarang terkenal sebagai seorang aktor film di tanah air. masyarakat dan teman-temannya lebih mengenalnya dengan nama King.


King memeluk mamanya, mencoba menenangkan mamanya yang kini terisak-isak. Sekeras-kerasnya anak laki-laki, ia tidak akan sanggup melihat ibunya menangis bersedih.


"Kakek pasti akan baik-baik saja, pecaya sama Saka," ucap King sambil menepuk pundak Raya lembut.


"Kakak, kakek kenapa?" tanya Rachel yang masih bingung dengan kondisi ini.


King tidak menjawab pertanyaan adik kecilnya itu, ia hanya tersenyum sendu sambil mengusap lembut kepala Rachel. Kemudian ia melepaskan pelukannya pada sang mama dan menoleh ke arah Joshua yang masih diam di tempatnya.


"Jo pulang lah, kamu pasti lelah karena seharian menemani ku di lokasi syuting," ujar Johan.


"Baiklah ... Rachel, nyonya saya pamit," ucap Joshua.


Raya hanya mengangguk pelan sebagai respon. Kini tinggallah King, Rachel dan juga Raya sedang duduk di kursi tunggu.


Selang beberapa saat, Reyhan muncul dari balik pintu dan menghampiri istri dan kedua anaknya.


"Sayang bagaimana keadaan papa?" tanya Raya pada suaminya.


"Masih sama, ayah ingin bertemu dengan Ben dan Jihan," jawab Reyhan.


"Pa, apa boleh aku betemu kakek?" tanya King.


"Jam besuk sudah habis, kamu bisa bertemu kakek besok pagi," jawab Reyhan.


King berjalan menuju sebuah jendela ruangan ICU, dari kejauhan ia bisa melihat kakeknya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Rasa sesak kembali menghinggapi tak kala mengingat ke dekatanya dengan sang kakek.


Sebagai seorang kakek, Anwar adalah orang pertama yang mendukung karir King di industri film. Bagi anwar cukup satu kali ia menjadi suami yang gagal dan ayah yang gagal, ia tidak ingin menjadi kakek yang gagal untuk cucu-cucunya.


Saat pertama kali King syuting film perdananya, Anwar ikut hadir untuk mendukung sang cucu dengan membawa foodtruck ke lokasi syuting King. Semua yang cucunya ingin kan Anwar selalu berusaha melakukan yang terbaik, demi untuk menebus waktu yang dulu tak ia berikan kepada Reyhan ayah King.

__ADS_1


Tahun-tahun berlalu begitu cepat, tidak King sangka ia akan melihat kakek tercintanya dalam keadaan kritis seperti ini.


~


Pukul tujuh malam, Ben bersama istri dan anaknya, baru saja tiba di bandara, raut wajah ketiganya nampak sangat tegang. tak ada tanda-tanda kebahagiaan yang terpancar karena baru saja tiba di tanah air.


Untung saja, sudah ada supir yang di tugaskan Reyhan untuk menjemput Ben dan keluarga. Tanpa buang waktu Ben, jihan dan Niana masuk kedalam mobil, sementara barang-barang mereka di masukkan ke bagasi oleh pak supir.


Tak lama pak supir sudah selesai meletakkan semua barang di bagasi, ia pun langsung masuk ke ke kursi kemudi lalu langsung tancap gas meninggalkan halaman bandara.


"Niana," Panggil Ben pada anaknya.


"Ya Daddy?"


"Maaf karena kita tidak jadi ke bali," tutur Ben.


"Tidak apa-apa dad, kakek lebih penting dari liburan kita," ucap Niana.


"Terimakasih Nia, karena kamu sudah mengerti, walau bagaimanapun ,kakek Anwar itu, kakek kamu juga," ujar Jihan.


"Iya mam, Nia juga sayang kakek Anwar," ujar Niana.


Mobil yang di tumpangi Ben dan keluarga berhenti saat lampu merah, tak sengaja Jihan melihat papan iklan yang sedang menampilkan wajah King yang menjadi brand ambassador sebuah produk pakaian branded.


"Bukankah itu king," ucap Ben sambil terus memperhatikan papan iklan itu.


"Betul sekali tuan, tuan muda king sekarang menjadi idola di negeri ini," ucap pak supir.


"Dia semakin dewasa ya sayang, bahkan lebih tampan dari kak Rey," ucap Jihan pada Ben.


"Kamu benar, dan dia memilih jalannya sendiri," ucap Ben.


"Iya sayang, kamu pasti tidak ingat karena kalian sudah lama sekali tidak bertemu," ucap Jihan.


Jihan dan Ben sering bolak-balik Indonesia, Singapura. Namun Niana, baru kali keduanya menginjakkan kaki di negara ini. Niana terus saja melihat papan iklan itu dari balik jendela mobil. Ia masih mengingat dengan samar-sama wajah pria yang ada di papan iklan itu, ia ingat mereka pernah bermain bersama di taman belakang Kediaman Hardiansyah.


Mobil itu kembali melaju saat, lampu berubah menjadi hijau, Niana kembali menyadarkan tubuhnya yang cukup lelah, karena ia tidak cukup tidur di pesawat tadi.


~~


Mobil berwarna hitam itu memasuki area rumah sakit, Ben, Jihan beserta Niana langsung beranjak turun dari mobil.


Mereka menyusuri lorong rumah sakit, mencari keberadaan ruangan ICU sesuai dengan informasi yang di berikan pak supir tadi.


Ben mempercepat langkahnya, saat dari kejauhan ia melihat Reyhan, Raya dan kedua anaknya sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU.


"Kak Rey, Raya," Panggil Jihan.


Melihat kedatangan Jihan, Ben dan Niana. Raya langsung berdiri dari posisinya dan langsung berhambur memeluk Jihan. ia bersyukur orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga.


Bertepatan dengan kedatangan Ben dan keluarga, salah seorang perawat yang bertugas mengontrol kondisi Anwar, keluar dari ruangan ICU.


"Kondisi tuan Anwar menurun, beliau ingin bertemu dengan tuan ben dan tuan Reyhan" ucap perawat itu.


Reyhan dan Ben saling menatap sesaat, lalu berjalan dengan cepat memasuki ruangan ICU.


Reyhan menggenggam tangan kanan ayahnya sementara Ben menggenggam tangan kiri Anwar.

__ADS_1


"Saya dan Jihan sudah datang ... kami semua sudah berada di sini," ucap Ben dengan nada suara bergetar.


Anwar melihat Reyhan dan Ben secara bergantian. Kini ia sudah berada di ambang batas antara hidup dan mati, namun sebelum malaikat maut menjemput, ia harus menyampaikan pesan terakhirnya.


"Berjanjilah, kalian akan menikahkan King dan Niana setelah kepegian ku" ucap Anwar dengan nafas terputus-putus.


Reyhan memejamkan matanya sesaat, dengan derai air mata yang mengalir tanpa henti begitu pula dengan Ben. Mereka bedua terdiam sesaat, terlalu berat melepaskan kepegian Anwar.


"Ayah tidak perlu khawatir, Rey akan pastikan mereka berdua menikah," ucap Reyhan sambil terisak


"Reyhan benar, Niana dan King akan kami jodohkan sesuai permintaan anda," tutur Ben.


Anwar nampak tersenyum lega mendengar ucapan Ben dan Reyhan. namun sedetik kemudian senyum itu berubah, karena kondisi Anwar yang semakin memburuk, Awar sudah kehilangan kesadarannya.


Dokter haris baru saja tiba, ia memeriksa kondisi Anwar, terlihat layar monitor, detak jantung Anwar yang kian melemah.


Dengan di bantu dua orang perawat, Dokter haris akan mengunakan defibrillator untuk memacu detak jantung Anwar agar kembali normal, meskipun harapannya kecil, namun dokter Haris berusaha melakukan yang terbaik yang ia bisa.


Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa melihat ayahnya di hujani dengan berbagai peralatan medis.


Setelah beberapa saat berusaha, monitor itu berbunyi nyaring dengan garis lurus membentang di sana. Dokter haris menoleh kearah Reyhan, ia bahkan tak sanggup untuk mengatakan pada Reyhan bahwa ayahnya telah tiada. Dokter haris hanya menggeleng pelan, lalu para perawat itu mulai melepaskan alat medis yang melekat di tubuh Anwar.


Reyhan Dan Ben berhambur memeluk Anwar yang kini telah pergi meninggalkan mereka semua. Tak lama Raya, Jihan, berserta anak-anak mereka masuk kedalam ruangan ICU itu.


Derai air mata mengalir tak kala melihat orang yang paling mereka hormati kini telah pergi untuk selamanya.


~~


Pagi-pagi sekali, Anwar di antarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Karena Anwar adalah pengusaha ternama dan cucunya adalah aktor yang sedang naik daun, tak heran jika para wartawan, awak media, berhambur memenuhi area pemakaman. Tentu saja, sudah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga Reyhan hardiyanyah. Bukan hanya keluarga besar Hardiansyah yang sedang berduka, namun seantero negeri juga ikut berduka.


Setelah acara pemakaman selesai, Reyhan beserta anak istri dan begitu juga dengan Ben beserta anak istrinya, kini sedang berkumpul di ruang keluarga kediaman Hardiansyah.


Semuanya masih nampak berduka, namun Reyhan dan Ben sudah sepakat untuk menyampaikan pesan terakhir dari Anwar.


"King, Niana ... mendekatlah," pinta Reyhan.


Tanpa bertanya apapun, King dan Niana mendekati Reyhan, "duduklah," ucap Reyhan lagi.


Reyhan menoleh kearah Ben untuk meminta persetujuannya, Ben mengangguk, dan menyerahkan semuanya kepada Reyhan. Sekarang King dan Niana sudah duduk di hadapan Reyhan. Menunggu Reyhan untuk berbicara.


" King, Niana, ada pesan dari kakek yang harus kalian tahu, pahami, dan setujui."


"Apa itu pa?" tanya king pada Reyhan.


"Sebelum meninggal ... kakek memberi pesan agar kalian kami nikahkan," ujar Reyhan.


"Apa! Menikah," ucap King dan Niana secara bersamaan.


King dan Niana saling menoleh, menatap satu sama lain, mereka sama-sama tidak menyangka akan hal ini. Di jodohkan? Sama sekali tidak pernah terlintas di kepala King dan Niana untuk menikah di usia muda. Mereka sama-sama punya tujuan hidup masing-masing dan tentunya punya tipe pasangan mereka masing-masing pula.


Tapi saat keinginan dan harapan tak sejalan dengan takdir. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menjalaninya. Karena itu lah yang Tuhan gariskan untuk mereka.


Assalamualaikum para readers....


Maaf nih, authornya plin-plan. Niat hati mau up di awal September tapi tangan dah gatel aja mau up.... gk sabar banget ye kanπŸ˜…πŸ˜….


Semoga kalian suka dengan ceritanya dan maaf jika tidak sesuai ekspektasi kalian πŸ™πŸ™

__ADS_1


Jangan lupa like+Komen+vote ya readers πŸ™πŸ˜Š


❀️ Alya Aziz.


__ADS_2