
Joshua kembali membuka mata, dan untuk kesekian kalinya, Kinan tidak lagi datang untuk menemaninya. Ponselnya pun tidak aktif saat di hubungi. Joshua jadi menyesal karena sudah melakukan hal yang senekat itu kepada Kinan.
Ckelek.
Pintu kembali terbuka, dan Joshua harus kembali menelan kecewa karena yang datang bukanlah Kinan melainkan seorang dokter dan juga seorang perawat.
"Selamat pagi tuan Joshua," sapa Dokter wanita itu dengan ramah.
"Selamat pagi dok."
"Sekarang kita cabut selang infusnya ya, karena anda boleh pulang," ucap sang dokter.
"Iya Dok, terimakasih."
Perawat wanita itu mulai melepaskan jarum panjang yang menusuk punggung tangan kiri Joshua, Joshua terlihat sedikit meringis karena rasa ngilu pada punggung tangannya.
Dokter itu juga memeriksa luka jahit Joshua, dan mengganti perban sebelum Joshua pulang. Joshua merasa ada yang kurang karena Kinan tidak mendampinginya di sana.
"Luka anda sudah kering, anda sudah bisa beraktivitas, hanya saja tidak boleh terlalu berat," tutur Dokter wanita itu.
"Syukurlah dok," ucap Joshua yang terdengar lemah.
Tak lama King muncul dari balik pintu, ia sudah rapi sekali pagi ini. Setelah mengantarkan Joshua pulang kerumahnya, ia harus segera pergi ke gedung utama HRY group, pekerjaannya sudah menumpuk karena mengambil cuti beberapa hari.
"Bagaimana keadaan sahabat saya dok?" tanya King saat sudah berada di samping Joshua.
"Sangat baik tuan, tuan Joshua sudah boleh pulang sekarang," ucap dokter kepada King.
"Syukurlah, kalau begitu."
"Jo, ayo berkemas, aku harus segera pergi ke perusahaan," ucap King pada Joshua.
"Iya iya, kenapa kau bawel sekali."
Dokter dan perawat wanita itu hanya tertawa mendengar pertengkaran kecil antara dua sahabat baik itu.
"Kalau begitu kami permisi tuan."
Dokter dan perawat itu meninggalkan ruang rawat Joshua. Kini tinggallah King dan Joshua yang berada di dalam sana. Joshua melangkah turun dari atas tempat tidur, ia mencoba berjalan, dan rasanya sudah lebih baik dari kemarin. Jika terus seperti ini, ia bisa pergi bekerja mulai besok.
"Aku tidak tau cocok atau tidak, aku membawakan pakaian untuk mu, ukuran kita kan sama," ucap King sambil menyodorkan paper bag itu kepada Joshua.
"Terimakasih, ya walaupun aku tahu pasti Niana yang menyiapkan ini."
"Haha, kok kamu tau?"
"Aku sudah mengenalmu cukup lama, apa aku masih harus menjawab pertanyaan mu itu," ujar Joshua yang berusaha menahan tawanya.
"Cepat ganti pakaian sana."
Joshua melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia juga ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pulang.
King melihat jam di tangannya, masih ada cukup waktu untuk menunggu, sebenarnya ia tidak sedang terburu-buru,ia sengaja mengerjai Joshua, agar Joshua tidak bertele-tele.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya, Joshua keluar dari kamar mandi. Seperti dugaan pakaian itu sangat pas di tubuh Joshua.
"Sepertinya berat badanku naik, baju ini terasa ketat sekali," ucap Joshua sambil berjalan kearah King.
"Itu karena kamu telalu lama berada di rumah sakit, tubuhmu jadi melar karena terlalu banyak di masuki air infus. Haha," kekeh King.
"Wah, setelah apa yang aku korbankan kamu malah tertawa," ucap Joshua sambil berpangku tangan.
"Maaf-maaf, aku hanya bercanda, ayo kita pulang."
King dan Joshua melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, Joshua menoleh sejenak, ke arah ranjang rumah sakit. Tempat di mana bibirnya dan Kinan saling menyatu.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat?" tanya King saat melihat Joshua menghentikan langkahnya.
"Ah tidak ada, ayo."
...***...
Perjalanan menuju rumah Joshua.
"Oh iya, apa Kinan tidak pernah datang lagi?" tanya King yang tetap fokus melihat kedepan.
Joshua nampak kebingungan saat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba King lontarkan, "Oh itu ... mungkin dia sedang sibuk." Joshua terlihat ragu-ragu saat menjawab pertanyaan itu dan King menyadari hal itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Kinan, aku bisa membaca gerak gerik mu, sebaiknya kamu jujur kepada ku."
Deg.
Joshua berusaha menelan dengan susah payah. Apa begitu terlihat jika ia dan Kinan sedang memiliki masalah hingga King menyadarinya, pikir Joshua.
"Ke-kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Joshua yang mulai terbata-bata.
"Hah, aku sudah mengenalmu cukup lama, apa aku harus menjawab pertanyaan mu itu."
"Kau ini, malah mengikuti ucapan ku."
"Haha, satu sama."
"Ayo ceritakan, ingat perjanjian kita saat kuliah dulu, Rahasia mu adalah Rahasia ku," ujar King.
Joshua menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya secara perlahan. Ia menoleh kearah King yang saat ini sedang menyetir mobil.
"Sepertinya aku ... menyukai Ki-kinan."
Joshua menutup matanya,ia tidak sanggup untuk melihat respon King atas apa yang ia katakan barusan.
"Kamu tidak marah?"
"Untuk apa aku marah, aku malah bersyukur jika kedua sahabat baik ku bersatu."
"Huh, aku pikir kamu akan mengatakan jika aku ini tukang tikung,"
"Haha, tikungan tajam maksud mu."
"Aku sudah paham sekarang, jadi Kinan menghidari mu karena kamu menyatakan perasaan mu kepadanya begitu?"
"Lebih buruk dari itu, aku langsung menciumnya saat itu juga.
Srriiiittt.
King menginjak rem secara mendadak. Ia menoleh kearah Joshua yang terlihat sangat kaget. Joshua kembali menelan saat tatapan mata King yang terlihat aneh.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Joshua.
"Kenapa kamu bertindak gegabah seperti itu, bagaimana Kinan tidak kabur."
"Lalu aku harus bagaimana!"
King mulai menjelaskan trik-trik medekati seorang wanita. Joshua terlihat sangat serius saat King menjelaskan. Layaknya seorang profesional dalam hal percintaan, King menjabarkan dengan sangat baik, padahal pada kenyataannya, di juga beberapa kali gagal meyakinkan Kinan dulu.
~
Akhirnya mobil King sampai di depan rumah Joshua yang terletak di sebuah perumahan elit. Rumah itu adalah hasil dari kerja kerasnya sebagai seorang manager artis, rumah yang cukup besar untuk ukuran seorang jomblo.
"Maaf aku tidak bisa mampir, aku harus ke kantor sekarang."
"Iya tidak apa-apa,aku akan mulai bekerja besok lusa."
__ADS_1
"Tidak usah terburu-buru, santai saja."
"Baiklah, kalau begitu, aku turun dulu."
King membantu Joshua untuk mengambil tasnya yang ada di kursi belakang. Setelah Joshua turun,King langsung tancap gas, meninggalkan Joshua yang masih berdiri disana.
Joshua berjalan dengan malas menuju pintu, ia mulai menekan kode pintu rumahnya. Setelah masuk kedalam ia akan kembali merasakan kesepian sebagai seorang Jomblo.
Saat masuk kedalam, ia heran karena semua lampu menyala, seingatnya saat terakhir kali meninggalkan rumah, ia mematikan semua lampu. Tak ingin ambil pusing, ia hanya menaikkan bahunya lalu kembali berjalan.
Semakin ia berjalan kedalam, indra penciumannya mendeteksi sesuatu, seperti bau masakan dan semacamnya. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Apa aku terlalu lama meninggalkan rumah, sampai para hantu bisa memasak di dapur ku," gumam Joshua.
Dengan mengendap-endap, Joshua melangkah menuju dapur. Satu langkah ... dua langkah ... tiga langkah dan ternyata-.
"Ki-kinan," ucap Joshua saat mendapati Kinan sedang menggunakan celemek dan memasak di dapurnya.
Kinan menoleh kearah sumber suara. Ia langsung tersenyum saat melihat kehadiran Joshua di sana.
"Kamu sudah pulang?" tanya Kinan yang berjalan menghampiri Joshua.
"Ba-bagaimana bisa kamu masuk ke sini," ucap Joshua tak percaya
"101010," sudah lima tahun dan kode itu belum kamu ganti.
Joshua mencoba mengingat-ingat dari mana Kinan tahu kode pintunya. Setelah beberapa saat akhirnya ia ingat, beberapa tahun lalu Kinan dan King pernah berkunjung kerumahnya pada saat ia masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Karena tidak ingin King dan Kinan menunggu di luar, ia menelpon King dan memberitahu tahu kode pintunya. Joshua tidak menyangka Kinan masih mengingat itu.
"Oh itu, kamu masih ingat saja," ucap Joshua sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka saling terdiam sesaat, seketika suasana menjadi terasa canggung, baik Kinan atau Joshua tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu masak apa?" tanya Joshua pada akhirnya.
"Oh itu sup, duduklah, supnya pasti sudah matang." Kinan berbalik untuk mematikan kompor.
Joshua melangkah duduj di kursi meja makan, ia tak henti-hentinya memadangi Kinan yang berdiri sambil memunggunginya. Setelah menyendokkan sup kedalam mangkuk, Kinan meletakkannya di atas meja makan.
"Makanlah selagi hangat, sup daging sangat cocok untuk kamu yang baru saja pulih," ucap Kinan yang saat ini sudah duduk di hadapan Joshua.
"Terimakasih karena sudah sangat baik padaku, setelah apa yang apa aku lakukan,kamu masih mau membuatkan ku sup ini," ucap Joshua dengan wajah tertunduk.
Kinan memadangi Joshua yang ada di hadapannya. Entah sejak kapan, seorang teman yang tidak pernah ia perhitungkan untuk masalah percintaan, kini malah membuatnya merasa nyaman dan ia juga merasa ini mungkin adalah takdir yang tuhan janjikan untuknya.
"Jo?"
Joshua menegapkan kepalanya, dengan mulut yang sedang mengunyah, ia memberanikan diri untuk menatap Kinan, "Hm, kenapa?" tanya Joshua balik.
"Ayo kita coba," ucap Kinan dengan mantap.
"Ma-maksudnya?"
"Ayo kita coba, menjalani hubungan pacaran."
Tringgg.
Sendok yang ada di tangan Joshua terjatuh ke atas mangkuk. Ia tidak bisa mengatakan apapun, kecuali memandangi Kinan dengan tatapan tak percaya.
*Apa aku sedang bermimpi, apa dia benar-benar Kinan atau hantu.
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊*.
Kisah Niana dan King akan memasuki bab-bab akhir, mohon dukungannya ya readers 🙏😢😢😢
__ADS_1