
Jam menunjukkan pukul sembilan malam waktu Singapura. Dengan perasaan kesal, Niana melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Saat masuk kedalam ia bisa melihat dari balik jendela King yang sedang berdiri di balkon kamar.
Sepertinya King masih bergelut dengan perasaannya. Niana melangkahkan kakinya, menghapiri King yang saat ini berdiri di depan besi pembatas balkon. Ia berdiri tepat di samping King.
"Ini, kartunya ... Pelayan toko akan mengantarkan semua barang-barang mu sebentar lagi." Niana menyodorkan kartu ATM itu kepada King.
King menoleh kearah Niana, ia menatap kartu yang di sodorkan Niana di hadapannya. King baru sadar, jika mau bagaimanapun Niana adalah tanggung jawabnya sekarang, rasanya tidak lucu, jika nanti Niana meminta uang atau segala kebutuhannya kepada Ben dan Jihan.
"Simpan saja," ucap King menolak kartu itu kembali.
"Ini milik mu, kenapa aku yang harus menyimpannya, lagi pula aku juga punya," sahut Niana bingung.
"Mulai sekarang dan enam bulan kedepan, kamu adalah tanggung jawab ku, pakai kartu itu untuk membeli segala kebutuhanmu. Kamu bisa mengembalikannya saat perjanjian kita berakhir," tutur King.
King kembali menatap ke arah langit. Sementara Niana diam terpaku sambil menggenggam erat kartu yang ada di tangannya itu. Ia tidak memberi respon apapun atas ucapan King tadi.
Sebagai seorang suami, King memang wajib memberikan nafkah kepada Niana, namun karena tidak adanya cinta yang mengawali hubungan ini dan adanya janji di antara keduanya, nafkah yang bisa King berikan hanyalah nafkah lahir saja, tidak mencangkup batin Niana.
Aku berharap semua ini bisa berakhir tanpa melibatkan perasaan apapun," batin Niana.
Niana kembali tersadar saat mendengar bunyi bel dari arah pintu. Niana masuk kembali kedalam kamar untuk membuka pintu. Ternyata yang datang adalah para pelayan toko yang membawa semua barang-barang yang di beli King tadi.
Niana mempersilahkan para pelayan toko itu untuk masuk dan meletakkan barang-barang itu di atas sofa yang ada di kamar, setelah semua selesai, para pelayan toko itu pamit kepada Niana.
"Nona, kami pamit kembali ke toko, terimakasih atas kunjungannya ke toko kami," ucap pelayan toko itu.
__ADS_1
"I-iya, sama-sama."
Niana melangkahkan kakinya menuju sofa, tempat barang-barang itu berada. Niana menghembuskan nafasnya dengan berat, karena melihat banyaknya barang-barang yang di beli King.
Selang beberapa saat King berjalan mengahampiri Niana yang sedang berdiri di antara paper bag yang tertata dengan apik di atas sofa. King memeriksa semua barang yang ia beli tadi. Ia baru sadar, jika barang-barang yang ia ambil kebanyakan adalah barang-barang untuk perempuan.
Karena King membeli semua barang itu saat ia sedang emosi dan pikirannya di penuhi oleh Kinan. Begitulah King jatuh cinta, hingga tak bisa melihat wanita lain selain Kinan. Banyak wanita cantik yang mendekatinya, namun King lebih memilih sendiri ketimbang harus menjalani hubungan tapi hatinya masih untuk wanita lain yaitu Kinan.
Apakah dengan hadirnya Niana dalam hari-hari king, mampu membuka mata hati king bahwa di dunia ini, seseorang tidak boleh merasa jika ia hanya akan merasakan jatuh cinta satu kali, sebelum ia benar-benar bertemu dengan cinta sejatinya. Bukannya malah terfokus pada cinta bertepuk sebelah tangan yang kini membelenggunya dalam ketidak pastian.
Niana beranjak mengahampiri King, ia ingin tahu, setelah merasa lebih tenang, apa King akan menyesal karena sudah larut dalam emosi saat di toko tadi.
"Apa rencana mu untuk semua barang-barang ini," sindir Niana.
"Aku juga tidak tahu," ucap King sambil melihat paper bag yang ada di hadapannya.
King beralih menatap Niana. King masih merasa bingung kenapa Niana bisa berkata seperti itu. Ia tidak pernah mengatakan jika dirinya sedang patah hati atau semacamnya.
"Aku tidak patah hati, jangan sok tahu," sahut King kesal.
"Wah wah, semuanya tergambar jelas di wajahmu itu, masih mau menyangkal. Aku tahu kamu menyukai wanita itu kan, fotonya saja ada di dompetmu." Niana menutup mulutnya dengan tangan saat ia sadar jika ia baru saja keceplosan soal foto yang ia lihat siang tadi.
"Nah ketahuan kan, ingat perjanjian kita, di larang mencampuri urusan privasi masing-masing," tegas King pada Niana.
"Hey aku tidak sengaja melihatnya, salah sendiri kenapa kamu menjatuhkan dompetmu di lantai," tutur Niana.
__ADS_1
"Sudahlah, aku malas berdebat dengan mu, barang-barang ini untuk kamu semua, jika kamu tidak suka kamu bisa membuangnya," ujar king lalu beranjak naik ke atas tempat tidur.
Niana berjalan menghampiri King yang kini sedang berbaring di atas ranjang. Ia sudah bertekad untuk menguasai tempat tidur sendiri, sementara King tidur di sofa. Cukup sekali dan tidak untuk kedua kalinya ia harus tidur satu ranjang dengan King.
"Turun lah," ucap Niana sambil berkacak pinggang.
King mendongak melihat Niana yang kini sedang berdiri di sampingnya, kemudian ia kembali melihat layar ponsel yang mempertontonkan game yang sedang di mainkan King, " Aku tidak mau," ucap King.
"Apa kamu tidak bisa mengalah pada wanita, mau seenaknya saja," sahut Niana kesal.
King kembali mendongak melihat Niana, " Memangnya kamu wanita, aku bahkan tidak menganggap mu seperti itu," ujar King yang malah semakin membuat Niana terlihat kesal.
Niana mencengkram erat kedua tangannya. Baru beberapa hari dan dia sudah kewalahan menghadapi sikap King yang selalu seenak maunya saja. Dengan langkah menghentak-hentak, Niana naik ke atas tempat tidur dan tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia berharap bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
~
Niana masih setia memejamkan matanya. Saat kesadarannya mulai kembali, ia baru sadar jika ia sedang memeluk sesuatu dan ia yakini bukanlah bantal gulingnya. Tangan Niana meraba-raba apa yang di pelukannya saat ini. mata Niana langsung terbelalak saat merasakan lengan kekar yang kini menjadi bantalnya. ternyata ia tertidur di lengan King sambil memeluk king dengan erat.
Seketika juga Niana hendak melepaskan diri namun King langsung menahan niana yang hendak bergerak dari posisinya. King yang masih memejamkan mata, memeluk Niana dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.
Wajah Niana menempel di dada King. Tubuhnya tiba-tiba melemah dan tak punya daya untuk bergerak dari posisinya. Hatinya seolah memberi respon jika ia nyaman dalam dekapan pria yang kini resmi sebagai suaminya.
Jantung Niana berdetak lebih cepat dari biasanya seiring rasa gugup yang kini mendera, rasa apa ini, kenapa seperti ini, dan kenapa begitu nyaman, kira-kira itulah yang di pikiran Niana saat ini.
Suara dengkuran halus mulai terdengar dari mulut King, pelukannya pun mulai merenggang. Niana tidak melewatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari dekapan King. Jika terlalu lama, Niana khawatir jika ia bisa saja melewati batas dan terbawa perasaan aneh yang sempat ia rasakan beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊