Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.155-Bab.26(Niana Menyaksikan semuanya)


__ADS_3

King dan Joshua sedang berada di depan pintu UGD, menunggu Kinan yang sedang di tangani oleh dokter. King melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore, ia baru ingat jika belum memberitahu Niana tentang hal ini.


King beranjak dari posisinya dan berjalan sedikit menjauh dari Joshua. Ia bermaksud untuk menghubungi Niana karena ia mungkin akan pulang telat malam ini.


~


Niana baru saja selesai mandi dan berpakaian, ia duduk di depan meja riasnya, entah kenapa ia ingin berdandan sedikit malam ini. Rasanya ia begitu gugup menunggu kedatangan King. Kata-kata king sebelum pergi siang tadi, kembali membayanginya.


"Apa sih yang aku pikirkan, huh," gumam Niana sendiri.


Dering ponsel mengalihkan pandangan Niana dari cermin, senyum manis langsung terpancar di wajah cantiknya saat melihat layar ponselnya yang tertera nama King.


[Hallo?]


[Nia, aku mungkin akan pulang terlambat malam ini]


[Kenapa?]


[Aku ... aku sedang berada di rumah sakit bersama Joshua, Kinan mengalami penganiayaan yang di lakukan Alex, sekarang dia sedang di tangani dokter.]


Seketika wajah Niana Menjadi murung, bukan karena King terlambat pulang, tapi karena King sedang menunggu Kinan di rumah sakit.


[Ah begitu, di rumah sakit mana?]


[Rumah sakit Cendana]


[Oh baiklah, jangan lupa makan malam, semoga Kinan cepat sadar]


[Iya ... Nia]


[Apa?]


[Maafkan aku, aku berada disini, sebagai teman untuk Kinan, karena keluarganya berada di luar negeri, kamu jangan salah paham.]


[Tidak apa-apa, aku mengerti]

__ADS_1


[Terimakasih, jangan lupa makan malam]


[Iya]


Niana mengakhiri panggilan telepon itu, ia menatap wajah dari pantulan cermin. Meskipun mulutnya bekata baik-baik saja, tapi tidak di pungkiri, hatinya benar-benar sakit. Mata Niana mulai terasa panas, karena air mata yang hampir saja menyeruak keluar.


Tapi ia mencoba untuk sabar, lagi pula King sudah menjelaskan padanya. Niana menghapus make up yang tadinya ia pakai untuk membuat King pangling, rasanya percuma saja jika pada akhirnya King berkemungkinan tidak akan pulang malam ini.


Niana Melangkahkan kakinya naik ke atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Ia berusaha memaklumi, tapi Niana masih saja tidak bisa berhenti memikirkan King. Ia berguling kesana sini, namun tak juga bisa berhenti gelisah.


Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul King ke rumah sakit untuk menjenguk Kinan. Ia meraih ponsel dan tasnya berada di atas nakas. Tak lupa ia membungkus makanan yang tadinya ia buat untuk makan malam mereka, siapa tahu saja King dan juga Joshua belum makan pikirnya.


Sesampainya di depan halaman apartement, kebetulan sekali salah seorang penghuni apartement itu, baru saja keluar dari taksi, langsung saja Niana memanggil taksi itu sebelum pergi.


"Pak, bisa antar saya ke rumah sakit Cendana?" tanya Niana.


"Bisa nona, silahkan masuk," ucap Si supir taksi.


...***...


"Aku akan mencari makanan, kamu tunggu di sini," ucap Joshua yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Ah iya terimakasih Jo," ucap King yang masih setia duduk di samping Kinan.


Joshua beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, King masih memadangi Kinan yang belum juga membuka matanya. Sekesal apapun King pada Kinan, tapi ia tidak akan tega membiarkan Kinan teraniaya, sudah lebih sepuluh tahun mereka saling mengenal dan untuk pertama kalinya King melihat kondisi Kinan terbaring tak berdaya seperti ini.


Meskipun ia sedang fokus pada Kinan, tetap saja pikirannya di penuhi oleh Niana, ia khawatir jika Niana sedang sedih saat ini, ia ingin cepat-cepat pulang, tapi Kinan tidak punya siapa-siapa di kota ini, selain dirinya.


Tak lama Kinan mulai membuka matanya. Melihat itu, King dengan cepat memanggil dokter untuk melihat kondisi Kinan pasca sadar.


Salah seorang dokter dan juga seorang perawat masuk keruangan rawat Kinan. Sang dokter memeriksa kondisi Kinan. Kinan tak henti-hentinya memandangi King yang ada di sampingnya. Ia senang karena King selalu ada di saat terburuknya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter itu mengatakan kepada King, jika kondisi Kinan sudah membaik namun penganiayaan itu menimbulkan trauma untuk Kinan, hingga kinan membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.


Dokter dan perawat itu keluar dari ruangan. Kinan duduk bersandar di atas kasur rumah sakit, ia memandangi King yang saat ini sedang membukakan obat pemberian dokter tadi.

__ADS_1


"Langsung telan saja, lalu minum air ini," ucap King sambil menyodorkan dua butir obat kepada Kinan.


"Kamu masih ingat, aku tidak bisa makan obat," ucap Kinan, lalu mengambil obat yang ada di tangan King.


Kinan memakan obat itu dengan sekali telan, ia sangat senang karena King berada di sampingnya. Andai Kinan menyadari itu sejak dulu, ia tidak akan menjadi seperti sekarang, apa yang kurang dari King, tapi karena cintanya kepada Alex, ia seakan buta dan membiarkan King menunggu selama bertahun-tahun.


"King, maafkan aku, sekarang aku sadar jika cuma kamu orang yang mengerti aku," ucap Kinan dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.


"Maaf Kinan, aku tidak ingin kamu salah paham dengan perhatian ku sekarang, aku seperti ini karena aku masih menganggap kamu sahabat ku," ujar King.


"Tidak adakah satu kesempatan untuk ku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu King, sejak dulu sampai sekarang, aku selalu bergantung padamu." Kinan menagis sejadi-jadinya, King menepuk pundak Kinan berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Andai kamu menyadarinya sejak lama, mungkin aku tidak akan membiarkan hati ku di curi wanita lain," ucap King yang sudah berdiri dari posisinya.


"Aku akan menemui dokter sebentar, beristirahat lah." King berbalik hendak pergi, namun tiba-tiba Kinan menarik tangannya dan memeluk pinggang King dengan sangat erat.


"Izinkan aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya," ucap Kinan sambil menangis sesenggukan.


King tidak bisa menolak jika keadaannya seperti ini, dokter mengatakan jika Kinan tidak boleh terlalu stres, mau tidak mau King harus lebih bersabar menghadapi Kinan. King menepuk pundak Kinan pelan, berusaha menenangkan wanita yang dulu amat di cintainya itu.


Dari ambang pintu, King dan Kinan tidak sadar jika Niana sudah berdiri di sana, bertepatan saat Kinan memeluk King. Tubuh Niana terasa sangat lemas, hatinya benar-benar hancur melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


Niana memundurkan langkahnya, dan menutup pintu itu kembali secara perlahan, air matanya lolos begitu saja. Andai saja ia tidak datang, mungkin hatinya tidak akan sehancur sekarang. Mimpi yang baru saja ingin ia bangun bersama dengan King, sekarang musnah begitu saja.


Sejak awal dia memang mencintai Kinan, dan selamanya akan seperti itu," batin Niana.


Niana Melangkahkan kakinya dengan lemas, di lihatnya rantang makanan yang ia bawa dari apartement, tujuannya membawa rantang itu adalah untuk King, sekarang tidak berguna lagi, jadi Niana Membuangnya ke tempat sampah yang ada di lorong rumah sakit.


Joshua baru saja tiba di lantai lima tempat ruang rawat Kinan berada, dengan membawa makanan untuk ia dan juga King. Langkahnya langsung terhenti saat melihat Niana berjalan sambil menangis dengan jarak sekitar lima meter darinya. Buru-buru Joshua menghapiri Niana.


"Nia, kamu ada di sini," ucap Joshua yang sudah berada di hadapan Niana.


Niana yang tadinya berjalan sambil tertunduk, kini mulai mengangkat kepalanya, "Kak Jo, bisa antar aku pulang?"


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊


__ADS_2