Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.149-Bab.20 (Kekhwatiran King dan Joshua)


__ADS_3

Niana masih duduk di kursi cafe itu, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara Kinan sudah beranjak pergi sejak tadi. Pertahanan dirinya kembali goyah, di depan Kinan ia begitu kuat dan dengan berani menatap Kinan tanpa rasa takut, tapi setelahnya ia jadi seperti ini.


Rasanya Niana malas untuk kembali ke lokasi syuting King, ia ingin pulang tapi kunci mobil juga ada di ruangan King. Ia kembali menghela nafas berat kemudian menutupi seluruh wajahnya dengan tangan.


Setelah beberapa saat, langkah kakinya keluar dari cafe itu. Ia berjalan dengan lemas menuju sebuah halte, bukan untuk naik bus tapi ia ingin menunggu taksi untuk pulang ke Apartement, untung saja ia sudah tahu nama apartement King.


Setengah jam menunggu, taksi yang di tunggu tak kunjung datang, Niana mulai berpikir untuk kembali ke lokasi saja. Tapi ia kembali mengurungkan niatnya jika mengingat kata-kata Kinan tadi. Sebenarnya Niana adalah orang yang cuek, tapi kali ini, ia benar-benar keluar dari sifat aslinya.


Niana melihat seorang bapak-bapak yang berusia sekitar empat puluh tahun, sedang duduk di pinggiran trotoar, jika di lihat sepertinya bapak itu adalah seorang pemulung. Niana mengahampiri bapak itu, berniat untuk bertanya.


"Permisi pak, apa saya boleh bertanya?" tanya Niana sopan.


"Mau nanya apa neng," ucap bapak itu sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.


"Saya mau pulang ke Apartement X, tapi saya menunggu taksi tidak ada yang lewat sejak tadi."


"Oh, ngapa kagak naik ojek aja neng, anti macet, di jamin cepet sampe," sahut bapak itu.


"Ojek ... maaf pak, ojek itu apa ya?" Niana kebingungan saat bapak itu menyebutkan Ojek. Sebagai seorang anak pengusaha sukses di Singapura, ia tidak pernah naik angkutan umum, ia selalu di antar oleh supir ataupun mengendarai mobil sendiri. Sebagai negara maju, di Singapura jarang sekali di temui yang menawarkan jasa ojek seperti di Indonesia,jadi wajar saja jika Niana kebingungan.


"Yailah, si eneng becanda yak, masa kagak tahu ojek, haha" ucap si bapak lalu terkekeh sendiri.


" Hehe, maaf pak, tapi saya baru di Indonesia, jadi belum banyak tau wilayah di Jakarta," jelas Niana.


"Oh begitu, kalau mau naik ojek, langsung ke pangkalan ojek aja neng ... noh di sebrang jalan." Bapak itu menunjuk sebuah pangkalan ojek yang ada di seberang jalan raya itu.


Niana mengikuti arah telunjuk bapak itu, ia baru paham jika ojek itu semacam jasa antar menggunakan kendaraan roda dua. Niana mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, ia bersyukur ternyata ada gunanya juga uang cash pemberian King.


"Terimakasih atas infonya pak, ini ada sedikit rejeki untuk bapak." Niana meletakkan uang itu di atas telapak tangan si bapak, bapak itu hanya bisa melongo tak percaya.


"Kagak usah neng," ucap si bapak berusaha menolak.


"Di terima ya pak, saya ikhlas."


"Ya Allah, baek bener si neng, bapak doain semoga selalu lancar rejekinya," ucap si bapak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, seharian ia merauk sampah di pinggir jalan, dan belum tentu cukup untuk makan hari ini.


"Amin, saya nyebrang dulu ya pak," ucap Niana hendak beranjak.


"Iya neng, hati-hati yak."


Niana melihat ke kiri dan kanan, setelah di rasa jalanan mulai sepi, ia berjalan dengan cepat menuju pangkalan ojek itu.


"Pak bisa antar saya ke Apartement X?" tanya Niana kepada salah seorang tukang ojek.

__ADS_1


"Apartement X ...," ucap tukang ojek bingung.


"Malu-maluin aja lu, itu apartement mewah yang ada daerah Sudirman, masa lu kagak tau," sahut salah satu tukang ojek lainnya.


"Ya udah lu aja dah yang nganter."


"Oke, ayo neng." Si tukang ojek itu memberikan helm kepada Niana.


~


Sepanjang perjalanan, Niana terlihat senang karena bisa menyalip mobil-mobil ada di depan, ucapan bapak pemulung tadi benar, naik ojek memang lebih cepat sampai ke tempat tujuan.


Niana menyesal karena tidak pernah mencoba mengendarai motor saat di Singapura. Ternyata sesuatu yang sederhana seperti ini, sangat menyenangkan, meski diterpa polusi ibu kota, namun Niana bersyukur bisa merasakan pengalaman pertamanya naik ojek di Indonesia.


Sejenak Niana bisa melupakan kenapa ia bisa sampai naik ojek ke Apartement. Sepertinya ia akan lebih sering mengeksplorasi keindahan ibu kota Jakarta, dan merasakan pengalaman-pengalaman baru, ia pun juga berharap bisa ke kota lain seperti bali yang begitu familiar ia dengar di kalangan teman-temannya di Singapura.


...***...


Akhirnya motor yang membawa Niana, sampai juga di depan Apartement mewah itu. Ia membuka helm yang ia pakai dan memberikannya kepada abang tukang ojek itu.


Niana mengambil dompet dari dalam tasnya, dan kembali mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan langsung ia berikan kepada abang tukang ojek. Tukang ojek itu menerima uang pemberian Niana dengan bingung.


"Banyak amat neng ... ongkosnya cuma tiga puluh ribu aje," jelas tukang ojek itu.


"Makasih neng," ucap tukang ojek itu dengan senang.


"Iya pak, sama-sama."


Begitulah Niana, ia tidak akan ragu untuk mengeluarkan uang banyak demi membantu orang tidak mampu, namun ia akan berpikir seribu kali untuk membeli barang mewah seharga ratusan juta, meskipun untuk dirinya sendiri.


~


Niana Melangkah masuk kedalam apartement dengan malas, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ternyata lelah juga padahal ia hanya naik ojek sekitar dua puluh menit dan matanya begitu berat dan akhirnya ia tertidur di atas sofa ruang tamu.


...****...


Di lain tempat, King baru saja selesai berdiskusi sengit dengan sang sutradara. Ia mematung di ambang pintu, sementara Joshua yang berada di belakangnya.


"Kenapa berhenti sih," ucap Joshua yang berada di belakang King.


"Niana tidak ada," ucap King.


"Masa sih." Joshua menerobos masuk kedalam, ia melihat kanan, kiri, ia juga memeriksa toilet dan semuanya kosong.

__ADS_1


Joshua menemukan sebuah kunci mobil yang tergeletak di atas kursi tempat Niana duduk sebelum ia dan King pergi.


"Ini bukanya kunci mobil mu," kata Joshua sambil menunjukkan kunci mobil itu kepada King.


King mencoba menghubungi Niana, panggilan masuk, namun tidak ada jawaban. Rasa panik mulai mendera King, ia tahu betul, Niana tidak tahu banyak tentang jalanan di Jakarta, tidak mungkin ia pulang sendiri.


"Kita coba cari di sekeliling lokasi, siapa tau dia hanya pergi ke sekeliling lokasi saja," ucap King.


"Kamu benar, ayo." Joshua dan king beranjak pergi dari ruangan itu. Mereka berpencar agar lebih cepat menemukan Niana.


King menyusuri dari lobby depan gedung itu hingga ke parkiran namun tidak juga menemukan Niana.


"Bagaimana, apa kamu menemukannya?" tanya King saat Joshua menghampirinya.


Joshua masih berusaha mengatur nafasnya karena berlari kesana kemari, ia hanya menggeleng pelan, pertanda jika ia tidak menemukan Niana.


Baik King ataupun Joshua, keduanya sama-sama sangat mengkwatirkan Niana. Mereka takut Niana kenapa-napa. Akhirnya karena tidak menemukan titik terang, King dan Joshua memutuskan untuk kembali ke Apartement King.


Mereka berharap Niana berada di apartement dan tentunya dalam keadaan yang baik-baik saja. Joshua melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, andai saja pintu milik Doraemon ada di sana, ia ingin meminjamnya agar lebih cepat sampai di Apartement.


...***...


Niana mengerjapkan matanya perlahan, saat kesadarannya sudah kembali normal, ia beranjak dari sofa itu. Di lihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore, ia tidak menyangka akan tertidur begitu lama.


Kakinya melangkah menuju kamar, lalu masuk kedalam kamar mandi. Ia menghidupkan air di shower room dan membasahi sekujur tubuhnya dengan air dingin, rasanya begitu lega hingga tubuhnya menjadi lebih rileks.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Niana keluar dari kamar dengan handuk yang masih membalut rambutnya yang basah. Ia meraih ponselnya yang ada di atas meja ruang tamu. Matanya membulat saat melihat panggilan tak terjawab dari King sampai ratusan kali. Ia menepuk jidat karena ia lupa memberitahu King jika ia sudah pulang.


Betepatan dengan itu, suara bel apartement berbunyi. Niana berdiri dari posisinya dan langsung berjalan menuju pintu. Niana membuka pintu dan mendapati King dan Joshua sedang berdiri di sana, dengan nafas tersengal-sengal.


"Kalian, kenapa," ucap Niana menggatung karena tiba-tiba saja King langsung memeluknya dengan erat. Ia sampai kaget karena mendapatkan pelukan mendadak dari King.


"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap King yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Ma-maafkan aku, aku lupa mengabari jika aku pulang duluan tadi," ucap Niana terbatabata.


"Berhentilah membuat ku khwatir, aku tidak mau kamu jauh dari ku," ucap King lirih terdengar. Niana hanya bisa diam sambil menepuk lembut punggung King.


Joshua juga masih berada di sana, menyaksikan keromantisan yang kini terjalin antara Niana dan King. Joshua mundur alon-alon. Dadanya begitu sesak saat melihat wanita yang ia sukai, berpelukan dengan pria lain, ya mekipun King memang suami Niana. Langkah kakinya semakin menjauh pergi, terlalu lama di sana hanya akan menyiksa dirinya dan juga hati rapuhnya.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


Eh follow author juga boleh loh 🤭🙏


__ADS_2