
Malam tahun baru di Marina bay, lokasi taman pohon buatan Gardens by the bay sudah dipadati oleh para pengunjung, baik itu wisatawan, maupun warga lokal. Suasana live music yang sedang di gelar saat ini begitu terdengar riuh.
King dan Niana sudah berada di sebuah restaurant di Marina bay, yang sudah di booking oleh Ben sebelumnya. Kedua orang tua Niana belum datang juga karena terjebak macet yang memang sering terjadi di saat malam pergantian tahun.
Saat ini king dan Niana sedang duduk berdampingan di restaurant sambil menunggu Ben dan Jihan. Sesekali King melirik Niana yang hanya diam tanpa bicara. King benar-benar menyesal atas ulahnya siang tadi. Dan sampai sekarang, Niana belum bicara sedikit pun padanya.
Niana menatap keluar jendela yang mengarah langsung ke pinggir pantai yang ada di belakang gedung Marina bay. Suasana di luar begitu ramai, sesak di penuhi orang yang sedang berpesta untuk merayakan pergantian tahun.
Mereka menari, dengan minuman keras yang menyertai setiap orang yang ada di sana. Hal seperti itu lah yang selalu di hindari Niana, pergaulan bebas yang menyia-nyiakan masa muda tanpa adanya mangfaat untuk banyak orang, dan malah merugikan diri sendiri.
Tapi di sisi lain, Niana begitu iri saat melihat orang lain bisa tertawa lepas, bergembira, tanpa mengkhawatirkan beban hidup. Saat ini hidupnya terasa berat, namun ia tidak bisa mengeluh kepada siapapun dan dengan alasan apapun, ia tetap hanya bisa diam.
Suara getar ponsel menyadarkan Niana dari lamunannya, ia melihat layar ponselnya yang tertera nama Daddy. dengan cepat Niana mengangkat telepon dari Daddy-nya. Ia memang sejak tadi khwatir karena kedua orang tuanya tak juga muncul.
[Hallo, Daddy?]
[Nia, Daddy dan mama sudah di parkiran, apa kamu sudah di restaurant sekarang?]
[Iya Dad, aku dan King sudah di restaurant sejak tadi.]
[Baiklah, kami langsung kesana.]
[ Iya Dad.]
Niana mengakhiri panggilan telepon itu, kini ia beralih melihat King yang berada di sampingnya, " Sebentar lagi orang tua ku datang, aku minta, kita bersikap seakur mungkin di depan mereka. Tapi bukan berarti aku memaafkan kesalahan kamu tadi siang," tutur Niana.
__ADS_1
"Jangan meragukan kemampuan akting seorang aktor, dan masalah siang tadi, aku sudah minta maaf, jangan jadi orang yang pendendam, dosa tau!" tangkas King.
"Huh, pokoknya bersikap seromantis mungkin, mengerti," ujar Niana lagi.
"Aku tahu, memangnya mau seromantis apa sih, apa perlu kita berciuman di hadapan mama dan Daddy kamu," sahut king menggoda Niana.
Niana jadi mengingat kembali kejadian siang tadi, meskipun secara tidak langsung, King melakukan itu untuk menyelamatkan nyawanya tapi tetap saja kan, kedua bibir menempel sampai berkali-kali.
"Sudah jangan membahas itu lagi!" kata Niana sambil memukul-mukul bahu King.
"Aw sakit, iya, iya, orang cuma bercanda juga," tutur King sambil meringis kesakitan akibat pukulan Niana di bahunya.
Tak lama Jihan dan Ben muncul dari balik pintu, Niana langsung menghentikan aksinya memukul King, "Itu mereka datang." Ben dan Jihan berjalan sambil bergandengan tangan, makin tua semakin romantis, padahal dulu Ben cenderung cuek, sepertinya sifat Ben menurun kepada anak semata wayangnya.
King dan Niana, berdiri dari posisinya untuk menyambut Ben dan Jihan.
"Sekitar setengah jam Dad," sahut Niana.
"Jalanan macet parah, maaf ya King, kamu pasti bosan ya menunggu kami?" tanya Jihan pada King.
"Ah tidak onty, kan ada Niana ... iya kan sayang," ucap King sambil merangkul mesra Niana. Sontak Niana langsung menatap tajam kearah King.
"Wah, kalian ini semakin hari semakin romantis, sama seperti mama dan Daddy waktu muda dulu, iya kan sayang," ucap Jihan sambil melingkarkan tangannya di tangan Ben.
"Tentu saja, cinta itu harus di pupuk, agar semakin tumbuh, meskipun kalian di jodohkan, itu bukan alasan untuk tidak saling mengisi satu sama lain, jadikan waktu ini, untuk saling mengenal satu sama lain," tutur Ben kepada Niana dan King.
__ADS_1
Niana menatap kearah king yang kini masih merangkulnya dengan erat. Jika mendengar kata-kata Daddy barusan, Niana tidak bisa menjawab apapun, selain diam. Karena hubungan antara ia dan King sudah di awali dengan perjanjian yang tentunya harus berakhir dengan semestinya.
Makan malam itu berlangsung hangat, King dan kedua orang tua Niana begitu terlihat akrab. King dan Niana pun menjalankan akting mereka sebagaimana mestinya, saling melempar senyum, saling menyuapi, hingga Ben dan Jihan percaya bahwa sudah ada cinta yang tumbuh di antara mereka.
Acara makan malam telah selesai, King, Niana dan Juga kedua orang tua Niana, pergi keluar dari restaurant itu menuju Gardena by the bay di mana pesta kembang api akan di gelar. King menggenggam tangan Niana sepanjang jalan, Niana tahu ini hanya akting tapi jika gemercik persaan itu mulai menggebu-gebu, apa bisa di kata ia hanya manusia biasa.
Waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam, King dan Niana berdiri saling berdampingan menatap ke langit malam yang kini nampak gelap. Rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan pergantian tahun yang hanya tersisa beberapa menit lagi.
"Ehm, apa kamu akan terus memegang tangan ku seperti ini," ucap Niana tiba-tiba.
King baru sadar jika ia belum melepas genggaman tangannya dari Niana sejak tadi, mungkin karena ia terlalu fokus pada pesta kembang api itu. Dengan gerakan cepat king melepaskan genggamannya, " Maaf."
Niana dan king kembali fokus melihat ke depan saat sang pemandu acara mulai memberikan instruksi agar para pengunjung menghitung mundur.
10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, ... 1.
Satu demi satu kembang api itu melucur ke atas langit, memberi warna kepada langit yang tadinya terlihat gelap. Para pengunjung bersorak gembira, karena akhirnya mereka bisa kembali bertemu dengan tahun yang baru.
Awal tahun ini juga menjadi pertanda dari perjanjian jari kelingking antara Niana dan King baru saja akan di mulai, akan kah mereka akan tetap konsisten pada pendirian mereka masing-masing, atau malah terbawa perasaan yang sudah mulai menelusup masuk tanpa mereka sadari.
King dan Niana sama-sama fokus melihat kembang api yang tidak henti-hentinya meluncur ke udara. Entah apa yang keduanya pikirkan, mereka hanya diam dalam pikiran mereka masing-masing. Meskipun ekpektasi dan kenyataan kadang tak sejalan dengan takdir, baik Niana ataupun King, mereka tidak bisa menebak hal seperti apa yang akan menjadi titik akhir dari hubungan mereka.
"Nia, King, ayo menghadap sini!" seru Jihan sambil mengarahkan kamera kepada keduanya.
Niana dan King beralih melihat Jihan. King yang memang responsif langsung merangkul Niana, saat melihat Jihan mengarahkan kamera kepada mereka. Keduanya tersenyum sambil melihat kearah kamera, seolah mereka pasangan yang paling bahagia.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊