
Niana menatap King dengan serius, berusaha mencari jawaban atas apa yang King ucapkan tadi. Niana bisa melihat kesungguhan yang terpancar dari netra coklat milik King. Sebersik keraguan kembali muncul saat mengingat Kinan.
"Jika kamu bersungguh-sungguh, maka buktikan. Perjanjian kita masih sama, sampai kamu benar-benar bisa melupakan Kinan," ucap Niana lalu melepaskan genggaman tangan kiri King dari lengannya dan beranjak pergi.
Kini tinggallah King yang masih berada di sana. King memikirkan ucapan Niana yang memang benar adanya. sebuah cinta yang sudah tumbuh begitu lama, tidak akan hilang begitu saja meskipun kamu sudah mencabutnya, tapi akarnya masih akan tetap ada, maka untuk membersihkan hati yang pernah di tempati seseorang tidak semudah saat kamu mengatakan akan melupakannya.
~
King masuk kedalam kamarnya dan mendapati Niana sedang tidur di atas sofa dengan seluruh tubuh terbalut selimut tebal. King menghela nafas beratnya. King tau, Niana pasti khawatir ia akan macam-macam, maka dari itu Niana memilih tidur di atas sofa.
Langkah kaki King mulai mendekati Niana, ia menarik selimut itu hingga terjatuh kelantai. King menyunggingkan senyumnya saat mendapati istrinya itu ternyata tidak tidur, mata Niana masih segar, hanya wajahnya saja yang di tekuk sedalam-dalamnya.
"Kenapa tidur disini, pindah ke tempat tidur," pinta King.
"Tidak, aku akan tidur disini saja malam ini," tolak Niana sambil membuang muka kearah lain.
King memandangi Niana sambil berkacak pinggang, andai saja tangan kanannya tidak sakit, mungkin ia akan langsung menggendong Niana dan memindahkannya ke atas tempat tidur.
King tidak punya pilihan lain, ia membaringkan tubuhnya di samping Niana, ukuran sofa itu memang cukup besar hingga muat untuk dua orang berbaring di sana. Niana jadi terhimpit karena King ikut berbaring di sofa, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Hey awas, sempit tau" hardik Niana kesal.
"Kamu tidur di sini, dan aku juga akan ikut tidur di sini, aku akan menyingkir jika kamu mau pindah" ucap King.
"Aku tidak mau," kata Niana sambil berusaha mendorong King.
"Aw sakit, kamu ini tega sekali, tangan ku sakit, jangan di dorong," kata King dengan raut wajah yang pura-pura meringis kesakitan.
"Oke, aku akan pindah, ayo awas," ucap Niana.
__ADS_1
King terseyum dan langsung berdiri dari posisinya. Niana melangkahkan kakinya dengan malas pindah ke atas ranjang, tak lupa ia meletakkan bantal guling sebagai pembatas di antara mereka. Baru saja ia akan membaringkan tubuhnya, King kembali bersuara.
"Jangan langsung tidur dulu, kamu harus membantu ku, aku tidak bisa menyikat gigi dengan tangan kiri," ujar King tiba-tiba.
"Apa! Tapi saat makan kamu bisa menggunakan tangan kiri mu," ucap Niana kesal.
"Kamu pasti tidak memperhatikan ku tadi, aku sangat kesusahan saat makan tadi," ujar King dengan wajah memelasnya.
Niana mendongakkan kepalanya melihat King dengan kesal. Namun pada akhirnya ia pasrah juga dan mengikuti keinginan King, jika tidak di turuti ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena King yang terus merengek seperti anak kecil.
Sesampainya di kamar mandi, Niana mengambil sikat gigi King yang bersebelahan dengan sikat giginya. Tak lupa ia mengoleskan pasta gigi di atas sikat gigi itu. King berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Niana yang nampak sangat kesal.
"Ayo, sini buka mulut mu," pinta Niana.
King membuka mulutnya, menyengir hingga memperlihatkan barisan giginya yang begitu rapi. King tetap lah King, ia masih saja mencuri-curi kesempatan untuk melingkarkan tangannya di pinggang ramping Niana. Karena terlalu fokus hingga Niana tidak sadar jika saat ini tangan King sudah berada di pinggangnya.
"Sudah selesai, ayo kumur-kumur," ucap Niana sambil memberikan segelas air kepada King. King masih merasa belum puas karena waktu yang begitu singkat.
"Sudah, ayo keluar," ajak Niana.
King langsung menggenggam tangan kanan Niana dengan tangan kirinya, Niana langsung menoleh ke arah King, sementara King hanya tersenyum lalu berkata, " Semenjak tangan ku terkilir, aku seperti kehilangan keseimbangan, lantai di sini juga lumayan licin, aku membutuhkan pegangan."
Niana tak menjawab apapun ia telalu lelah untuk berdebat dengan King. Ia melanjutkan langkahnya dengan tangan yang saling bergandengan. setelah keluar dari kamar mandi Niana langsung melepaskan tangannya dari genggaman king, dan berjalan dengan cepat menuju tempat tidur.
King berbaring dengan guling yang membatasi mereka, King bisa melihat Niana berbaring sambil memunggunginya. King tau Niana pasti sangat kaget dengan pengakuannya tadi. Ia juga tau Niana pasti belum siap untuk memulai sesuatu yang lebih dalam lagi dengannya.
"Nia, kamu sudah tidur?" tanya King dengan posisi tidur terlentang.
King terdiam sesaat dan tidak ada respon apapun dari Niana. Mungkin Niana sudah tidur atau pura-pura tidur, namun King akan tetap menceritakan sesuatu kepada Niana.
__ADS_1
"Nia ... aku tahu kamu pasti meragukan ku ya? Aku dan Kinan sudah kenal sejak SMA, dan dia adalah cinta pertama ku, lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan, aku menyukainya dan dia tidak pernah melihat kearah ku, aku hanya menjadi pelampiasannya saja selama bertahun-tahun. Hingga saat aku mulai mengenal kamu, kamu yang baik, tulus meskipun sedikit bawel tapi dari semua perhatian kecilmu itu aku sadar, jika aku bisa jatuh cinta selain kepada Kinan. Nia ... aku harap kamu tidak akan menjadi seperti Kinan yang membiarkan aku jatuh cinta sendiri. Nia ... aku tidak akan memaksamu untuk menerima ku, tapi aku akan membuktikan jika aku benar-benar tulus padamu."
Niana yang masih sadar, ia mendegar semua ucapan King. Tanpa ia sadari air matanya keluar dari sudut matanya, kata-kata King benar-benar menerobos pertahanan hatinya. Menyetuh hingga relung terdalam yang belum sekalipun di jamahi seorang laki-laki selain King.
~
Pagi ini menjadi pagi yang paling sibuk untuk Niana. Ia membantu King untuk membersihkan diri, Karena kesulitan untuk mandi, Niana membantu King untuk keramas dan sikat gigi saja, belum lagi membantu King untuk berpakaian, mata suci Niana sudah tercemar berkali-kali karena King.
Mereka turun ke lantai satu, untuk mengantarkan kepergian kedua orang tua King dan juga Rachel. Setelah selesai sarapan, Niana, King, Rachel dan kedua orang tua King, berjalan menuju teras. Mobil sudah siap, dan semua koper sudah masuk kedalam bagasi.
"King ... Nia, mama dan papa pergi dulu ya," ucap Raya.
"Iya ma," ucap Niana dan King secara bersamaan.
"Kak Nia , Kak King, nanti kalau aku pulang, aku bawakan oleh-oleh deh," ucap Rachel.
"Benarkah, kakak tunggu loh," ucap Niana, sementara King hanya mengusap pucuk kepala Rachel dengan lembut.
"Kalau ada ada apa-apa, hubungi papa ya," ucap Reyhan.
"Iya pa," ucap King.
Bersambung 💓
Mohon maaf untuk kakak-kakak semua, atas keterlambatan up-nya, karena novel ini terpilih jadi salah satu novel yang akan ikut crazy up mulai 13 September nanti, jadi saya mulai menabung bab untuk Crazy up nanti.
Jika tidak ada halangan mulai 13 September saya akan up 3 bab perhari loh, hehe 😁
Tungguin terus kebucinan Niana dan King ya, dan konflik-konflik yang akan menyertai perjalanan mereka 🤭
__ADS_1
Jangan lupa like+ komen+vote ya readers 🙏😊