Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.146-Bab.17 (Ini bukan salah paham)


__ADS_3

Niana mendorong tubuh King saat ia merasa mulai kehabisan nafas. Niana menatap King dengan tatapan yang susah untuk di artikan. Tanpa mengucapkan apapun, ia berjalan dengan cepat keluar dari kamar itu. King hanya tersenyum sambil mengusap dadanya, merasakan degup jantungnya yang saat ini mulai kembali normal.


King semakin yakin, jika ia benar-benar merasakan getaran itu saat berada di dekat Niana, getaran yang sama ia rasakan saat pertama kali ia jatuh cinta dengan Kinan sewaktu SMA dulu. Apa pada akhirnya posisi Kinan di hati-hati King benar-benar sudah tergantikan oleh Niana.


Namun untuk saat ini King masih fokus untuk menghapus Kinan dari hatinya dan sedikit demi sedikit ia juga ingin Niana merasakan getaran yang sama dengannya. Agar ia tidak lagi merasakan cinta bertepuk sebelah tangan seperti yang ia alami dengan Kinan.


~


Niana tidak tahu harus pergi kemana, ia ingin turun tapi ia malu turun memakai pakaian seperti ini di tambah rambutnya yang masih acak-acakan. ia hanya bisa berdiri di besi pembatas sambil menatap kosong ke arah depan. Sisa ciuman itu kini benar-benar masih sangat terasa. tadinya ia ingin langsung bertanya, kenapa King menciumnya, tapi ia belum siap untuk kembali bertatap muka setelah semua yang terjadi antara mereka.


Raya baru saja keluar dari ruangan kerja Reyhan yang berada di lantai dua, ia melihat Niana yang sedang berdiri di depan besi pembatas. Yang melihat Raya bingung adalah, baju yang d pakai Niana adalah Kaos over size milik King.


"Nia," panggil Raya saat menghampiri Niana.


Sontak Niana langsung berbalik, menoleh kearah sumber suara. Niana terkejut saat mengetahui orang yang memanggilnya adalah ibu mertuanya.


"Mama," ucap Niana malu.


"Kamu kenapa memakai baju seperti ini, ini kan kaos oblong milik suami kamu kan?" tanya Raya sambil menyentuh lengan Niana.


"Ah ini ma, aku lupa membawa pakaian, dan pakaian ku tadi, terjatuh ke lantai kamar mandi. Karena tidak ada pilihan lain, mau tidak mau aku memakai baju King yang berukuran cukup besar," tutur Niana malu.


"Kenapa kamu tidak bilang, ayo ikut mama," ucap Raya sambil menarik tangan Niana agar berjalan mengikutinya.


Niana hanya bisa diam sambil mengikuti langkah ibu mertuanya itu masuk kesebuah ruangan yang ada di bagian paling sudut lantai dua rumah mewah itu. Mata Niana langsung membulat saat melihat banyaknya dres, sepatu, tas, dan juga perhiasan yang tertata rapi di ruangan itu.


"Ini semua milik mama?" tanya Niana sambil menatap kagum kearah depan. Jihan (mama Niana) saja yang terkenal sebagai ibu sosialita di Singapura tidak mempunyai koleksi pakaian, tas, sepatu, dan juga aksesoris branded sebanyak ini. Bagi Niana ini sudah seperti satu toko yang berpindah ke kediaman Hardiansyah.


"Mama dan papa sudah menikah hampir dua puluh empat tahun, dan selama itu pula papa setiap satu minggu sekali memberikan mama hadiah seperti ini. Papa bilang, hadiah-hadiah ini adalah bayaran atas waktu yang terlewatkan dengan mama karena sibuk mengurus perusahaan."


"Papa romantis sekali," ucap Niana kagum.


"Ayo pilih saja, kamu mau pakai yang mana, ada banyak dres cantik di sini," pinta Raya.


"Apa tidak apa-apa, inikan barang-barang pemberian Papa untuk mama?" tanya Niana memastikan.


"Tentu saja boleh sayang, ayo pilih saja," ucap Raya sambil menarik tangan Niana, berdiri di depan sebuah lemari besar yang berisikan pakaian. Pilihan Niana akhirnya jatuh kepada sebuah dres sebatas lutut yang memiliki warna seperti bunga sakura yang sedang mekar di musim semi.

__ADS_1


~


Raya dan Niana berjalan beriringan menuju ruang makan, tampak King, Reyhan dan juga rachel sudah berada di ruang makan, menunggu mereka untuk makan malam bersama. Tatapan mata King dan Niana kembali beradu, dengan cepat Niana mengalihkan pandangannya ke Rachel.


King terpesona melihat Niana, memakai dres milik mamanya, bukan hanya King, namun papa nya juga. Reyhan mengenali dres yang di pakai Niana saat ini. Dres itu adalah dres pemberiannya sepuluh tahun yang lalu.


"Bagiamana, Nia cantik kan?" tanya Raya


"Papa seperti melihat mama sewaktu muda dulu, sama-sama cantiknya, haha," ucap Reyhan lalu terkekeh sendiri.


"Kak Nia cantik, tapi Rachel yang paling cantik di sini," ujar Rachel dengan sangat percaya diri.


Niana tertawa kecil melihat tingkah Rachel yang begitu centil, "Iya, Rachel memang yang tercantik, hehe."


King hanya bisa terdiam, jantungnya kembali bereaksi saat melihat Niana secantik ini. Padahal sewaktu awal pertemuan mereka, King sama sekali tidak tertarik dengan Niana yang tampak begitu kuno baginya, tapi semakin kemari, ia malah semakin tertarik dengan Niana.


"Kak Nia sini duduk dekat aku," ucap Rachel sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Eits itukan tempat mama, Kak Nia duduk di samping Kak King dong," ucap Raya lalu beranjak duduk di samping Rachel.


Mau tidak mau, Niana duduk di samping King. Keduanya menjadi kelihatan canggung, dan Raya menyadari itu.


"Iya ma, terimakasih."


Niana melirik King yang saat ini sedang fokus pada makananya. Niana mulai menerka-nerka maksud King menciumnya tadi, ia pikir ini adalah bagian dari tingkah jahil King tapi kenapa rasanya begitu hangat, lembut dan begitu lama.


Kemudian Niana kembali teringat, jika King sudah mencintai seorang wanita bernama Kinan yang mereka temui sewaktu di Singapura. Niana kembali terlihat murung, ia pikir King pasti menciumnya karena naluri lelakinya yang tiba-tiba saja datang.


"Nia, kamu kenapa?" tanya Reyhan.


"Ah ti-tidak apa-apa pa," jawab Niana.


"King, Nia ... mama, papa dan Rachel akan berangkat ke paris besok pagi, mungkin kami akan satu minggu do sana, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Raya kepada Niana dan King.


"Tidak apa-apa ma, aku dan Niana juga akan pulang ke Apartement," ujar King tiba-tiba.


"Baiklah, tapi ingat kata dokter Haris, kamu belum boleh syuting sampai satu minggu ke depan," tutur Reyhan.

__ADS_1


"Kenapa kak King dan Kak Nia tidak ikut saja?" tanya Rachel kepada mamanya.


"Kak King kan tangannya sedang sakit," jawab Raya sambil mengusap lembut pucuk kepala Rachel.


"Nia, kamu rawat baik-baik suami kamu ya," ujar Raya.


"I-iya ma," jawabnya ragu-ragu.


Setelah selesai makan malam, Niana dan King Mengobrol bersama dengan Raya dan Reyhan di ruang keluarga. Banyak sekali yang Reyhan ceritakan kepada Niana dan King. Mulai dari Kisah cintanya dan Raya dan juga cerita masa kecil King. Niana terlihat sangat antusias mendengarkan cerita Kedua papa dan mama mertuanya itu.


Sementara King sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana caranyaia bisa mengobrol berdua saja dengan Niana.


Malam semakin larut, akhirnya Raya dan Reyhan kembali ke kamar mereka. Tinggallah Niana dan King yang saat ini masih diam di posisi mereka.


"Kita harus bicara empat mata," ucap King tiba-tiba.


"Kamu benar, kita harus bicara," ucap Niana sambil melihat King dengan sangat serius.


King dan Niana meninggalkan ruang keluarga lalu beranjak menaiki tangga menuju perpustakaan. Tentu mereka akan berbicara di Rooftop seperti biasa.


Sesampainya di Rooftop King langsung duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana. Niana pun ikut duduk di samping King dengan memberikan jarak di antara mereka. Suasana menjadi hening sesaat, membiarkan angin malam menerpa tubuh mereka.


King mulai menoleh kearah Niana, "Nia ... masalah ciuman tadi ... aku hanya ..."


Belum sempat King menyelesaikan ucapannya, Niana sudah memotong ucapan King, "Sudahlah, aku harap itu terakhir kalinya kamu menjahili ku! Apa aku nampak lucu bagi mu? Sehingga kamu suka sekali menjahili ku."


"Nia, aku tidak bermaksud seperti itu," jelas King.


"Aku tau, kamu sangat mencintai wanita yang benama Kinan, jadi setidaknya biarkan aku melalui pernikahan selama enam bulan ini dengan tenang. Jangan pernah melakukan hal yang membuat orang salah paham," ucap Niana dengan menggebu-gebu, ia mengeluarkan semua yang membebani pikirannya.


Niana melihat King hanya terdiam tanpa menjawab apapun lagi, ia pikir jika itu adalah sebuah pertanda jika semua yang dia ucapkan itu benar dan King tidak menyangkalnya lagi. Ya, Niana bisa paham jika King pasti sangat mencintai Kinan dan ia hanyalah orang asing di hidup King. Niana berdiri dari posisinya dan hendak pergi, namun King langsung mecegah Niana dengan menarik tangannya.


"Tunggu."


Niana menoleh kembali kepada King, King mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Niana dengan jelas.


"Aku ... aku, akan melepaskan Kinan dan melupakannya, jadi kamu tidak salah paham ... aku mencium mu, karena aku mulai menyukai mu," tutur King dengan raut wajah yang begitu yakin.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2