Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.156-Bab.27( Selamat tinggal Jakarta)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Niana hanya diam dan tak banyak bicara, saat Joshua bertanya ia hanya menjawab secukupnya saja. Joshua berpikir jika Niana pulang dalam kondisi seperti ini, pasti Niana akan menangis lagi saat berada di apartement sendiri.


"Nia, apa kamu mau mampir ke Monas?" tanya Joshua.


"Monas? Untuk apa?" tanyanya balik.


"Ikut saja, nanti kamu akan tahu sendiri," ucap Joshua.


"Terserah kak Jo saja."


...***...


Joshua memarkirkan mobilnya, area parkiran yang tidak jauh dari gerbang utama Monas. Ia bermaksud untuk mengajak Niana naik kereta wisata masuk kedalam are Monas.


"Kenapa parkir di sini?" tanya Niana bingung.


"Ikut saja." Joshua turun dari mobil di ikuti oleh Niana.


Joshua dan Niana masuk melalui pintu IRTI, yang sekarang terkenal dengan nama Pintu Lenggang Jakarta. Setelah melewati stan-stan makanan dan suvenir, mereka tiba di area lapangan Monas. Tidak jauh dari situ, terdapat halte sederhana tempat pemberhentian kereta wisata. Kereta ini mengantarkan mereka secara gratis sampai ke pintu masuk Monumen Nasional.


Kereta wisata berhenti di pintu masuk Monumen Nasional. Pintunya berupa tangga menuju lorong bawah tanah.


Setelah turun dari kereta wisata, mereka masuk ke pintu Monumen Nasional, kemudian menyusuri lorong bawah tanah yang berujung di loket penjualan tiket.


Ada yang berbeda dari kunjungan pertama Niana ke puncak Monas. Tahun lalu, saat Joshua datang kesana, ia membayar dengan uang tunai kemudian diberi tiket kertas. Sekarang, mereka dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu, kemudian diberi sebuah kartu JakCard.


Kartu pembayaran elektronik keluaran Bank DKI ini dapat diisi ulang untuk naik TransJakarta, bayar parkir IRTI Monas, masuk Kebun Binatang Ragunan, Museum Seni dan Keramik, Museum Wayang, dan Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua. Harga tiket untuk sampai puncak adalah lima belas ribu per orang.

__ADS_1


Setelah mendapat kartu JakCard edisi Wisata Malam Monas, mereka kembali menaiki tangga dan menyusuri lorong untuk sampai ke elevator. Di perjalanan, Joshua dan Niana,melewati aula besar dengan lantai dan dinding marmer bernuansa kuning.


Kemudian, mereka juga menyempatkan diri masuk ke ruangan yang dinding-dindingnya berhiaskan naskah proklamasi berukuran raksasa, burung Garuda, dan peta Indonesia berwarna emas yang bagus sekali.


Karena waktu sudah mendekati pukul sembilan malam, Joshua tidak mau berlama-lama di ruangan tersebut, ia tidak sabar mengajak Niana untuk melihat pemandangan dari puncak Monas.


Di depan elevator terdapat mesin tapping, seorang petugas menghampiri untuk meminta kartu JakCard. Rupanya, petugas tersebutlah yang akan menempelkan kartu JakCard Niana dan Joshua ke mesin palang.


 


Setelah masuk elevator, ada bapak petugas yang duduk di depan tombol lift. Hanya ada tiga pilihan lantai di lift tersebut, yaitu dasar, cawan, dan puncak. Bapak petugas menekan tombol “puncak”, kemudian seisi elevator melesat ke atas.


Saat pintu elevator terbuka, tibalah Joshua dan Niana di puncak Monas. Niana langsung terpana saat melihat cahaya lampu warna warni dari gemerlapnya ibu kota Jakarta. Joshua terseyum senang karena Niana nampak menyukai pemandangan dari puncak Monas.


Karena sudah cukup larut malam, hanya ada mereka saja di sana. Niana medekati besi pembatas, memadangi kendaraan yang lalu lalang yang terlihat sekecil semut dari atas sana.


"Bagaimana, kamu tidak menyesalkan aku ajak kesini?" tanya Joshua.


"Aku mengerti perasaan mu, tapi aku masih bingung, apa yang membuat kamu sampai menangis?" tanya Joshua.


"Aku ... melihat King berpelukan dengan Kinan, hal seperti ini yang paling aku takutkan saat mulai melanggar janji pernikahan kami. Aku takut King akan goyah kembali, dan ternyata dugaanku benar," tutur Niana dengan suara yang mulai bergetar, menahan tangisnya yang hendak keluar.


Joshua menyadari jika Niana sangat terpukul saat ini. Ia mencengkram erat kedua tangannya, ia tidak menyangka jika King benar-benar akan menyakiti hati Niana. Joshua mendekati Niana dan hendak menepuk pundaknya, tapi ia kembali mengurungkan niatnya, rasanya ia tidak pantas untuk itu.


"Kamu bisa menangis bahkan berteriak di sini, anggap saja aku tidak ada, lepaskan semuanya agar hatimu merasa lebih lega," ujar Joshua dengan mata yang tidak lepas dari Niana.


Niana mencengkram erat besi pembatas itu, dadanya terasa begitu sesak, dan pada akhirnya ia melepaskan semuanya, ia menangis sambil terus menatap ke arah langit malam yang nampak sepi tanpa bintang.

__ADS_1


"Kenapa! Kenapa kamu memberikan aku harapkan, jika pada akhirnya, kamu akan kembali padanya, Kenapa!" teriak Niana sekencang mungkin. Ia ingin melauapkan semua yang ia rasakan saat ini. Tangisnya kian pecah, semilir angin pun tak mampu meredakan rasa panas di hatinya saat ini.


Joshua hanya bisa diam, memperhatikan Niana yang saat ini begitu terpuruk oleh keadaan. Hatinya pun juga ikut sakit saat melihat perempuan yang ia cintai, menagisi pria lain.


...****...


Sudah hampir jam dua belas malam, Niana baru tiba di apartement dengan di antar oleh Joshua. Ia melangkah masuk kedalam kamar, membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Niana melihat ponselnya, dan tidak ada satupun pesan dari King, ia kembali kembali meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Tak lama ponselnya bergetar, cepat-cepat ia meraih kembali ponselnya, dan ternyata pesan itu bukan dari King, melainkan dari dosen pembimbingnya di Singapura.


Pesan itu mengatakan jika Niana di haruskan menghadiri sidang skripsinya terhitung tiga hari dari sekarang. Niana bangkit dari posisinya, Niana pikir tidak ada salahnya jika ia pulang ke Singapura untuk menenangkan diri.


~


Pagi ini, Niana sudah bersiap untuk pergi, Malam tadi ia sudah memesan tiket untuk pulang ke Singapura, dan jadwal penerbangannya dua jam dari sekarang.


Niana tidak memberitahu King jika ia akan pulang ke Singapura, ia pikir King sekarang pasti sedang sibuk mengurus Kinan dan tidak memperdulikannya lagi.


Namun Niana tetap memberitahu mama mertuanya, meskipun hanya melalui pesan singkat.


Sepuluh menit menunggu, akhirnya taksi yang di tunggu Niana datang juga, Niana melambaikan tangannya agar taksi itu berhenti. sang supir turun dan langsung membatu Niana memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil. setelah selesai Niana masuk kedalam mobil.


Mobil taksi itu mulai melaju pergi, Niana menatap nanar kearah jendela, tanpa ia sadari air matanya kembali tumpah begitu saja, rasanya baru kemarin ia merasakan apa itu jatuh cinta dan sekarang ia harus merasakan pedihnya parah hati.


Mobil taksi itu melewati Monas, tempat di mana ia malam tadi menangis di puncak monumen itu. Niana melihat Monas hingga menghilang dari pandangannya, rasanya begitu berat meninggalkan kota Jakarta, kota pertama yang memperkenalkannya sebagian kecil keindahan dari negara Indonesia.


Selamat tinggal Jakarta, doakan aku kembali menyapamu dalam kondisi hati sudah membaik," batin Niana.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊


__ADS_2