Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.162-Bab.33 (Welcome to Singapore)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Seorang pelayan kediaman Hardiansyah, membatu King memasukkan koper kedalam bagasi mobil. Akhirnya hari ini datang juga, setelah satu bulan tidak bertemu dengan Niana, pagi ini King akan segera terbang ke Singapura untuk menemui sekaligus menghadiri acara wisuda Niana yang akan di laksanakan esok hari.


"Kak King harus janji, Kak Nia akan ikut pulang bersama kakak," ucap rachel kepada sang kakak.


King memposisikan diri agar sejajar di Rachel, "Iya, kakak janji, asal nilai ujian kamu tidak anjlok lagi," ucap King lalu mengacak-acak rambut Rachel.


"Ih kakak, kok malah bahas itu sih," ucap Rachel kesal.


"Sudah-sudah jangan menjahili adik kamu terus," ucap Raya kepada King.


Pagi ini bukan hanya King yang akan berangkat ke Singapura namun kedua orang tuanya juga akan ikut ke Singapura, kecuali Rachel yang tidak bisa ikut karena harus mengikuti ujian akhir semester.


"Kamu baik-baik, jangan nakal, pak kus akan memantau kamu, selama tiga hari ke depan," ucap Reyhan pada Rachel.


"Iya pa," ucap Rachel lemas, ia masih sedih karena tidak bisa ikut ke Singapura.


Mobil yang membawa King dan kedua orangtuanya mulai melaju, King membuka kaca mobil, dan melambaikan tangannya kepada Rachel yang masih berdiri di teras depan dengan di temani oleh beberapa pelayan kediaman Hardiansyah.


...****...


Lain di Indonesia, lain pula di Singapura.


Pagi ini Niana harus datang ke kampus untuk mengikuti gladi resik sebelum acara wisuda besok. Hari ini Niana nampak lebih ceria di bandingkan hari biasa. Ia mengeyampingkan kegalauannya dan fokus pada pendidikan yang sudah di titik akhir.


"Selamat pagi mama, Daddy," ucap Niana saat menghampiri kedua orangtuanya.


"Selamat pagi sayang," ucap Jihan sendiri, karena Ben sedang mengunyah makanannya.


Niana duduk di kursi meja makan bersama dengan kedua orang tuanya. Sebelum pergi ia menyempatkan sarapan meskipun waktu sangat mepet. Ia meraih satu potong roti dan mengoleskan nutella di atas roti lalu mulai melahapnya dengan cepat.


"Nia,makannya pelan-pelan, nanti kamu tersedak," tegur Ben.


Niana hanya mengangguk karena mulutnya terlalu penuh makanan dan tidak bisa berbicara. Setelah berhasil menelan makanan itu dengan susah payah, Niana segera meminum segelas susu yang sudah tersedia di hadapannya.


"Ma, Dad ... Nia berangkat sekarang ya," ucap Niana yang sudah berdiri dari posisi duduknya.


"Kamu di antar pak cik Rom?" tanya Ben.

__ADS_1


"Iya dad,"jawabnya.


"Kira-kira kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Jihan.


"Mungkin sore ma, kenapa?" tanya Niana balik.


"Ahaha tidak apa-apa," ucap Jihan bingung.


Niana mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian, lalu melangkah pergi. Jihan dan Ben tidak berhenti memandangi kepergian Niana hingga menghilangkan dari pandangan mereka.


Setelah memastikan Niana pergi, Jihan dan Ben saling menatap satu sama lain.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Ben.


"Let's go," ucap Jihan lalu beranjak dari tempat duduknya.


...****...


Setelah menempuh penerbangan sekitar satu setengah jam, akhirnya pesawat yang membawa King dan kedua orang tuanya mendaratkan dengan mulus di bandara internasional Changi Singapura.


Saat keluar dari pintu kedatangan, Raya langsung melambaikan tangannya saat melihat Jihan dan Ben yang sedang duduk di kursi, sambil menunggu kedatangan mereka.


"Welcome to Singapore," ucap Jihan sambil memeluk Raya, King dan Reyhan secara bergantian.


Suasana menjadi begitu hangat, setelah berbulan-bulan, akhirnya mereka bisa berkumpul kembali, mereka saling berpelukan untuk melepas rindu, namun sayang King belum bisa melepas rindu dengan Niana. Setelah beberapa saat, King dan orang tuanya berjalan beriringan dengan Ben dan juga Jihan, keluar dari bandara itu.


Sesampainya di halaman depan bandara, sudah ada dua mobil beserta supir yang menunggu mereka di sana. kedua supir itu membantu memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil.


"Kami akan menginap di hotel saja sampai besok," ujar Reyhan.


"Tenang saja, aku sudah menyiapkan rumah di samping rumah kami, jadi tidak perlu khawatir," ujar Ben.


Karena ingin memberikan surprise kepada Niana, Ben sudah menyiapkan rumah yang terletak persis di samping rumahnya, untuk King dan juga kedua orangtuanya tempati selama rencana kejutan untuk Niana berlangsung.


Rumah itu sudah lama Ben beli karena penghuni sebelumnya pindah ke Australia. ia berniat untuk memberikan rumah itu kepada Niana dan juga King, sebagai hadiah pernikahan.


~


Akhirnya mereka sampai juga di rumah Ben dan Jihan. Jihan menunjukkan rumah yang ada di samping rumahnya. Rumah itu sama besarnya dengan rumah Jihan dan Ben. namun belum pernah di tempati saja.

__ADS_1


Ben membuka pintu rumah itu, meski belum pernah di tempati, semenjak di beli oleh Ben, rumah itu sangat terawat dan juga sangat bersih. Ben dan Jihan juga sudah menugaskan dua orang pelayan mereka untuk memasak dan membantu keperluan Reyhan dan keluarga.


"Rumah ini cukup bagus," ucap Reyhan yang sudah duduk di atas sofa bersama yang lain.


"Kami berencana memberikan rumah ini untuk King dan Niana, meskipun Niana akan ikut King ke Indonesia, anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan yang tertunda," tutur Jihan.


"Terimakasih, onty ... uncle," ucap King sopan.


"Masih belum terbiasa ya, Panggil kami mama dan Daddy, sama seperti Niana," ujar Jihan.


"Maklum saja, masih pengantin baru, lama tidak bertemu kalian, apa lagi dengan Niana," sahut Reyhan.


Reyhan, Raya, Jihan dan Ben larut dalam obrolan tentang masa lalu mereka, hingga King merasa bosan karena tidak bisa mengimbangi obrolan kedua orangtuanya dan orang tua Niana.


"Maaf ma, apa aku boleh kerumah sebelah, aku ingin masuk kekamar Niana, untuk melihat-lihat," pinta King.


"Tentu saja boleh, kode pintunya ******, kamu langsung masuk saja ya, Niana akan pulang nanti sore, jadi kamu santai saja ya," ucap Jihan kepada King.


King melangkahkan kakinya menuju rumah orang tua Niana yang hanya berjarak sepuluh meter saja dari rumah yang akan ia tempati malam ini. Entah kenapa ia ingin sekali masuk kedalam kamar Niana.


King masuk kedalam rumah yang nampak sangat sepi, karena para pelayan sedang membersihkan rumah sebelah agar lebih nyaman di tempati King dan kedua orangtuanya.


Langkah demi langkah, King naik ke lantai dua rumah itu, ia masih ingat kamar Niana, tepat berada di sebelah ruang Gym. King meraih handel pintu dan langsung membukanya perlahan.


Kamar itu masih sama, seperti saat pertama kali ia masuk kesana. Harum semerbak khas parfum yang biasa di pakai Niana terasa begitu kuat, membuat King semakin merindukan istrinya.


King melangkahkan kakinya, masuk lebih dalam, ia duduk di pinggir tempat tidur memandang ke arah balkon kamar Niana yang mengarah langsung ke sebuah danau buatan.


Karena Niana akan pulang sore, King rasa tidak ada salahnya jika ia berbaring sebentar di atas ranjang Niana. Ia merasa begitu lelah karena tidak cukup tidur malam tadi.


Baru saja King hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja handel pintu berbunyi, King langsung menoleh kearah pintu, ia semakin panik karena pintu kamar mulai terbuka.


Dengan gerakan cepat, King loncat turun dari atas tempat tidur lalu bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Jantung King berdetam-dentum, saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia mencoba mengintip sedikit, dan ternyata dugaannya benar, Niana sudah pulang. padahal sekarang baru jam satu siang, benar-benar di luar ekspektasi.


Sial, bagaimana aku bisa keluar dari sini tanpa ketahuan," batin King.


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2