Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.121 (Apa ini akhirnya?)


__ADS_3

Ruang perawatan Rumah sakit.


Ben tiba-tiba saja beranjak dari duduknya, ia menatap layar Ponselnya dengan intens.


"Tuan saya menemukan lokasi nona Raya," ujar Ben


Reyhan yang tadinya Terlihat lemas,kini terlihat sangat antusias, "Dimana ... dimana istriku!."


"Ponsel nona terdeteksi berada di sebuah gedung kosong yang dulu menjadi pusat perkantoran," ujar Ben


"Kita kesana sekarang, hubungi pihak kepolisian untuk menyusul kesana," ucap Reyhan


"Saya ikut tuan," ucap Aruni tiba-tiba


"Ini terlalu berbahaya, kamu tunggu di sini saja ... jaga pak dimas," ucap ben


Aruni hanya bisa mengangguk tanda setuju, ada benarnya juga, jika dia ikut, selain karena terlalu berbahaya, siapa yang akan menjaga pak dimas di sini, sementara keluarga pak dimas berada di kampung.


Reyhan dan ben beranjak pergi, meninggalkan rumah sakit. Rasa cemas kembali melanda Reyhan. sudah jelas jika ini adalah penculikan, apa yang di lakukan orang itu pada istrinya, apa istrinya dalam keadaan baik-baik saja atau malah sudah tak bernyawa. Reyhan Kembali menepis semua fikiran negatifnya, ia yakin jika raya akan baik-baik saja, kisah cinta mereka tidak boleh berakhir seperti ini, seperti kisah kelam masa lalu yang berakhir tragis, antara ayah dan ibunya.


Ben dan reyhan menempuh perjalanan yang cukup lama, semakin lama semakin masuk ke sebuah kota mati yang tak berpenghuni, hanya ada rumah-rumah dan gendung yang tak aktif lagi. Suasana terlalu mencekam untuk sebuah daerah yang ada di pinggir kota metropolitan.


Mereka berhenti di sebuah gedung sepuluh lantai yang cukup tua, Ben dan Reyhan Keluar dari dalam mobil, ia kaget saat melihat mobil yang membawa raya sebelum penculikan, ada di sana. Reyhan dan Ben Bergegas menghapiri mobil itu, dan mobil itu kosong, Ben mencoba untuk memeriksa bagian dalam mobil ,dan ia menemukan sebuah ponsel yang tidak lain adalah milik Raya.


"Tuan muda," ucap Ben sambil memperlihatkan posel itu kepada Reyhan.


Reyhan Mengambil alih posel itu dari tangan Ben, " Ini milik Raya."


"Sudah jelas jika Nona berada di dalam tuan," ujar Ben


Reyhan mengengam erat ponsel itu, kemudian ia mulai melangkah untuk masuk kedalam gedung, buru-buru Ben langsung mecegah Reyhan.


"Tuan muda, jangan bertindak gegabah. kita tidak tahu bahaya apa yang ada di dalam gedung itu, sebaiknya kita tunggu pihak kepolisian datang," ujar ben


"Apa kamu bisa menjamin, Istriku baik-baik saja di dalam sana, sampai pihak kepolisian datang!" ujar Reyhan yang sudah mulai emosi.


Ben tak bisa Menjawab, sedangkan Reyhan kembali melanjutkan langkahnya dan tentunya Ben tidak punya pilihan lain, selain.mengikuti langkah Reyhan.


Suasana di dalam gedung yang amat gelap, membuat Ben mengaktifkan senter yang ada di ponsel miliknya. Mereka menaiki tangga demi tangga menuju lantai atas yang nampak bercahaya dari bawah, mereka yakin Raya berada di sana.


Sesampainya di atas, mereka di hadapkan oleh dua orang penjaga bertubuh kekar yang sedang menjaga di depan sebuah pintu yang di yakini Reyhan, tempat Raya di sandera.


"Siapa kalian!" Seru salah satu pria itu.

__ADS_1


"Dimana istriku!?" Tanya Reyhan


Tanpa fikir Panjang, dua orang bertubuh kekar itu, mulai menyerang Reyhan dan Ben.


Buukk buukkk.


Hanya dengan dua kali pukulan dari ben membuat kedua pria itu tersungkur kelantai.


"Jangan pernah bermain-main denganku!" ucap Ben


Reyhan terperanga Mlmelihat kemampuan Ben yang mampu membuat KO lawan hanya dalam beberapa detik, ia bahkan tak perlu repot-repot mengotori tangannya. Sebelum menjadi orang kepercayaan Anwar hardiyanyah untuk mendampingi Reyhan mengelola perusahaan, Ben memang sudah lama menekuni olahraga karate, hingga pada tahapan tingkat atas.


Reyhan segera membuka pintu itu dan ia terkejut mendapati Miska dan seorang lelaki yang asing baginya sedang duduk di sisi kanan dan kiri istrinya yang belum sadarkan diri.


"Jangan Mendekat!" Seru miska yang mengarahkan senjata tajam ke leher Raya.


Ben dan Reyhan hanya mampu diam di posisinya, "Lepaskan istri ku!" ucap Reyhan yang sudah sangat emosi, melihat siapa dalang di balik penculikan ini.


"Kamu fikir semudah itu, setelah apa yang kamu lakukan kepada ku, hah!" pekik Miska


"Aku membiarkanmu hidup, agar kamu menyesali semua perbuatan mu, bukan untuk ini," ujar Reyhan


"Hahaha, Lebih baik waktu itu kamu b*nuh saja aku!, kamu membiarkan aku hidup hanya untuk melihat aku semakin menderita," ujar miska dengan mata memerah.


Miska memberikan kode kepada Haikal untuk membawa Raya masuk kesebuah pintu yang terhubung dengan sebuah tangga untuk naik ke atas gedung.


Baru saja Ben dan Reyhan akan kembali melangkah, mengarahkan sebuah pis*tol ke dahi Raya.


"Kalian maju, dan peluru panas ini akan menembus kepalanya," ucap Haikal lalu menyeringai licik.


Reyhan dan ben kembali memundurkan langkahnya, Reyhan melihat istrinya yang masih tidak sadarkan diri, hatinya menjerit karena kelemahannya yang tidak bisa dengan mudah menyelamatkan sang istri.


Haikal membawa Raya masuk kedalam sebuah ruangan yang terhubung dengan atas gedung. Miska kembali mengarahkan sebuah pi*tol ke arah Reyhan dan Ben.


"Sebaiknya kalian diam, jangan bergerak dari posisi kalian!" ucap miska


~


Sesampainya di atas gedung, Haikal meletakkan Raya di sebuah kursi kemudian mengikatnya. Haikal mulai memasangkan seperakat b*m waktu di atas perut Raya.


Ia kembali menyeringai saat b*m itu sudah terpasang dan ia sudah mengaktifkan timer menghitung mundur.


"Aku berikan kamu waktu satu jam untuk kamu bertemu dengan suami mu itu, sebelum kamu meledak atau kalian akan meledak bersama, hahaha."

__ADS_1


Haikal meninggalkan Raya sendirian di sana dengan timer yang terus menghitung mundur. Tak lama kesadaran Raya mulai kembali, ia merasakan tubuhnya tak bisa bergerak, ia menatap benda segi empat yang menempel di perutnya, saat melihat timer waktu yang terus menghitung mundur, ia langsung berteriak histeris karena ia mengetahui itu adalah sebuah b*m.


~


Haikal kembali menghampiri Miska yang masih mengarahkan p*tol kepada Reyhan dan Ben. Haikal Memberikan kode, bahwa rencana mereka sudah selesai, Haikal dan Miska mulai beranjak ke arah pintu keluar dengan pistol yang terus di arahkan kepada Ben dan Reyhan.


Haikal dan Miska keluar dari ruangan itu dan berlari dengan cepat untuk kabur.


"Tuan muda, sebaiknya mencari Nona, saya akan mengejar kedua orang itu, dia tidak boleh lolos kali ini," ucap Ben.


"Baiklah, kamu harus berhati-hati," ucap Reyhan.


Ben bergegas untuk mengejar miska dan haikal dan Reyhan naik ke atas gedung untuk mencari Raya.


~


Sesampainya di atas gedung, Reyhan mulai mencari raya ia terus meneriakkan nama istrinya itu.


"Raya!"


"Raya! ... kamu dimana sayang," Teriaknya


Sampai pada akhirnya, ia menemukan sang istri yang sedang di ikat dengan posisi duduk di kursi. Raya yang menyadari kehadiran Reyhan langsung berteriak saat suaminya itu berjalan mendekat.


"Sayang," uca Reyhan lirih


"Jangan mendekat!" Teriak Raya


Reyhan terkejut saat melihat sebuah b*m waktu melekat di tubuh istrinya, tergembok erat dengan rantai besar meliliti tubuh Raya. Sementara Raya semakin memperkuat tangisnya.


"Aku mohon, pergi dari sini!" Teriak Raya, ia tidak ingin Reyhan ikut mati bersamanya, cukup ia dan bayinya yang merasakan ini semua.


Reyhan tidak mempedulikan ucapan raya, ia terus berjalan menghampiri Raya dan duduk bersimpuh di hadapan sang istri.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan bayi kita, sendirian di sini," ucap Reyhan yang sudah meneteskan air matanya.


"Waktunya tidak banyak, tolong pergilah, aku mohon ... pergi dari sini hiks hiks" ucap Raya sambil terisak.


Reyhan meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan erat, " Sayang ... jangan menangis, aku akan tetap berada di samping mu, percayalah kita akan akan selamat,"


Raya hanya bisa bisa melihat terus menangis, meratapi sang suami yang tak mau beranjak dari hadapannya.


Apa ini akhirnya?" batin Raya

__ADS_1


Bersambung 💓


jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2