Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Wow.165-Bab.36 ( Please, come to me)


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, Niana sudah selesai di dandani oleh seorang MUA profesional langganan sang mama.


Keanggunannya semakin bertambah dengan gaun model mermaid yang di balut baju toga hitam bergaris biru yang ia pakai saat ini, dan juga rambut panjangnya yang kini tersanggul dengan rapi.


Sebentar lagi, setelah pemindahan tali toga, sah sudah ia menyadang gelar sarjana. Niana melangkah turun ke lantai satu rumahnya, sebenarnya ia sangat tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini, baginya terlalu berlebihan untuk dirinya yang biasa tampil sederhana dengan polesan bedak tipis dan lip glos.


Jihan dan Ben langsung terpana melihat putri mereka satu-satunya telihat sangat anggun dan cantik.


"Kamu cantik sekali sayang, persis mama sewaktu muda dulu," puji Jihan pada putrinya.


"Niana tidak percaya diri ma, apa make up-nya tidak terlalu mencolok?" tanya Niana yang khawatir dengan penampilannya saat ini.


"Kamu cantik sayang, sangat cantik, kamu harus percaya diri," tutur Ben, sambil menepuk pundak Niana pelan.


"Ayo berangkat, nanti kita telat lagi," ucap Jihan.


Niana dan kedua orangtuanya melangkah menuju teras rumah di mana pak cik Rom sudah menunggu mereka. Mobil yang membawa Niana dan kedua orangtuanya melaju pergi, di saat itu lah, mobil yang membawa King dan kedua orangtuanya mengikuti dari belakang, dengan jarak yang tidak terlalu dekat, untuk menghindari kecurigaan.


~


Mobil yang membawa Niana dan keluarga, akhirnya sampai di parkiran kampus. Terlihat suasana parkiran yang sudah di padati deretan mobil yang berjejer rapi. Hari ini acara wisuda akan di laksanakan di gedung serbaguna yang tersedia di kampus itu. Dengan total lima ratus orang wisudawan, bisa di bayangkan bagaimana padat merayapnya kampus saat ini. Belum lagi jika ada yang hadir bersama dengan keluarga besar mereka.


Niana dan kedua orangtuanya menyempatkan diri untuk berfoto sebelum memasuki ruangan wisuda, sebagai kenang-kenangan. Niana dan kedua orangtuanya berpose beberapa kali hingga akhirnya masuk ke ruangan wisuda.


Jihan merapikan pakaian dan juga topi toga sang putri, matanya berkaca-kaca, karena ia masih ingat betul, bagaimana ia malahirkan Niana melalui operasi sesar dua puluh tahun yang lalu. Dan waktu begitu cepat berlalu, setelah melewati beberapa tahap, akhirnya ia bisa melihat sang putri memakai baju toga.


Karena Niana mendapatkan gelar sebagai wisudawan terbaik, tentu saja ia dan kedua orangtuanya mendapatkan tempat duduk khusus, yang terletak di barisan paling depan.


Suasana yang tadinya begitu riuh terdengar, kini lebih tenang saat rektor, ketua senat, dan juga pimpinan kampus memasuki ruangan upacara wisuda.


Acara di buka dengan pertunjukan tari tradisional yang di tarikan oleh para mahasiswa jurusan seni. Suasana benar-benar begitu meriah karena kurang lebih seribu lima ratus orang (mencangkup calon wisudawan dan juga keluaga) memadati ruangan yang memang sangat luas itu.


Setelah acara tarian pembukaan selesai, di lanjutkan dengan menyanyikan lagu nasional Singapore lalu pidato pembukaan dari rektor dan juga amanat wisuda oleh rektor.


Sampailah di acara inti, yaitu acara penyerahan ijazah kepada wisudawan terbaik prodi universitas negeri Singapura. Tentu saja nama yang di sebutkan oleh pembawa acara adalah nama Niana.


Dengan penuh rasa gugup Niana melangkah maju, naik keatas pentas, ia menundukkan kepalanya, untuk pemindahan tali toga yang di lakukan oleh rektor.


Ben dan Jihan yang duduk di kursi, tidak bisa menyembunyikan rasa haru mereka, karena melihat anak satu-satunya, mendapatkan gelar sebagai wisudawan terbaik. Pertama kalinya Ben menangis adalah waktu Niana terlahir ke dunia, dan ini kali keduanya menitikkan air mata di saat putri kecilnya sudah menjadi sarjana.


Bukan hanya sukses membangun perusahaan dan juga keluaga Bahagia tapi Jihan dan Ben juga sukses menjadi orang tua yang baik untuk Niana.

__ADS_1


...****...


Setelah berbagai macam ritual upacara wisuda, sampai lah di acara penutup yaitu acara hiburan, dimana band kampus dan juga pertunjukan bakat lainnya mulai mengisi acara.


Para peserta wisuda saling menyapa untuk memberikan ucapan selamat, tidak terkecuali Niana yang sejak tadi di kerumuni teman-teman yang ingin mengucapkan selamat kepadanya.


Selang beberapa saat, Jihan dan Ben menghapiri Niana, tapi kali ini mereka tidak hanya bedua saja tapi Raya dan Reyhan juga ada di sana, dengan satu buket bunga yang di bawa oleh Raya untuk menantunya itu.


"Mama, papa," ucap Niana saat melihat kedua mertuanya sekarang berada di hadapannya.


"Selamat ya sayang, kami bangga sama kamu," ucap Raya sambil memeluk Niana.


"Selamat ya Nia, kamu hebat sekali," ucap Reyhan yang juga ikut memeluk Niana.


"Terimakasih ma, pa," ucap Niana yang merasa terharu karena kedua mertuanya menyempatkan diri untuk hadir.


Mata Niana menoleh ke kanan kiri, mencari keberadaan King, yang ia harap juga datang meskipun hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu mencari King?" tanya Jihan.


"Ah itu ... iya ma, King tidak datang ya," ucap Niana ragu-ragu.


"Tentu saja datang," ucap Raya.


"Sebentar lagi kamu pasti akan melihatnya," ucap Jihan.


Tiba-tiba semua orang yang ada di ruangan itu menjadi heboh, tatapan mata mereka mengarah ke arah panggung, di mana seorang pria tampan berjas biru dongker sedang berdiri di sana dengan satu buket bunga mawar putih di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang mic.


"Ehm, tes, tes ... kepada mahasiswi atas nama Niana silahkan melihat kearah panggung," ucap King dengan menggunakan Mic.


Saat mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya, Niana langsung berbalik dengan cepat. Matanya membulat dengan sempurna saat melihat King sedang berdiri di atas panggung.


Cahaya lampu sorot kini menyala tepat di atas Niana. Semua mata beralih melihat Niana, yang menjadi fokus utama, suasana menjadi semakin heboh saat semua orang mulai mengerti jika sebuah momen romantis akan segera diciptakan oleh King dan Niana.


Dari kejauhan, mata Niana dan King saling beradu. Sesaat King terdiam, melihat istrinya yang kini terlihat sangat cantik dengan pakaian toganya. King terseyum kearah Niana, saat melihat senyuman King, Niana menjadi salah tingkah sendiri.


"Untuk kamu yang ada di sana, apa kabar? Aku sudah menyaksikan semuanya, aku bangga, atas apa yang telah kamu raih, kamu juga terlihat sangat cantik hari ini," ucap King yang tidak henti-hentinya memadangi Niana.


Suasana kembali riuh terdengar, semua orang merasa iri kepada Niana dan tidak sedikit yang salut dengan King yang dengan berani berdiri di atas panggung.


"Ya ampun itu kan King, aktor asal Indonesia yang famous tu, dia nak lamar Niana kah?"

__ADS_1


" Iya, iri betul lah."


Semua orang yang ada di sana begitu heboh karena kehadiran King di ruangan itu. kamera ponsel kini mulai menyoroti King dan juga Niana, seakan tidak ingin melewatkan momen ini tanpa mengabadikannya. Niana masih diam terpaku, matanya mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka King akan hadir dengan cara seperti ini.


"Saya mohon semuanya untuk diam sejenak, karena saya ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang sudah lama pergi dari kehidupan saya." King kembali memadangi Niana.


Suasana yang tadinya begitu riuh, kini berangsur menjadi hening. Saat di rasa sudah lebih tenang, barulah King kembali melanjutkan ucapannya.


"Untuk kamu yang sempat hadir, membawa cinta yang begitu besar dengan cara yang sangat sederhana. Dengan ketulusan mu, perhatianmu, dan segala yang ada pada dirimu, membuat hati ku yang telah lama mati suri pelahan berdenyut kembali. Maaf karena kamu harus pergi dengan segala kesalahpahaman yang tidak sempat aku jelaskan, dan maaf karena telalu lama membiarkan kamu menunggu dalam ketidak pastian. Sekarang aku sudah berada di sini, menunggu kamu untuk menghampiri ku, apa kamu bersedia untuk melangkah ke arah pria bodoh ini?"


Niana masih diam di tempatnya, namun air matanya tidak henti-hentinya mengalir, ia memadangi King dengan perasaan yang campur aduk, ia benci, tapi ia juga rindu.


"Nia, ayo maju sayang," ucap Jihan pada putrinya.


"Maju.. maju.. maju," ucap semua orang yang ada di ruangan itu.


Niana melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari King, selama satu bulan ia tidak melihat King dan tiba-tiba saja sekarang King muncul dengan cara yang tidak ia sangka-sangka.


Niana sudah naik keatas panggung, ia berhenti sejenak, memadangi King yang kini merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut Niana dengan pelukannya.


"Come to me please," ucap King dengan mata yang berkaca-kaca.


Niana tidak bisa menahan tangisnya yang kembali pecah saat melihat King yang kini berdiri di hadapannya. ia menyeka air matanya dan langsung berhambur memeluk King. Semua orang di ruangan itu merasa sangat terharu, begitu juga dengan kedua orang tua Niana dan King.


Jihan dan Raya saling merangkul, dengan air mata yang tak hentinya keluar dari sudut mata mereka. Mereka percaya jika wasiat terakhir Anwar Hardiansyah, adalah sebuah jalan untuk takdir pernikahan Niana dan King, yang berawal penolakan kini saling mencintai.


Niana menangis tersedu-sedu di pelukan King, melepaskan rindu yang sudah menyesakkan dadanya sekian puluh hari. Air mata king akhirnya lolos juga, ia memeluk Niana dengan erat, akhirnya rencananya berhasil juga. Kini Niana sudah kembali ke pelukannya dan ia tidak akan melepaskan, apalagi membiarkan Niana pergi lagi darinya.


"Kenapa kamu baru datang sekarang, kamu tau aku sangat tersiksa," ucap Niana yang masih berada di pelukan King.


"Maaf ... aku juga sangat tersiksa karena meridukan mu, sekarang aku sudah di sini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi,"ucap King.


King melepaskan pelukannya dan kemudian mulai belutut di depan Niana, Niana merasa bingung dengan tindakan King. Sampai saat King mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Niana menutup mulutnya tak percaya, saat melihat kotak yang berisi cincin berlian.


"Nia, Are you willing to start a new relationship with me? (apakah kamu mau memulai kembali hubungan kita dari awal lagi?)


"Yes, I will."


King terseyum lega saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Niana. Ia berdiri dari posisinya dan langsung memasangkan cincin itu di jari manis Niana. Setelah selesai, King kembali memeluk Niana dengan erat kemudian membisikkan kata "I LOVE YOU SO MUCH" di telinga Niana.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers dengan cara Like+Komen+Vote+ hadiah (bunga,hati dll) juga boleh banget loh. 😁😘🙏🙏


__ADS_2