Cinta Pelayan Setia Tuan Muda

Cinta Pelayan Setia Tuan Muda
Eps.173-Bab.44 (Aku milik mu malam ini)


__ADS_3

Setelah dari acara talk show, King kembali ke kantor untuk menyelesaikan perkejaannya yang tertunda. Namun, sepertinya King tidak bisa dengan mudah masuk kedalam kantor sore ini. Para wartawan/reporter pemburu berita, sudah menunggu kedatangannya di halaman depan kantor.


Setelah wawancara eksklusifnya tadi, jagat maya mendadak heboh, dan tentu saja para para wartawan/reporter itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam lagi, karena masih banyak hal yang belum King jelaskan dalam wawancara eksklusif itu.


Joshua menghentikan mobilnya di samping di bahu jalan, dari kejauhan jelas terlihat, kerumunan orang sedang menunggu kedatangannya di sana.


"Bagaimana ini, apa kamu pulang saja ke kediaman Hardiansyah?"


"Tidak bisa, ada berkas yang harus aku tanda tangani hari ini, dan juga ada rapat yang harus aku pimpin," kata King sambil terus melihat kearah jendela.


"Kalau begitu, kamu siap menghadapi orang-orang itu?"


"Telepon bagian keamanan, suruh mereka mengerahkan semua anggota untuk berjaga di depan, aku akan meladeni mereka kali ini."


Joshua mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan segera menelpon bagian keamanan kantor untuk segera berjaga di depan sebelum King masuk.


Selang beberapa saat, petugas keamanan itu menelpon balik, untuk mengabarkan bahwa situasi sudah aman terkendali. Joshua kembali melajukan mobilnya, sesaat setelah mobil itu berhenti di depan pintu utama gedung HRY grup, para wartawan langsung berhambur menghapiri mobil itu.


Dengan gerakan cepat para petugas keamanan betubuh kekar itu langsung membelah kerumunan awak media yang menutup jalan, hingga King tidak bisa keluar dari mobil.


Setelah berhasil menghadang para wartawan itu, barulah King dan Joshua keluar dari dalam mobil. Suara jepretan kamera mulai terdengar saat King keluar, para petugas keamanan itu merentangkan tangan mereka, untuk mencegah wartawan itu terlalu medekati King.


Berbagai macam pertanyaan mulai keluar dari mulut para wartawan, King hanya diam di tempatnya, sembari mendengarkan pertanyaan apa saja yang di ajukan mereka.


"Tenanglah, King akan menjawab pertanyaan kalian satu persatu, jadi jangan anarkis," tegur Joshua dengan tegas.


Akhirnya wartawan-wartawan itu mulai tenang, King mulai menjawab satu persatu pertanyaan yang di lemparkan padanya.


"Apa anda berencana untuk menggelar pesta resepsi dalam waktu dekat?"


"Pihak keluarga saya dan keluarga istri saya, sedang mendiskusikan masalah ini," jawabnya.


"Sejak kapan kalian resmi menikah, apakah pernikahan ini pernikahan siri?"


"Lima bulan yang lalu, bukan pernikahan sirih, sah secara hukum dan agama," jawabnya lugas.


Berbagai macam pertanyaan di haturkan kepada King, sepertinya hari ini King sedang dalam suasana hati yang sangat baik, Joshua saja sampai geram melihat wartawan-wartawan itu yang tidak ada habisnya bertanya dan bertanya.


Setelah beberapa saat, Joshua memberikan kode kepada King, jika mereka harus segera masuk untuk menghadiri rapat yang akan di pimpin langsung oleh King.


"Maaf, cukup sampai di sini, saya harus kembali bekerja."


"Satu pertanyaan terakhir, tolong sampaikan ke masyarakat luas, bagaimana anda mencintai istri anda?"


King kembali melihat kearah kamera yang berjejer rapi di hadapannya, " Ehm, Niana ... kamu harus tahu betapa aku mencintai kamu saat ini dan selamanya. Dunia dapat mengubah seluruh hidup ku, tapi tidak ada yang bisa mengubah cinta ku padamu, tetap lihat aku dan percayakan semuanya hanya kepadaku. Terimakasih."


Dengan perlindungan dari pihak keamanan, King di dampingi oleh Joshua, masuk kedalam lobby. King dan Joshua pun cukup terkejut karena ternyata para karyawan sudah berkumpul di lobby. Sepertinya para karyawan HRY grup pun sudah tau dan ingin lebih tahu tentang anak dari CEO mereka yang di kabarkan telah menikah.


"Kalian sedang apa di sini? cepat kembali bekerja!" tegas Joshua.

__ADS_1


Tanpa bicara apapun, para karyawan itu membubarkan diri dan kembali ke perkejaaan mereka masing-masing. King sampai tercengang melihat sikap tegas Joshua yang baru saja satu bulan lebih menjadi sekertarisnya.


"Bagaimana, aku keren kan?" ucapnya dengan bangga kepada King.


"Hah, keren apanya, kamu malah membuat mereka takut," ucap King.


"Memang seperti itu lah seorang seketaris, harus tegas, lugas, cekatan dan cerdas. Aku membaca semuanya di buku panduan sekertaris yang di berikan seketaris papa mu," tutur Joshua.


"Ya terserah lah, ayo pergi kita sudah terlambat."


...***...


Sementara itu di kediaman hardiansyah, Niana masih duduk mengobrol bersama Raya dan juga Rachel. Sejak tadi wajahnya sudah memerah seperti udang rebus, karena mama dan adik iparnya itu terus saja memuji dan menggodanya.


"Kak Nia, kak Nia, lihat deh kak King juga di wawancarai di depan kantor." Rachel menghapiri Niana dan memperlihatkan layar ponselnya yang mempertontonkan wawancara King di depan gedung utama HRY group. Raya pun ikut mendekat karena merasa penasaran.


Niana hampir menangis haru, karena mendengarkan penuturan King saat wartawan itu meminta King untuk mengungkapkan rasa cinta kepadanya, matanya mulai terasa panas, mama mertua dan adik iparnya memeluk Niana, saat melihat mata Niana berkaca-kaca.


Terimakasih, aku juga sangat mencintaimu," batin Niana.


~


Niana kembali ke kamarnya, ia berjalan menuju walk in closed dan langsung membuka lemari. Ia mengambil sebuah kotak hitam, yang berisi kan hadiah dari mamanya, saat akan pulang ke Indonesia.


Hadiah itu berupa Lingerie berwarna maroon. Awalnya ia beniat untuk menyembunyikannya dan tidak akan pernah memakai pakaian tipis semacam itu di hadapan King. Namun hari ini ia memberanikan diri untuk memakai Lingerie itu, untuk menyenangkan suami dan memberikan hak suaminya yang sudah tertunda sekian lama karena berbagai hal.


Apa sudah waktunya, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk ku, dan sekarang adalah giliran ku," batin Niana.


Pukul sembilan malam, King baru saja sampai di rumah. Beberapa kali ia memijat tekuknya yang terasa sangat pegal. Sesampainya di dalam, ia melihat Rachel, dan kedua orangtuanya sedang berkumpul di ruang keluarga, namun ia heran karena tidak ada Niana di sana.


"Aku pulang," ucap King saat sudah berdiri di depan kedua orang tuanya.


"Wah kak King sudah pulang," ucap Rachel sambil berhambur memeluk King, "Kakak tadi keren sekali." Rachel mengacungkan kedua jempolnya.


"Sama seperti papa dulu, saat papa berjuang untuk mendapatkan cinta mama kamu, harus berani mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita cintai kepada semua orang. Bagus Saka, papa bangga sama kamu," tutur Reyhan.


"Mama dan Niana sampai terharu tadi," sahut Raya.


"Terimakasih ma, pa, acel ... oh iya Niana mana?"


"Setelah makan malam, dia pamit kembali ke kamar, kamu samperin gih," ucap Raya.


"Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya."


King berjalan dengan cepat, menapaki satu demi satu anak tangga di rumah mewah itu. Sesampainya di depan pintu kamar, ia langsung membuka pintu. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia mengeryit heran karena tidak melihat keberadaan Niana di kamar itu.


Tanpa ia sadari, ternyata Niana sudah berada di belakangnya. Niana langsung memeluk King dari belakang, membuat King terkesiap.


"Sayang, kenapa baru pulang?" tanya Niana sambil memeluk King.

__ADS_1


"Banyak yang harus aku kerjakan demi masa depan kita."


King melepaskan tangan Niana yang melingkar di pinggangnya. Ia langsung berbalik melihat Niana. Matanya langsung membulat sempurna saat mendapati sang istri berpenampilan sangat berbeda malam ini. Lingerie berwarna merah maroon itu, sangat serasi dengan kulit putih Niana, lekuk tubuh terlihat dengan jelas, belahan dada yang sangat rendah membuat dua gunung kembar itu menonjol keluar.


"Sayang, ka-kamu," ucap King terbatabata.


Niana hanya tersenyum sebentar, lalu mengalungkan tangannya di leher sang suami. Dengan kaki yang agak menjinjit ia menyatukan bibirnya dan King. Darah King seakan mendidih seketika, desiran aneh mulai terasa meremmang di sekujur tubuhnya.


Tangan King mulai melingkar di pinggang Niana. sentuhan itu semakin menuntut, semakin dalam dan semakin berga*rah.


Niana melepaskan ciuman itu dan membisikkan sesuatu di telinga King.


"Aku milik mu malam ini, ayo kita selesaikan."


Mendengar bisikan Niana di telinganya, membuat bulu kuduk King Merinding, entah sejak kapan gadis polos yang ia kenal kini berubah menjadi wanita yang agresif.


Tanpa menunda waktu, King menggedong tubuh Niana dan langsung ia letakkan secara perlahan di atas ranjang, ia memposisikan dirinya berada di atas Niana. Sesaat mereka saling menatap dalam, netra mereka saling beradu, tergambar jelas di sana jika mereka saling mendamba, sesuatu yang sudah tertunda begitu lama.


King kembali menyatukan bibir mereka dan mulai bermain di sana. tangannya pun tak tinggal diam, perlahan namun pasti ia membuka dengan paksa kain tipis yang mebalut tubuh sang istri.


King melepaskan penautan keduanya, ia melemparkan Lingerie itu keseimbangan arah. Hingga kini tubuh Niana telihat polos tanpa sehelai benang pun. Sesuatu di dalam celana King sudah terasa sesak, menunggu untuk mendapatkan gilirannya.


Perlahan namun pasti, King membuka semua yang kini melekat padanya. Niana reflek memejamkan matanya saat melihat sang junior King yang tegak dengan gagahnya.


Kembali King melancarkan aksinya, ia menciumi setiap inci tubuh Niana, dengan tangan yang terus menggerayang kemana-mana.


Erangan kecil terdengar dari mulut Niana, ia merasakan seluruh tubuhnya meremmang geli, namun ia mulai merasa candu, dan menuntut untuk agar King melakukannya lagi dan lagi.


" Ahh ... sa-sayang." Niana kembali mend*sah pelan saat King menenggelamkan wajahnya di gundukan keyal yang membuat King semakin menggila.


Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari mulut King, b*rahinya sudah mencapai puncaknya, ia menikmati semua yang ada pada diri Niana, terasa sangat manis dan memabukkan.


King beberapa kali menelan, saat melihat sesuatu yang berada di bawah perut Niana. Sang junior pun semakin terasa sesak seolah berteriak jika ini adalah gilirannya.


Perlahan namun pasti King memulai penyatuan mereka. Niana mencengkramkan erat bantal yang menopang kepalanya. Satu kali hentakan, dua kali, tiga kali dan yang ke empat kali, akhirnya King bisa menerobos masuk.


Sebulir air mata keluar dari sudut mata Niana, terasa amat perih, karena ini untuk pertama kalinya ia dan King melakukan hal itu.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya King Khwatir.


Niana hanya mengangguk pelan, membuat King merasa lebih lega dan tak ragu untuk melanjutkannya. King mulai bergerak maju mundur, semakin lama semakin cepat hingga rasa perih yang Niana rasakan berubah menjadi kenikmatan. ia memejamkan matanya, menggigit bibirnya, merasakan sensasi dasyat dari aktivitas yang menguras keringat di malam hari.


Hampir satu jam King menghentakkan Niana dalam kenikmatan dunia, hingga pada akhirnya ia merasakan sesuatu dari dirinya yang akan menyembur keluar. Ia pun segera mempercepat gerakannya dan akhirnya ... selesai sudah. Dengan nafas tersengal-sengal, King mengecup kening Niana yang juga nampak kelelahan, setelah itu ia langsung berbaring di samping Niana. Membawa Niana kedalam pelukannya.


"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu, sangat amat mencintai mu," bisik King di telinga Niana.


"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Niana yang sudah menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami."


Bersambung 💓

__ADS_1


Haredang... Haredang 🔥🔥😅🤭


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2