
"Kamu kenapa tidak menunggu ku pulang?" tanya King sambil mengambil air mineral dari dalam kulkas.
Niana hanya diam sambil terus memakan makanan ringan yang ada di atas meja makan. Ia bingung harus mengatakan apa kepada King. Rasanya ia seperti anak kecil yang mengadu jika ia mengatakan kepada King jika Kinan mengancamnya.
King berjalan mengahampiri Niana yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. King duduk di atas meja makan tepat di samping Niana. Di letakkan air minum itu di meja makan. King menangkup wajah Niana dengan kedua tangannya, memposisikan Niana agar menatapnya.
"Kenapa kamu diam, ayo jelaskan, kamu sudah membuatku sangat khawatir tadi," ucap King sambil menatap Niana dengan lekat.
Niana melepaskan tangan King dari wajahnya, ia mengambil snack di atas meja dan ia masukkan kedalam mulut King. King mengerutkan keningnya heran, sambil mengunyah snack yang Niana masukkan kedalam mulutnya.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, melihat sebagian kecil suasana kota Jakarta, apa salah," ucap Niana mencari alasan.
"Tentu saja salah, bagaimana jika ada yang menculik kamu, Jakarta tidak seperti di Singapura, kota ini lebih keras dari pada bayangan mu," tutur King kesal.
Niana kembali memasukkan snack itu kedalam mulutnya, ia melihat King yang begitu nampak sangat khwatir. Ada rasa senang yang ia rasakan saat melihat King begitu mengkwatirkannya.
"Kamu tidak perlu memarahi ku seperti itu." Niana lalu meminum air mineral King yang ada di atas meja dan meneguknya hingga habis.
King berdiri dari posisinya, lalu mengambil kursi dan duduk di samping Niana. Ia heran kenapa Niana masih belum mengerti juga bagaimana ia begitu khwatir.
"Lalu kamu naik apa sampai ke Apartement, taksi atau bus?" tanya King penasaran.
"Bukan, aku naik ojek," tutur Niana.
"Apa! Ojek, kamu di bonceng oleh seorang pria dengan motor sampai ke Apartement?", tanya King yang mulai tidak bisa santai.
"Iya, wah seru sekali, itu pengalaman pertama ku naik motor, ternyata tidak buruk juga, lain kali aku akan naik ojek lagi," ucap Niana antusias.
King ternganga tak percaya dengan apa yang di katakan Niana, bagiamana gadis seperti Niana, suka naik ojek di tengah kota paling tinggi polusi.
"Jika hanya naik motor, aku juga bisa ... kamu mau kemana, Senayan, Monas, Ancol, aku akan mengantarkan kamu, jadi kamu tidak perlu naik ojek lagi," tutur King kesal.
__ADS_1
"Memangnya kamu punya motor?" tanya Niana ragu.
"Tentu saja, coba saja tangan ku tidak sakit, aku pasti sudah membawa mu berkeliling Jakarta," ucap King kepada Niana.
"Huh, padahal aku ingin sekali naik motor saat malam hari, pasti lebih seru," ucap Niana dengan wajah cemberutnya.
"Bagaimana jika kita ke lokasi street food yang ada di seberang Apartement ini, disana pasti banyak jajanan khas Indonesia dan juga makanan-makanan enak," ujar King.
"Benarkah! Aku mau," ucap Niana antusias.
"Aku mandi sebentar, bersiap-siap lah," ucap King lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Niana memandangi kepergian King dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya. Entah kenapa di balik ocehan King, ia merasa jika king begitu memperdulikannya. Ia mulai melupakan ucapan Kinan padanya siang tadi. Yang kini ia rasakan hanyalah kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
~
Niana menghebuskan nafasnya panjang, saat melihat penampilan King yang memakai sweater over size, masker dan juga topi hitam. King sudah seperti satria baja hitam saja. Ia lupa jika King adalah seorang aktor terkenal yang sedang di gandrungi masyarakat, tentu saja King tidak bisa muncul begitu saja di hadapan umum, bisa-bisa King di krumuni orang-orang yang ingin meminta foto atau tanda tangannya.
Sebagai seorang pablik figur, siap tidak siap harus berbagi privasi dengan banyak orang. Siap untuk menjaga citra sebaik mungkin, agar menarik perhatian para penggemar. Sebenarnya yang di cari King dari profesinya ini bukanlah uang, tapi popularitas dan sekedar mengembangkan hobinya di bidang seni peran.
"Aku lupa jika punya suami seorang aktor, penampilan mu sekarang benar-benar tertutup yang terlihat hanya matamu saja," ucap Niana lemas.
Senyum lebar langsung terukir di wajah King, saat Niana mengucapkan kata Suami. Ia senang karena Niana benar-benar menganggapnya sebagai suaminya, meskipun mereka belum pernah ... ya paham lah ya hehe.
"Baiklah jika istriku tidak suka, aku akan mengganti pakaian ku," ucap King lugas.
"Sudah tidak perlu, aku tidak mau jalan-jalan malam ini menjadi jumpa fans dadakan, ayo pergi," ucap Niana lalu melangkah mendahului King.
"Hey, istriku! Tunggu," seru King pada Niana, Niana tidak menghiraukan ucapan King dan terus melanjutkan langkahnya.
~
__ADS_1
Lokasi street food daerah Sudirman
Niana dan King berjalan, menembus kerumunan para pemburu kuliner pinggir jalan. asap dari arang, bau semerbak dari makanan-makanan yang di jajakan, mulai menembus indra penciuman Niana dan King.
"Kamu sering ke tempat ini?" tanya Niana sambil menoleh kepada King.
"Emm, hanya beberapa kali, Ki ... maksud ku Joshua suka sekali makanan pinggir jalan, aku jadi ikut suka, makanan disini enak-enak dan harganya benar-benar tidak wajar, sangat murah," ujar King yang hampir saja keceplosan mengucapkan nama Kinan. King memang sering menemani Kinan ke tempat street food, karena Kinan menyukai makanan pinggir jalan.
"Eh, sepertinya itu enak, ayo kesana," ucap Niana lalu menarik tangan King agar berjalan mengikutinya.
Sesampainya di depan stand penjual cilok, Niana langsung memesan satu porsi, karena King tidak mau jadi satu porsi saja sudaj cukup. Niana terlihat tidak sabar menyicipi cilok yang begitu menggiurkan, tidak lupa, ia menambahkan sambal yang banyak, karena Niana pencinta pedas. Ia cukup terkejut karena makanan dengan bahan dasar tepung kanji itu sangat enak.
"Enak sekali," ucap Niana sambil mengunyah cilok itu.
"Masih banyak jajanan lain, ayo kesana,"ajak King.
"Oke, tapi kamu benar tidak mau makan dan tangan mu bagaimana apa tidak apa-apa jika kamu terlalu banyak bergerak seperti ini," ujar Niana.
"Aku akan membeli makanan saat kita akan pulang nanti dan tangan ku sudah lebih baik, saat memakai pakaian tadi, aku sudah bisa menggerakkannya seperti biasa, meski masih terasa ngilu sedikit," tutur King.
"Syukurlah kalau begitu, ayo kesana," ajak Niana.
"Oke." King dan Niana berjalan beriringan.
King melirik Niana yang berada di sampingnya, melihat senyum bahagia Niana yang terpancar di wajah cantiknya. Untuk pertama kalinya King bisa melihat Niana yang bicara santai padanya, begitu ceria, dan juga tanpa rasa canggung.
Masih dengan posisi berjalan, King meraih tangan kanan Niana dengan tangan kirinya, kemudian ia letakkan tangan Niana itu di saku sweternya sambil terus menggenggam tangan itu erat. Sontak Niana langsung menoleh kearah King, ia cukup terkejut dengan perlakuan King yang tiba-tiba.
"Ehm, cuaca malam ini sangat dingin ya," ucap King terbatabata.
Niana tidak berkata apa-apa, mukanya langsung bersemu merah, tersipu malu karena mendapatkan pelakuan yang begitu romantis dari King. Layaknya pasangan yang baru saja melalui kencan pertama, Niana dan King baru saja memulai awal kisah mereka yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊