
Sore hari sekitar pukul empat sore, King pulang ke kediaman Hardiansyah dan langsung di sambut pelukan hangat oleh adik kecilnya, Rachel. Sudah beberapa hari ini King tidak bertemu dengan adik kecilnya itu.
"Kak King, tega sekali," ucap Rachel dengan wajah cemberutnya.
"Tega kenapa?" tanya King sambil memposisikan diri agar sejajar dengan Rachel.
"Kakak tega, meninggalkan aku, dan liburan sendiri di Singapura," tutur Rachel.
Hari dimana King dan Niana berangkat ke Bandara, Rachel masih tertidur pulas di kamarnya. Raya sengaja tidak membangunkan Rachel, karena ia tahu Rachel pasti akan merengek untuk ikut bersama dengan King. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Rachel cenderung manja dan bergantung pada King.
"Jangan ganggu kakak dulu, kakak pasti capek pulang syuting," ujar Raya yang tiba-tiba datang dari arah belakang Rachel.
"Ma, dimana Nia?" tanya King.
"Ada di kamar kamu, mungkin dia sedang tidur," jawab Raya.
King kembali menatap Rachel yang tidak mau melepaskan tangannya, " Rachel, kak King ke kamar dulu ya, Malam nanti kita main game bersama," tutur King.
"Oke, janji loh," ucap Rachel.
"Iya janji."
King Melangkahkan kakinya naik kelantai dua. Ia penasaran apa yang sedang di lakukan Niana di kamarnya, apa Niana sedang memeriksa foto-fotonya di sana yang banyak terpajang dan tentunya ada foto bersama Kinan juga. Entah kenapa King berharap Niana cemburu.
Saat pertama kali membuka pintu, yang ia dapati adalah Niana yang sedang tertidur di atas ranjangnya dengan posisi miring sambil memeluk guling. Segurat senyum terpancar dari wajah King lalu melangkah mendekati Niana. King beranjak naik ke atas kasur dan berbaring di samping Niana.
Di tatapnya Niana lekat, ia memperhatikan wajah Niana yang begitu teduh dan polos saat tertidur dengan balutan pakaian yang tertutup. Niana memang tidak pernah berpenampilan dengan busana terbuka sekali pun. Ia lebih suka memakai dres di bawah lutut, atau jelana jean dan kemeja. Selera wanita King sepertinya sudah berubah, mungkin kini ia sadar jika bukan dari mata turun ke hati tapi dari kebaikan hati yang membuka matanya untuk melihat sebuah keindahan yang sebenarnya.
King menjadi salah fokus saat melihat bibir ranum Niana yang begitu menggoda. King hanya manusia biasa, di lokasi syuting tadi dia benar-benar berusaha keras agar tidak mencium Kinan. Lalu bagaimana dengan Niana, apa King tidak akan menahan dirinya lagi. Diluar perjanjian yang mereka sudah sepakati, Niana tetaplah istrinya yang sah.
__ADS_1
Apa boleh aku memastikannya, jika memang hati ku telah terbuka untuk mu," batin King.
King medekatkan wajahnya dengan Niana, kini hanya tinggal tersisa beberapa sentimeter saja, deru nafas Niana kini bisa ia rasakan dengan jelas saat bibir keduanya hampir menyatu. Niana tiba-tiba mengeluh pelan dan menggerakkan tubuhnya. Karena merasa panik, King reflek hendak turun dari atas tempat tidur dengan posisi yang tidak siap dan akhirnya ia terjatuh kelantai.
"Ahkk, sakit," keluh King saat merasakan lengannya susah untuk di gerakkan.
Niana membuka matanya saat mendengar suara seseorang. Ia bangun dari posisi tidurnya dan langsung duduk, matanya membulat seketika, saat melihat King terbaring di atas lantai sambil meringis kesakitan. Dengan cepat Niana menghapiri King.
"Kamu kenapa?" tanya Niana panik.
"Lengan ku, sakit sekali," jawab King sambil menahan sakit di bagian lengannya.
Niana nampak panik sekali, ia tahu jika saat ini King sedang benar-benar kesakitan. Niat untuk mencium Niana malah berakhir petaka untuk King, karena sepertinya King mengalami keseleo/terkilir di bagian lengannya.
~
"Kamu harus beristirahat di rumah, selama satu minggu, minggu depan Paman akan datang untuk mengeceknya kembali," ujar dokter Haris.
"Satu Minggu ... bagaimana ini," ucap King yang memikirkan syutingnya yang harus segera rampung sebelum waktu tayang perdana di bioskop satu minggu lagi.
"Saka, kamu jangan pikirkan masalah pekerjaan kamu, papa kamu akan mengurus semuanya,", ujar Raya berusaha menenangkan King.
"Kak king jangan sedih dong," ucap Rachel yang nampak sangat khawatir.
"Ma, aku tidak mau papa telalu ikut campur dengan karier ku, aku tidak mau di anggap aktor yang hanya bisa mengandalkan nama besar papa," ujar King kesal.
"Sabarlah, mama benar, kamu harus istirahat ... meskipun kamu mau lengan kamu tidak bisa di paksakan," ujar Niana sambil menatap King.
Seketika King langsung luluh begitu saja, karena mendengarkan ucapan Niana, " Ya, baiklah, jika kamu berkata begitu."
__ADS_1
Niana dan Raya saling berpandangan. Mereka lega karena akhirnya King lebih tenang dan tidak panik lagi. Raya, Rachel dan dokter Haris keluar dari dalam kamar King. Kini tinggal Niana dan King saja yang berada di dalam kamar.
"Tolong bantu aku, aku ingin berbaring," pinta King pada Niana.
Niana dengan sigap membantu King. Terlihat sekali jika Niana orang sangat perhatian, tak ada ocehan seperti biasanya, ia menurut saja saat di mintai tolong oleh King. King sudah berbaring dengan posisi telentang, Niana duduk di samping King sambil membetulkan posisi lengan King agar lebih nyaman.
"Kenapa kamu bisa sampai terkilir begini? tanya Niana.
"Kamu kan lihat sendiri, aku tadi terjatuh," jawab King.
"Iya, aku tahu ... tapi kamu bisa terjatuh seperti tadi, apa yang sedang kami lakukan?" tanya Niana penasaran, karena yang ia lihat King tadi terjatuh di samping tempat tidur.
King berpikir sejenak, alasan apa yang harus ia berikan kepada Niana. Tidak mungkin jika ia bilang akan mencium Niana dan malah berakhir dengan lengan terkilir seperti ini. Setelah bepikir sejenak, alasan yang keluar dari mulut King adalah, " Lantainya licin ... aku baru saja akan membangun kamu, karena kamu tertidur sangat lama, dan lihat aku malah terpeleset kan, ini semua juga karena kamu!" ucap King kesal, untuk menutupi rasa geroginya.
Niana terperangah tak percaya, bisa-bisanya King malah menyalahkannya, "Apa! Aku ... itu semua karena kecerobohan kamu sendiri," sahut Niana kesal.
"Aku tidak mau tahu, selama minggu ini, kamu harus bertanggung jawab penuh atas diriku. Kamu harus menyuapi aku saat makan, membantu aku saat aku akan tidur dan bangun, dan ...."
"Dan apa?" tanya Niana penasaran.
"Kamu harus membantu ku saat Mandi," ucap King sambil melihat kesembarang arah.
"Apa!"
Niana hampir tak percaya jika King akan mengucapkan permintaan yang tidak masuk akal baginya. Mandi, bagaimana bisa Niana membantu King mandi, hanya melihat King bertelanjang dada saja, ia sudah berteriak histeris apa lagi ... ah sudahlah.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1