
Bandara internasional Soekarno Hatta.
Niana bersama dengan King sedang menunggu kedatangan kedua orang tua Niana, yang akan segera sampai ke Indonesia untuk menghadiri pesta resepsi pernikahan anak mereka.
Sudah satu minggu beralalu, sesuai kesepakatan bersama, pesta resepsi pernikahan Niana dan King, akan segera di selenggarakan tiga hari dari sekarang dan tentunya akan di gelar secara besar-besaran.
Lebih dari lima ribu udangan telah di sebar untuk kalangan artis, politisi, kolega bisnis dan tentunya para awak media yang juga akan turut hadir untuk meliput acara besar itu.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Ben dan Jihan muncul juga dari balik pintu kedatangan. Niana langsung berhambur memeluk kedua orangtuanya, belum sampai satu bulan ia tidak bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi rasa rindu itu sudah teramat besar.
"Nia rindu mah, dad," ucapnya.
"Kami juga rindu sayang," ucap Jihan.
Niana melepaskan pelukannya dari kedua orangtuanya. Kini bergantian dengan King yang juga memeluk keduanya mertuanya.
"Bagaimana keadaan mama dan papa kamu King?" tanya Ben pada King.
"Sehat dad, papa sedang di kantor dan mama sedang sibuk mengurus segala macam untuk acara resepsi kami nanti," jawab King.
"Kalau begitu kita pulang ke kediaman Hardiansyah sekarang, aku tidak sabar bertemu Raya," ucap Jihan pada suaminya.
Mereka berjalan beriringan, keluar dari dari bandara. Sesampainya di depan bandara, King pamit kepada kedua mertuanya dan tentu saja kepada Niana juga. Ia harus kembali ke kantor, karena sebelum acara resepsi dan juga bulan madu yang sudah di rencanakan, ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Sayang aku kerja dulu ya," ucap King pada Niana.
"Iya kamu hati-hati, jangan lupa makan, makanan yang sudah aku siapkan saat jam makan siang nanti," tutur Niana.
"Siap bos, hehe." King menoleh kearah kedua mertuanya yang sejak tadi tersenyum-senyum sendiri melihat keromantisannya dan Niana, "Ma, Dad, aku berangkat dulu," ucap King sambil menyalami tangan kedua mertuanya.
King melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil sport favoritnya. Sementara Niana dan kedua orangtuanya akan pulang dengan di antarkan oleh pak Rian, supir pribadi Raya.
~
Sepanjang perjalanan, Niana bercerita berbagai hal kepada mama dan Daddy-nya. Tentang bagaimana King dengan romantisnya mengumumkan pernikahan mereka di depan umum, dan tentang hari-hari yang ia lewati selama kurang lebih dua minggu berada di Indonesia.
Ben dan Jihan nampak sangat bahagia, karena pada akhirnya putri mereka satu-satunya, jatuh ke tangan yang tepat, mendapatkan cinta sebagaimana mestinya dan mendapatkan kebahagiaan yang sempat mereka ragukan, saat menikahkan anak mereka dengan pria yang tidak Niana cintai waktu itu.
Jihan menatap lekat putrinya yang tidak henti-hentinya, tersenyum, tertawa saat menceritakan kisah hidup barunya.
"Nia?" ucap Jihan.
"Iya ma, kenapa?" Niana yang tadinya sedang mengobrol dengan Daddy yang duduk di kursi depan, kini beralih menatap sang mama.
Jihan medekati Niana, dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Niana, " Apa kamu sudah memakai hadiah pemberian mama?"
__ADS_1
Mata Niana langsung membulat seketika dengan kedua sisi pipinya yang berwarna kemerahan. Jelas sekali jika ia malu karena mamanya tiba-tiba saja menanyakan hal itu.
"Apa sih ma," ucap Niana lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat dari sikap malu-malu sang putri, Jihan sudah tahu jawabannya.
Bukan hanya sudah memakainya, tapi lingerie seksi itu, sudah robek karena ulah King. Dan yang tidak Niana duga adalah, King malah membelikannya pakain sejenis itu lagi, bukan satu atau dua, tapi satu lusin. King berkata, bahwa Niana harus memakai pakaian itu setiap malam.
~
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mobil yang membawa Niana dan kedua orangtuanya sampai juga di kediaman Hardiansyah.
Raya dan juga Rachel sudah menunggu kedatangan mereka. Mobil itu berhenti tepat di depan halaman depan. Pak kus dan beberapa pelayan lain, menurunkan barang-barang Jihan dan Ben lalu membawanya masuk kedalam.
"Selamat datang kembali," ucap Raya sambil memeluk Jihan dan Ben secara bergantian.
"Selamat datang uncle dan onty singapur," ucap Rachel.
"Wah, Rachel tidak sekolah?" tanya Jihan pada Rachel.
"Dia tidak mau sekolah karena mengetahui kalian akan datang," sahut Raya.
"Sayang jangan jadi papa ya, dulu Reyhan juga sering bolos sekolah seperti ini," ucap Ben.
"Waduh, berarti nurun dari papanya ya, haha," ucap Jihan lalu tekekeh sendiri.
"Janji ya, besok kak Nia yang antar ke sekolah," kata Niana pada Rachel.
"Oke, aku pegang janji kakak, kemarin juga janji tapi kakak mengingkarinya karena memilih ikut kak King untuk Fitting baju," ucap Rachel sambil berpangku tangan.
"Hehe, maaf kali ini, kak Nia beneran deh."
...****...
King dan Joshua sedang duduk saling berhadapan di depan meja kerja King. Terlihat tumpukan berkas yanh sudah menggunung di hadapan mereka. Karena baru mulai memahami dan mempelajari berkas-berkas itu, mereka tidak bisa dengan cepat menyelesaikannya.
Beberapa kali King memijat tekuknya sendiri, matanya pun mulai terasa lelah. Ia melihat Jam di tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang, ia segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak bekal yang Niana siapkan untuknya di atas nakas yang ada di sudut ruangan.
King kembali duduk di belakang meja kerjanya, meletakkan kotak bekal itu di atas meja. Joshua sampai melongo melihat King yang untuk pertama kalinya membawa makanan dari rumah. Sumpah demi apapun, ini benar-benar bukan King yang ia kenal dulu.
"Makanan itu dari rumah?" tanya Joshua penasaran.
"Tentu saja, Nia memasak sendiri untuk ku," jawab King dengan bangganya.
"Hah, sejak kapan kamu suka membawa makanan dari rumah, seperti anak TK saja," ucap Joshua.
"Semenjak aku punya seorang istri yang sangat perhatian, kenapa? Iri bilang bos, haha," ucap King lalu tertawa sendiri.
__ADS_1
"Siapa yang iri, aku masih belum percaya saja."
King membuka kotak bekal tiga susun itu, ia langsung di terpana melihat isi kotak bekal itu. kotak yang paling atas itu adalah beef teriaki kesukaanya, di kotak kedua berisi, nuget ayam, capcai dan juga buah, dan tentunya di kotak ke paling bawah itu berisi nasi merah.
Bukan hanya King, tapi sepertinya Joshua juga tergiur melihat makanan itu. Joshua melirik isi kotak itu beberapa kali, sampai saat King menoleh ke samping untuk mengambil air minumnya, dengan gerakan cepat, Joshua meraih sepotong nuget ayam di kotak bekal King.
"Hey, kau mengambil makanan ku!" seru King saat menyadari nugetnya berkurang satu.
"Tidak," ucap Joshua yang menyembunyikan nugget itu di tangan kanannya.
King memicingkan matanya, menatap Joshua penuh curiga, ia tau jika Joshua tidak berkata jujur padanya. Segera saja ia beranjak menghapiri Joshua, memeriksa tangan Joshua dan akhirnya-.
"Sudah aku duga, kamu boleh memakan makanan apapun yang kamu suka, pesan saja, aku yang akan membayarnya tapi kamu tidak boleh memakan satu gigit pun makanan yang sudah di masak dengan penuh cinta oleh istriku," tutur King yang sudah merebut kembali sepotong nugget ayam dari tangan Joshua.
Joshua terperanga tak percaya, sejak kapan King jadi sebucin ini. sepotong nugget saja menjadi masalah.
"Huh, dasar pelit!" Joshua beranjak dari tempat duduknya, dengan wajah yang nampak kesal.
"Mau kemana?" tanya King saat melihat Joshua hendak melangkah pergi.
"Mau cari makan." Joshua kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, sebelum Joshua keluar, King kembali berkata, "Jangan cuma cari makan, cari calon istri juga sana, haha."
"Berisik!" Sahut Joshua kesal.
...****...
Di sebuah kamar kost berukuran 4ร3, seorang wanita dengan rambut acak-acakan, menatap ke arah dinding kamarnya. Dinding kamar itu di penuhi dengan foto King dan juga poster King.
Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur yang menerangi kamar itu. Mata wanita itu terlihat sembab karena telalu banyak menangis. Sesekali ia tertawa seperti orang yang sedang frustasi sambil membentur-benturkan kepalanya di dinding kamar.
"Tega kamu, aku selalu setia mendukung karir mu, mengikuti kemanapun kamu syuting dan kamu malah menikah dengan gadis s*alan itu ... jahat! Kamu jahat!!!!" teriak wanita itu.
Wanita itu meraih sebuah poster yang terpampang foto king lalu merobeknya sampai menjadi potongan kecil.
Wanita itu kembali duduk sambil memeluk lututnya, ia mendongak, menggedarkan pandanganya, melihat ribuan foto King yang memenuhi kamarnya, air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya.
"Hahaha ... dasar kamu pembohong! Kamu bilang hanya mencintai ku, dan aku adalah prioritas mu, tapi semuanya bohong, kenapa kamu berhenti bermain film dan malah menikah dengan wanita itu, kenapa!!!" teriak wanita itu sendiri, layaknya seorang yang merasa di khianati, wanita itu merasakan hatinya hancur berkeping-keping.
BERSAMBUNG ๐
Jangan lupa like+ komen+vote ya readers ๐๐
Kisah Niana dan King akan memasuki fase paling menegangkan ๐ณsebelum berakhir dengan happy ending. ๐คญ
Happy reading dan tetap tunggu update selanjutnya ya, Saranghae ๐๐
__ADS_1