
flashback sejenak kisah perjalanan cinta ben dan Jihan.
Ben bukanlah seorang pria yang mudah untuk jatuh cinta, ia tipikal pria yang cuek, dingin dan sedikit arogan, namun pertemuannya dan jihan saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kediaman hardiansyah adalah sebuah takdir yang di rencanakan, Tuhan seakan sudah menakdirkan mereka untuk saling melindungi.
Tepat hari dimana Ben menginjakkan kaki di kediaman Hardiansyah, kedua orang tua jihan meninggal dunia. Jihan masih sangat kecil untuk kehilangan kedua orangtuanya. Ben dan Reyhan lah yang selalu menghibur dan selalu menemaninya. Namun layaknya anak kecil yang masih polos, jihan kecil sangat menyukai ben karena selalu membelanya saat di jahili oleh Reyhan.
"Sudah ya jangan menangis lagi, kak ben ada di sini untuk melindungi kamu." Ucap ben membari memeluk jihan
"Iya kak ben ... Janji ya, akan selalu membela Jihan," Ucap jihan terisak-isak karena baru saja bertengkar dengan Reyhan.
"Iya ... kak ben janji," ucap ben
Tak disangka rasa suka itu, berubah menjadi rasa kagum, hingga seiring waktu saat Jihan beranjak remaja dan ben baru saja di angkat sebagai seketaris pribadi Reyhan di tahun pertama ia bekerja. rasa kagum jihan itu menjadi cinta, dan ben menjadi cinta pertamanya.
"Kak Ben ... sebelum aku berangkat, aku hanya ingin mengatakan jika aku ... mencintai kak ben, sejak dulu hingga sekarang," ucap jihan, dengan kedua tangan mencengkeram erat ujung kemejanya, ia merasa gugup namun ia tidak punya pilihan lain, jika bukan sekarang kapan lagi, setidaknya Ben harus mengetahui perasaannya sekarang.
Ben cukup terkejut mendengar pengakuan jihan padanya, "maaf jihan ... tapi aku hanya menganggap mu sebagai adik ku saja."
Jihan tersenyum getir, dadanya terasa tertusuk seribu sembilu, terasa perih, saat mendengar jawaban ben atas keberaniannya untuk mengutarakan perasaannya. Namun dalam kondisi terburuknya saat itu, ia masih bisa menatap mata ben dan Tersenyum Seperti biasa.
__ADS_1
"Aku tidak butuh jawaban kakak sekarang, setelah aku menyelesaikan study ku, dan aku sudah siap untuk bertemu kakak lagi, aku akan berdiri seperti ini lagi, untuk mendengar Jawaban kak Ben," ujar jihan
Ben tak lagi mampu menjawab jihan, ia hanya bisa menatap gadis remaja di hadapannya itu dalam diam, meski jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu menyayangi Jihan, namun sebagai seorang anak yatim piatu yang di angkat derajatnya oleh keluarga hardiyanyah,ia membentengi diri untuk tidak melewati batasnya, ia sadar ia bukanlah pria yang pantas untuk satu-satunya keponakan dari anwar hardiansyah itu.
Setelah jihan pergi keluar negeri, ia tidak pernah mencoba untuk menghubungi ben, ia takut jika ia menghubungi Ben, pendiriannya akan goyah dan ia akan merengek kepada pamanya untuk pulang karena merindukan ben.
Tahun tahun berlalu, Jihan pun akhirnya kembali, namun ia masih belum siap untuk berhadapan dengan Ben, dan karena itu ia memutuskan untuk tinggal di apartement yang sangat dekat dengan kantor cabang HRY Group, tempat Jihan bekerja untuk pertama kalinya waktu itu.
Dua bulan kemudian di sebuah hotel bintang lima milik HRY group yang baru saja akan di buka. Jihan di tugaskan sebagai perwakilan Kantor cabang untuk meninjau persiapan pembukaan hotel. Saat baru keluar dari lift matanya tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya, meski begitu ia tahu betul jika itu adalah Ben.
"Kak Ben," Seru Jihan
Ben dan jihan memutuskan untuk mengobrol di sebuah cafe yang ada di hotel itu. Jihan masih mengingat Ucapanya sewaktu ia akan berangkat ke luar negeri, ia berucap "setelah aku menyelesaikan study ku dan aku sudah siap untuk bertemu kak ben lagi, aku akan berdiri di hadapan kak ben Seperti ini, untuk mendengar jawaban kak Ben."
"Jadilah pacarku," Ucap jihan to the point
"Berhentilah membahas ini jihan, aku bukanlah pria yang pantas untuk kamu," Ucap Ben merasa panik karena pertanyaan jihan yang tiba-tiba.
Bukan ini, bukan jawaban seperti ini yang jihan inginkan setelah sekian lama menunggu momen ini kembali. Ucapan ben benar-benar menjatuhkan mentalnya, menghancurkan mimpinya, seperti kehilangan arah, ia tak lagi punya jalan untuk kembali membangun harapan baru. Tak lagi sama saat pertama kali ia di tolak oleh ben, kali ini ia bahkan tak mampu untuk mengangkat kepalanya, ia mencengkram erat kedua lututnya, merasakan sesak di dadanya yang tak bisa ia tolerir lagi. Jihan meluapkan semua yang ia rasakan kepada ben, jika memang tak ada lagi harapan, setidaknya ben harus tau sedalam apa perasaanya dan sejauh mana ia berjuang untuk kembali berhadapan dengan ben setelah sekian lama.
__ADS_1
Jihan berfikir setelah ini, ia benar-benar akan melupakan ben, dan keluar dari bayang-bayang cinta pertamanya. Jihan beranjak dari tempat duduknya, ia pergi meninggalkan ben yang masih diam mematung di tempatnya, air matanya tak bisa di bendung lagi, setidaknya ini terakhir ia manangisi cinta pertamanya itu pikir Jihan.
Namun saat ia akan masuk kedalam mobil, tiba-tiba dari arah belakang Ben menarik tangannya dan langsung membawa jihan kedalam pelukannya.
"Maaf ... maafkan aku karena terlambat menyadari ini, jangan pernah pergi lagi , tetaplah di sisiku Jihan, aku sangat mencintai kamu," Ben mengutarakan perasaannya yang selama ini masih di awang-awang, di ambang batas antara jujur atau terus memedam rasa itu sendiri. Tapi kali ini ia merasa jika ia tidak bisa seperti ini, apapun resiko kedepannya nanti, setidaknya ia harus jujur dengan perasaannya sendiri.
Sejak peristiwa itu, Ben dan jihan memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran,meski jarang mempunyai waktu bersama karena kesibukan masing-masing, namun baik ben atau jihan mereka tetap konsisten pada komitmen yang mereka bangun bersama.
Meskipun ben maupun jihan, belum berani untuk mengatakan tentang hubungan mereka kepada Anwar, di luar dugaan Anwar sudah mengetahuinya lebih dulu, dan anwar tanpa ragu memberikan restunya. Jihan dan ben sangat senang mendapatkan restu dari orang yang paling mereka segani itu.
Dalam suatu hubungan akan ada saja rintangan kerikil-kerikil kecil yang membumbui perjalanan cinta seseorang, namun sejatinya kembali lagi pada diri kita masing-masing, sekuat apa kita bisa melewatinya.
perjalanan cinta Ben dan jihan tidaklah instan seperti saling suka, menyatakan perasaan, lalu jadian, tapi mereka berproses.
jika saat ini ada orang ketiga dalam hubungan mereka, apa ada yang bisa menebak ben akan berpaling atau tidak bergeming dan tetap pada komitmennya bermasama jihan.
Ikuti terus kisahnya ya ... 🤭
Jangan lupa like+komen+Vote ya readers 🙏😊
__ADS_1
kalian adalah mood booster ku ❤️😘