Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 100


__ADS_3

Dalam wujud naga ini, sebas merilis amarahnya dalam bentuk kehancuran.


Setiap gerakan dan raungan naga tersebut mengirimkan getaran yang menakutkan ke dalam goa yang kini menjadi medan perang.


DUAR!


BAM!


Langkah-langkah naga Juggernaut mengguncang goa, merusak struktur dan membuat reruntuhan berhamburan.


Namun, yang paling mengerikan adalah raungan yang menggema seperti guntur, suara yang mengandung kekuatan mengerikan dari seorang naga yang memuntahkan nafas api.


"GRROOAAAARRR" Teriakannya, seakan menggambarkan semua emosi dan rasa sakit yang tak terucapkan.


Nafas api yang dihembuskan keluar melahap segalanya di depannya, membakar dan menghancurkan apa pun yang terlintas dalam jangkauannya.


BAM!


DUAR!


Ledakan-ledakan menghantam goa, menciptakan dentuman yang begitu menggelegar.


Semua itu adalah manifestasi dari kemarahan yang melanda sebas, yang melampiaskan rasa bersalah dan kehilangan karena keegoisannya.


Keputusasaan dan penyesalan terasa seperti terangkat sedikit demi sedikit dari pundaknya, digantikan oleh ledakan amarah yang membakar segala sesuatu di sekitarnya.


Dalam cahaya merah gemerlap dari amukan naga Juggernaut, segala sesuatu tampak begitu hancur dan kacau.


Tidak ada yang mampu bertahan dari kekuatan penuh rasa sakit dan marah yang melanda naga ini, menciptakan pemandangan yang mencekam di dalam goa yang pernah tenang.


Dalam kekacauan yang terjadi, Gameciel, meskipun masih dalam duka, segera memberi perintah tegas kepada ribuan bawahannya, para golem, untuk segera meninggalkan goa dan kembali ke lantai 10.


Mereka dengan patuh dan cepat mengikuti perintah tersebut, meninggalkan goa yang telah menjadi medan pertempuran.


Di dalam goa yang semakin hancur, hanya Vael, Gameciel, dan sebas dalam bentuk naga Juggernaut yang masih berada di sana.


Vael, dengan perasaan campur aduk antara kagum dan cemas, menyaksikan saudaranya yang kini berubah menjadi naga yang mengamuk.


Ini adalah pertama kalinya ia melihat sebas dalam bentuk aslinya yang menakjubkan, sangat mirip dengan ayah mereka.


Vael dan Gameciel, walaupun ragu-ragu dan hati penuh duka, berusaha dengan segenap kemampuan untuk menyadarkan sebas dari amukannya yang tak terkendali.


Namun, usaha mereka belum membuahkan hasil.


Sebas tetap tidak sadarkan diri, tenggelam dalam kemarahan dan penderitaannya sendiri.


Nafas api dari mulutnya mengamuk menghantam sekitar, menghancurkan lebih banyak lagi dari apa yang sudah hancur sebelumnya.


Usaha mereka untuk menghentikan sebas terasa seperti pertarungan melawan angin ribut.

__ADS_1


Meskipun mereka berdua mencoba mendekatinya dengan hati-hati, sebas dengan cepat bereaksi, menyerang mereka dengan nafas api yang mengerikan.


Vael dan Gameciel berusaha menghindarinya, berusaha memahami keadaan emosional sebas yang sangat rapuh pada saat ini.


Dalam situasi ini, mereka terperangkap dalam hancurnya goa dan kehancuran emosi mereka sendiri.


Semua yang mereka miliki terasa seperti berantakan di hadapan mata mereka.


Dalam keputusasaan dan kehilangan, mereka mencari jalan untuk mengembalikan sebas kepada mereka, untuk mengatasi amarah dan kebencian yang menguasai dirinya.


Dalam ketidakharmonisan yang menyelimuti goa yang hancur, Vael dan Gameciel menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain menghadapi saudara mereka sendiri.


Dalam bentuk naga yang hampir menyamai kekuatan ayah mereka, sebas mengamuk dengan keinginan untuk menghancurkan segalanya.


"GRROOOAAAAAARRRRR!" Raungan naga sebas memenuhi udara, memperlihatkan betapa besar amarah dan kebencian yang menguasainya.


Vael dan Gameciel bersiap untuk menghadapinya, meskipun hati mereka terasa berat.


Berkolaborasi dengan serangan yang terkoordinasi, Gameciel dan Vael berusaha melawan sebas dalam bentuk naga yang telah kehilangan kendali.


Namun, pertarungan melawan sebas yang berwujud naga adalah hal yang jauh lebih sulit dari yang mereka bayangkan.


Sebas, dalam bentuk naganya yang hampir menyamai kekuatan tuan pencipta dan ayah mereka, terlalu kuat dan liar untuk dikalahkan atau bahkan dilemahkan.


Upaya mereka untuk mendekatinya hanya membuat mereka terpental oleh serangan marahnya.


Dalam keputusasaan, Vael mencoba menyadarkan saudaranya yang telah kehilangan akal.


Pukulan keras membuat Vael terhempas jauh.


Tapi Vael tidak menyerah.


"Kak, sadarlah!" teriak Vael kepada sebas yang berusaha bangkit dari posisi terpentalnya.


Suaranya penuh kepedihan dan keputusasaan, mencoba mencapai hati dan jiwa saudaranya yang hilang dalam kemarahan.


Namun usaha Vael terbukti sia-sia saat tinju sebas yang berubah menjadi naga cepat meluncur dan menghantamnya tanpa ampun.


BAM!


Vael tidak mampu menghindar dari pukulan yang sangat cepat itu, dan akibatnya ia terhantam dengan keras.


Rasa sakit tak tertahankan membuat darah yang berwarna putih keluar dari mulutnya saat ia terhantam keras.


Saat sebas bersiap untuk menyerang Vael lagi, tiba-tiba Gameciel bereaksi dengan cepat.


Dengan sayap besar yang terentang, Gameciel bergerak menuju Vael dan berhasil mengambilnya dengan tangannya yang besar.


BAM!

__ADS_1


Tindakan tepat waktu dari Gameciel berhasil menyelamatkan Vael dari pukulan berbahaya sebas.


Vael merasa berterima kasih kepada Gameciel meskipun dalam kondisi yang sangat lemah dan terluka.


Kekuatan sebas yang tak terkendali dan amukannya yang liar membuat pertarungan semakin sulit.


Shuushhh...


"Tuan!" seru Gameciel dalam posisi terbangnya, tangan besar menggenggam erat tubuh kecil Vael untuk melindunginya.


Namun sebas tidak berhenti, mata merahnya terus memantulkan keinginan kehancuran.


Dengan nafasnya yang membara, ia melepaskan serangan cepat bertubi-tubi.


Shoot...


Shoot...


Shoot...


Terjadi banyak ledakan diseluruh area goa.


Gameciel berusaha sekuat tenaga menghindari serangan-serangan mematikan yang datanginya.


Namun, kecepatan dan kekuatan serangan sebas tidak dapat dielakkan.


Hingga suatu ketika, serangan cepat itu mencapai targetnya.


BAM!


Sayap besar Gameciel terkena serangan itu dan hancur, membuatnya jatuh dari udara.


Namun, ia tidak membiarkan Vael terluka. Dengan gerakan cepat, ia melindungi Vael dengan tubuhnya yang besar, meskipun dalam kondisi yang lemah.


Gameciel terbaring di tanah, Vael masih berada di pelukan tangannya yang besar. Berusaha melindunginya walaupun Gameciel terluka.


"Apa yang harus kulakukan?! Dia terlalu kuat," gumam Gameciel sambil memandang sebas dari kejauhan, yang kini dengan cepat mendekatinya melalui udara.


Dalam situasi yang genting ini, Gameciel terpaksa mengambil tindakan cepat.


Dengan gerakan gesit, ia menyelipkan tubuh lemah Vael di balik reruntuhan, berusaha melindungi Vael dari bahaya yang mengancam.


Tangan besar Gameciel kemudian meraih gagang pedang besar, Excalibur.


Pedang ini diciptakan oleh tuan penciptanya yang telah tiada, dan disimpan di dalam dimensi penyimpanannya.


Gameciel mengeluarkan pedang itu, cahaya gemilang memancar dari bilahnya yang tajam.


Dalam keputusan yang penuh pengorbanan, Gameciel mengerti bahwa kemungkinan hasil akhir pertarungan ini adalah kehancuran bagi dirinya.

__ADS_1


"Ah, ayah, kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi. Jika aku harus mati dalam pertarungan melawan ciptaanmu yang kau panggil, anak itu, sebas," gumam Gameciel dengan suara yang penuh pengharapan, sembari menghunuskan pedang besar Excalibur-nya ke arah Sebas yang semakin mendekat.


Cahaya Excalibur memancar dan bersinar terang, mencerminkan tekad kuat Gameciel yang siap menghadapi takdirnya dengan kepala tegak.


__ADS_2