Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 162


__ADS_3

Dalam keheningan yang mencekam, Calliga tiba-tiba mengucapkan sebuah kata yang tidak pernah terdengar oleh Sebas sebelumnya.


"[Soul Symphony]!" serunya, sambil mengangkat tangannya ke arah mayat sang saudara, Grandor, yang tergeletak tanpa kehidupan di tanah.


Seketika itu juga, cahaya terang begitu terang menyinari mayat naga tersebut.


Grandor, yang sedang bersujud dan menangis, melihat cahaya keemasan dan dengan penuh keberanian, ia mengangkat wajahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ia terpukau melihat dewanya melakukan sihir tingkat tinggi pada saudaranya yang sudah tiada.


Cahaya keemasan semakin mempesona dan dengan cepat, seluruh potongan tubuh Grandor yang terpisah mulai berkumpul di satu tempat yang sama dengan cahaya tersebut.


Seperti puzzle yang menyatu, potongan tubuh itu kembali utuh dengan sempurna.


Daging-daging yang tumbuh dengan cepat dan menyatu seperti tidak ada yang pernah terjadi, menciptakan sebuah keajaiban yang mempesona.


Grandor tidak bisa mempercayai apa yang terjadi di hadapannya.


Dalam keheningan yang mencekam, Grandor terkejut dengan aksi dewa, Calliga, pada tubuhnya yang sudah mati.


"Apa yang sedang dewaku lakukan pada tubuh saudaraku yang sudah tiada?" gumam Grandor dengan air mata yang masih berlinang, sambil berlutut memperhatikan dengan penuh harap.


Secara ajaib, potongan ekor saudara Grandor yang terpotong kembali melayang dan bergabung dengan tubuhnya.


Sayap yang hancur dengan cepat meregenerasi diri, dan kepala saudara Grandor yang pecah kembali utuh dengan sempurna.


Tulang tengkorak yang hancur dan retak tumbuh kembali secara perlahan namun cepat. Bahkan bola matanya yang hancur tiba-tiba tercipta menjadi baru, menutupi soket kedua mata yang kosong.


Daging menutupi tulang tengkorak dengan sempurna, dan seluruh tubuh saudara Grandor yang sebelumnya terlihat seperti korban mutilasi, sekarang terlihat menyatu dengan sempurna dengan sisik hitam pekat yang tumbuh dengan cepat.


Tubuh mayat Grandor melayang dengan cahaya keemasan yang memancar, namun cahaya tersebut perlahan redup dan tubuh saudara Grandor jatuh kembali ke tanah.


Grandor tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya terbelalak, menampilkan taring-taringnya yang tajam.


Dewanya yang tak terduga ini telah dengan ajaib menyembuhkan luka fatal pada tubuh saudaranya yang sudah mati, mengembalikannya menjadi sempurna.


Tubuh naga saudaranya yang sebelumnya tergeletak di lantai, sekarang menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang kembali.


Grandor semakin tercengang melihat saudaranya yang sudah mati tiba-tiba hidup kembali.

__ADS_1


"Saudaraku hidup kembali?!" teriak Grandor dengan terkejut, tidak percaya pada apa yang terjadi di hadapannya.


Calliga, dengan senyum bahagia di wajahnya, mengamati hasil dari kekuatan kebangkitannya yang baru ditemukan.


"Sepertinya skill kebangkitanku berhasil!" gumam Calliga dengan puas.


Tanpa ragu, Grandor langsung berjalan menuju Calliga, dengan hati penuh rasa terima kasih. Dia tidak bisa menahan tangis haru ketika melihat saudaranya yang sudah mati kembali hidup.


Grandor bersujud di hadapan Calliga, menyerahkan dirinya kepada dewa yang telah membangkitkan saudaranya.


"Terima kasih, dewaku! Terima kasih! Terima kasih!" ucap Grandor di antara tangisnya yang tak terbendung.


Calliga menatap naga besar yang baru saja ia bangkitkan kembali, dan tiba-tiba, sebuah status muncul dan berkedip di atas kepala naga tersebut.


Dengan jelas, Calliga melihat nama di status tersebut, "Rodnar".


Saudaranya, Grandor, yang sebelumnya tergeletak di lantai, benar-benar bergerak dan mengangkat kepalanya.


Dengan suara yang aneh, Rodnar bertanya, "Dwi-mwa-nwa In-wi? Bwu-kwan-kwah akwu-swu-dah mwa-ti?" (Di mana ini? Bukankah aku sudah mati?)


Rodnar melihat sosok dragonoid Calliga, yang menyerupai lizardmen namun memiliki ukuran yang lebih besar dan sayap yang megah di belakang tubuhnya, tidak hanya itu warna sisik dan tampilannya juga berbeda jauh, akan tetapi masih memiliki karakteristik yang sama dengan lizardmen.


Namun, Calliga mengenakan cincin hadiah dari sistem yang menyembunyikan aura eksistensinya dan aura magisnya.


Rodnar tidak menyadari bahwa Calliga sebenarnya adalah entitas yang menakutkan, sejenis dewa baginya.


"Akwu Hwidup Kwembali?, apwakah iwnwi mwimpi?" ucap Rodnar dengan suara yang penuh ketidakpercayaan dan lidah naganya yang panjang menjulur keluar mulutnya.


(Aku Hidup Kembali?, apakah ini mimpi?)


Tubuhnya terasa asing setelah bangkit kembali dari kematian, dan ia meraba-raba tubuhnya yang sebagian telah hancur dan terpotong akibat serangan proyektil kristal Lithos sebelumnya.


Dalam kebingungan dan pertanyaan yang memenuhi pikirannya, Rodnar terheran-heran melihat bahwa tubuh naga raksasanya tidak terluka sedikit pun.


Ia merasa seolah-olah ini semua hanyalah mimpi, mengingat kepalanya seharusnya sudah diputus oleh serangan makhluk kristal Lithos sebelumnya.


Namun, fokus Rodnar segera berubah saat ia melihat Calliga yang berdiri di dekatnya.


Dengan nada aneh, Rodnar bertanya, "Lwi-zwadr-Men? (Lizardmen?)" ia mengamati sosok Calliga yang menyerupai lizardmen namun jauh lebih kuat dan mematikan.

__ADS_1


Untungnya, Sebas tidak mendengar dengan jelas ucapan Rodnar yang menyebut Calliga sebagai lizardmen, jika tidak, kemarahan Sebas pasti memuncak, yang tentunya akan membunuh rodnar.


"Hmm...."


"Mengapa ia berbicara aneh ngelantur seperti itu? Apakah ini efek samping dari skill kebangkitanku? Ataukah tubuhnya masih terlalu lemah dan terlalu lemas? Hmm, sepertinya alasan yang terakhir lebih logis," gumam Calliga dalam hati saat mendengarkan Rodnar, saudaranya Grandor yang berhasil ia bangkitkan.


Calliga segera mengucapkan kepada Rodnar, "Hmm, sepertinya aku berhasil membangkitkanmu. Sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu, kau terlalu lemah sekarang," ucap Calliga dengan penuh perhatian.


Tidak hanya itu, Calliga juga menguji skill penyembuhannya pada Grandor yang disebalah Rodnar.


Hanya dengan pikirannya, tubuh Grandor bercahaya terang. Luka-lukanya yang berat dan sayapnya yang bolong dengan cepat pulih dan menyatu secara sempurna.


Grandor, yang berada di dekat Calliga, terharu melihat kebaikan dewa yang ada di hadapannya. Air mata tak henti mengalir dari matanya sambil dalam hati memuja sosok dewa yang tulus telah menyembuhkannya.


"Hmm, skill penyembuhanku juga berhasil dengan sempurna!" gumam Calliga dalam hati, bangga dengan kemampuannya menggunakan skill barunya yang ia dapati.


Dilain sisi, Rodnar hanya terpaku pada mata tajam Calliga yang berwarna merah menyala, seakan-akan dapat menembus jiwanya yang dalam.


Ia mendengarkan dengan seksama ucapan Calliga, "And-dwa memb-wabng-kwitkan akwu? (Anda membangkitkanku?!)" balas Rodnar dengan penuh keheranan.


"Tentu saja, saudaraku! Aku bersumpah demi Dracorius yang hidup, yang kini berada di hadapan kita berdua. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri secara langsung! Dialah tuan yang telah membangkitkanmu, dewa yang dulu kami sembah, Dewa Dracorius!" ucap Grandor sambil menyeka air matanya, sambil mengucapkan kepada saudaranya, Rodnar, yang telah hidup kembali.


"Dwewa Dwa-cwo-rwius?! Mwu-stwahil! (Dewa Dracorius! Mustahil!)" ucap Rodnar dengan keterkejutan, dan tiba-tiba tubuhnya entah kenapa lemas dan secara nalurti berlutut dan bersujud di hadapan Calliga.


Lalu, Rodnar mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Calliga. Tidak hanya itu, Rodnar juga menyerahkan hidupnya kepada Calliga yang ia kira adalah Dracorius.


Rodnar dan Grandor terus berlutut dan bersujud dengan penuh penghormatan kepada Calliga, meletakkan hidup mereka di tangan dewa mereka.


Calliga, yang sudah terbiasa dengan orang-orang berlutut di hadapannya sebagai penguasa, hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapannya.


Kemudian, ia memutus keheningan dengan kata-kata yang memecahkannya.


"Baiklah, kalian berdua, kembalilah ke tempat asal kalian. Segera aku akan kembali ke domainku sebentar lagi," ucapnya kepada Grandor dan Rodnar yang masih bersujud di hadapannya.


Grandor merasakan kepedihan mendalam karena dewanya akan segera pergi meninggalkannya menuju domainnya yang misterius.


Ia menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah melihat dewanya lagi.


Tidak hanya itu, Grandor dan keluarga kecilnya serta saudaranya hidup tanpa tempat tinggal tetap, mereka adalah keluarga nomaden yang hidup berpindah-pindah bersama-sama, dan mereka selalu hidup dalam ketidakpastian.

__ADS_1


__ADS_2