
Calliga terkejut dan bingung melihat perilaku aneh Sebas yang tiba-tiba memeluknya dengan erat di tengah pertempuran.
Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu sambil melanjutkan pertempuran, tetapi Sebas masih tetap memeluknya dengan erat.
"Sebas? Apa yang kau lakukan? Aku sedang berada dalam pertempuran ini! Cepat pergi bersama Vael!" ujar Calliga dengan kebingungan, mencoba menyadarkan Sebas akan situasinya.
Namun, Sebas dengan tegas menolak untuk melepaskan pelukannya, mengucapkan kata-kata yang membuat hati Calliga bergetar.
Dalam balasannya, Sebas dengan penuh emosi berkata bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan ayahnya lagi, memohon maaf atas kebodohannya.
Calliga memandang putranya dengan campuran perasaan haru dan bingung.
"Apa yang kau maksud, Sebas?" tanyanya dengan penuh keingintahuan.
Namun, Sebas hanya diam dan tidak menjawab. Dia masih memeluk ayahnya dengan kuat, dan tidak ingin melepaskannya.
Seketika itu, suasana pertempuran terhenti sejenak oleh suara retakan yang memecah hening.
Lithos, makhluk kristal yang menjadi lawan Calliga, berhasil mematahkan ikatan bayangan [Shadow Puppeteer] yang diciptakan oleh Calliga.
Dalam sekejap, bayangan tersebut terputus dan Lithos berhasil melepaskan diri.
Namun, daripada kekagetan atau ketakutan, Lithos justru membuat komentar yang tak terduga, menggoda Calliga dengan ejekan pedas.
Dia menyindir Calliga dengan candaan yang tajam, merujuk pada keahlian Calliga yang bisa memanipulasi bayangan.
"AWWW, romantis sekali aku jadi terharu, HAHAHAHA," kata Lithos dengan suara bergema, menciptakan ketawa keras di antara kekacauan pertempuran.
"Kadal tetaplah kadal bagiku. Sudah berapa banyak makhluk yang kau hamili? Dan Apakah pinggulmu itu tidak kelelahan kadal cabul?"
Lithos tidak berhenti sampai di situ. Dia melanjutkan dengan ejekan yang semakin keras, menyindir Calliga atas "rekam jejak"? Cabulnya yang dilihat dari sudut pandang yang sangat unik.
Dia menanyakan apakah Calliga pernah "menghamili" makhluk-makhluk seperti Orc, troll, ogre, dan goblin.
Sebas, yang sebelumnya tengah memeluk ayahnya dengan penuh emosi, tiba-tiba melepaskan pelukannya perlahan.
Matanya memandang tajam ke arah Lithos, makhluk yang tidak asing baginya.
Rasa marah segera melanda hati Sebas ketika ia mendengar ejekan Lithos terhadap ayahnya.
Sebas merasa dorongan untuk melawan dan membela kehormatan ayahnya yang baru saja dipermalukan.
Dalam keadaan marah yang membara, Sebas melepaskan raungan marah yang kuat, meresap dalam suara serak yang menggema melalui ruangan.
"GROOOOAAAARRRR!!!!"
Suaranya merambat dan menghantam dinding-dinding ruangan, menyebabkan beberapa kristal di tubuh Lithos retak dan pecah.
Meskipun marah, Sebas tidak sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri, tetapi kemarahan yang kuat menggerakkan kekuatannya dengan intensitas luar biasa.
Lithos yang terlihat santai dan cuek tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Ia justru memberikan komentar yang merendahkan, dengan humor yang nyeleneh, "wah, wah, wah, kau galak sekali bocah."
__ADS_1
Tidak terpengaruh oleh ancaman Sebas, Lithos dengan tenang menghadapi situasi ini dengan sikap yang seolah-olah dia hanya sedang menghadapi anak kecil yang sedang marah.
Lithos, dengan ketenangannya yang khas, melanjutkan ucapan dengan nada yang santai, "Pergilah dari tempatku ini, aku masih baik dan memperingatimu, bocah. Biarkan aku dan ayahmu yang kau manjai itu bertarung."
Namun, Sebas tidak tergoyahkan oleh kata-kata Lithos.
Marahnya semakin menggelora dan mendalam, dan ia merespon dengan raungan yang lebih kuat dan menggelegar, menggetarkan udara di sekitarnya, "GROOOAAAARRR!!"
Tidak hanya itu, Sebas juga mengeluarkan hembusan nafas api panas yang dahsyat, menyerang Lithos dengan marahnya.
Sinar panasnya berputar dalam bentuk aliran yang mendalam dan membara, membentuk serangan yang tak terelakkan.
"Brrrrr....." Udara bergetar oleh panas yang tiba-tiba muncul, lalu ledakan keras terdengar saat serangan Sebas menerjang Lithos.
Tubuh kristalnya terkena hantaman dahsyat itu, dan beberapa kristal retak dan pecah, menghujani ruangan dengan serpihan kristal.
Lithos, meskipun terkena serangan keras, masih tetap bersikap tenang dan menunjukkan keangkuhannya.
Ia menggoda Sebas dengan kata-kata yang penuh ejekan, "Oh?, kau tidak mau mendengarkan nasihat dan mengindahkan kebaikanku, bocah? Kalau begitu, jangan merengek menangis kesakitan jika aku menyerangmu."
Tampaknya Lithos tidak merasa terancam oleh kemarahan Sebas, bahkan ia sepertinya menikmati momen ini dengan santainya.
Tetapi Lithos tak tinggal diam dalam menghadapi serangan Sebas.
Tiba-tiba, tangan kristalnya yang sebelumnya berbentuk pedang tajam berubah menjadi palu raksasa dengan getaran dahsyat.
BAM!
Serangan mendadak dari Lithos menghantam area sekitarnya dengan kekuatan dahsyat, namun Sebas dengan lincahnya berhasil menghindari serangan tersebut dengan sigap.
Shuushh...
Namun, Sebas tidak tinggal diam setelah menghindari serangan.
Dengan cepat, ia mengeluarkan nafas api melalui mulutnya, mengarahkan serangan berapi menuju Lithos.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Tiga kali serangan nafas api dari Sebas menerjang Lithos dengan hebat.
Tubuh raksasa kristal tersebut terkena dampak serangan beruntun, dan beberapa bagian dari tubuhnya retak dan hancur, mengeluarkan sinar cahaya kristal yang berkelebatan.
Dengan teriakan penuh semangat, Sebas memanggil Gameciel untuk bergabung dalam pertempuran.
Teriakan itu bergema di seluruh ruangan, dan Gameciel, yang sedang berada di kejauhan, dengan cepat mendengar panggilan tersebut.
Dengan tiga pasang sayap malaikat besarnya, ia meluncur menuju Sebas, siap untuk memberikan bantuan.
Shuushh...
__ADS_1
Dalam sekejap, Gameciel tiba di sisi Sebas. Dengan gerakan yang gesit, ia menarik pedang besar Excalibur yang bercahaya terang.
Pedang itu memancarkan aura suci yang kuat, dan dengan pukulan satu kali, ia menebas tubuh kristal Lithos.
Slashh!
Tubuh kristal raksasa Lithos terbelah menjadi dua dengan ledakan keras, dan pecahan kristalnya beterbangan di udara.
Cahaya yang menyala terang dari ruangan kristal meresap kembali ke tubuh Lithos, membuatnya meregenerasi dirinya dengan cepat.
Namun, Sebas dan Gameciel tidak berhenti beraksi. Dengan tekad yang kuat, mereka menyerang Lithos tanpa ampun, bekerja sama dalam serangan combo yang menghantam tubuh raksasa tersebut.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Tubuh kristal Lithos retak dan hancur berkeping-keping akibat serangan beruntun dari Sebas dan Gameciel.
Namun, sebelum mereka bisa bernapas lega, Lithos tampak berniat untuk meregenerasi dirinya sekali lagi.
Saat itulah Sebas dengan cepat berteriak memerintahkan Vael, yang berada di luar medan pertempuran, untuk menggunakan skill panah AOE Destruktifnya.
Suaranya bergema di seluruh ruangan, mengirimkan instruksi kepada Vael untuk menghancurkan semua kristal yang ada di dalam ruangan.
Krak...
Bam!!
Vael membidik panahnya dengan efek AOE dan destruktifnya, melepaskannya ke segala arah di ruangan yang penuh dengan kristal.
Suara retakan kristal terdengar saat panah-panahnya mengenainya.
Krak...
Bam...
Hampir seluruh kristal dalam ruangan megah Lithos hancur berantakan, memberikan kesan kehancuran yang dramatis.
Namun, Lithos tidak menyerah begitu saja.
Ia mulai meregenerasi dirinya dengan lambat, menyebabkan Sebas dan Gameciel harus terus menyerangnya untuk mencegahnya pulih sepenuhnya.
Dalam koordinasi yang mantap, Gameciel melancarkan serangan ultimate dengan skill pedangnya yang bernama "[Final Slash]".
Cahaya keemasan memenuhi ruangan saat pedangnya menyerang Lithos dengan kekuatan yang dahsyat.
Tidak ketinggalan, Sebas juga mengeluarkan kemampuan ultimatenya, "[Inferno Nova]", menghasilkan ledakan api yang membara dengan daya hancur yang luar biasa.
Lithos yang terjebak dalam siklus regenerasinya yang lambat sehingga ia terkena serangan mereka.
DUAR!
__ADS_1
Tiba-tiba, dua serangan ultimate yang menghancurkan menyerang Lithos, menciptakan ledakan yang dahsyat.
Ruangan bergetar hebat dan hampir seketika, semuanya terasa seperti berguncang.