
Lubang hitam [Black Hole] yang diciptakan oleh calliga, terus berputar dengan kecepatan yang dahsyat, menyedot seluruh kristal Lithos ke dalamnya tanpa ampun bagaikan vacum Cleaner yang menghisap dengan daya kuat tanpa hentinya.
Dalam kepanikan, Lithos merasa tubuhnya terbelah-belah dan serpihan kristalnya perlahan-lahan menuju ke arah lubang hitam yang menakutkan.
Ia mencengkram tanah dengan kuat, berusaha untuk tidak terhisap ke dalam kegelapan yang terus membesar.
Namun, upaya Lithos terasa sia-sia. Serpihan kristal semakin mendekati lubang hitam dan terhisap tanpa ampun.
Suara sretan yang menusuk telinga terdengar di udara, menambah ketakutan dan kepanikan yang melanda Lithos.
Ia mencoba mempertahankan dirinya dengan segenap kekuatannya, tetapi tampaknya tak ada harapan bagi Lithos untuk melawan kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh Calliga.
Lithos merasakan kepanikan dan ketakutan yang melanda dirinya saat tubuhnya hampir terseret ke dalam lubang hitam yang mengerikan.
Dalam usahanya untuk bertahan, ia dengan cepat merubah wujud kakinya menjadi paku dan bor yang tajam, menancapkan dirinya ke dalam tanah sekuat mungkin.
Tapi, meski berusaha sekuat tenaga, Lithos merasakan tubuh kristalnya perlahan terpecah dan terseret menuju ke dalam lubang kegelapan yang mematikan.
Lithos menatap calliga dengan kebencian dan kepanikan mempertahankan posisinya, "SIAL! SIAL! SIAL! Jika terus begini aku bakal terhisap dan mati konyol!" gumam lithos yang perlahan terseret.
Dengan setiap seretan menuju lubang hitam, tubuh kristalnya semakin retak dan rapuh, tetapi ia tak ingin menyerah begitu saja.
Lithos berjuang dengan segenap kekuatannya untuk melawan gravitasi yang kuat, mencengkram tanah dengan keras dan menahan dirinya agar tidak terhisap ke dalam kegelapan yang menakutkan.
Ia merasakan ketegangan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, namun semangatnya tak kunjung padam. Dia bertekad untuk tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran.
Namun, meski berusaha sekuat tenaga, Lithos merasa semakin lemah dan terancam oleh kekuatan dahsyat lubang hitam yang diciptakan oleh Calliga.
Setiap seretan yang ia rasakan semakin menghancurkan tubuh kristalnya, namun ia terus berusaha melawan, menolak untuk menyerah pada takdir yang kelam.
Dalam keadaan yang berlawanan, Calliga dengan santainya menatap Lithos yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya.
Ekspresi santai di wajah Calliga mengisyaratkan bahwa baginya, menghabisi Lithos adalah hal yang mudah dan menyenangkan.
Dengan nada sinis, Calliga berkata, "Bukankah sudah kukatakan, sangat mudah bagiku untuk menghabisimu tanpa sisa, temanku? Bagiku, kau hanyalah lawan yang kroco yang dapat kuhancurkan dengan mudah, temanku! HAHAHAHAHA!"
__ADS_1
Kata-kata merendahkan Calliga menusuk hati Lithos, memicu amarah dan kebencian yang membara di dalam dirinya.
Lithos tidak bisa menerima perlakuan merendahkan ini. Selama ribuan tahun hidupnya, tidak ada yang berani mencemoohnya atau menghina dirinya.
Dan sekarang Hanya satu orang yang berani melakukan hal tersebut sekarang, dan itu adalah Calliga, musuh yang sekarang menjadi sekutunya. Dan sekarang mereka bertempur lagi, saling berhadapan dalam pertarungan yang mematikan.
Lithos merasakan emosi yang tak terkendali membanjiri dirinya. Kebencian yang mendalam terhadap Calliga mengalir deras dalam dirinya. Ia merasa terhina dan dihancurkan oleh kata-kata merendahkan yang dilemparkan Calliga.
Sambil mempertahankan posisinya agar tidak terhisap oleh lubang hitam yang mengerikan, Lithos tidak bisa menahan emosi yang membara.
Ia menanggapi Calliga dengan suara yang penuh kemarahan, "Kroco kau bilang?! Kita akan melihat siapa yang lebih kuat! KADAL SOMBONG!" Teriakan Lithos memenuhi udara, mencerminkan kemarahan dan keberanian yang membara di dalam dirinya.
Dalam sekejap, Lithos bereaksi dengan cepat. Ia menggali tumpuan kakinya lebih dalam ke dalam tanah, mencoba menjaga keseimbangannya agar tidak terhisap oleh kekuatan gravitasi lubang hitam.
Sementara itu, tubuh kristalnya berubah menjadi bentuk yang lebih kecil dan banyak, memungkinkan serpihan kristalnya untuk bersembunyi di dalam tanah.
Dengan gerakan yang cepat dan presisi, Lithos berhasil menghilang dari pandangan. Ia sungguh-sungguh mengumpat ke dalam tanah, menghindari serbuan kekuatan mengerikan dari lubang hitam Calliga.
Meskipun Lithos berhasil menghindar, lubang hitam Calliga masih mengambang di langit, menghisap segala reruntuhan bangunan dan bahkan beberapa mayat manusia yang tidak utuh.
Serpihan kristal Lithos pun tersebar perlahan-lahan menuju kedalam tanah, menciptakan satu-satunya harapan bagi Lithos untuk selamat dari situasi yang mematikan ini.
Klik! Lubang hitam yang diciptakan oleh Calliga lenyap seketika, seolah-olah tidak pernah ada. Sekitar mereka, udara yang sebelumnya berhembus dengan dahsyat kembali tenang dan normal.
"memalukan! Mengumpat?, Apakah kau takut mati, Lithos?" tawa Calliga bergema dalam keheningan, mencapai telinga Lithos yang bersembunyi.
"Apakah kau ingin bermain petak umpet denganku?"
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. DUAR! Ledakan besar terjadi, mengguncang seluruh area.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang tanah, mengirimkan gelombang kejut yang merambat ke segala penjuru.
Di tengah kekacauan tersebut, munculah sebuah tombak raksasa yang terbentuk dari kristal tajam.
__ADS_1
Tombak itu menjulang tinggi, ujungnya yang lancip dan presisi begitu mempesona. Seperti sebuah karya seni yang mengerikan, tombak kristal itu muncul dengan kecepatan yang tak terbayangkan, menuju Calliga yang sedang melayang di udara.
SHUSHH!!
Dalam sekejap, tombak raksasa itu meluncur dengan kecepatan yang melampaui batas manusia.
Calliga, yang merasakan ancaman mendadak, terkejut dan tak mampu bereaksi. Dia hanya bisa menatap kedua matahari yang memantulkan cahaya di ujung tombak, tanpa dapat bergerak atau menghindar.
Kematian terasa begitu dekat, seakan-akan waktu berhenti sejenak.
Shoot!
"****! Terlalu cepat!" teriak Calliga dengan panik.
Dia menyadari bahwa ini adalah serangan licik dari Lithos, kawannya yang bersembunyi di dalam tanah untuk menyerangnya.
DUAR!
Tombak kristal raksasa yang diayunkan oleh Lithos menghantam Calliga dengan kekuatan dahsyat, menyebabkan ledakan besar yang mengguncang kota mati tempat mereka bertarung.
Debu dan serpihan kristal beterbangan, menyelimuti pemandangan dengan kekacauan yang mencekam.
Dalam keheningan yang tercipta, terdengarlah raungan besar dari sang naga Calliga.
Raungan itu terdengar memancarkan rasa sakit dan penderitaan yang mendalam, mencerminkan betapa parahnya cedera yang dialami oleh Calliga akibat serangan tombak kristal raksasa tersebut.
Namun, dalam keadaan debu dan serpihan yang menyelimuti kota tersebut, Calliga tidak terlihat.
Tubuhnya tersembunyi di balik lapisan debu dan serpihan kristal yang terlempar akibat ledakan hebat antara tombak kristal dan momentum serangan Calliga.
Saat itu juga, serpihan kristal yang tersebar di tanah bergemerincing dan bergerak dengan penuh keajaiban.
Mereka mendatangi satu sama lain, menyatu menjadi satu entitas yang menakjubkan - seorang manusia kristal humanoid.
Entitas itu mengangkat jari tengahnya dengan angkuh, tidak menyadari bahwa Calliga tertutup debu dan tidak terlihat.
__ADS_1
Sementara itu, Lithos, dengan kepuasan yang tak terkendali, berbicara kepada temannya yang telah ia serang dengan cara yang licik.
"Apakah seranganku sebelumnya termasuk serangan kroco, kawanku?! Kau terlalu meremehkanku dan terlalu percaya diri! Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan mudah? Kadal bajingan!" kata Lithos dengan suaranya yang bergema di tengah debu, disertai dengan tawa kemenangannya yang menggetarkan hati.