
Terdengar suara ledakan yang begitu besar memecah keheningan ruang takhta yang megah.
Zara, yang berlutut di dekat Karina, melihat dengan kekhawatiran ekspresi cemas yang terpampang di wajah tuan putrinya. Namun, tanpa sepengetahuannya, kekhawatiran juga memenuhi pikiran Zara.
Tiba-tiba, di tengah kekacauan, Zara merasakan getaran di dekat telinganya. Suara kecil dan gemericikan lembut menghampirinya.
Ternyata, dia menerima transmisi dari anak-anak kumbangnya yang ada di lantai atas dungeon.
"Ibu! Kita diserang!" terdengar suara transmisi cemas dari anak-anak kumbang tersebut.
"Eh?" Zara membalas melalui transmisi dengan kebingungan yang jelas terdengar dalam suaranya.
"Kami diserang oleh burung raksasa, ibu! Cepat kemari!" balas anak-anak kumbang dengan suara panik sebelum transmisinya tiba-tiba terputus.
Zara merasakan seketika getaran cemas yang teramat kuat. Dia tahu anak-anak kumbangnya tidak akan panik begitu saja tanpa alasan yang cukup serius. Sesuatu yang aneh pasti terjadi di sekitar mereka.
Tatapan Zara segera kembali ke Karina dan situasi genting yang sedang terjadi di ruang takhta.
Dengan langkah tegas, Zara mengambil izin untuk berbicara kepada Karina, memberi tahu anak putri tuannya.
"Nona, jangan khawatir. Aku telah diberitahu oleh anak-anak kumbangku bahwa yang menyerang adalah seekor burung monster," kata Zara dengan suara penuh keyakinan.
"Burung? Bukan sekumpulan manusia?" balas Karina dengan raut wajah skeptis.
"Ya, nona. Anak-anak kumbangku sudah mengkonfirmasi dan melihatnya di lantai 1 dungeon," jawab Zara dengan mantap.
Saat itu juga, rasa cemas yang menghantui Karina perlahan menghilang.
Mendengar bahwa yang menyerang bukanlah bala tentara manusia, melainkan hanya seekor burung kuat, membuatnya merasa lega.
Pikirannya yang tadinya penuh dengan ketakutan akan kemarahan ayahnya, kini berganti dengan perasaan penasaran.
Dengan sigap, Karina memberikan perintah kepada semua yang ada di ruang takhta.
"Zara! Aku serahkan lantai 1 kepadamu! Habisilah hewan kotor yang berani menyerang dungeon ayahku! Sekarang juga!"
Zara segera merespons dengan hormat, "Sesuai perintah Anda, nona."
Tanpa ragu, ia berdiri dari posisi berlututnya dan dengan langkah mantap meninggalkan ruang takhta untuk menghadapi monster yang menyerang lantai 1.
Setelah Zara pergi, ruang takhta hanya dihuni oleh Karina, Gameciel, dan banyak golem. Karina pun memberi tugas kepada mereka, "Kalau begitu, kalian semua bisa membersihkan ruangan takhta ayahku ini. Aku akan kembali ke lantai bawah."
Dengan suara lantang, Gameciel dan seluruh golem menjawab, "Baik nona." Namun, saat Gameciel mencoba melanjutkan dengan pertanyaannya, suasana berubah secara dramatis.
Karina, yang awalnya berdiri dengan tenang, tiba-tiba melepaskan emosi yang meluap-luap.
Aura pembunuhnya mengalir keluar dari tubuhnya, mengubah atmosfer ruangan menjadi tegang dan mencekam.
Ruangan seakan terisi dengan warna hitam pekat dari aura pembunuh iblisnya. Seluruh golem dan Gameciel merasakan getaran kuat dari aura itu, dan ketakutan langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
Bahkan anak putri tuan mereka, Karina, terlihat sangat marah dan berubah drastis dalam sekejap.
Gameciel, yang sebelumnya berbicara dengan percaya diri, tiba-tiba merasa gemetar dan ketakutan.
Ia bergidik dan berusaha menundukkan kepalanya, merasa seolah telah melakukan kesalahan besar.
Kekuatan aura pembunuh Karina begitu menghantam, membuatnya merasa seperti dihadapkan pada kekuatan yang jauh lebih besar darinya.
Situasi itu menciptakan momen tegang di ruang takhta. Suasana yang semula ramai dan penuh kehidupan berubah menjadi hening, hanya diisi dengan getaran dari aura pembunuh yang mengisi udara.
Karina, dengan mata yang memancarkan kemarahan, memegang kendali atas situasi. Sementara Gameciel dan golem-golem lainnya masih dalam keadaan gemetar dan ketakutan, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka saksikan.
Karina, yang sedang melepaskan kemarahan yang begitu besar, menatap tajam ke arah Gameciel, sang golem malaikat raksasa.
Ekspresi wajahnya penuh dengan ketidakpuasan terhadap perilaku tidak sopan dan tindakan bodohnya.
"HEY BODOH! TATAP WAJAHKU BODOH!" ucap Karina dengan nada yang penuh dengan kemarahan, suaranya bergema di seluruh ruangan.
Gameciel, yang sebelumnya menundukkan kepala, merasakan tatapan tajam dari anak putri tuannya.
Dengan cepat, ia mengangkat kepala dan berani menatap langsung ke arah Karina. Namun, tatapannya penuh dengan ketakutan, seperti seorang murid yang tengah ditegur oleh guru sambil merasa tidak nyaman.
"BAGUS BODOH! APAKAH KAU TIDAK TAHU BETAPA TIDAK SADARNYA KAU? APAKAH KU HARUS MEREMUKKAN OTAK BESAR ITU AGAR KAU MENGERTI APA YANG KAU LAKUKAN? DASAR BODOH!" Karina meneruskan serangannya dengan nada yang semakin tinggi, emosinya seolah meluap seperti ombak yang memecah di batu karang.
Karina melanjutkan dengan suara yang membara, "SUDAH KUBILANGI BERKALI-KALI SEBELUMNYA! KAU HARUS MEMINTA IZIN SEBELUM BERBICARA, APAKAH ITU BEGITU SULIT DIMENGERTI? KAU MERASA DIRIMU BEBAS UNTUK BERKATA-KATA TANPA MEMINTA IZINKU? KAU TIDAK LEBIH DARI SEONGGOK LOGAM BERBENTUK BODOH!" Kata-kata itu terlontar dari bibir Karina, dipenuhi oleh emosi dan kekesalan yang mendalam.
Dia berlutut di sana, tak berkutik, merasa seperti seorang murid yang ditegur oleh guru yang tak terduga.
Dengan ekspresi yang penuh dengan rasa ketakutan, Gameciel segera menjawab dengan nada gemetar, "Bu-," namun sebelum ia dapat melanjutkan, tatapan tajam dari Karina segera membuatnya terdiam dan bergidik.
Gameciel menyadari bahwa ia telah berbicara tanpa izin lagi, dan perasaan takut menguasainya saat ia merenungkan betapa bodohnya tindakan tersebut.
Karina, dengan penuh emosi yang masih meledak-ledak, melihat bahwa Gameciel mulai sadar akan kesalahannya.
Dengan nada yang tajam, ia melanjutkan, "APAKAH KAU SUDAH SADAR AKAN KESALAHAN BODOHMU? APAKAH KAU INGIN MENGHANCURKAN KEHORMATAN AYAHKU DENGAN TINDAKAN BODOHMU? BAYANGKAN JIKA KAU BERADA DI HADAPAN AYAHKU DAN BERANI BERBICARA TANPA IZIN! APAKAH KAU MERASA AYAHKU TIDAK AKAN MARAH SEPERTIKU INI? DASAR BODOH!"
Karina masih merasa emosional dan marah, namun ia berusaha menahan diri dari tindakan yang lebih ekstrim.
Dengan nada yang penuh dengan emosi, ia melanjutkan, "DAN KEDUA, AKU SANGAT MARAH PADA-MU! MENGAPA KAU BERANI MENGUCAP NAMA AYAHKU SAAT MASIH ADA PARA PENYUSUP BAJINGAN DI SINI?! AKU TIDAK TAHU APA PENYUSUP ITU BERHASIL KABUR ATAU TERLUKA. TAPI DIA TIDAK BOLEH MENGETAHUI IDENTITAS KITA. DAN UNTUNG SAJA KAU BERHENTI MENYEBUT NAMA AYAHKU DI HADAPAN MEREKA! DASAR TOLOL!"
"DAPATKAH KAU MERASAKAN KEMARAHANKU?" Tambah Karina, hampir merobek suasana dengan ledakan emosi yang kuat.
Gameciel, dengan penuh ketakutan dan gemetar, hanya bisa mengangguk tanpa suara, merasa betul-betul di bawah tekanan dari anak putri tuannya.
Karina terlihat semakin kesal ketika Gameciel hanya bisa mengangguk gemetar sebagai tanggapannya.
Dengan nada tajam, ia memerintahkan, "JAWAB, BODOH! GUNAKAN MULUTMU!"
Gameciel yang masih berlutut, gemetar dengan ketakutan, segera memberikan jawaban dengan terbata-bata, "Ma-Maafkan t-tindakan dan si-sikap bodohku, nona! P-pelayanmu ini berjanji dan bersumpah demi Tuan Pencipta-ku, Calliga. Aku tidak akan mengulanginya. Sekali lagi, aku minta maaf, nona!"
__ADS_1
Karina masih dipenuhi oleh emosi yang membara, dan tanpa berkata apa-apa, ia hanya menatap tajam ke arah gameciel.
Dengan langkah perlahan namun pasti, ia melangkah meninggalkan ruang takhta menuju pintu keluar gerbang raksasa di ruangan tersebut.
Tindakannya mengabaikan keberadaan banyak golem dan Gameciel yang masih berlutut. Dengan tegas, ia membuka pintu itu dan berniat melanjutkan perjalanannya ke lantai bawah untuk melanjutkan rencana ekspansinya secara diam-diam.
Namun, sebelum akhirnya Karina keluar dari ruang takhta, ia memberikan perintah keras kepada seluruh golem yang ada di sana.
Dengan suara yang tegas, ia menyampaikan, "KERJAKAN APA YANG KUSURUH SEBELUMNYA, DAN INGAT, JANGAN SEKALI-KALI BERITAHU AYAHKU TENTANG MANUSIA YANG HILANG!" Kata-kata ini diucapkan sambil pintu raksasa ditutup dengan keras, seolah-olah menggambarkan betapa kuatnya emosi dalam diri Karina.
BAAAMM!!!!
Suara hentakan pintu raksasa tersebut menggema di seluruh ruang takhta, seolah-olah mencerminkan ledakan emosi dalam diri sang putri.
Saat pintu raksasa di ruang takhta tertutup dengan dentingan berat, seluruh golem yang berada di dalamnya perlahan-lahan berdiri dari posisi berlutut mereka, termasuk Gameciel.
Udara di ruangan menjadi lebih tenang setelah kepergian Karina, namun atmosfer masih dipenuhi oleh ketegangan akibat aura pembunuh yang baru saja mereka alami.
Salah satu golem memberi suara, "Sungguh menakutkan sekali!"
"Gelombang kekuatan dari aura pembunuhnya hampir membuat batu-batu sihirku hancur!" balas golem lainnya, suaranya masih penuh dengan getaran ketakutan.
"Itu benar! Aku merasa seolah-olah seluruh struktur tubuhku akan runtuh hanya dari aura pembunuhnya!," tambah golem lainnya, mencoba meredam kecemasan yang masih ada.
Semua golem berbicara satu sama lain, berbagi perasaan yang sama tentang betapa menakutkannya aura pembunuh yang dipancarkan oleh anak tuan putri mereka, Karina.
Saat Gameciel masih dalam posisi yang termenung, gemetarnya masih terasa dalam tubuhnya.
Ia dengan cepat memberikan perintah kepada seluruh golem yang ada di ruang takhta, berusaha untuk mengalihkan perhatian dari kejadian sebelumnya.
"Kalian semua, kerjakan dengan cepat apa yang nona perintahkan. Setelah itu, kalian bisa kembali ke tempat semula," ucapnya dengan sedikit terbata.
Semua golem memutar kepala ke arah Gameciel, berhenti dari obrolan mereka, dan kompak menjawab, "Baik Tuan Gameciel!"
Dengan kerja sama yang apik, seluruh golem langsung memulai membersihkan ruang takhta dengan cepat dan tertib, menghilangkan bekas-bekas pertarungan sebelumnya.
Setelah beberapa lama, ruangan telah bersih kembali, dan mereka semua bergegas menuju langit-langit ruang takhta.
Dalam langit-langit yang berbentuk lingkaran stadion, para golem yang tidak memiliki sayap dibantu oleh yang lainnya yang memiliki sayap.
Mereka bersama-sama terbang menuju posisi awal mereka di langit-langit stadion, dengan tujuan kembali berperan sebagai patung golem hiasan yang mendekorasi ruang takhta.
Semua golem telah kembali ke posisi semula, mengisi lingkaran langit-langit stadion yang mencerminkan kemegahan ruang takhta.
Namun, Gameciel masih terdiam, gemetar, dan berdiri di lantai, terguncang oleh pertemuan dengan kemarahan anak putri tuan mereka, Karina.
Dalam usahanya untuk mengatasi ketakutannya, Gameciel menggerakkan sayap-sayap besarnya dengan cepat dan dengan gemetar terbang kembali ke langit-langit ruang takhta.
Setibanya di tempat semula, di tengah kumpulan golem, dia merenungkan tindakannya yang bodoh sambil bergumam dalam hatinya penuh dengan penyesalan, "Betapa bodohnya diriku ini."
__ADS_1