
Sebas, yang masih memeluk tubuh ayahnya yang sudah tiada, memandang dengan harapan yang tak terucapkan.
Cahaya terang tersebut seolah memberi sedikit pengharapan bahwa ayahnya akan hidup kembali.
"Ayah!" teriak Sebas dengan gembira, pikirannya dipenuhi dengan keyakinan bahwa mungkin saja ini adalah keajaiban, ayahnya akan bangkit kembali.
Tetapi kegembiraannya dengan cepat menguap, seperti kabut di pagi hari, ketika tubuh ayahnya berubah menjadi serpihan abu yang terang dan mulai memudar di udara.
Namun, tiba-tiba, tubuh ayah yang sudah terpecah menjadi serpihan terang berwarna keemasan memberikan sebuah pertanda yang tak terduga.
Butiran cahaya keemasan mulai terbang ke arah tangan Sebas, memenuhi genggaman tangannya dengan gemerlap yang memukau.
Sensasi tak terduga ini membuat hati Sebas berdegup lebih cepat.
Ketika butiran cahaya keemasan menyentuh kulitnya, Sebas merasakan genggaman tangannya terisi oleh cahaya yang hangat.
Tanpa ragu, ia membuka tangannya dengan perlahan, dan di tengah-tengah genggaman tersebut, terlihat sebuah benda yang membuatnya terpana.
Di telapak tangannya terletak sebuah batu permata inti dungeon, berkilauan dengan keemasan yang memukau.
Sebas merasakan getaran kekuatan dari batu permata inti dungeon tersebut.
Ia mengingat saat ayahnya pernah menceritakan bahwa setiap dungeon memiliki "inti permata dungeon," harta yang sangat berharga.
Jika inti permata dungeon dihancurkan, keseluruhan struktur dungeon akan runtuh dan hancur.
Namun, inti permata dungeon ini juga memiliki makna lebih dalam. Itu adalah simbol kepemimpinan atas dungeon.
"Jadi, ayah ingin aku melanjutkan sebagai penguasa dungeon menggantikannya?" gumam Sebas dengan lirih, matanya terpaku pada batu permata inti dungeon yang memancarkan cahaya yang memikat.
Saat kata-kata sebas yang penuh keraguan keluar dengan lirih di tengah tangisnya, tiba-tiba suara itu hadir lagi, berat dan tegas, seperti
suara yang merentangkan dimensi waktu. Seakan-akan suara itu berasal dari dunia lain, suara tegas ayahnya yang berkata dengan penuh keyakinan.
"Aku percayakan kepadamu semuanya, anakku.... Sebas," terdengar suara tersebut, jelas dan kuat di telinga sebas.
Seperti suara dari balik kabut waktu yang hanya dia yang bisa dengar.
Saat itu juga, sebas merasa dadanya seperti dipenuhi oleh hangatnya cahaya, seakan-akan ayahnya sendiri berbicara padanya.
Matanya memandang ke sekeliling, mencoba mencari sumber suara itu, tetapi tak ada tanda-tanda ayahnya.
__ADS_1
Tersentak dan takjub, sebas tersungkur ke lantai, merasakan emosi campur aduk yang mengalir dalam dirinya.
"Baiklah, ayah... jika itu kehendak ayah..." ucapnya dengan suara lirih, mengucapkan kata-kata persetujuan terhadap takdir yang dihadapinya.
Dalam momen itu, seakan-akan dia dapat merasakan hadiran ayahnya di sekelilingnya, seperti kehangatan dari cahaya mesra yang merangkulnya dengan penuh sayang.
Ia merasa sebuah senyuman hangat menghampirinya, mengirimkan pesan bahwa dia telah memilih dengan bijak dan bahwa langkahnya yang berani ini diterima oleh ayahnya.
Saat itu, suasana goa yang tadinya begitu terang oleh butiran cahaya keemasan ayahnya perlahan-lahan memudar.
Butiran-butiran itu melayang di sekeliling sebas, Gameciel, dan Vael, seperti menyampaikan pesan perpisahan yang hening.
Sebas berusaha menangkap beberapa butiran cahaya itu dengan tangannya, sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan kehadiran ayahnya.
"Jangan... tinggalkan... aku... Ayah... Aku mohon..." gumam sebas, sambil mengusahakan menangkap butiran cahaya keemasan yang semakin lama semakin memudar.
Tetesan air matanya bergabung dengan kilauan lembut itu, menciptakan perpaduan yang mengharukan.
Namun, tidak peduli seberapa keras dia mencoba menahan mereka, butiran-butiran cahaya itu akhirnya menghilang, meninggalkan sebas, Gameciel, dan Vael dalam kegelapan yang kembali menyelimuti.
Hanya suara hembusan angin goa yang mendalam dan hening yang mengisi ruangan.
Meskipun hanya sisa-sisa cahaya, tetapi kepergian butiran-butiran cahaya keemasan itu seakan-akan menggambarkan bahwa kehadiran ayahnya telah pergi sepenuhnya.
Tetapi dalam kesunyian itu, sebas dapat merasakan kehangatan yang tenang dan menghibur, seperti senyuman ayahnya yang menguatkan dan memberikan semangat untuk melangkah ke depan.
Sembari mereka berdiri di tengah kegelapan yang mencekam, sebas, Gameciel, dan Vael merenungkan arti dari semua yang telah terjadi.
"Mengapa ini harus terjadi?" ucap sebas dalam keheningan goa yang dalam.
Tangannya meraih erat inti permata dungeon yang kini menjadi miliknya, memancarkan cahaya lembut di dalam gelapnya ruangan.
Rasa kehilangan yang mendalam mencengkam hatinya, dan sebas merasa seolah-olah beban dunia ada di pundaknya.
Dengan kepala tertunduk, ia meratap dalam hati.
"Andaikan saja aku yang ikut menemani ayah waktu itu, sudah pasti aku rela berkorban mati untuknya."
Tubuhnya tersungkur di atas lantai, kepalan tangannya meninju dengan rasa penyesalan yang tak terbendung.
Dalam lamunannya, sebas mengingat keputusan bodohnya sendiri, yang meminta izin kepada ayahnya yang kini sudah tiada untuk menjelajahi dunia luar.
__ADS_1
Keinginan bebasnya kala itu tampak seperti harapan yang menjanjikan, tetapi sekarang ia menyadari bahwa keputusannya telah menyebabkan kematian ayahnya.
Rasa bersalah melilit hatinya seperti kusut yang tak bisa diurai.
"Bodoh sekali aku..." gumam sebas dengan lirih, mengutuk dirinya sendiri.
Jika saja ia tidak berpaling dari panggilan hatinya yang sesungguhnya, dan memilih untuk tetap berada di sisi ayahnya, mungkin saja ia bisa melindungi ayahnya dari bahaya yang tak terduga.
Sebas merenung dalam kesedihan dan penyesalan.
Saat itu, dia mulai memahami betapa berharganya waktu bersama orang yang dicintai, dan seberapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk keputusan yang ceroboh.
Saat itu, emosi sebas meluap seolah mengancam akan menghancurkan dirinya sendiri.
Kebencian pada dirinya sendiri membara seperti bara api dalam dirinya, dan tanpa bisa menahan lagi, ia berteriak sekuat mungkin, mencoba meredam perasaan bersalah yang tak terbendung.
"AYAHHH!!! MAAFKAN AKU, ANAKMU YANG TOLOL INI!!!" Teriaknya sampai suaranya menggema di dalam goa yang gelap.
Keputusasaan dan penyesalan membawa ia melepaskan kemarahan, dan seketika itu, tinju kuatnya menghantam lantai goa.
Duar!
Duar!
Dengan ledakan dari setiap pukulan, tubuhnya mengalami perubahan yang luar biasa.
Kulitnya berganti menjadi sisik-sisik keras yang memancarkan kilatan kemerahan, mengisi goa dengan cahaya samar.
Mata sebas membesar dan penuh dengan tekad, mencerminkan determinasi yang menggelegar dalam dirinya.
Wajahnya yang semula manusia perlahan berubah menjadi wajah naga yang tegas, seperti ayahnya yang telah pergi.
Dalam momen ini, pakaiannya tuxedo jas menghilang seakan tak lagi cocok dengan dirinya yang baru.
Bahu sebas tumbuh, menyokong sepasang sayap merah kemerahan yang menjulang besar.
Dalam denyut nadi yang menggelegar, perubahan mendalam terjadi pada tubuh sebas. Tanpa ampun, dirinya berubah menjadi naga, sebuah bentuk yang menggambarkan kekuatan dan kemarahan.
Namun, walaupun mendapatkan wujud yang mirip dengan ayahnya, sebas mempertahankan karakteristiknya sendiri.
Naga Juggernaut merah berukuran lebih kecil dari ayahnya, namun tak kalah mengesankan.
__ADS_1