
Dalam kemarahan yang memuncak, Karina dengan cepat menutup pintu ruang takhta dengan kekuatan yang cukup keras.
Emosinya masih membara akibat pertengkaran sebelumnya, dan ia memutuskan untuk melangkah pergi dari tempat itu.
Dengan langkah cepat, Karina bergerak menuju lantai 15, berniat untuk melanjutkan ekspansi dungeon ayahnya dengan diam-diam.
Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba saat ia merasakan ada sesuatu yang memeluknya dari belakang.
Saat sentuhan itu terjadi, emosi dalam diri Karina langsung memuncak kembali.
Sebelum ia sempat berbalik, bibirnya bergumam dengan nada kesal, "Siapa yang berani menyentuhku dengan tangan kotormu?!!!"
Niatnya untuk membalas dengan tindakan keras tampak jelas dalam kata-katanya.
Dalam sekejap, pikiran Karina telah menciptakan berbagai skenario kejam tentang bagaimana ia akan menghukum pelaku yang berani menyentuhnya.
Bahkan jika itu adalah Zara atau bahkan golem-golem yang tidak bersalah, niatnya untuk melampiaskan kemarahan dengan brutal tampaknya tidak terbendung.
Ketika Karina akhirnya menoleh ke belakang dan melihat ke bawah, dia terkejut menemukan adik kecilnya, Luna, dalam pelukan.
Saat itu, rasa kemarahannya yang tadi membara seakan-akan lenyap seketika. Untuknya, tak ada yang lebih penting daripada Saudara dan ayahnya, bahkan jika itu berarti mereka yang menyentuh tubuhnya.
Pandangan marah di wajah Karina berubah menjadi penuh kelembutan ketika ia mendengar suara gemetar dari adiknya, Luna.
Tangisannya terdengar melankolis dan sedih, hingga menghasilkan nada hikss... hikss... hikss... yang menggambarkan perasaannya.
Luna memeluk kakaknya dengan erat, bahkan sampai kepala Luna tidak terlihat, mungkin karena tersembunyi di dalam pelukan kakaknya.
Terdorong oleh cinta dan kepedulian, Karina merangkul Luna dengan lembut. Walaupun Karina sering kali menunjukkan sikap keras dan tegas, kedalaman hatinya untuk adiknya tetap hangat.
"Sis..." ucap Luna dengan suara lembut, memanggil kakak perempuannya, Karina, sambil memeluknya dengan erat.
Sebutan "Sis" adalah panggilan akrab yang selalu digunakan Luna untuk Karina, menunjukkan kedekatan mereka.
Pelukan hangat itu berlangsung sejenak sebelum Luna melepaskannya, meninggalkan ekspresi sedih di wajahnya yang semula ceria. Tetesan air mata mengalir dari matanya, menggambarkan betapa dalamnya kesedihannya.
Melihat adiknya yang biasanya penuh dengan semangat menjadi begitu hancur, Karina merasa cemas.
Ia merendahkan tubuhnya yang tinggi untuk memeluk adiknya dengan penuh kehangatan, mencoba memberikan dukungan.
Suara Khawatir terdengar dari suaranya ketika dia bertanya, "Luna, apa yang terjadi padamu?"
Tangisan Luna semakin memicu rasa khawatir di dalam hati Karina. Ia ingin memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
Dengan penuh empati, ia menatap mata Luna dengan lembut, menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
Luna, di antara tangisnya, dengan susah payah mengungkapkan, "Or-Orthrosku su-sudah tiada sis...." Kata-kata terputus-putus dan isak tangisnya membuat kalimatnya terdengar rapuh.
Mendengar berita tragis tentang Orthros, hewan peliharaan kesayangan Luna, Karina merasakan getaran kepedihan dalam hatinya, Dia memeluk Luna lebih erat.
"Apakah kau yakin, Luna?" tanya Karina dengan suara lembut, mencoba menenangkan adiknya yang menangis dalam pelukannya.
Luna dengan perlahan mengambil batu permata tersisa dari dalam tubuh Orthros, menyimpannya di dalam ruang dimensi penyimpanan, lalu memberikannya kepada Karina sebelum memeluk kakaknya kembali. Raut wajahnya masih penuh kesedihan.
Dalam momen itu, Karina merasakan kepercayaan dari adiknya, dan dengan pilu ia menyadari bahwa hewan peliharaan kesayangan Luna, Orthros, telah tiada.
Dengan pikiran yang cepat, Karina menghubungkan beberapa petunjuk yang ia peroleh.
Para penyusup serangga yang baru saja ia temui di ruang takhta ayahnya, dan sekarang hadirnya permata batu sihir Orthros, memberinya petunjuk bahwa keenam penyusup itu adalah dalang di balik kematian hewan peliharaan Luna.
Namun, segala amarah dan dendam yang berkobar dalam dirinya tak berujung, Hanya satu dari mereka yang berhasil melarikan diri secara misterius.
Karina merasa marah dan terbebani oleh perasaan ini; mereka berani membunuh hewan kesayangan adiknya, namun dia tak dapat membalas dendam karena para penyusup itu telah binasa.
"Ini semua... Salahku, sis," ucap Luna dengan suara bergetar penuh penyesalan, sambil memeluk erat kakaknya, Karina.
Karina dengan lembut mengusap punggung Luna, berusaha menenangkan adiknya.
"Tidak, Luna. Ini bukan salahmu. Serangga rendahan itu yang bertanggung jawab."
"Aku tahu, ta-tapi, sis... papa sudah memperingatkanku untuk tidak pergi. Dia tahu tentang penyusup yang datang, dan bahwa mereka mungkin akan menyakiti Orthrosku. Tapi, aku tetap keras kepala, aku ingin pergi berpetualang dengan Kak Sebas. Aku menyesal tidak mendengarkan papa."
Karina menggenggam bahunya dengan penuh pengertian, merasa campur aduk oleh emosi yang terlihat jelas dalam mata adiknya.
Luna memang terkenal keras kepala dan sering kali mempertentangkan keinginannya dengan nasihat ayah mereka.
Karina merasa bahwa insiden ini mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi Luna, agar belajar menghormati dan mempercayai perkataan ayahnya di masa depan.
Namun, di balik keinginannya untuk memberikan pelajaran kepada Luna, Karina juga merasa sedih melihat adiknya yang sedang berduka.
Orthros bukan sekadar hewan peliharaan bagi Luna, melainkan teman dan sahabatnya. Kehilangan hewan kesayangannya sangatlah berat baginya.
Dalam pelukan hangat kakaknya, Luna merasakan kehangatan dan dukungan yang membuatnya merasa lebih tenang.
Tidak berapa lama setelah itu, Karina tampak memiliki rencana yang tersirat di matanya. Dengan lembut, ia melepaskan pelukan Luna dan berkata, "Luna adikku, tunggu sebentar ya?"
Luna mengangguk dengan ekspresi penasaran, memperhatikan kakaknya yang pergi kembali ke ruang takhta.
Sambil menunggu, dia merenung tentang apa yang mungkin tengah dipikirkan oleh Karina.
Dan karina bergegas kembali keruang takhta ayahnya, Karina telah mengambil keputusan.
__ADS_1
Dia memerintahkan Golem Malaikat Raksasa, Gameciel, untuk menyerahkan ketiga tubuh para penyusup yang tergeletak di ruang takhta.
Dengan gesit, Gameciel mengambil ketiga tubuh tersebut dan mengantarkannya kepada Karina. Lalu, dengan bantuan dimensi penyimpanannya, Karina menyimpan tubuh-tubuh tak bernyawa para penyusup tersebut.
Setelah selesai mengatur semuanya, Karina keluar dari ruang takhta dan kembali kepada Luna dengan langkah cepat.
Karina dengan penuh kelembutan mengusap air mata yang mengalir di pipi Luna dengan jarinya.
Dia memberikan senyuman yang menenangkan dan mengatakan, "Sudah-sudah, jangan menangis lagi, adikku. Aku punya cara untuk membuat hewan peliharamu hidup kembali. Jadi, berhentilah menangis."
Luna, yang sebelumnya menangis dengan terisak-isak, tiba-tiba berhenti dan memandang Karina dengan matanya yang berbinar penuh harapan.
"Benarkah?!" ucapnya dengan semangat yang kembali membara.
"Ya tentu saja, kalau begitu ikutilah aku, Luna," ucap Luna dengan semangat sambil perlahan berdiri dari tempatnya.
"Tentu saja, sis! Tapi tunggu sebentar."
Karina tersenyum melihat perubahan suasana hati adiknya dan memberi waktu kepadanya.
Luna kembali dengan membawa telur besar di tangannya, memegangnya dengan hati-hati menggunakan kedua tangannya.
"Baiklah, sis! Ayo pergi!" serunya antusias.
Sementara Karina melihat Luna kembali dengan telur besar berwarna kecoklatan bintik-bintik keemasan.
Ia bertanya dengan nada penasaran, "Untuk apa kau membawa telur besar itu, Luna?"
Luna kembali bersemangat dan dengan cepat menjawab, "Rahasia!"
Karina hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya.
"Baiklah, mari kita pergi," ucap Karina sambil bergandengan tangan dengan adiknya, Luna.
Luna yang penuh penasaran bertanya, "Kita mau kemana, sis?" Ia sudah tak sabar untuk melihat Orthros hidup kembali.
Karina hanya menjawab dengan senyum misterius, "Rahasia."
Tak lama setelah itu, Luna menatap Karina dan langsung menggembungkan pipinya dengan ekspresi ngambek khasnya.
Karina melihat ini dan tak tahan menahan tawanya. Tertawa kerasnya sampai bergema di lorong-lorong dungeon.
Namun, tanpa disadari, langkah-langkah Luna diikuti oleh sejumlah kumbang kecil yang bersembunyi di pakaiannya. Mereka terlihat seperti pengikut setia.
Akhirnya, mereka berdua berjalan menuju tempat "Rahasia" yang diucap oleh Karina.
__ADS_1