Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 147


__ADS_3

Lithos, makhluk yang penuh dengan kebencian terhadap manusia, sibuk membantai dan menginjak mereka dengan kejam.


Bagi Lithos, mereka hanyalah makhluk rendahan yang tak berharga. Tawa sadisnya bergema di kota yang hancur, memenuhi udara dengan suara yang menakutkan.


Lithos menikmati setiap momen keganasan yang ia tampilkan. Kesenangan melanda hatinya saat ia melampiaskan kebencian yang telah terpendam selama ribuan tahun.


Suara tawa kerasnya menggema, mengguncang bumi yang terkoyak.


Setiap langkah yang ia ambil, setiap serangan yang ia lakukan, semuanya dipenuhi dengan kegirangan yang tak terkendali.


STOMP! Kaki raksasa Lithos menginjak tanah dengan kekuatan yang mengerikan.


STOMP! Kehidupan manusia dan petualang menjadi sekumpulan daging yang tak berbentuk di bawah kekuatan langkah kaki monster itu. Suara ledakan dan hantaman mengguncang udara, memperlihatkan betapa kejamnya Lithos.


Kota yang sudah hancur merasakan getaran keganasan ini.


Suara-duar dan ledakan menghancurkan segala harapan yang tersisa. Tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri dari kehancuran yang dihadirkan oleh Lithos.


Ia menunjukkan kekuasaannya dengan penuh kebanggaan, memamerkan ketakutan yang ia timbulkan.


Namun, di balik kehancuran ini, ada tetes air mata yang jatuh. Air mata kesedihan dan keputusasaan dari mereka yang melihat kengerian ini.


Mereka menyaksikan kehancuran yang tak terbayangkan, menyaksikan rekan-rekan mereka menjadi korban kekejaman Lithos.


Dalam teriknya matahari, teriakan dan tangis mengiringi tiap langkah mereka yang melarikan diri.


Mereka berlari dengan nafas tersengal-sengal, hati yang penuh dengan rasa sedih dan keputusasaan.


Gempa dahsyat mengguncang tanah dengan kekuatan yang tak terhentikan.


Bolongan besar terbentuk, menganga lebar akibat hentakan kaki kristal raksasa yang dimiliki oleh Lithos.


Namun, itu bukanlah satu-satunya kehancuran yang terjadi di kota yang sudah hancur ini.


Tanah yang dipenuhi dengan darah dan daging manusia serta petualang menggelembung, membuat kota ini menjadi tempat yang penuh dengan bau darah segar yang menyengat. Setiap sudut kota ini menjadi saksi bisu atas pembantaian yang terjadi.


"Hahaha! Matilah! Matilah! Matilah! Semut rendahan!" teriak Lithos dengan kegirangan yang tak terhentikan.


Tawanya bergema menggetarkan tanah, seolah menjadi simbol dari kekuasaan dan kekejaman yang dimilikinya.


Tubuh raksasanya menginjak-injak para makhluk hidup dengan penuh kepuasan.


Kebahagiaan yang melanda Lithos begitu kuat, membuatnya melupakan keberadaan Grandor, naga besar yang berada di dekatnya.


Naga hitam besar, Grandor, tiba-tiba menyerang Lithos dengan serangan kegelapannya yang mematikan.


Energi kegelapan mulai terkumpul di mulut sang naga, membentuk bola hitam yang semakin membesar.


Grandor siap untuk melemparkan serangan dahsyat ini kepada Lithos yang tengah asyik membantai manusia, terlena dalam kegembiraannya.


Serangan energi kegelapan yang besar itu pun dilemparkan oleh Grandor dengan penuh kekuatan.


Dengan suara desingan yang mengerikan, bola kegelapan meluncur cepat menuju Lithos, menghantam tubuh kristalnya dengan kekuatan yang menakutkan.


Terdengar ledakan yang menggelegar di sekitar mereka.


DUAR! Guncangan hebat terasa saat serangan Grandor mengenai Lithos.


Ledakan hebat terjadi di tubuh serigala raksasa Lithos, menyebabkan banyak kristal pecah dan serpihan kristal jatuh ke lantai yang telah bersimbah darah dan daging.


Suasana semakin mencekam dalam kegelapan yang menyelimuti kota ini.


Ketika debu dan asap perlahan menghilang, Lithos berdiri dengan sikap tegap, tetap memancarkan aura kekejaman dan kebencian yang membara.


Serangan Grandor hanya berhasil membuat Lithos semakin terpicu untuk melampiaskan amarahnya.


Lithos tiba-tiba berhenti menginjak dan membantai para manusia.


Tawa jahatnya pun terhenti, dan dia menyadari bahwa dia telah diserang. Pandangannya beralih ke arah Grandor, naga hitam kegelapan yang kini berada di kejauhan.


Emosi Lithos memuncak karena kesenangannya telah diganggu oleh Grandor. Amarah membara dalam dirinya, dan dia tidak dapat mentolerir gangguan ini.

__ADS_1


"Beraninya kau, kadal rendahan, mengganggu kesenanganku! Matilah!" teriak Lithos dengan suara yang penuh emosi.


Tatapannya penuh dengan kebencian yang membara, dan dia siap untuk melampiaskan kemarahan yang terpendam.


Lithos memanipulasi serpihan kristal yang beragam bentuk ditanah yang bersimbah darah.


Dengan kekuatannya, serpihan kristal itu terapung dan melayang di udara, memiliki ketajaman yang tak tertandingi, seperti pedang samurai yang mematikan.


Mereka bergerak dengan kecepatan yang cepat, menuju arah Grandor.


Banyak sekali serpihan kristal yang terbang, tak terhitung jumlahnya, menuju Grandor.


Kristal-kristal itu membentuk pasukan tak terlihat yang memenuhi langit, siap untuk menyempurnakan serangan Lithos.


Grandor, dalam kepanikan yang tak terduga, tidak pernah menduga serangan Lithos akan sehebat ini.


Ia terbang menjauh, mengepakkan sayap besarnya dengan cepat untuk menghindari serangan proyektil kristal yang datang menghujani dirinya.


Dalam suara desingan yang tajam, Grandor berusaha melindungi dirinya sendiri. Kristal-kristal itu menyusulnya, bergerak dengan cepat, menciptakan suara shing yang memenuhi udara saat mereka bertabrakan dengan sayap naga hitam yang kuat.


Serangan proyektil yang tak terkendali dari Lithos terlalu cepat untuk dihindari oleh Grandor.


Banyak kristal yang tertuju ke arah naga besar itu, menembus sayapnya dengan kekuatan yang mengerikan, menciptakan bolongan dan robekan yang semakin membesar.


Suara erangan besar terdengar dari Grandor yang sedang kesakitan. Tubuhnya yang besar terombang-ambing saat terjatuh dari ketinggian yang sangat tinggi, mengguncang tanah dengan kekuatan yang luar biasa.


BAM! Benturan hebat terjadi saat Grandor mencapai tanah dengan kekuatan yang sangat kuat.


Gempa menggetarkan lingkungan di sekitarnya, menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya.


Lithos, yang menyaksikan kejadian itu, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


Dalam kemarahannya yang meluap, ia memandang Grandor dengan tatapan penuh kebencian.


"Kadal bocah yang berlagak sok kuat sepertimu lebih baik mati!" teriak Lithos dengan nada kesal yang memenuhi udara.


Keinginannya untuk melampiaskan kemarahannya akhirnya terwujud, dan Grandor menjadi korban yang sempurna.


Lithos merasa senang karena Grandor menyerupai Sebas, Putra Calliga yang selalu tidak sopan dan kurang ajar padanya.


Grandor tergeletak lemah di tanah, tak berdaya menghadapi serangan Lithos yang semakin ganas.


Sementara itu, Lithos memanipulasi seluruh kristal yang tersebar di kota yang sudah hancur, membuat mereka melayang di langit.


Dengan gerakan yang terampil, kristal-kristal tajam itu bergerak dengan jumlah yang sangat banyak, menutupi langit kota manusia yang telah hancur.


Matahari terhalang, dan kegelapan pun menyelimuti kota seperti awan gelap yang menggantung di langit.


Calliga, yang menyaksikan aksi sadis Lithos, menyadari bahaya yang mengancam penduduk kota.


Ia melihat langit yang dipenuhi oleh kristal-kristal tersebut dan merasa seakan-akan mereka akan jatuh seperti komet yang mematikan.


Tanpa ragu, Calliga menggunakan kekuatannya dan berkomunikasi dengan Sebas melalui [Message] tersembunyi.


Ia memerintahkan Sebas untuk bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain, merubah bentuknya menjadi naga, dan menyelamatkan sebanyak mungkin manusia yang ia bisa.


Dalam gelapnya kegelapan yang menyelimuti kota ini, Calliga menyadari bahwa Lithos akan menyerang dan menghabisi seluruh penduduk yang masih hidup.


Sebas, yang berada di tempat tersembunyi yang tidak terlihat oleh Calliga, melihat langit-langit yang dipenuhi oleh kristal-kristal mematikan.


Ia juga mengetahui bahwa Lithos tidak hanya akan menyerang naga raksasa bernama Grandor, tetapi juga akan menghancurkan seluruh kota ini tanpa ampun menggunakan serangan kristalnya.


Tanpa ragu, Sebas merespons ayahnya dengan cepat melalui pesan tersembunyi, "[Baik Ayah!]" Ia dengan sigap bergerak, menjauh dari pandangan orang-orang, dan berubah menjadi wujud aslinya, Naga Juggernaut.


Beruntung, saat itu orang-orang tidak melihat Sebas karena perhatian mereka tertuju pada langit yang dipenuhi oleh serpihan kristal.


Namun, ketakutan merasuki seluruh penduduk kota. Mereka gemetar dan takut, tidak berani bergerak.


Sebagian orang berlari, menangis dan menjerit dalam upaya untuk melawan rasa ketakutan yang melanda mereka.


Mereka berusaha berlari dan melarikan diri dari kota yang telah hancur, tempat yang sekarang dipenuhi oleh pemandangan mengerikan dari daging dan darah yang tak terbentuk serta bau darah yang menyengat.

__ADS_1


Ketakutan menyelimuti setiap sudut, mengisi udara dengan keputusasaan dan ketidakberdayaan.


Penduduk kota merasakan kehadiran kematian yang mengintai, dan mereka berjuang untuk bertahan hidup di tengah kekacauan yang mengerikan.


Sebas, dalam wujud naganya, meraung dengan kuat saat terbang mendekati para manusia.


"Groaar!" erangannya memenuhi udara, bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ekspresi alaminya sebagai naga yang kuat.


Namun, para warga dan petualang seketika itu semakin terpana ketakutan.


Mereka tidak tahu dari mana naga ini muncul, dan mereka mengira bahwa naga itu akan menyerang dan membinasakan mereka.


"Lihat! Ada seekor naga yang baru muncul! SIAL! SIAL! Apakah ini kiamat!" seru seorang prajurit dengan ketakutan yang melanda dirinya saat melihat Sebas dan ia juga berlari dengan cepat.


Para manusia berlari tanpa henti, terdorong oleh rasa takut yang melanda mereka


. Banyak warga dan petualang yang terjatuh dan tergelincir di atas genangan darah segar yang memenuhi tanah yang telah hancur, serta daging yang sudah tidak terbentuk lagi.


Kota ini benar-benar menjadi pemandangan yang mengerikan, dengan jalan-jalan yang penuh dengan genangan darah dan mayat yang tak terhitung jumlahnya.


Shusshh...


Sebas, saat itu, mengangkut manusia dengan giginya dan melemparkannya ke belakang tubuhnya.


Manusia yang terlempar itu menangis dengan ketakutan yang luar biasa, mengira bahwa ia akan dimakan hidup-hidup oleh Sebas.


"AKU TIDAK INGIN MATI!!!" teriak manusia itu dengan suara histeris sambil menangis.


Plok!


"Eh?" ucap manusia yang terlempar itu saat ia mendarat di bagian belakang tubuh naga Sebas yang sedang terbang.


Kesalahan persepsi menghantui pikiran manusia tersebut.


Ia mengira naga yang ia tumpangi akan memakannya, namun kenyataannya, naga itu justru memberi tumpangan yang sepertinya akan menyelamatkannya.


Dalam kebingungannya, manusia itu merasa lega karena nyawa nya tak terancam oleh kematian yang telah mengintai mereka.


Shusshh... Sebas kembali mengangkut banyak manusia ditubuhnya.


Manusia yang menumpang di tubuh megah Sebas melihat dengan kagum bagaimana naga itu menolong banyak manusia dan menempatkannya di belakang tubuhnya, memberi mereka tempat yang aman.


Seperti manusia sebelumnya, mereka merasa kebingungan namun juga merasakan rasa harapan yang tumbuh di dalam hati mereka.


Dengan kecepatan yang tak terduga, Sebas terbang menuju hutan La Veda, tempat yang jauh dari serangan Lithos dan naga kegelapan Grandor.


Dalam sekejap, banyak manusia mendarat di hutan tersebut tanpa luka sedikit pun.


Rasa takut yang menghantui mereka mulai menghilang, digantikan oleh rasa syukur akan keselamatan yang telah diberikan oleh Sebas.


Tak lama kemudian, Sebas kembali terbang dengan kecepatan yang luar biasa.


Suara hembusan angin yang kencang terdengar, "shuuushh..." saat naga itu membelah udara.


Ia menuju kota manusia yang hancur, Arbandir, dengan tujuan untuk kembali memindahkan banyak manusia ke tempat yang aman di hutan La Veda.


Beberapa manusia yang berhasil dievakuasi oleh Sebas merasa terheran-heran.


Mereka saling memandang dengan kebingungan dan keheranan.


Bagaimana mungkin seekor naga entah darimana, telah menolong mereka untuk keluar dari kota manusia yang hancur akibat kehadiran dua monster raksasa, Grandor dan Lithos.


"Apakah ini kenyataan?" ujar salah satu manusia dengan tatapan terbelalak, mengungkapkan kebingungan yang melanda mereka.


Mereka tak bisa mempercayai apa yang mereka saksikan hari ini: kehancuran kota yang pernah mereka tempati, kemunculan dua raksasa ganas, dan hadirnya seekor naga misterius yang telah menyelamatkan mereka.


Namun, meskipun bingung, manusia-manusia itu merasa bersyukur telah dipindahkan oleh Sebas.


Mereka sekarang berada di hutan La Veda yang aman, menjauh dari kehancuran yang menghantui kota mereka.


Rasa lega menyelimuti mereka, karena mereka berhasil keluar hidup-hidup dari kota yang seperti neraka.

__ADS_1


Di balik rasa syukur, ada juga perasaan sedih yang melingkupi mereka.


Mereka melihat dengan mata sendu reruntuhan yang ditinggalkan, tempat-tempat yang pernah menjadi jejak hidup mereka yang kini musnah.


__ADS_2