
Calliga merasa senang dengan evolusinya yang baru-baru ini dialami. Tubuhnya yang kuat dan terang benderang membuatnya lupa akan naga hitam Grandor yang telah menghancurkan kota manusia di sekitarnya.
Namun, saat ia mencari Grandor, ia tidak menemukannya di permukaan. Dengan pandangan tajamnya, ia melihat Grandor bersembunyi di bawah tanah.
Calliga memutuskan untuk segera mengakhiri hidup Grandor, yang telah mengacaukan rencananya untuk kota Arbandir yang telah hancur.
Dengan menggepakan sayap-sayapnya, Calliga terbang menuju Grandor dengan cepat. Ia meninggalkan Sebas yang berada di sampingnya.
Ketika ia tiba di tempat Grandor berada, ia melihat naga hitam yang besar, setinggi 10 meter, terluka parah dengan sayap yang robek.
Yang lebih aneh lagi, Grandor berada dalam posisi sujud, sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Calliga.
Dalam kegelapan yang menyelimuti mereka, Calliga merasa semakin kuat dan tak terkalahkan.
Tubuhnya yang bercahaya menjadi simbol kekuasaan yang menakutkan. Ia merasa seperti penguasa sejati yang tak terkalahkan, siap untuk menghadapi siapa pun yang berani menantangnya.
Grandor masih berada dalam posisi sujudnya yang misterius.
Calliga memperhatikan naga hitam yang terluka tersebut dengan seksama, mencoba mencari tahu mengapa Grandor berada dalam posisi tersebut.
Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Grandor. Mungkinkah Grandor mengalami sakit perut akut?
Dengan hati-hati, Calliga mendekati Grandor yang masih berada dalam posisi bersujud.
Ia ingin mengajukan pertanyaan kepadanya sebelum ia membunuhnya.
Namun, sebelum ia dapat mengucapkan pertanyaannya, Calliga secara tidak sengaja menyebut nama Grandor berdasarkan status yang terlihat di atas kepala naga itu.
"Grandor," ucap Calliga tanpa sengaja dengan suara beratnya yang terdengar biasa bagi dirinya sendiri, namun terdengar lantang dan penuh otoritas bagi orang-orang di sekitarnya.
Grandor, yang masih dalam posisi bersujud, tidak berani menatap Calliga yang ia anggap sebagai dewa. Namun, ia terkejut ketika mendengar Calliga menyebut namanya.
"Grandor," ucap Calliga tanpa sengaja, menyebut nama Grandor.
__ADS_1
"Dewa Dracorius, apakah kamu tahu namaku?!" gumam Grandor dengan terkejut dan kebahagiaan yang terlihat jelas di wajahnya, meskipun ia masih dalam posisi bersujud yang menyebabkan rasa sakitnya semakin terasa.
"Tentu saja, dewaku tahu! Dia adalah bapak dan raja segala raja dari seluruh naga, jadi tentu saja dia tahu nama seluruh anak-anaknya! Termasuk diriku ini!" gumam Grandor dengan haru, air mata mengalir di pipinya.
Grandor, yang masih dalam posisi bersujud, akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan melihat wajah dewanya yang ia kagumi.
Dengan lantang dan penuh rasa syukur, Grandor memujinya, "Oh Supreme Father of all dragon, Dracorius! Dewaku! Ayahku! Terima kasih telah menyelamatkan hidupku, anak bodohmu ini, Grandor!" ucap Grandor dengan suara yang bergema, sambil berlutut di hadapan Calliga.
Namun, tatapan menyeramkan dari Calliga membuat Grandor tidak berani menatap wajahnya, ia kembali menunduk dan menatap tanah dengan penuh hormat.
Calliga merasa bingung dan tercengang dengan apa yang ia dengar dan lihat.
Seekor naga yang tidak ia kenal memanggilnya sebagai seorang ayah dan bahkan memanggilnya dengan nama Dracorius, sebuah nama yang sama sekali tidak dikenal olehnya.
"HAHHHH?!!!! Anak?! Ayah?!! Dracorius? Mengapa dia memanggilku ayah dan bapak dari seluruh naga?!!" teriak Calliga dalam hatinya, penuh dengan kebingungan yang melanda.
Niat Calliga untuk membunuh Grandor pun menjadi padam, tergantikan oleh rasa keterkejutan yang menguasainya.
Ia mencoba memahami arti dari semua ini, bagaimana mungkin ia menjadi seorang ayah dan raja segala raja dari seluruh naga?
Calliga masih tercengang malu dan emosinya mulai tidak stabil.
Tiba-tiba, seberkas cahaya misterius meliputi tubuhnya, memancarkan aura yang menenangkan dan memulihkan kestabilan emosinya. Keajaiban ini membuat Calliga kembali tenang dan fokus.
Sebas, yang juga terkejut dengan kejadian ini, berani bertanya kepada Calliga, "Ayah, apakah ayah memiliki anak selain dari keenam saudara-saudaraku? Mengapa dia memanggilmu ayah?" Sebas tampak bingung dan ingin mencari jawaban atas kebingungannya.
Calliga masih dalam keadaan bingung, mencoba memproses semua yang terjadi.
Namun, sebelum Calliga bisa menjawab, Grandor dengan segera melangkah maju untuk memberikan penjelasan kepada Sebas.
Grandor melihat Sebas dalam bentuk naga saat ia melindungi Calliga dengan penuh kasih, dan Grandor bisa melihat bahwa Sebas masih sangat muda dibandingkan dengan dirinya yang telah hidup selama lebih dari 1000 tahun.
Grandor merasa bahwa Sebas adalah putra dewanya, dan keturunan aslinya.
__ADS_1
Grandor tetap berlutut dengan hormat, muka dihadapkan ke tanah, dan masih belum berani menatap langsung ke arah Calliga yang dewa.
Tangis gemetar terdengar dalam suaranya saat ia berbicara dengan penuh kerendahan hati, "Tuan Muda, - ayahmu adalah, -" Kalimatnya terputus saat Sebas marah pada Grandor karena merasa tindakan Grandor tidak sopan.
Sebas menatap Grandor dengan marah, geram dalam matanya.
Ia tidak terima dengan sikap Grandor yang berlutut dan tidak berani mengangkat kepala.
"Tidak sopan sekali! Angkatlah kepalamu jika kau ingin berbicara!" bentak Sebas kepada Grandor dengan keras.
Namun, Grandor masih belum berani mengangkat kepala, ketakutan masih melingkupinya.
Calliga merasa lega ketika Grandor menjawab, tapi merasa risih ketika Grandor tak kunjung mengangkat kepalanya.
Calliga memerintahkan Grandor untuk mengangkat kepala, tapi permintaan itu diabaikan.
Calliga harus mengulanginya dua kali sebelum Grandor akhirnya mengangkat kepala perlahan.
"Bukankah sudah kuperintahkan untuk mengangkat kepalamu?" ucap Calliga dengan risih kepada Grandor.
Grandor merasakan keringat dingin menetes di dahinya saat ia mendengar ucapan dewanya, seakan-akan marah kepadanya.
Tubuhnya gemetar ketika ia berusaha mengangkat wajahnya, mencoba menunjukkan ketegasan meskipun ketakutan masih melingkupinya.
Wajah Calliga yang tajam dengan mata yang menyala merah seakan menembus jiwanya dengan kedalaman yang menakutkan.
Grandor tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan gumaman ketakutan, "Sungguh! Dia adalah dewa Dracorius!" pikirnya dengan gemetar saat menatap wajah dewanya yang menakutkan.
Calliga, dengan sikap penuh kebohongan, menginstruksikan Grandor untuk melanjutkan penjelasannya kepada putranya yang satu ini.
"Aku terlalu malas untuk menjelaskannya padanya," kata Calliga dengan nada yang datar kepada Grandor.
Grandor menegang dan menjawab dengan tegang, "Tentu, Dewaku!" Ia merasa ketegangan semakin meningkat di udara saat ia berbicara.
__ADS_1
Grandor memulai penjelasannya kepada sebas dengan suara gemetar, mencoba menjaga ketegasan dalam kata-katanya, sementara itu calliga mendengar penuh dengan perhatian akan informasi baru yang ia dapati mengenai sosok dracorius.