
Perlahan, mataku terbuka. Sambutan hangat dari kasur empuk raksasa ini membuatku ingin kembali meraih tidurku...
"Kau harus bangun, Calliga!" gumamku sendiri, berusaha mengalahkan godaan malas yang menghampiriku.
Tapi, di balik rasa malas itu, terlintas kenangan mimpi indah dan tidur berkualitas yang baru saja kurasakan...
"Hooamm," sebuah kenyataan terasa begitu memaksa saat suara menguap terlepas dari bibirku saat aku menggeliat dari tempat tidur raksasa ini.
Tampaknya ranjang ini benar-benar membuatku nyaman. Meskipun begitu, aku tahu aku tidak bisa terus menerus terjebak dalam kehangatan ranjang ini.
Tiba-tiba, suara notifikasi dari sistem menghentikan Kemalasanku.
...[DING DONG!]...
...[SELAMAT! HOST CALLIGA BERHASIL MENGALAHKAN PENYUSUP DI DUNGEON HOST]...
...[HOST MENDAPATKAN 100 POIN SYSTEM]...
Tentu saja, reaksi spontan terlontar dari bibirku, "PENYUSUP?!" suara yang hampir memecahkan gendang telingaku.
Namun, suara tak terduga menyusul perkataanku, suara itu berasal dari sebelahku, "Benar, Ayah."
Sontak, mataku berpaling ke arah suara itu, menemukan Vael berlutut di samping ranjang raksasa tempatku tidur.
Dia melanjutkan dengan enteng, "Sesuai perintah Ayah, aku sedang memerintahkan Karina untuk menyingkirkan para penyusup dengan cepat. Jadi, jangan khawatir, Ayah."
Senyum lebar Vael terukir di wajahnya saat dia menyampaikan pesan itu.
Sejak kapan aku memberikan perintah?
Aku bahkan tidak tahu adanya penyusup...
Tapi Vael tak gentar, dia melanjutkan dengan semangat, "Sungguh, Ayah, walaupun saat Anda beristirahat, Anda tetap dapat mengidentifikasi penyusup dan memberikan perintah dengan cermat. Anda luar biasa, Ayah!" Katanya dengan penuh kagum, wajahnya bersinar dan dia berlutut dengan sikap penghormatan yang mengagumkan.
Aku terperangah. Apa dia benar-benar berbicara serius? Apakah aku benar-benar memerintahkannya saat aku tertidur? Ataukah ini hanya lelucon dari Vael? Rasanya aku terjebak dalam kebingungan yang semakin dalam.
Tak tahu harus merespons apa, aku hanya terdiam, saling menatap dengan Vael. Dalam keheningan ini, aku merasa seperti kita sedang terlibat dalam pertarungan tatapan yang aneh.
Canggung, sungguh. Namun, seperti biasa, aku hanya bisa menghadapinya dengan ekspresi wajah seperti naga yang selalu terlihat serius.
Ah, beruntung aku sudah bukan manusia lagi; setidaknya, ekspresi bodohku tidak akan lagi terbaca seperti dulu...
Suara ketukan menggetarkan ruangan, mengganggu kecanggunganku dengan Vael yang terpaku pada kekagumannya. Ketukan itu semakin keras, seolah-olah menuntut perhatianku.
Suara ketukan pintu raksasa di kamarku terdengar dengan jelas.
Tok...
Tok...
Tok...
Vael yang masih terpaku dalam kagum, akhirnya bereaksi mendengar suara itu. Dia bergerak dengan sigap memohon izin kepadaku untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Aku hanya memberikan anggukan singkat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Vael bangkit dari posisi berlututnya dengan hormat, lalu pergi menuju pintu raksasa kamarku.
Pintu terbuka dengan mantap oleh Vael, dan aku bisa melihat dari kejauhan bahwa yang datang adalah Karina dan Luna.
Mereka sepertinya memiliki niatan untuk menemuiku di kamarku. Tapi yang membuatku penasaran adalah alasan di balik telur besar yang dipegang oleh Luna dengan kedua tangannya yang mungil.
Saat itu, ketiganya – Vael, Karina, dan Luna – langsung berada dalam posisi menghadapku dengan penuh hormat.
Mereka merendahkan diri dan berlutut di hadapanku, seakan ingin menunjukkan penghormatan mereka.
Pandanganku meluncur dari satu wajah ke wajah lainnya saat mereka berlutut, dan dalam hati, aku tidak bisa menahan senyum getir.
Terkadang, rasanya melelahkan. Apakah benar mereka merasa bahwa berlutut dan memberi hormat di hadapanku adalah sesuatu yang harus mereka lakukan setiap kali kami bertemu?
Sungguh, aku bukan seperti raja yang patut dihormati dengan cara seperti ini setiap saat. Aku hanya ingin suasana yang lebih santai dan akrab.
Aku telah mencoba memberi tahu mereka untuk tidak selalu bersikap terlalu formal, namun tampaknya mereka tetap mempertahankan kebiasaan ini.
Tentu, aku pernah menyuruh mereka untuk tidak terlalu formal dan berlutut di hadapanku. Tapi tampaknya, mereka merasa bahwa tindakan ini adalah tanda penghormatan kepada pencipta mereka yang agung dan mulia.
Aku tahu bahwa mereka melakukannya sebagai tanda penghargaan, tetapi terkadang aku ingin mereka bisa merasa nyaman berbicara dan berinteraksi denganku tanpa perlu berlutut.
Tampak mereka bertiga masih menundukkan kepala dalam sikap berlututnya, seakan menungguku memberikan arahan.
Namun, yang membuatku terkejut adalah ketenangan luar biasa yang datang dari Luna. Biasanya, dia selalu manja dan cerewet, tapi kali ini diam seribu bahasa. Sepertinya dia mungkin sedang bosan atau bahkan kelelahan.
"Angkatlah kepala kalian," perintahku dengan suara tegas.
Tanpa ragu, mereka berdua mengangkat kepala mereka dan menatapku dengan penuh perhatian.
Aku melanjutkan memerintahkan mereka agar berbicara, "Bicaralah," ucapku, ingin mendengar alasan mereka datang.
Namun, sebelum mereka sempat berbicara, tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh gerakan aneh di depanku.
Beberapa kumbang kecil sepertinya sedang mendekatiku dengan langkah yang jijik.
"Serangga," keluar tanpa sadar dari mulutku, lebih keras dari yang kuharapkan.
Sial... Aku membatin, keceplosan lagi...
Aku memandang mereka bertiga dan melihat ekspresi mereka. Karina tersenyum menyeringai lebar dengan jahat, sementara Luna dan Vael nampak biasa saja.
Saat itu Karina dengan bangga mengumumkan bahwa ia telah menghabisi para serangga rendahan yang mencoba masuk, aku merasa lega. Setidaknya rumahku terbebas dari makhluk menjijikkan itu.
Namun, fokusku langsung beralih saat Karina memerintahkan Luna untuk menggunakan sihir apungnya.
Aku menyaksikan dengan heran ketiga tubuh manusia yang terapung-apung di udara berkat sihir apung milik Luna.
Saat itu, suasana yang tiba-tiba tegang memecah ketenangan.
Aku terkejut melihat Karina mengeluarkan tiga mayat manusia yang sudah tewas mengenaskan.
__ADS_1
Ketiga tubuh itu mengapung perlahan setelah dikeluarkan dari ruang dimensi penyimpanan oleh Karina.
NANIII?!!!!
Pemandangan yang kualami membuatku merasa mual.
Pertama, mataku tertuju pada tubuh seorang pria yang terbelah menjadi dua bagian, dengan organ-organ perutnya yang keluar dengan perlahan saat mayat itu mengapung di udara.
Kengerian semakin bertambah ketika aku melihat kedua mayat lainnya – seorang pria dan seorang wanita – yang tubuhnya tampak mengering, dipenuhi oleh luka dan goresan besar.
Tubuh-tubuh itu tampak seperti bercak-bercak daging yang tak berbentuk, bekas-bekas potongan yang tampak menganga serta luka-luka besar yang tampak mengerikan.
Nafasku tercekat. Aku belum pernah melihat kekejaman sedemikian rupa sebelumnya, pemandangan ini lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah kulihat dalam hidupku.
Kondisi tiga mayat itu memanggil bayangan ketidaknyamanan dan kengerian di hatiku, terasa seolah aku melihat ke dalam dunia yang mengerikan dan gelap.
"Sungguh, ini benar-benar mengerikan..." gumamku dengan perasaan campur aduk.
Ini adalah pengalaman pertamaku melihat mayat manusia yang tewas dalam kondisi begitu brutal.
Tatapan mataku terpaku pada tubuh-tubuh itu, berusaha mengerti apa yang telah terjadi.
Aku merenung dan, menyadari bahwa apa yang dikatakan karina sebagai 'serangga' ternyata merujuk kepada manusia.
Apakah benar Karina dan Luna yang melakukan semua ini? Pikiranku terombang-ambing dengan rasa ketidakpercayaan.
Dalam kebingunganku, mataku tertuju pada ketiga mayat manusia yang tergeletak dengan sadisnya.
Luka-luka dan tanda-tanda kekejaman yang mereka alami tergambar jelas di tubuh mereka.
Perasaan mual datang menerpa, tapi aku berusaha menahannya dengan keras agar aku tidak ingin merusak Image ku didepan mereka.
"Ueghhh," desahku perlahan, berusaha keras menahan muntah yang mengancam.
Sembari melihatku berjuang menahan mual, Karina masih tersenyum bahagia di hadapanku. Matanya berbinar seperti mengharapkan pujian dariku.
"Ayah jangan khawatir, aku tahu ayah pasti mencari kedua sisa serangga, kedua serangga rendahan itu sudah kuhabisi juga ayah sehingga tidak berbentuk lagi," ucap Karina dengan bangga, senyumnya menyiratkan keyakinan akan keberhasilannya.
Mendengar ucapan Karina, pertanyaan muncul dalam pikiranku.
Masih ada lagi? Dan Kedua sisa manusia itu sudah tidak berbentuk?
Namun, pikiran itu segera tergantikan oleh rasa mual saat aku menyadari bahwa makhluk yang telah diperlakukan sedemikian rupa hingga 'tidak berbentuk' pasti lebih mengerikan daripada yang kulihat pada tubuh yang terapung.
"Berarti itu lebih mengerikan daripada yang kusangka," gumamku dalam hati, mataku masih tertuju pada mayat-mayat yang mengerikan itu.
Namun, ketika aku hampir mencapai titik puncak perasaan mualku, aku merasa sulit untuk menahannya lebih lama.
"Ueeeghhh," desahku pelan, berusaha sekuat tenaga agar mereka tidak menyadari keterbatasku dalam situasi ini.
Entah bagaimana, kejadian yang tak terduga ini terjadi.
Aku segera menyadari bahwa beberapa serangga kumbang kecil tiba-tiba melintas dan masuk ke dalam hidungku.
__ADS_1