
"SIAPAPUN TOLONG!"
Calliga yang menyamar sebagai manusia petualang segera bergerak menuju sumber jeritan yang meminta pertolongan.
Di tengah kota yang hancur ini, dia berlari dengan cepat dan mengangkat reruntuhan bangunan yang menghalangi jalannya.
Armor tebal yang menutupinya memantulkan sinar matahari yang masih terbenam, menciptakan cahaya menyilaukan di tengah kehancuran.
"TOLONG!!" Jeritan-jeritan tersebut semakin keras dan mendesak.
Sifat manusia Calliga masih melekat, ia merasa beban emosionalnya sebagai manusia tumbuh lebih besar dengan setiap jeritan yang ia dengar.
Dia merasa tanggung jawab untuk menyelamatkan mereka.
Segera, dia tiba di lokasi yang berasal dari jeritan tersebut.
Dia melihat sekelompok manusia yang terperangkap di bawah tumpukan batu dan reruntuhan.
Beberapa dari mereka tampak terluka parah.
Dengan kekuatan naga yang luar biasa, Calliga mulai mengangkat batu-batu besar yang menekan para manusia tersebut.
Dia berusaha secepat mungkin untuk membebaskan mereka dari bahaya.
"Kalian aman sekarang," ucap Calliga dengan suara lembut setelah berhasil membebaskan mereka.
Para manusia yang telah terlepas dari jeratan kematian ini menatapnya dengan terkejut dan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih! Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka.
Calliga tersenyum di balik helm besarnya. "Saya adalah seorang petualang, kalian cepatlah pergi dari tempat ini."
Dia kemudian membimbing mereka untuk menjauh dari area berbahaya.
Terdapat suara jeritan kembali, Dengan cepat, Calliga berlari menuju sumber jeritan, yang kali ini diikuti oleh tangisan seorang gadis kecil.
Suara tangisannya yang penuh keputusasaan menusuk hati Calliga saat ia berlari melalui reruntuhan kota yang hancur.
Tiba di lokasi tersebut, Calliga melihat seorang gadis kecil yang terjebak di bawah tumpukan puing-puing yang sangat besar.
Gadis itu menangis sambil memanggil ibunya dan ayahnya, yang mungkin juga terjebak di dekatnya.
Calliga segera mengambil tindakan. Dengan kekuatan naga yang luar biasa, ia mulai mengangkat puing-puing yang menekan gadis kecil itu.
Dia bisa merasakan getaran kecil di bawah jarinya saat dia berusaha melakukannya dengan hati-hati agar tidak melukai gadis kecil itu.
"Jangan khawatir, kau aman sekarang," ucap Calliga dengan suara lembut ketika berhasil membebaskan gadis kecil itu.
Gadis itu menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan, tetapi juga penuh rasa syukur.
"Terima kasih, tuan!" kata gadis kecil itu dengan lirih.
Calliga tersenyum di balik helm besarnya.
Setelah memastikan gadis kecil itu aman, Calliga melanjutkan misinya untuk menyelamatkan lebih banyak manusia yang terperangkap di bawah reruntuhan.
Dia bisa mendengar jeritan dan tangisan yang meminta pertolongan dari berbagai sudut kota yang hancur ini, dan dia berkomitmen untuk membantu sebanyak mungkin manusia yang dia bisa.
Calliga dengan cepat kembali mengangkat puing-puing besar yang menutupi sumber suara jeritan manusia.
Namun, saat puing-puing itu terangkat dan terlempar menjauh, pemandangan yang dihadapinya membuat hatinya terasa berat.
Di bawah tumpukan reruntuhan yang kini sudah terangkat, ia menemukan seorang manusia yang terluka parah.
Tubuhnya terkapar lemah di atas tumpukan batu dan kayu yang penuh darah.
Mata pria itu sudah tidak lagi memancarkan cahaya, dan napasnya telah berhenti.
Calliga merasa ngeri dan sedih melihat nasib tragis manusia ini.
__ADS_1
Meskipun ia telah berusaha secepat mungkin untuk menyelamatkannya, tampaknya ia datang terlambat. Tubuh manusia ini menjadi korban dari kehancuran yang terjadi di kota Arbandir.
Naga besar itu merenung sejenak, memandangi manusia yang telah kehilangan nyawanya.
Di tengah kekacauan dan reruntuhan, Calliga memerintahkan putranya, Sebas, untuk membantu manusia yang tertimpa puing-puing dan reruntuhan.
"SEBAS! BANTULAH PARA MANUSIA YANG TERTIMPA RERUNTUHAN, CEPAT!" Teriak Calliga dengan keras kepada Sebas, yang berada di sekitar kejauhan.
Sebas, yang awalnya bingung mengapa ayahnya ingin membantu makhluk rendahan seperti manusia, mendengar perintah keras dan tegas ayahnya.
Tanpa ragu, dia menjawab dengan tunduk, "BAIK AYAH!" dan dengan cepat berlari menuju para manusia yang terperangkap di bawah reruntuhan.
Ketika Sebas mulai membantu para manusia, dia menyadari pasti niat ayahnya adalah untuk membangun reputasi dikota manusia ini.
Sementara itu, Calliga dengan terus membantu para manusia yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Puing-puing besar dan debu menyelimuti area tersebut.
Setelah beberapa saat berlalu, hasil jerih payah Calliga mulai terlihat. Dia berhasil menyelamatkan beberapa manusia yang terjebak, meskipun beberapa lainnya sudah kehilangan nyawa mereka dalam keadaan yang tragis.
Semua itu adalah pemandangan yang biasa saja bagi seorang makhluk seperti dia yang memiliki kekuatan luar biasa.
Namun, ada satu momen yang membuat hatinya hangat.
Seperti sebelumnya, Calliga berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil yang terperangkap di antara puing-puing bangunan yang runtuh.
Beruntung, gadis kecil itu hanya mengalami luka lecet kecil, meskipun pengalaman yang mengerikan itu pasti akan menghantuinya selamanya.
Dengan lembut, Calliga merawat luka kecil gadis itu dan memberinya rasa aman.
Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu di pangkuan Calliga, dan dia berusaha dengan lembut untuk menenangkan gadis tersebut. Dengan suara hangat, Calliga memberi gadis itu jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, gadis kecil itu tiba-tiba bertanya dengan suara gemetar, "Paman, di mana ibu dan ayahku?" Air mata masih mengalir di matanya saat dia memegang erat kaki Calliga dan memandangnya dengan penuh harapan.
Sebelum Calliga bisa menjawab pertanyaan yang sulit itu, suara hentakan kaki yang cepat mendekat terdengar dari kejauhan.
Terlihat banyak prajurit yang tiba-tiba muncul, mereka bergegas menuju tempat ini.
Seluruh kota manusia telah hancur total, tapi dalam kehancuran itu, ada juga kebaikan yang muncul.
Prajurit-prajurit ini membawa harapan, membuktikan bahwa di tengah kegelapan, ada cahaya yang bersinar.
Dan di tengah pemandangan ini, Calliga dan gadis kecil itu melihat kilas balik dari apa yang telah terjadi.
Dalam kekacauan yang menggelegar, seorang prajurit yang berdiri tegak dan kuat, pastinya seorang kapten, dengan gagah berani memimpin.
Dengan suara yang menggema, dia memerintahkan para prajuritnya untuk berpencar dan memberikan pertolongan kepada warga yang tertimpa reruntuhan, sembari berseru demi Raja Theovilus, menyemangati seluruh pasukannya.
Teriakan penuh semangat ini seketika memicu kegairahan di antara para prajurit.
Mereka dengan sigap bergerak, bekerja sama untuk mengangkat reruntuhan-reruntuhan bangunan yang menimpa para warga.
Namun, tidak hanya prajurit yang datang membantu, juga sekelompok petualang yang Calliga pernah temui sebelumnya di markas petualang.
Mereka, yang terdiri dari manusia, dwarf, dan elf, bergabung dalam usaha penyelamatan ini.
Bersama-sama, mereka mengangkat reruntuhan dan merespons dengan cepat untuk menyelamatkan para warga yang terjebak.
Ketika kerja sama antara prajurit dan petualang ini terjadi, terlihat semangat kemanusiaan yang kuat, bahkan di tengah-tengah kehancuran.
Gadis kecil yang berada didekat calliga ia masih menangis dan penuh ketakutan, menarik tangan Calliga dengan penuh kekhawatiran di matanya.
Dengan suara gemetar, dia bertanya lagi kepada Calliga tentang kedua orang tuanya yang tidak bisa dia temukan.
"Pa-paman di-dimana ayah dan ibuku?" ucapnya kepada Calliga, matanya memancarkan ketidakpastian yang mendalam.
Calliga merasa bingung dan berat hati. Dia tidak memiliki jawaban pasti tentang nasib kedua orang tua gadis kecil ini setelah kehancuran kota yang melanda mereka.
Namun, dia tahu bahwa dalam saat-saat seperti ini, sebaiknya dia memberikan sedikit kenyamanan kepada gadis kecil yang penuh ketakutan.
__ADS_1
Menggugah empatinya, Calliga turun berjongkok di depan gadis kecil itu.
Dia dengan lembut mengelus kepalanya, mencoba menenangkan gadis kecil tersebut.
Tidak hanya itu, Calliga diam-diam menjulurkan tangannya ke dalam jubah merah megahnya yang dihiasi dengan hiasan lollipop.
Dia mengambil permen lollipop dari ruang penyimpanan dimensinya dan memberikannya kepada gadis kecil yang menangis.
"Mungkin ini bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik," ucap Calliga dengan nada lembut, mencoba menghibur gadis kecil tersebut di tengah pemandangan kehancuran yang mencekam.
Dia berharap dengan memberikan permen tersebut, gadis kecil itu bisa merasa sedikit lebih aman di tengah-tengah kekacauan yang melanda.
Gadis kecil itu memegang permen lollipop yang Calliga berikan kepadanya, tampak bingung. Dengan penuh keraguan, dia bertanya kepada Calliga, "Pa-paman apa yang paman berikan ini?" Suaranya masih gemetar, mencerminkan kebingungannya.
Permen lollipop yang diberikan oleh Calliga merupakan hasil karya dari salah satu bawahannya, kepala chef Kola.
Calliga merasa sedikit terkejut bahwa gadis kecil ini tidak tahu apa itu lollipop.
Dia berpikir sejenak, lalu mengelus kepala gadis kecil tersebut sambil menjawab dengan ramah, "Ini namanya lollipop, sayang. Ini adalah permen yang bisa kamu hisap dan rasanya sangat manis."
Tidak bisa dipungkiri, Calliga menyadari bahwa dunianya sekarang, yang berbeda dari dunia manusia tempat dia berasal, mungkin belum mengenal makanan seperti lollipop.
Kejutan gadis kecil tersebut membuatnya tersenyum pahit di dalam hatinya.
Tetapi dia berharap bahwa permen ini dapat melupakan kesedihan bagi gadis kecil itu di tengah-tengah keadaan sulit yang ia hadapi.
Dengan lembut, Calliga mengelus rambut gadis kecil tersebut dan membuka perlahan plastik yang membungkus lollipop.
Dengan nada lembut, dia meminta gadis kecil itu untuk mencicipi permen lollipop tersebut, yang dijamin rasanya sangat lezat.
Gadis kecil itu, masih dalam kebingungannya, akhirnya menuruti permintaan Calliga.
Saat lollipop itu masuk ke mulutnya dan pertama kali menyentuh lidahnya, ekspresi gadis kecil itu berubah secara ajaib.
Tangisnya yang tadi masih menggema seketika mereda, digantikan oleh senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.
Dalam sekejap, permen lollipop itu telah mengalihkan perhatiannya dari kesedihannya yang mendalam.
Ekspresi gadis kecil tersebut sekarang terpancar kebahagiaan, dan dia sepertinya melupakan sejenak kedua orang tuanya yang mungkin tertimbun reruntuhan.
Makanan manis ini menjadi pelipur lara sementara di tengah kehancuran kota mereka.
Calliga dan gadis kecil tersebut tiba-tiba mendengar teriakan memanggil namanya dari pasangan manusia yang berlari mendekat.
"Nina! Nina!" teriak mereka dengan penuh kekhawatiran.
Gadis kecil yang sedang menikmati lollipop itu menoleh ke arah mereka, dan wajahnya langsung bersinar kebahagiaan saat dia mengenali suara itu.
"IBU! AYAH!" teriaknya dengan gembira, dan dengan cepat ia meletakkan lollipop-nya dan berlari menuju orangtuanya.
Dalam sekejap, mereka bertiga bersatu kembali dalam pelukan hangat. Air mata kebahagiaan mengalir di wajah mereka yang lega karena menemukan Nina selamat dan sehat.
"Syukur kau baik-baik saja," ucap ibunya sambil memeluknya erat, dan ayahnya juga ikut merangkul mereka berdua.
Ini adalah momen indah di tengah kehancuran, di mana keluarga ini bersatu kembali dengan rasa syukur yang mendalam.
Setelah berpelukan dan merasakan kebahagiaan bersama keluarganya yang telah bersatu kembali, kedua orang tua Nina mengucapkan terima kasih kepada Calliga yang telah merawat dan melindunginya selama ia berpisah dengan orangtuanya.
"Terima kasih, tuan, telah menjaga putri kami dengan baik," ucap ayah Nina sambil membungkuk hormat kepada Calliga.
Calliga dengan sederhana menjawab, "Tidak usah dipikirkan, ini adalah kewajiban saya untuk melindungi yang lemah."
Orangtua Nina tersenyum penuh penghargaan kepada Calliga, menunjukkan rasa terima kasih mereka dengan tulus kepada pria yang telah merawat putri mereka dengan baik selama waktu sulit ini.
Saat mereka berdua, Nina dan orang tuanya, akan pergi menuju tempat pengungsian di kota yang hancur, Nina menghampiri Calliga dengan wajah berseri-seri.
Dengan tulus, gadis kecil ini mengucapkan terima kasih kepada Calliga, "Terima kasih, paman!" ucapnya sembari tersenyum.
Lalu, dengan lembut, ia berpamitan kepada Calliga sebelum bergabung kembali dengan orang tuanya.
__ADS_1
Calliga tersenyum melihat gadis kecil itu pergi, merasa senang bisa membantu di tengah kekacauan ini.
Namun, tiba-tiba ia disamperi oleh seorang gadis petualang elf yang sebelumnya telah bercekcok dengan putranya, Sebas.