
Rufus hanya pasrah memejamkan matanya, ia sudah siap menerima tinju dari sang penjaga yang tentunya mengenai wajahnya untuk menjadi perisai evelyn.
Namun, ketika beberapa detik berlalu dan pukulan tak kunjung datang, Rufus merasa bingung.
Matanya masih tertutup, namun ketika ia tak merasakan rasa sakit, dia membukanya perlahan.
Untuk kebingungannya, pria penjaga yang semula siap untuk menyerang sekarang tampak terpaku dan pucat, seolah dia melihat sesuatu yang mengerikan dibelakang badan rufus.
Ketika Rufus memejamkan matanya, suara panik dari kedua penjaga itu terus bergema di sel penjara yang gelap.
Mereka berteriak dengan gemetar, ketakutan akan sosok yang muncul di dekat Rufus.
"Ma-makhluk a-apa...i-itu?" ucap salah seorang penjaga dengan gemetar saat mereka melihat sosok tinggi besar yang menakutkan, matanya berbinar merah seperti darah, memberikan aura kematian.
Sayap-sayap besar yang menjulang di punggungnya menambah kesan menyeramkan.
"IBLIS?!!!" Teriak penjaga yang lain ketakutan. Sementara itu, Rufus membuka mata dan melihat bahwa kedua penjaga tersebut terpaku dan tak bisa bergerak saat melihat sosok misterius di belakangnya.
Lalu, dengan cepat dan tanpa ampun, Calliga mengaktifkan skill [Death].
Sosok misterius ini, yang awalnya seperti iblis, melancarkan serangan magis yang mengerikan.
Tubuh kedua penjaga tiba-tiba terjatuh tanpa nyawa, sementara jantung mereka pecah meledak akibat efek mematikan dari skill [Death] Calliga.
Mereka tewas di tempat, meninggalkan sel penjara yang penuh ketegangan dan kematian.
Calliga memutuskan dengan tegas untuk mengakhiri nyawa kedua pria penjaga tersebut, merasa geram terhadap tingkah laku bejat mereka.
Saat dia menggunakan skill [Reality Phasing] untuk menyusup ke bawah tanah, dia menyaksikan dengan jelas aksi kejam kedua penjaga yang berusaha melukai perempuan hamil, Evelyn.
Bagi Calliga, tindakan mereka tak pantas dibiarkan.
Namun, saat Rufus melihat kondisi kedua penjaga tersebut yang sudah tidak bernyawa, ia bingung dan tidak bisa memahami apa yang terjadi.
Seolah-olah, mereka telah terjatuh dan kehilangan kesadaran. Matanya memandang tubuh mereka yang terbaring di lantai dengan wajah heran.
"Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" gumam Rufus, mengerutkan kening. "Apakah mereka kebanyakan minum hingga mabuk berat?" pikirnya, mencoba mencari penjelasan logis untuk situasi aneh ini.
Tidak terdengar suara atau tanda-tanda kehidupan dari kedua penjaga tersebut.
Mereka hanya terbaring di lantai, mati, menjadi saksi bisu dari suatu entitas menyeramkan yang telah mengambil nyawa mereka.
Rufus berbalik untuk menghampiri Evelyn yang masih menderita, tetapi pandangannya tak terhindarkan dari sosok Calliga yang menyeramkan.
__ADS_1
Dalam kepanikannya, dia meneriakkan kata "Iblis!" dengan gemetar dan bersujud berdoa kepada dewi Artemis, berharap dewi itu akan mengusir entitas mengerikan ini.
Namun, doanya tak mempan, dan Calliga masih tegak di hadapannya. Takut dan terlalu terpukul oleh rasa ketakutan, Rufus merasa jantungnya berdebar keras.
Ketakutan yang mendalam terhadap kehadiran Calliga mengatasi segala doanya. Akhirnya, Rufus pingsan dan terjatuh tak sadarkan diri ke lantai, tubuhnya lemas oleh rasa takut yang luar biasa.
Di dalam sel penjara bawah tanah yang suram, satu-satunya yang ada hanyalah kesunyian, kecuali untuk erangan penderitaan yang masih terdengar dari Evelyn.
Rufus tergeletak dalam tak sadarkan diri, sementara erangan kesakitan dari Evelyn terus menggema di dalam sel yang gelap.
Calliga, meskipun menakutkan dalam penampilan dan reputasinya, merasa prihatin melihat penderitaan wanita hamil besar tersebut.
"Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Oh, well yang penting dia baik-baik saja," gumam Calliga sambil mengawasi Rufus yang masih tidak sadarkan diri.
Namun, prioritasnya adalah Evelyn yang masih menderita kesakitan yang luar biasa. Calliga melangkah mendekati wanita itu.
Teriakan kesakitan masih memenuhi sel. Evelyn, kesakitan, tak dapat melihat sosok Calliga yang menakutkan. Calliga berjongkok di sampingnya dan mengucapkan kata-kata ajaib.
"[Divine Heal]," gumam Calliga, mengaktifkan kekuatan penyembuhan. Dengan lembut, ia menyentuh tubuh Evelyn yang bergetar akibat rasa sakit.
Sinar keemasan muncul dari telapak tangannya saat ia merawat wanita itu, mencoba meredakan rasa sakit yang melanda Evelyn.
Evelyn, yang sedang berjuang dengan rasa sakit yang tak tertahankan, tiba-tiba merasa ada tangan besar yang memegangnya.
Namun, ia tahu itu bukan tangan Rufus; kulitnya kasar dan keras, tak seperti tangan lembut suaminya. Evelyn merasa bingung, terlalu lemah untuk membuka mata dan memahami apa yang sedang terjadi.
Meskipun tak bisa memahami maksud dari suara tersebut, Evelyn merasa sentuhan tangan besar itu menghilangkan rasa sakit yang menghantui seluruh tubuhnya. Bagi Evelyn, rasa sakit itu lenyap seketika, dan ia merasa tubuhnya menjadi begitu ringan dan sehat.
Ketika mata Evelyn akhirnya terbuka, ia menatap kembali sel yang gelap yang sudah seperti rumah baginya, tetapi rasa sakitnya telah hilang.
Ia segera mencari Rufus, namun ia terkejut dengan pemandangan yang ada di sisinya. Calliga, dalam penampilan yang begitu menyeramkan seperti iblis, berjongkok di dekatnya.
Matanya yang menyala dengan warna merah terang, dan tubuh besar serta kuat, semakin menambah kesan mengerikan, layaknya iblis.
Evelyn hanya bisa memandang Calliga dengan penuh tanya dan ketakutan, tidak tahu apa yang sedang terjadi dan siapa sebenarnya sosok menyeramkan tersebut.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Calliga kepada Evelyn, tetapi suaranya terdengar begitu berat menakutkan, membuat hati Evelyn berdegup kencang dan berkeringat dingin.
Sosok misterius ini terasa seperti iblis yang siap merenggut jiwanya. Terlalu takut untuk merespons, Evelyn pingsan seperti Rufus, tak mampu lagi menghadapi ketakutannya.
"Kenapa mereka seperti melihat hantu ketika melihatku?" gumam Calliga, mempertanyakan reaksi aneh kedua tahanan yang baru saja diselamatkannya.
Ternyata, Calliga belum menyadari betapa menakutkannya penampilannya sebagai iblis, yang menyebabkan kengerian dalam diri Evelyn dan Rufus.
__ADS_1
Calliga, yang semakin bingung melihat kedua manusia yang diselamatkannya justru merasakan ketakutan saat melihatnya, akhirnya tersadar akan sesuatu.
Dia menepuk jidat kasarnya yang menyentuh tanduk-tanduk panjang yang menghiasi kepalanya.
**Plak!**
"Bodohnya diriku ini! Aku baru ingat aku bukan lagi manusia melainkan layaknya sosok menyeramkan bagi manusia!" gumam Calliga dengan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
"Betul, memang pantas saja mereka semua ketakutan dan pingsan saat melihatku. Sosok diriku ini pasti menakutkan bagi manusia, sekarang aku hanyalah monster mengerikan," tambahnya dengan nada kesedihan yang mendalam.
Calliga yang dulunya manusia telah lupa dirinya seiring dengan evolusinya menjadi naga selama tiga tahun terakhir.
Ia bukan lagi manusia yang lemah, melainkan seekor naga kuat yang mendapat penghormatan seakan-akan sebagai dewa oleh bawahan-bawahannya.
Namun, kejadian ini mengingatkannya akanĀ ketakutan dan penolakan yang mungkin ia hasilkan di antara ras yang ia hidup dulu kala.
"3 Tahun sudah berlalu semenjak aku hidup sebagai naga bukan lagi manusia," gumam Calliga di dalam ruangan yang sunyi, di mana empat manusia tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Calliga menatap tangan dan jari-jarinya yang keras, lengkap dengan sisik-sisik warna-warni. Dia merenung dalam hati, "Aku bukan lagi manusia sekarang. Haruskah aku melupakan diriku yang lama sebagai manusia lemah, Stevan Harlow?"
Pertanyaan ini terus mengganggunya, bagaimana bagian manusianya masih begitu melekat padanya dalam bentuk naga yang kuat ini.
Namun, Calliga sadar bahwa dia telah berkomitmen menjadi seorang penguasa yang kuat, dan hal itu memerlukan pengorbanan dan perubahan besar dalam dirinya.
"Lebih baik aku merelakan identitas manusiaku yang lama. Aku bukan lagi manusia lemah bernama Stevan Harlow, aku adalah Calliga, seorang penguasa," putuskan Calliga dengan tekad kuat dalam dirinya.
"Yosh! Semangat, Calliga!" ucapnya dengan penuh semangat sembari menampar pipinya sendiri.
Keputusannya sudah diambil, dan ia tidak akan terbuai oleh kenangan-kenangan lama lagi.
Dengan tekad baru, Calliga kembali ke lairnya di bawah tanah, membawa Ruffus dan Evelyn yang masih pingsan.
Dia tahu bahwa mereka akan membutuhkan perawatan, dan di bawah tanah itulah tempat terbaik bagi mereka.
Sebelum meninggalkan tempat persembunyiannya, Calliga mengangkat tangannya ke langit-langit yang gelap seperti terowongan jeruji besi yang mengapit mereka.
Dengan menggunakan skill destruktifnya, dia menciptakan lubang besar menuju permukaan.
Duar!
Duar!
Ledakan hebat terdengar saat terciptanya lubang besar yang memancarkan cahaya terang, menyinari ruangan bawah tanah.
__ADS_1
Hari telah memasuki senja yang indah. Calliga, sambil hati-hati memegang Evelyn, yang digendongnya, dan Rufus yang dipegang hanya melalui baju priest-nya, merentangkan kedua pasang sayapnya.
Dengan mantap, ia melompat dan terbang keluar melalui lubang raksasa yang telah diciptakannya, membawa kedua manusia tersebut menuju dunianya yang tersembunyi di dalam dungeon.