Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Lowly Insect "4"


__ADS_3

Kenapa ia masih bungkam?


Apa yang sedang ia pikirkan?


Pertanyaan-pertanyaan ini berputar dalam pikiranku seperti badai yang tak terbendung.


Namun, tepat saat aku merasa semakin cemas, aku tiba-tiba sadar ada satu hal yang belum kuungkapkan.


Ada satu serangga manusia yang berhasil melarikan diri dari pengawasan dungeon ayah.


Hanya Gameciel dan anak buah golemnya yang mengetahui tentang hal itu, sesuai dengan perintahku untuk merahasiakannya.


Namun, sebuah pikiran aneh melintas:


apakah ayah tahu? Itu tidak mungkin.


Tapi, mengapa ia terus menatapi ku dengan tatapan serius ini?


Di tengah keraguanku, aku mencoba untuk mencari jawaban dalam ekspresi ayah.


Sekali lagi, aku melihat gerakan di bibirnya, seolah-olah ia ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


Tiba-tiba, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi gejolak yang mencekam.


Suara marah ayahku memecah kesunyian, menghancurkan harapanku untuk berbicara dengannya dengan tenang.


"GA----GAL!" serunya dengan suara yang penuh amarah, seakan menyulut api kemarahan yang tak terbendung.


Sekejap saja, ruangan itu berubah menjadi lautan nyala api dan gemuruh.


Skill maut ayahku terpancar dengan dahsyat, mengisi udara dengan aura keemasan yang menyiratkan pembunuhannya yang menggemparkan.


Panas melanda sekitar kami, seakan dunia ini terbakar oleh marahnya sang naga primordial.


Semburan api hampir saja mengenai kami, namun, posisi berlutut kami adalah penyelamat, karena semburan mematikan itu meluncur tepat di atas kami.


Rasanya seperti berdiri di ambang kematian, menatap jurang gelap yang siap menelan kami.


Sementara ayahku terus memancarkan aura keemasan yang mematikan, ruangan bergetar di bawah tekanan yang luar biasa.


Aku hanya bisa menundukkan kepala dan menatap tanah dengan ketakutan yang melumpuhkan gerakanku.


Aura pembunuh yang terasa begitu kuat membuat keringat dingin membanjiri tubuhku.


Seolah-olah ayahku sedang melampiaskan semua kemarahannya dengan kekuatan dahsyatnya.


Aku tidak berani mengangkat pandangan, khawatir melihat ekspresi amarah di wajahnya.


Atmosfer penuh tekanan itu menggambarkan betapa marahnya ayahku, sang dewa naga kuno.

__ADS_1


Aku merasa seperti terperangkap dalam dunia kegelapan yang diciptakan oleh marah ayahku. Semua keberanian tumpul oleh kehadiran aura pembunuh yang mencekam ini.


Kini, aku hanya bisa menanti, berharap bahwa kemarahan ayah akan mereda dan membawa kembali ketenangan yang pernah ada.


Semburan api yang dahsyat mereda, meninggalkan jejak kerusakan dan guncangan hebat di lantai 10 tempat kami berada.


Aku merasa gemetar, bukan hanya akibat getaran gempa, tapi juga oleh dampak dari marahnya ayahku yang terasa begitu mencekam.


Luna dan Vael, saudara-saudaraku, juga terlihat terombang-ambing oleh kejadian ini, wajah mereka mencerminkan ketakutan mendalam yang aku rasakan.


Namun, akhirnya semburan api itu berhenti, meninggalkan suasana tegang di udara.


Tubuhku masih ketakutan dengan aura pembunuh yang ayah keluarkan, dan hatiku dipenuhi oleh perasaan bersalah yang mendalam.


Apa yang telah kulakukan?


Suara ayahku memecah keheningan, "6 Serangga," ucapnya dengan tenang.


tetapi kata-katanya seolah menusuk hatiku seperti pisau tajam.


6 serangga? Tubuhku seketika merinding, menyadari bahwa kebohonganku telah terbongkar. Keterkejutan dan rasa bersalah menyelimuti diriku.


Seketika aku menyadari bahwa ayahku mengetahui kebenaran, ketidakberanian untuk menghadapinya membuatku merasa semakin bersalah.


Aku berbohong kepada ayahku, mengatakan hanya ada 5 penyusup serangga.


Kini semua terkuak, dan rasa bersalahku menghantui pikiranku seperti bayangan yang tidak pernah hilang.


Aku yang telah membohongi dewa agung seperti ayahku merasakan beban tak tertahankan.


Betapa bodohnya aku, sampai-sampai meragukan wawasan dan pengetahuan tak terbatasnya yang mengetahui segalanya bahkan hal yang tersembunyi.


Sekarang, kemarahan ayah mendera kepadaku seperti badai yang tak terbendung.


Aku menatap tanah, tak berani bergerak atau menoleh ke arah ayahku.


Aura pembunuh yang kuat yang ia keluarkan membuatku gemetar, seperti terjepit di bawah tekanan yang luar biasa.


Ayahku memanggil namaku tiga kali terdengar di telingaku, namun aku seperti terkunci dalam keadaan yang tak bisa kuhindari.


Saat ayahku memekikkan namaku untuk ketiga kalinya dengan keras, kebingunganku dan rasa takut yang kuat menyatu.


"KARINA!" teriaknya dengan nada keras seperti menandakan kekecewaan.


Aku merasa beratnya tubuhku seperti menahan beban kesalahan yang tak bisa kutinggalkan.


Air mata mulai mengalir dari mataku, tidak bisa ku tahan lagi.


Aku menyesal sebesar-besarnya atas perbuatanku yang bodoh ini. Ayahku, dewa naga kuno, penuh dengan hikmat dan kekuatan, tidak pantas aku bohongi.

__ADS_1


Aku yang mengira bisa mengelabui-Nya, kini merasakan keterasingan yang dalam.


Aura pembunuh ayahku yang tadi menghantui ruangan seperti hantu gelap yang menyelinap pergi, meninggalkan suasana yang terbebaskan dari rasa takut.


Napas lega terasa saat nafasku kembali teratur, dan gemetar dalam tubuhku mereda perlahan.


"Angkatlah kepala kalian dan bicaralah," perintah ayahku datang dengan suara tegas, memerintahkan kami untuk berbicara.


Luna dan Vael dengan patuh mengangkat kepala mereka, tapi aku masih merasa malu dan rendah diri, tidak berani bertatapan dengan ayahku.


Aku tahu bahwa pandanganku yang selalu menatap tanah adalah bentuk pengakuan dari kesalahan besar yang telah kulakukan.


Mengecewakan ayah, yang tak hanya dewa agung, tetapi juga sosok yang kuagungkan.


Aku seolah terkunci dalam dunia rasa malu yang penuh dengan pertanyaan tentang kebodohanku.


Saat Vael bertanya tentang "Gagal" dan "6 serangga," ayahku hanya diam, menolak memberikan jawaban.


Tidak butuh kata-kata untuk mengerti bahwa ayahku tahu bahwa aku adalah satu-satunya yang mengetahui kegagalan dan kebohonganku.


Kesalahanku itu begitu jelas, terpampang dalam pandangan ayahku yang tajam.


Apa yang harus kulakukan agar ayah memaafkanku?


Dalam keputusasaan dan penyesalanku yang mendalam, aku mencari cara untuk mendapatkan pengampunan ayahku.


Dengan mata berkaca-kaca, aku merangkak menghadap ayahku yang masih berdiri tegak dengan wibawa yang menakutkan.


Air mataku terus mengalir tak terbendung, menciptakan jejak-jejak kecil di lantai yang terasa begitu besar dalam situasi ini.


Tanpa ragu, aku berlutut dan dengan gemetar bersujud di hadapan ayahku yang menatapku dengan tatapan tajam.


Suara lirihku penuh getaran dan emosi, mencoba meraih belas kasihan hati-Nya, "Ma-maafkan a-aku dan a-ampuni ku, a-ayah! Aku telah gagal dan berbohong kepada ayah!"


Namun, tanggapannya adalah keheningan. Ayahku masih bungkam, sepertinya mencueki keberadaanku meskipun aku merasa hancur dan bersujud di depan-Nya.


Saat keputusasaan dan rasa malu membayangi, suara Vael menerobos, memotong keheningan tegang, "Apa maksudmu?"


Dalam keadaan yang hancur dan penuh emosi, aku dengan cepat menjelaskan seluruh situasi kepada kedua saudaraku yang juga terdiam.


Aku mengakui bahwa seharusnya ada enam serangga penyusup, tetapi aku berbohong dan hanya mengatakan lima.


Penjelasanku tentang serangga yang berhasil kabur menghilang membuat suasana semakin tegang.


Aku bisa merasakan mata Vael dan Luna menatapku, meskipun aku masih bersujud dan tak bisa melihat ekspresi mereka.


Tetap dalam posisi bersujudku, aku hanya bisa menunggu, menanti putusan dari ayahku.


Harapanku ada pada pengampunan-Nya, karena aku tahu bahwa aku harus menerima konsekuensi dari perbuatanku yang bodoh ini.

__ADS_1


Aku hanya berharap bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan membuktikan nilai diriku di mata-Nya.


Semoga saja ayah tidak membuangku.....


__ADS_2