
"GROAAAAAAAARRRRRRR!" Erangan dahsyat calliga terdengar menggema dihadapan lithos.
Badan kristal Lithos tidak mampu menahan gelombang kuat itu, dan seketika retakan-retakan mulai muncul di seluruh tubuh kristalnya.
Bunyi retakan tersebut menggema di kejauhan, menciptakan suasana menakutkan.
Tidak berapa lama kemudian, badan kristal-kristal Lithos mulai pecah dan jatuh ke tanah, tercampur dengan darah yang mengalir.
"GROAAAARRR!!!!" Calliga melontarkan serangannya dengan kekuatan penuh.
Lithos panik melihat temannya yang datang untuk membunuhnya dengan erangan yang mengerikan.
Dalam kepanikan, ia berteriak kepada Calliga, "BERHENTI! BERHENTI! KAU CURANG KADAL SIALAN! BERTARUNGLAH DENGANKU DENGAN ADIL, TANPA MENGGUNAKAN RAUNGAN BODOHMU ITU! ****!" Teriakan Lithos penuh kepanikan dan kemarahan.
Namun, Calliga tidak menghiraukannya dan terus sengaja melancarkan serangannya untuk beberapa waktu lama.
Lithos merasa putus asa, karena ia tahu bahwa ia tidak akan bisa bertahan dari serangan gelombang Calliga yang merupakan kelemahannya, yakni gelombang dahsyat yang dapat menghancurkan keberadaanya.
Ia berusaha mempertahankan diri dengan segenap kemampuannya, tetapi kekalahan tampak tak terhindarkan.
Lithos merasakan getaran dahsyat yang tiba-tiba mereda begitu ia meminta calliga menghentikan erangan memekakannya.
Gempa bumi yang mengguncang Lithos pun perlahan mereda, meninggalkan suasana tegang yang terasa di udara.
Lithos, yang sebelumnya panik, merasakan kelegaan melihat Calliga menghentikan serangannya. Dalam sekejap, ia memanfaatkan skill khususnya dalam regenerasi.
Dengan cepat, seluruh kristal di sekitar Lithos mulai bercahaya dengan warna-warni yang memukau, seperti lampu neon yang menyala di siang hari.
Seperti puzzle yang sempurna, semua kristal itu bergerak menuju Lithos dengan cepat.
Tubuh kristal Lithos yang retak dan terluka menyatu dengan sempurna, tanpa ada tanda-tanda cedera. Proses regenerasi ini terlihat begitu indah dan ajaib.
Sementara itu, Calliga yang melayang dengan santai melipatkan tangannya yang besar seperti naga.
Ia memperhatikan Lithos dengan seksama, memberinya waktu untuk meregenerasi tubuhnya yang hancur tanpa mengganggunya. Meskipun ia adalah musuh, Calliga menunjukkan sikap yang aneh ini, seolah-olah ia menikmati pertarungan ini dan ingin melihat Lithos dalam keadaan terbaik.
Calliga sekarang menganggap lithos sebagai musuh kroco, semakin jelas bagi Calliga bahwa kekuatan Lithos sudah tidak sebanding dengan dirinya. Tidak seperti dulu kala.
Dulu, saat pertama kali mereka bertemu, kekuatan mereka mungkin sama, tetapi semenjak Calliga menghancurkan 2 inti dungeon, naik level, dan mendapatkan sistem poin untuk membeli beberapa skill, ia semakin kuat daripada sebelumnya.
Bagi Calliga, Lithos sekarang hanyalah ancaman dan musuh kroco yang lemah. Ia menganggap Lithos tidak lagi memiliki arti dalam pertarungannya.
Dengan sikap santainya, Calliga melayang di udara, menunggu Lithos selesai meregenerasi tubuhnya.
Dan dengan cepat, Lithos berhasil meregenerasi tubuh kristalnya dengan sempurna.
Namun, suasana di antara mereka berdua menjadi tegang dan mencekam. Atmosfer yang mencekam menciptakan rasa tegang di udara.
Namun bagi mereka berdua, yang saling memandang dengan sikap santai, tidak ada rasa takut di antara mereka. Mereka adalah kawan sejati yang saling mengerti.
Tiba-tiba, Calliga berbicara dengan suara beratnya, "Hmm... Apakah kau sengaja melanggar apa yang sudah kukatakan padamu? Apakah kau mencari kematian, temanku?" ucap Calliga dengan nada mengancam kepada Lithos yang sekarang terbang di hadapannya. Suaranya penuh dengan kebencian dan kekesalan.
di tengah perbincangan mereka, hujan salju yang terbuat dari kristal turun di antara mereka. Kristal-kristal yang merupakan serpihan abu terhancur terlihat seperti salju halus yang turun dengan indahnya, menciptakan suasana yang semakin suram di kota yang sudah hancur.
Lithos hanya memandang Calliga dengan tersenyum menyeringai, mendengar ancamannya.
__ADS_1
Lalu, tanpa bisa menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA! Kau benar-benar lucu, kawanku!" ucap Lithos kepada Calliga dengan nada mengejek.
Namun, Calliga tetap tenang dan santai. "Ah, jadi itu lucu bagimu? Hmm... Sekali lagi aku bertanya kepadamu, apakah kau ingin mati, temanku?" ucap Calliga dengan serius.
Suaranya terdengar penuh dengan ancaman.
Lithos merasa kaget mendengar pertanyaan itu. Ia berhenti tertawa dan merasakan bahwa kawannya, Calliga, sekarang benar-benar serius. Ia melihat ekspresi wajah Calliga yang penuh dengan kebencian dan kemarahan.
"Oh sial! Apakah dia serius dengan ancamannya?!" gumam Lithos dalam hati.
Ia menyadari bahwa sudah lama sekali ia tidak bertarung dengan seseorang sekuat Calliga.
Namun, ia melihat ini sebagai kesempatan bagus untuk menguji kekuatannya dan berkelahi dengan Calliga dengan sekuat tenaga seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Lithos merasakan kegusaran dalam diri Calliga, kekesalan dan emosi yang dipendamnya begitu kuat sehingga Lithos bisa merasakannya.
Ia tahu bahwa kawannya, Calliga, pasti sedang marah padanya. Dalam sekejap, Lithos memanipulasi kristal di tangan kanan Calliga, yang merupakan tangan prostetik buatan dirinya yang sangat mirip dengan tangan asli.
Tiba-tiba, dengan suara keras, tangan prostetik itu terlepas dari tangan Calliga.
Ia kini hanya memiliki satu tangan, yaitu tangan kirinya, sementara tangan kanannya tinggal setengah lengan saja.
Calliga melihat tangan kanannya terlepas dan jatuh ke tanah yang dipenuhi dengan darah.
Tangan prostetik yang terbuat dari kristal mulai retak dan hancur, pecahan kristal yang tersebar berjatuhan ke tanah. Semua kristal kembali ke badan Lithos dan bergabung dengan sempurna dengannya.
Calliga hanya melihat dengan tenang sambil tersenyum menyeringai kepada Lithos.
Tiba-tiba, ia melepaskan tawa gila yang bergema di sekitar mereka.
"Kau pikir aku tidak dapat mengalahkanmu dengan mudah hanya menggunakan 1 tanganku, temanku?" ucap Calliga dengan suara yang penuh dengan kepercayaan diri.
Lalu calliga melanjutkan, "Apakah Kau sudah puas untuk membantai para manusia? Dan menghancurkan kota manusia ini?, dan apakah Kau juga sudah puas sudah mengacaukan seluruh rencanaku dikota ini?"
Sorot matanya penuh dengan niat jahat yang mengancam. Lithos, meskipun merasa takut di dalam hatinya, tetap menjawab dengan ekspresi biasa dan tertawa dengan penuh keberanian.
Ia tidak ingin memberikan Calliga kesempatan untuk melihat kelemahannya.
"Hahaha! Ya tentu saja!" Lithos menyahut dengan nada yang merendahkan.
"Sudah ribuan tahun aku tidak merasakan sebahagia dan kepuasan ini! Kawanku!" Ia menggumamkan kata-kata itu dengan nada yang menggoda, ingin membuat Calliga merasa lebih putus asa.
Namun, dalam hati kecilnya, Lithos tahu bahwa pertarungan ini masih jauh dari selesai. Calliga tidak akan berhenti sampai ia berhasil mengalahkan Lithos.
Dan Lithos pun tak berniat menyerah begitu saja. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk pertarungan ini, mengasah kekuatannya, dan mempelajari teknik baru yang dapat digunakan untuk melawan Calliga.
"Hmm, mengecewakan! Itu bukan jawaban yang kuinginkan," ucap Calliga dengan suara serius.
Namun, senyum jahat yang terukir di wajahnya dan aura kematian yang terpancar dari matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang menyusun rencana jahatnya.
Lithos merasa hati kristalnya berdebar kencang, namun ia tetap tegar dan tidak menunjukkan ketakutan di hadapan Calliga.
Dalam kegelapan yang semakin terasa, Lithos dan Calliga saling menatap dengan intensitas yang membara.
Lithos melepaskan jutaan serangan proyektil kristal menuju calliga dan ia melihat serangan andalannya menuju Calliga dengan harapan dapat mengalahkannya.
__ADS_1
Namun, dengan cepat, Calliga merespons dengan mengangkat tangan kirinya ke langit-langit yang sekarang dipenuhi oleh kristal-kristal tajam yang menuju ke arahnya.
Dalam sekejap, Calliga mengaktifkan keahliannya yang kuat dengan mengucapkan kata-kata misterius, "[Black Hole]".
Tiba-tiba, di tengah ruangan itu terbentuklah sebuah lubang hitam yang berputar-putar dengan sangat cepat.
Lubang hitam itu perlahan-lahan membesar, menciptakan gravitasi yang sangat kuat dan menghisap segala sesuatu di sekitarnya.
Seluruh serpihan kristal tajam dari Lithos meluncur menuju Calliga dengan kecepatan yang menghantam seperti hujan pedang.
Namun, sebelum mereka bisa menyentuh Calliga atau bahkan mencapai tanah, ribuan bahkan jutaan kristal tersebut dengan cepat terhisap ke dalam lubang hitam yang dibentuk oleh skill Calliga.
Seolah-olah ada suara "Shushh..." yang mengiringi serpihan kristal saat mereka terhisap ke dalam kegelapan lubang hitam.
Dalam sekejap, seluruh jutaan kristal yang melayang dan terjatuh tiba-tiba menghilang, tidak ada yang tersisa.
Lithos memandang Calliga dengan keheranan dan kecengangan yang tak terucapkan.
Dia tidak pernah melihat skill seperti ini sebelumnya, skill yang benar-benar menghisap segala sesuatu tanpa sisa.
"HAAHHH??!!!" seru Lithos dengan suara yang penuh kekagetan dan ketidakpercayaan. Suaranya terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.
Jutaan kristal yang menjadi andalannya menghilang begitu saja, tanpa jejak, terhisap ke dalam lubang hitam yang diciptakan oleh Calliga.
Lithos merasa kehilangan, tidak hanya karena serangan andalannya gagal, tetapi juga karena kekuatannya yang telah digunakan dengan sia-sia.
"Sejak kapan dia memiliki skill mengerikan seperti itu?!" gumam Lithos dengan kesal kepada Calliga.
Meskipun mereka sering berlatih bersama, Lithos tidak pernah melihat Calliga menggunakan skill bola hitam yang dapat menghisap seluruh kristalnya dengan begitu cepat.
"bajingan! Kadal satu ini benar-benar licik!" ucap lithos memandang calliga dengan kesal.
Sementara itu, Grandor masih berada di tanah dengan posisi bersujud kepada Calliga.
Matanya basah karena tangisan yang bercampur antara kebahagiaan dan kesedihan. Baginya, melihat Dewa Primordial, sang bapak dari seluruh naga yang dia sembah, Dracorius, menjadi nyata dan sungguhan adalah suatu keajaiban.
Ini bukan lagi legenda atau karangan palsu, tetapi kenyataan yang ada di hadapannya.
Grandor, di sisi lain, masih terpesona dengan kehadiran calliga yang ia kira, Dracorius sang Dewa naga Primordial.
Ia berada di dekat pertarungan antara Calliga dan Lithos, terdiam dalam kekaguman dan ketakutan.
Dia mendengar percakapan mereka berdua dan melihat kekuatan dahsyat dari dewa yang pernah dia sembah, Dracorius.
Grandor merasa seperti sedang menyaksikan pertarungan antara dua kekuatan dewa yang sedang bertarung dengan dahsyat.
Grandor terpesona dengan kekuatan yang dimiliki oleh Calliga, terutama saat Calliga dengan mudah membatalkan serangan jutaan kristal dari Lithos tanpa sedikit pun bergeming. Matanya berbinar penuh dengan ketakutan dan kekaguman yang mendalam.
Dalam hatinya, dia merasa terkagum-kagum akan kekuatan dewa yang dimiliki oleh Calliga.
"Sungguh! Kekuatanmu sangat dahsyat, Oh Dewaku yang mahakuat!" gumam Grandor dengan suara yang hampir terdengar di tengah keheningan pertarungan.
Dia merasakan getaran kekuatan yang menakjubkan dan mengerikan dari pertarungan tersebut.
Grandor yang berlutut merasa seperti sedang menyaksikan pertarungan antara dua entitas yang sangat jauh di atas levelnya.
__ADS_1