Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 155


__ADS_3

Calliga menegaskan kekuasaannya dengan mengancam Lithos, "Jika kau berniat menyerangku atau mencoba melarikan diri, jangan harap aku akan menunjukkan belas kasihan kali ini."


Suara ancaman itu membuat Lithos merinding, tetapi dia tidak akan membiarkan ketakutannya mempengaruhi keputusannya.


Dengan mantap, Lithos mengangkat kepalanya dan menatap mata tajam Calliga.


Wajah naga yang kuat dan kejam itu penuh dengan kekuasaan dan otoritas.


Lithos merasakan ketakutan yang memenuhi hatinya saat tatapan mata tajam dan menyala dari Calliga.


Namun, dalam keputusasaan, dia dengan sekuat tenaga mengumpulkan sisa-sisa kristalnya yang berserakan di tanah.


Dengan kekuatan terakhir yang tersisa, Lithos berhasil meregenerasi tubuhnya yang hancur.


Namun, dia menyadari bahwa kristalnya sudah habis dan tidak cukup untuk memanipulasi lagi.


Dalam upaya untuk melindungi dirinya, Lithos mengubah wujudnya menjadi seorang manusia dengan jubah yang menyerupai seorang magic caster.


Dengan cepat, dia bersujud di hadapan Calliga, menyerah dengan tanda penghormatan yang mendalam.


Dengan suara yang tegas dan penuh penyesalan, Lithos memohon ampun kepada Calliga, "Oh! Kawanku, mohonlah maafkan dan ampunilah aku!" Suaranya terdengar tegas dan jelas, mencerminkan keputusasaan yang dirasakannya.


Sementara itu, Sebas dan Grandor, yang menyaksikan Lithos bersujud di hadapan kawannya, terpukau dengan kekuatan yang dimiliki calliga.


Bagi mereka, Lithos adalah makhluk yang seharusnya tak terkalahkan, seperti dewa. Namun, kemampuannya yang luar biasa harus tunduk pada kekuatan Calliga, yang dianggap lebih dari sekadar dewa.


Calliga hanya tersenyum dengan senyuman menyeramkan, menunjukkan kepuasannya atas kemenangannya.


Dengan sekali gerakan tangannya, ia memindahkan Lithos ke dalam dungeon pribadinya di lantai 12.


Lantai ini adalah hadiah yang diberikan Calliga kepada Lithos sebagai pengakuan atas kekuatannya.


Tubuh Lithos bercahaya terang, menandakan bahwa ia telah berpindah tempat.


Saat ia kembali ke kesadaran, ia menyadari bahwa ia berada di lantai 12, dikediamannya yang merupakan domainnya.


Ruangan pribadi Lithos dipenuhi dengan keajaiban kristal, dengan berbagai bentuk dan warna yang memancarkan keindahan yang menakjubkan.


Setiap kristal memiliki kekuatan dan energi yang unik, mencerminkan kekuatan yang dimiliki oleh Lithos.

__ADS_1


Namun, ruangan ini juga dipenuhi dengan golem kristal yang diciptakan oleh Lithos.


Golem-golem ini memiliki bentuk manusia dan bertugas sebagai penjaga dan pelindung ruangan, siap menyerang siapa pun yang berani menginjakkan kakinya di sini.


Mereka adalah hasil dari ciptaan lithos yang bisa disebut juga sebagai NPC.


Dalam keputusasaan dan kebencian yang memenuhi pikirannya, Lithos berteriak dengan penuh emosi, "Sialan! Sialan! Sialan!" Suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan, mencerminkan frustrasi dan kebenciannya yang mendalam.


Dalam sekejap, beberapa kristal di sekitarnya menyatu dan berpadu, menyatu kembali dengan tubuh Lithos.


Dengan cepat, tubuh Lithos pulih dan meregenerasi dirinya sendiri. Kembali ke wujud kristal humanoid.


Dengan penuh kebencian dan emosi yang membara, Lithos menghantam tanah dengan kekuatan yang dahsyat.


Suaranya menggema di seluruh ruangan, mencerminkan kemarahannya yang mendalam.


Dengan ledakan keras, seluruh ruangan terguncang. Patung-patung kristal yang berdiri gagah pecah dan retak, sementara kristal-kristal besar yang menjulang tinggi hancur berkeping-keping.


Keindahan yang pernah ada dalam ruangan itu sekarang berubah menjadi pemandangan yang penuh hancur dan retak.


"Sialan! Ini pertama kalinya aku diremehkan seperti ini!" Lithos berteriak dengan kemarahan yang membara.


Tiba-tiba, salah satu golem yang merupakan ciptaan Lithos mendekatinya dengan berani. Golem itu tampak ketakutan ketika menghadapi kemarahan Lithos, namun ia tetap melangkah maju dengan penuh keberanian.


Mungkin, golem ini adalah satu-satunya yang mengerti perasaan kesedihan dan kemarahan yang dirasakan oleh Lithos.


Dalam kegelapan ruangan yang hancur, terdapat golem kristal yang mendekati Lithos.


Golem ini memiliki tubuh yang indah dan anggun, dengan rambut hijau merona yang terbuat dari kristal. Ia adalah ciptaan Lithos, yang diciptakan dengan cinta dan keahlian.


"Dengan suara gemetar, golem itu bertanya kepada tuan penciptanya, "Tu-tuan, a-apakah tu-tuan ba-baik saja?" Suaranya penuh dengan kekhawatiran dan perhatian yang tulus.


Lithos, yang sedang marah dan penuh kemarahan, terdiam mendengar ucapan golem itu.


Keberanian golem untuk mendekatinya membuatnya terkejut dan memaksa dirinya untuk berhenti menghantam lantai dengan keras.


Tersenyum lembut, Lithos perlahan-lahan mendekati golem kristal itu. Langkahnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, mencerminkan perasaan yang terpendam di dalam hatinya.


Golem kristal itu merasa lega ketika melihat tuan penciptanya tenang dan tidak marah lagi. "Syukurlah, tuanku baik-baik saja," gumam golem tersebut dengan lega.

__ADS_1


Ia merasakan kelegaan yang mendalam melihat tuan penciptanya kembali tenang.


Dengan senyuman di wajahnya, Lithos mendekati golem tersebut.


Namun, tiba-tiba terjadi ledakan keras yang mengguncang seluruh ruangan. BAM! Suara ledakan itu terdengar memekakkan telinga, mencerminkan kekejaman dan kebrutalan Lithos.


Golem wanita cantik itu tersenyum kepada lithos hanya sempat mengucapkan "Tu-" sebelum hancur dihantam oleh Lithos dengan kejam.


Tubuh golem kristal itu hancur berkeping-keping, hanya menyisakan remahan kristal yang berserakan di lantai.


Lithos menghantam golem kristalnya dengan kekuatan yang tak terbendung.


Ia menginjak remahan kristal golem tersebut dengan pandangan tajam dan wajah yang berubah menjadi normal, bagaikan seorang psikopat. Ekspresinya penuh dengan kegilaan dan kepuasan yang jahat.


Dalam kegelapan ruangan yang hancur, Lithos menunjukkan sisi gelapnya yang tak terkendali. Tidak ada belas kasihan dalam tindakannya, hanya kehancuran dan kebrutalan yang menjadi tujuan utamanya.


Dalam momen itu, Lithos merasakan kenikmatan dan kepuasan yang tak tergambarkan ketika menghancurkan ciptaannya sendiri.


Krak..


Krak..


Dengan suara yang keras, serpihan kristal golem ciptaannya hancur menjadi abu tak berbentuk, meninggalkan jejak kehancuran yang tak terelakkan.


Lithos masih menginjak-injak serpihan abu tersebut, sambil berkata dengan suara sinis, "Baik-baik saja? Apakah kau buta?, ciptaan bodoh" Ekspresi wajahnya dipenuhi dengan kebencian dan kekejaman yang tak terkendali.


Di sekelilingnya, golem kristal lainnya menyaksikan aksi kejam tuan pencipta mereka. Mereka hanya bisa berdiam diri, tak berani mendekati Lithos atau mengajukan pertanyaan apapun.


Mereka tahu dengan pasti bahwa jika mereka melangkah lebih dekat, mereka juga akan menghadapi nasib yang sama seperti saudari mereka yang telah dibinasakan.


Dalam keheningan yang mencekam, Lithos melanjutkan tindakannya yang kejam untuk melampiaskan kemarahannya.


Tidak ada belas kasihan dalam hatinya, hanya keinginan untuk menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapannya.


Dalam kejauhan, golem-golem kristal yang masih hidup melihat dengan takut dan kekhawatiran.


Mereka mengamati dengan hati-hati setiap gerakan Lithos, takut menjadi korban selanjutnya dari kegilaannya.


Mereka tahu bahwa tak ada tempat aman bagi mereka di hadapan tuan pencipta mereka yang kejam dan tidak berbelas kasihan.

__ADS_1


__ADS_2